ISTIADAT penganugerahan gelar kebesaran adat Datuk Wira Lela Segera dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau kepada KASAL, Laksamana TNI Dr. Marsetio di Tanjungpinang pada tahun 2014.

GELAR

ANTARA tahun 1927 hingga 1928, Mathba’ah al-Ahmadiah di Singapura menerbitkan Kitab Pengetahuan Bahasa, sebuah kamus monolingua-ensiklopedis karya Raja Ali Haji, secara berpenggal-penggal (jilid demi jilid), sehinga seluruhnya menjadi 9 penggal atau jilid.

Itulah kamus monolingual atau kamus ekabahasa Melayu pertama, yang sangat terkenal di dunia perkamusan Melayu, hingga ke hari ini. Kamus yang ditulis menggunakan huruf Jawi itu diterbitkan sekitar 25 tahun setelah Raja Ali Haji mulai menulisnya di Pulau Penyengat tahun 1858, dan terus berlanjut hingga pada masa-masa ia membantuan Hermaan Von de Wall menyusun kamus Bahasa MelayuBahasa Belanda (Maleisch-Nederlandsch Woordenboek, terbit tahun 1872) di Tanjungpinang antara tahun 1860-an – 1870-an.

Lima puluh enam tahun setelah penggal terakhir (penggal 9) versi cetak huruf Jawi kamus itu terbit di Singapura, berbagai versi cetak dan alih-aksaranya muncul di Indonesia dan Malaysia. Versi alih-aksara pertamanya ke dalam huruf rumi diselenggarakan oleh almarhum Raja Hamzah Yunus dan diterbitkan di Pekanbaru (1986/1987). Selanjutnya, versi huruf jawi lengkapnya dalam bentuk facsimile (reproduksi berdasarkan edisi cetak huruf jawi di Singapura) diterbitkan pula Wan Mohd. Shaghir Abdullah di Kuala Lumpur (1997).

Ketika bertemu dengan kepala Ecole française d’Extrême-Orient (EFEO) Jakarta, Henri Chambert-Loir, dalam Simposium Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASA) di Bandung tahun 2008, saya diberitahu bahwa pakar Melayu asal Prancis itu juga sedang mengerjakan versi akli-aksara kamus ini dan akan segera diterbitkan. Sayang, hingga kini tak ada kelanjutan informasi tentang hasil kerja Henri Chambert-Loir.

Namun yang pasti, versi alih-aksara paling ‘mutakhir’ dari Kitab Pengetahuan Bahasa, kamus monolingual Melayu karya Raja Ali Haji, diselenggarakan oleh Hashim bin Musa dan telah diterbitkan oleh Yayasan Karyawan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada tahun 2010.

***

Lema (kata atau frasa masukan) yang terdapat dalam Kitab Pengetahuan Bahsa Karya Raja Ali Haji tak selesai secara alfabetis dari A sampai Z sebagaimana layaknya konstruksi sebuah kamus yang dikenal dalam dunia leksikografi atau dunia perkamusan Barat dan Timur.

Dengan kata lain, lema dalam Kitab Pengatahuan Bahasa yang sampai kepada kita melalui 9 penggal edisi cetak huruf Jawi yang pada mulanya diusahakan oleh Mathba’ah alAhmadiah di Singapura tidak lengkap. Karena, dalam kenyataannya, kamus yang mengandungi 2.000 lema dan penjelasannya itu hanya terdiri dari lema atau kata asal yang dimulai dengan enam (6) huruf awal dalam susunan abjat Jawi atau huruf Arab Melayu.

Enam huruf awal dalam susunan abjat Jawi itu adalah huruf alif , ba, ta , nya, jim, dan ca. Diawali dengan 7 lema yang bermula dengan huruf alif yaitu, Allah, Al-Nabi, Ashab, Akhbar, Insan, AlAwali, dan Akhirat, yang kemudian diikuti dengan lema yang bermula dengan huruf alif (A) dan berakhir dengan huruf hamzah yang mati dipukul huruf ta (T): seperti lema Entak, Otak, Otak-Otak, Itik dan seterusnya.

Keseluruhan kandungan isi kamus ini berakhir dengan bagian yang menjelaskan makna leksikografi 18 lema yang bermula dengan huruf Ca dan disudahi dengan huruf Ya (Fasal Awalnya Ca Akhirnya Ya): yang bermula dengan lema “cabai” dan berakhir dengan lema “cendakia”.

***

Apakah semasa hidupnya Raja Ali Haji berhasil merampungkan kamus yang ia susun bersamaan waktunya dengan kerja-kerja membantu Von de Wall menyusun kamus bahasa MelayuBahasa Belanda?

Surat-surat Raja Ali Haji yang ditemukan oleh Jan Van der Putten dan kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Dalam Berkekalan Persahabatan In Everlasting Friendship Letter from Raja Ali Haji tahun 1995 (versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh KPG-Jakarta, 2006), mungkin dapat dapat memberikan sedikit gambaran bagaimana situasi ketika ia menyusun kamus monolingualekabahasa itu.

Dalam sepucuk surat bertarikh bulan Januari/Februari 1872 yang dikirim kepada Von de Waal, yang ditulis ditengah desakan kerja-kerja menyselesaikan kamus sahabat Belandanya itu, Raja Ali Haji sedikit banyak menjelaskan ikhwal penyusunan kamus bahasa Melayu yang sedang ia susun.

Ia sempat mengatakan tak tahu kapan kerja-kerja untuk kamusnya akan selesai, tersebab sibuk membantu penyelesaian kamus Von de Wall: “…Pertama, kamus-kamus yang kita perbuat itu kita kerjakanlah manamana yang kuasa kita, sehingga tiadalah kita tahu (kapan) boleh habis (selesai). Akan tetapi dikerjakan hari hari”. Apakah kamus itu selesai?

Kendati demikian, dalam surat tersebut, Raja Ali Haji mengatakan bahwa kamus bahasa Melayu yang sedang ia susun telah sampai kepada bab al-Kaf (sebuah bab dengan lema yang diawali dengan huruf kaf), yang merujuk kepada tiga huruf rumi, ‘k’, ‘g’, dan ‘q’. Itu artinya lema dan penjelasannya dalam kamus yang ia susun telah sampai kepada kata asal dengan huruf awal ‘g’.

Namun persoalannya mengapa entri kamus Raja Ali Haji yang sampai kepada kita hanya berakhir dengan lema yang berawal dengan huruf ‘Ca” (C) saja? Apakah kamus itu selesai atau tidak?

Ada dua teori saling berkelindan tentang persoalan ini. Pertama, Raja Ali Haji tak sempat merampungkan kamusnya karena ia telah wafat pada 1873, atau lebih kurang setahun setelah Raja Ali Haji mengirim sepucuk surat yang isinya antara lain berkenaan dengan kamus itu kepada Von de Wall.

Kedua, mungkin saja kamus itu selesai, namuan sebagian dari kamus itu hilang atau terbakar bersama terbakarnya rumah dan perpustakaan milik Raja Haji Abdullah, cucu Raja Ali Haji di Pulau Penyengat pada tahun 1920, yang kabarnya mewarisi perpustakaan datuknya itu. Mungkin, sebagian yang selamat itulah yang kemudian diterbitkan oleh Mathba’ah al-Ahmadiah antara tahun 1927-1929. Mungkin juga ada bagian-bagian lain yang selamat dan belum sempat dihimpunkan oleh pihak Mathba’ah al-Ahmadiah.

***

Pada satu kesempatan mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden di Negeri Belanda sempena penelitian dan mengumpulkan bahan sumber sejarah Kepulauan Riau pada akhir November 2010, saya menemukan secercah jawaban bagi banyak pertanyaan tentang kamus Raja Ali Haji yang tidak lengkap itu.

Dari hasil pembacaan yang cermat atas seluruh isi sebuah manuskrip tulisan jawi berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja, yang tidak hanya mengandungi salinan sejumlah manuskrip sejarah Kerajaan Riau-Lingga, terungkaplah sebuah salinan manuskrip yang erat kaitanya dengan kamus, Kitab Pengatahuan Bahasa, yang disusun oleh Raja Ali Haji.

