Vereeniging Perdamaian: Bagian depan gedung Societeit Perdamaian milik Vereniging Perdamainan di Tanjungpinang. Sebuah foto lawas yang dimuat dalam Pandji Poestaka No. 36, tanggal 13 November, 1924. (foto: repro aswandi syahri)

Identitas Budaya Baru “Orang Kota” di Tanjungpinang (1924)

SEBAGAI ibukota Keresidenan Riouw pada masa lalu, Kota Tanjungpinang pernah punya tiga gedung khusus yang dalam Bahasa Belanda disebut Societeit (gedung perkumpulan). Tercatat pernah ada  dua gedung societeit sipil dan satu gedung sociteit khusus militer di Tanjungpinang. Lazimnya, orang Melayu menyebut gedung itu rumah bola, karena ada fasilitas permainan bola bilyar  (biljart) di dalamnya.

Gedung Societeit seperti ini ditemukan hampir di semua ibukota keresidenan di seluruh Indonesia pada zaman kolonial. Ia adalah bagian dari identitas budaya baru di kalangan “orang kota” di Eropa yang muncul untuk pertamakalinya di Den Haag, yang ditandai dengan berdirinya gedung  Grande Sociétéit  pada 1748, dan  kemudian tersebar jauh hingga ke tanah jajahan di Hindia Belanda.     

Pada abad 18 hingga abad 19, seluruh gedung societeit di Hindia Belanda (Termasuk di Tanjungpinang) didirikan oleh sebuah klub yang sangat ekslusif. Anggotanya hanya terdiri tuan-tuan ambtenar atau pejabat sipil dan militer Belanda saja. Klub-klub seperti ini bersifat sosial-swasta.

Dalam bahasa Belanda klub-klub sosial-swasta seperti ini disebut juga vereeniging (perkumpulan), dan biasanya menggunakan nama-nama yang bersumber dari istilah-istilah dalam bahasa Latin atau bahasa Belanda. Lazimnya nama itu bersumber dari kosa kata khusus dalam Bahasa Latin atau Bahasa Belanda yang sarat dengan simbol-simbol seperti: kedamaian, keabadian, pesatuan, kegemilangan, kejayaan, kemegahan dan lain sebagainya.

Biasanya, nama-nama perkumpulan itu sekaligus menjadi nama gedung societeit tempat mereka berkumpul dan berhibur. Seperti halnya Vereniging Concordia milik pejabat tinggi sipil dan militer Belanda di Batavia yang sangat terkenal dengan gedung Societeit Concondia-nya. Begitu juga dengan Vereeniging lainnya.

Di Tanjungpinang, gedung societeit eklusif gaya abad 18 dan 19 seperti itu muncul pertamakali pada pertengahan abad ke-19. Gedung societeit pertama di Residentie van Riouw tersebut adalah sebuah bangunan permanen milik klub pejabat sipil dan militer Belanda di Tanjungpinang yang diberi nama dalam bahasa Latin, Sempiterne,  yang maknanya dalam bahasa Melayu adalah: Kekal Abadi. Gedung satu lantai dengan atap limas yang ditutupi genteng Melaka susun terenggiling  khas abad 19 itu telah lama rata dengan tanah. Di atas tapak bangunan kolonial itulah kemudian berdiri bangunan dua lantai yang  pernah dimiliki oleh sekolah Chung Hwa Riau di Tanjungpinang, dan pernah digunakan sebagai gedung sekolah SD dan SMP Bintan.

Memasuki abad ke-20, konsep dan fungsi gedung Societeit di Hindia Belanda tampaknya berubah. Perkumpulan sosial khas “orang kota” itu tidak lagi menjadi monopoli tuan-besar dan ambtenar Belanda semata. Fenomena yang telah menjadi identitas budaya “orang kota” ini telah berkembang jauh menjadi model perkumpulan sosial-swasta yang beragam, dan tampil sebagai bagian dari gaya hidup kalangan pribumi pegawai pemerintah kolonial Belanda dan swasta.

Seiring dengan perkembangan ini, di Tanjungpinang juga mucul sebuah societeit baru yang tidak lagi ekslusif untuk tuan-tuan besar Belanda, akan tapi untuk khusus untuk pegawai dari kalangan  Orang Melayu dan pribumi lainnya.

Selepas itu, sekitar tahun 1930-an, hadir pula sebuah societeit khusus militer, yang anggota terdiri dari perwira militer hingga kelasi dari kalangan Orang Belanda dan Pribumi. Khusus societeit militer ini, lokasinya terletak dalam komleks bentang Benteng KNIL (Koninkelijk Indische Leger) di Fort Kroonprins, Benteng Belanda di Bukit Tanjungpinang. Kini, bekas gedung societeit militer itu menjadi ruang kantor kepala Rumah Sakit TNI AL Dr. Midiyato S, Tanjungpinang.

