KUALITAS sesuatu bangsa tak dapat dipisahkan dari tamadun atau peradaban yang dicapainya. Dalam hal ini, tamadun berkaitan dengan dua hal utama. Keduanya adalah (1) kehalusan budi dan (2) pembangunan perkotaan dan atau permukiman.

Berhubung dengan itulah, tamadun dapat didefinsikan sebagai sejumlah capaian pembangunan dalam segala perlakuan, pemikiran, dan kemajuan (seperti sains, teknologi, kesenian, dan lain-lain) yang tinggi, baik, halus, dan sopan ke arah pembentukan pribadi-pribadi dan masyarakat yang memiliki kepribadian, tata susila, dan budi pekerti yang tinggi lagi terpuji untuk membentuk sebuah masyarakat atau negara-bangsa. Dengan demikian, mutu atau kualitas budi sangat menentukan capaian tamadun sesuatu bangsa.

Definisi tamadun itu sangat ketara menempatkan budi sebagai indikator utama kejayaan sebuah tamadun. Karya-karya Raja Ali Haji rahimahullah, antara lain, banyak membahas persoalan kehalusan budi dan budi pekerti dalam perhubungan manusia dengan dirinya sendiri untuk membina marwah diri.

Kenyataan itu mengesankan bahwa budi pertama-tama seyogianya nampak pada diri seseorang manusia manakala dia mampu memelihara diri sendiri dengan pikiran, perasaan, sifat, sikap, dan perangai atau perbuatan yang mulia.

Dengan demikian, seseorang yang berbudi mulia memiliki ciri-ciri kebaikan dan kebajikan dalam-dan-bagi dirinya sendiri sebelum kehalusan budi dan budi pekerti itu ditujukan dan dipancarkan kepada orang dan sesuatu yang lain.

Mana mungkin seseorang yang tindakan sehari-harinya hanya mencelakakan dirinya sendiri mau dan sanggup menjaga lingkungan sekitarnya, bersedia dan mampu membela bangsanya, dan sebagainya.

Kehalusan budi dalam-dan-bagi diri sendiri memang menjadi anjuran dalam agama Islam. Berhubung dengan itu, dalam satu hadits disebutkan perkara yang mustahak itu.

Abdullah bin ‘Amr r.a. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang-orang pilihan di antara kamu adalah orang-orang yang paling baik budi pekertinya,” (H.R. Muslim).

Ciri utama kehalusan budi pada diri seseorang manusia yang pertama-tama adalah taat beragama. Itulah sebabnya, Gurindam Dua Belas (Haji, 1847) mengemukakan perihal ketaatan beragama itu pada Pasal yang Pertama, bait 1.

Tak pernah ada nama yang baik bagi manusia yang tak taat beragama. Pasalnya, nama yang baik berkelindan dengan budi yang baik. Selanjutnya, budi yang baik pertama-tama tercipta melalui ketaatan beragama.

Barang siapa tiada mengenal agama
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama

Ungkapan barang siapa pada bait di atas jelas mengacu kepada sesiapa saja, pribadi-pribadi, atau sesiapa pun. Hal itu bermakna seruan atau amanatnya ditujukan kepada diri setiap manusia. Dalam hal ini, setiap diri kita seyogianya mengenal agama.

Ungkapan mengenal agama pula tak semata-mata terbatas atau berhenti pada mengenal sahaja, tetapi dilanjutkan dengan meyakini, mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran dan anjuran agama.

Dengan kata lain, mengenal agama mencakupi makna yang lebih luas, yakni melaksanakan ajaran atau taat beragama. Hal itu menjadi lebih jelas setelah kita mengikuti pasal-pasal dan bait-bait berikutnya karena pasal-pasal dan bait-bait Gurindam Dua Belas itu berkait-kaitan antara satu dan lainnya berhubung dengan masalah akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak, yang kesemuanya bersumber dari ajaran agama Islam.

Barang siapa mengenal yang empat
Ia itulah orang yang makrifat

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal Tuhan Yang Bahari

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya

Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudarat

Pasal yang Pertama, bait 2 sampai dengan 5 di atas menjelaskan kategori orang yang mengenal agama. Kategori yang dimaksudkan itu adalah mengenal Allah, mengenal diri, mengenal dunia, dan mengenal akhirat.

Keempat hal itu dikenal karena agama Islam mengajarkan semua perkara itu kepada penganutnya. Jelaslah bait-bait itu mengemukakan persoalan akidah atau keyakinan beragama. Dari keyakinan itulah, kemudian, manusia diperintahkan untuk beribadah seperti yang tertera pada Pasal yang Kedua Gurindam Dua Belas.

Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut

Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang

Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa

Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah menyempurnakan janji

Pasal yang Kedua Gurindam Dua Belas ternyata berhubung dengan anjuran untuk melaksanakan ibadah wajib di dalam agama Islam. Kesemuanya itu menghala kepada perbuatan yang bercirikan ketaatan menjalankan ajaran agama Islam. Jelaslah bahwa ketaatan beragama merupakan ciri kehalusan budi dan budi pekerti. Dengan perkataan lain, seseorang dapat digolongkan kepada insan yang memiliki kehalusan budi dan berbudi pekerti mulia kalau dia taat beragama. Pasalnya, agamalah yang menganjurkan setiap pemeluknya untuk menjaga kehalusan budi dan akhlak yang mulia. Jadi, barang siapa yang taat menjalankan perintah agamanya pastilah dia memelihara dan memiliki kehalusan budi dan berbudi pekerti yang baik.

Perihal ketaatan beragama yang menjadi ciri kehalusan budi itu dikemukakan juga dalam Tsamarat al-Muhimmah. Berikut ini petikannya.

“Syahdan inilah segala sebab yang mengesahkan menjadi raja. Adapun segala syaratnya ‘alal jumlah. Bahwa hendaklah segala raja itu Islam yang teguh memegang ugama Islam ….” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013, 29).

Walaupun ditujukan kepada raja (pemimpin), amanatnya dapat dihubungkan dengan sesiapa saja atau setiap orang. Pasalnya, setiap orang yang beragama, tak kira pemimpin atau bukan, kesemuanya berkewajiban menjalankan ajaran agama sesuai dengan tuntunan agamanya.

Jadi, Tsamarat al-Muhimmah pun menegaskan ketaatan beragama menjadi kualitas yang menentukan kehalusan budi dan budi pekerti sebagaimana yang tertera di dalam syair yang ditempatkan pada bagian akhir karya yang sesungguhnya berbentuk prosa ilmiah dalam bidang hukum, politik, dan ilmu pemerintahan Melayu-Islam itu. 

Hendaklah anakanda mengaji selalu
Dari yang lain lebihkan dulu
Had syara’ jangan dilalu
Tidaklah anakanda beroleh malu

Di dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik dan Junus 2000, 122-133), juga tentang ketaatan beragama. Hal itu, antara lain, dikemukakan pada untaian syair bait 87 sebagai berikut ini.

Agama Islam kekal berdiri
Ilal akhir yaumid dahari
Mansuh sekalian agama yang bahari
Yahudi Nasrani demikian peri

Bait 87 Syair Sinar Gemala Mestika Alam  di atas kembali menegaskan mustahaknya keyakinan dan ketaatan beragama. Oleh sebab itu, ketaatan menjalankan ajarannya memang dituntut kepada setiap manusia.

Jika dihubungkan dengan pedoman dari Tuhan, ketaatan menunaikan ajaran agama, antara lain, tersurat dalam firman Allah berikut ini.

“Padahal mereka tak disuruh, kecuali hanya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus; dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus,” (Q.S. Al-Bayyinah:5).

Dari firman Allah di atas, ternyata memang ketaatan beragama menjadi mutlak bagi setiap manusia. Ketaatan beragama menjadi penanda kebaikan dan kehalusan budi setiap insan.

Oleh sebab itu, melalui karya-karyanya, Raja Ali Haji mengungkapkan perihal ketaatan beragama itu menjadi indikator utama kehalusan budi dan budi pekerti agar menjadi pelajaran bagi sesiapa saja yang mengaku orang beragama, khususnya umat Islam.

Dalam hal ini, ketaatan beragama itulah karakter utama sebagai penanda kehalusan budi sebagaimana terungkap juga di dalam firman Allah. 

Sifat taat beragama merupakan kualitas yang seyogianya dimiliki oleh seseorang yang disebut berbudi pekerti. Kualitas utama itu memang dituntut agar manusia, khasnya umat Islam, dapat dikategorikan sebagai manusia yang memiliki kehalusan budi dan berbudi pekerti.

Secara umum, kualitas itu seyigianya ada dalam setiap diri yang berbudi pekerti mulia. Dalam hal ini, ketaatan beragama menjadi penanda adanya kehalusan budi dalam diri seseorang manusia.

Dengan demikian, dari manakah kita mengetahui seseorang memiliki budi pekerti dan kehalusan budi? Jawabnya, pertama-tama dari ketaatannya beragama yang semata-mata karena kepatuhannya kepada perintah Allah, bukan karena sesuatu yang lain.

Hal itu bermakna semua perbuatannya dan nilai perbuatan itu diacunya kepada ajaran agamanya. Benar menurut agamanya dilaksankanannya, tetapi kalau salah dari sisi ajaran agamanya, ditolak dan atau dihindarinya.

Selain itu, ketaatan beragama seseorang manusia dapat juga diamati oleh orang lain walaupun mungkin orang yang menaati agamanya itu tak berniat untuk menunjukkannya kepada sesiapa pun di luar dirinya. Dalam hal ini, ketaatan beragama terlihat dari perkataan, perilaku, perangai, atau perbuatan.

Maksudnya, perkataan, perangai, tingkah laku, atau perbuatan itu (taat menjalankan ajaran agamanya) dapat diamati oleh orang lain dan atau perkataannya dapat didengar oleh orang lain. Dari perbuatan dan atau perkataannya, orang lain mengetahui bahwa orang (yang berbuat atau berkata) itu taat beragama sebagai penyerlah kehalusan budinya.

Seseorang boleh saja menyatakan bahwa dirinya taat beragama, tetapi perangai atau perilakunyalah yang menjadi penentu kebenaran perkataan atau samaran lainnya (semisal pakaian dan pelbagai aksesoris lainnya) yang dipamerkannya.

Berkenaan dengan ajaran agama Islam jugalah, persoalan pemahaman dan ketaatan beragama sebagai indikator utama kehalusan budi dan budi pekerti ditegaskan oleh Rasulullah SAW. Dalam salah satu sabda Baginda, antara lain, disebutkan berikut ini.

Dari Anas r.a., Rasulullah SAW bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang hamba, maka Dia membuatnya memahami agama dan membuatnya bersikap zuhud terhadap dunia, lalu Dia memperlihatkan aib-aib dirinya,” (H.R. Baihaqi).

Agamalah yang menentukan kualitas budi dan budi pekerti manusia. Sesiapa pun memisahkan kehidupan duniawinya dari nilai-nilai luhur agama, amat mustahil ianya memiliki budi pekerti yang mulia.

Seseorang yang taat beragama dan atau setia menjalankan ajaran agamanya memiliki kehalusan budi dan berbudi pekerti mulia. Konsekuensi dari kesemuanya itu hanya dua. Jika diikuti dengan taat dan ikhlas, ianya akan meningkatkan kualitas akhlak atau kehalusan budi sebagai ciri manusia yang beradab untuk selanjutnya sanggup membentuk bangsa yang bertamadun tinggi lagi kokoh berdiri sebagai bangsa.

Bahkan, dengan pertimbangan pragmatis-sekuler, mungkin ianya dicuaikan saja yang berakibat merosotnya kualitas budi dan budi pekerti sehingga melenyapkan sebuah peradaban atau tamadun. Untuk pilihan yang disebutkan terakhir, sayang bangat memang jika virus yang menyerangnya tak mampu ditangkal oleh bangsa yang suatu masa dahulu tamadunnya pernah berdiri anggun, ranggi, lagi tesergam.***

Tinggalkan Balasan