Di dalamnya terdapat penjelasan panjang lebar tentang sebuah lema “yang hilang”, atau semacam salah satu ‘missing link’ dari lema yang dapat dalam manuskrip awal Kitab Pengetahuan Bahasa yang disusun oleh Raja Ali Haji.

Manuskrip yang tidak berjudul itu berisikan penjelasan panjang lebar tentang sejarah dan esensi gelar dalam kebudayaan Melayu di Kerajaan RiauLingga. Teksnya diawali dengan penjelasan tentang makna kata gelar, yang dijelaskan sebagai berikut: “Yaitu perkataan memberi nama akan seseorang pada pangkat atau pada fi’ilnya atau halnya. Adalah pekerjaan ini pada mufrad bahasa Melayu. Maka tiada dapat tiada berkehendak kepada mufasyarnya”.

Selanjutnya, penjelasan ringkas (mufrad) tersebut dilengkapi pula dengan penjelasan yang panjang lebar (mufassar) dari sisi bahasa bahasa dan historisnya. Pola penjelasan secara mufrad dan mufassar dalam manuskrip yang berisikan penjelasan tentang esensi perkataan gelar ini identik sekali dengan metode penjelasan setiap lema yang digunakan Raja Ali Haji dalam kamusnya (Raja Ali Haji tidak hanya berhenti dengan penjelasan tentang makna leksikon sebuah lema yang dimasukkannya kedalam kamus, akan tetapi juga menjelaskan aspek lain yang berkelindan dengan sebuah lema).

Dalam manuskrip tersebut, yang pejelasannya dibagi dalam beberapa pasal, antara lain diuraikan apa saja gelar-gelar adat dan gelar kebesaran yang terdapat dan terpakai di Kerajaan Riau-Lingga, yang akarnya ditarik sejak zaman Demang Lebar Daun, zaman Sri Tri Buana, sehinggalah kepada zaman ketika penubuhan Kerajaan Johor ‘yang baru’ di Sungai Carang, Negeri Riau, pada tahun 1722.

Selain itu ada penjelasan silang yang merujuk kepada penjelasan lainnya, yang juga menjadi salah ciri dan gaya Raja Ali Haji dalam kamusnya. Sebagai ilustrasi, antara lain ada kalimat yang redaksinya serupa dengan kalimat penjelasan silang yang kerap digunakan Raja Ali Haji dalam Kitab Pengetahuan Bahasa yang kita kenal: “…Adalah nama gelar pada bahasa Melayu pada bangsanya dan pada pangkatnya telah sudahlah tersurat pada bab alQaf akhirnya Wau, hanyalah belum sempurna disana…

Kuat dugaan saya bahwasanya manuskrip tentang gelar yang dicantumkan dalam kumpulan salinan manuskrip berjudul Sadjarah Riouw Lingga dan Daerah Taaloqnja ini adalah salinan sebuah bab dengan lema yang huruf awalnya G (Kaf), yang ditulis Raja Ali Haji untuk kamusnya; persis seperti apa yang ia ungkapkan dalam sepucuk surat kepada Von de Wall ada bulan Januari/Februari 1872.

Tambahan pula, keseluruhan isi manuskrip tentang gelar ini sangat bersesuaian dengan prinsip dan metode yang digunakan Raja Ali Haji dalam menjelaskan makna sebuah lema dalam kamusnya, sebagaimana dijelaskannya dalam sepucuk surat kepada Von de Wall yang bertarikh 12 Maret 1872:

Bermula adapun kamus yang hendak diperbuat itu, yaitu bukanlah seperti kamus yang seperti paduka sahabat kita itu. Hanya yang kita hendak perbuat bahasa Melayu yang tertentu bahasa pihak Johor dan Riau Lingga juga. Akan tetapi diperbanyakkan bertambah di dalam qissah-qissah, cerita-cerita, yang meumpamakan dengan kalimah yang mufrad…. serta syair-syair Melayu sedikit-sedikit….”

***

Tinggalkan Balasan