***

Tidak seperti gedung societeit “lama” untuk kalangan orang Eropa, gedung Societeit “baru” untuk  kalangan orang Melayu pegawai goebernemen (pemerintah) Belanda di Tanjungpinang tidak  menggunakan nama-nama yang dipungut dari perbendaharaan Bahasa Latin atau Bahasa Belanda, akan tetapi menggunakan nama dalam bahasa Melayu. Namun demikian, “semangat” dibalik nama itu sama seperti nama-nama gedung societeit Belanda dari kurun abad 18 dan 19 yang masih menggunakan Bahasa Latin atau Bahasa Belanda.

Gedung sosieteit baru untuk kalangan orang Melayu itu  didirikan oleh sebuah organisasi bernama Vereening Perdamaian (Perkumpulan Perdamaian), sebuah perkumpulan yang ditubuhkan oleh pegawai-pegawai goubernemen atau pegawai sipil Belanda di Tanjungpinang. Tak banyak informasi yang tercatat tentang perkumpulan ini. Baik tentang kapan ia ditubuhkan dan siapa saja pengurusnya. Namun yang pasti, salah seorang anggota Vereeniging Perdamaian ini adalah almarhum Said Hasan yang ketika itu tinggal di Kampoeng Kledang, sebuah kampung lama  di Tanjungpinang yang letaknya disekitar Jl. Rumah Sakit saat ini.

Sama seperti Sosieteit Sempiterne yang eklusif untuk orang Belanda dan orang Eropa lainnya, gedung Societeit Perdamaian milik Vereeniging Perdamaian di Tanjungpinang  adalah gedung klub sosial-swasta. Dan sesuai dengan tujuan penubuhan perkumpulan tersebut, maka gedung societeit milik Vereeniging Perdamaian di Tanjungpinang adalah sarana untuk “…menegeoehkan silatioe’rrahim dan tolong menolong waktoe ada kesoesahan…” di kalangan anggotanya.

Berbagai kegiatan dilakukan di gedung Vereeniging Perdamaian ini. Mulai dari segala sesuatu yang sifatnya hiburan, seperti bermain musik ala Eropa hinggga aktifitas seperti rapat-rapat, diskusi, atau menjayakan kegiatan olahraga (memadjoekan sport). Selain itu, juga diselenggarakan pembelajaran serta pendidikan bahasa Inggris dan Belanda bagi anggotanya,  atau  kursus “…pekerdjaan tangan…” bagi sanak saudara anggotanya.

Dalam perkembangannya, gedung Societeit milik Vereeniging Perdamaian Tandjoeng Pinang lebih terkenal sebagai “Societeit Melayu” untuk membedakannya dengan gedung Societeit Sempiterne atau “Societeit Belanda”, yang juga masih eksis ketika itu. Adakalanya pula disebut sebagai “Rumah Bola Melayu”, karena, seperti Rumah Bola Sempiterne yang dikhususkan untuk orang Belanda dan Eropa lainnya, maka di gedung Societeit Perdamaian juga terdapat meja untuk “…bermain bola (biljart)…”

Lokasi gedung Societeit milik Vereeniging Perdamaian Tandjoeng berada di Jl. Teuku Umar saat ini. Tepatnya, terletak diantara gedung dan gudang  Controleur van Opiun Regie (Rumah Candu) dan asrama Guru Toan Poon School yang kini telah berganti menjadi Mall dan gedung Kaca Puri.

Jauh sebelum kita merdeka, gedung yang dibangun pada zaman kolonial itu telah runtuh. Namun kita masih beruntung, karena sebuah foto lawas gedung itu yang bersumber dari Tuan Koilowij (mungkin salah anggota Vereeniging Perdamaian)masih dapat ditemukan dalam majalah Pandji Poestaka edisi tahun 1924 yang diterbitkan oleh Balei Peostaka di Batavia. Foto lawas gedung Societeit tersebut,  yang reproduksinya disertakan dalam kutubkhanah ini,  barangkali, dapat memberikan sedikit gambaran visual tentang gedung Societeit milik Vereeniging Perdamaian itu.

Bangunan utamanya adalah rumah panggung beratap limas menggunakan genteng Melaka susun terenggiling. Arsitektur  rumah panggung seperti ini tipikal model bangunan yang sangat populer di Tanjungpinang dan kota lainnya di Kepulauan Riau (seperti di Pulau Penyengat, Karimun, dan Lingga) pada akhir abad ke-19 hingga awal abad yang lalu yang memadukan arsitektur Belanda dan tempatan (Melayu): sebuah gaya arsitektur bangunan publik  yang khas dan umum di Kota Tanjungpinang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad yang lalu.  Namun sayang, kini tak lagi ditemukan sisa-sisanya.

Tiang panggung bangunan berdidinding papan itu terbuat dari susunan bata sekitar satu meter tingginya. Mempunyai beranda berkisi-kisi kayu berhias. Bagian cucuran atap berhiaskan motif lebah bergantung. Model tangga depan gedung Sosieteit Perdamaian ini menggunakan model tangga khas rumah panggung dalam seni bina Melayu. Pagar tangganya yang melengkung mirip pagar tangga Masjid di Pulau Penyengat dalam ukuran yang lebih kecil. ***

Artikel SebelumApa Kehendak Tidak Tersangkut
Artikel BerikutMinta Ikhtiarkan Suatu Bicara
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan