Linggi, Negeri Sembilan

KERAJAAN Barham berduka cita. Sultan kerajaan itu mangkat, yang disusul tak lama kemudian oleh permaisurinya telah sampai juga takdirnya berpulang ke Rahmatullah. Selesai sudahlah tugas dan tanggung jawab mereka sebagai pemimpin negeri di dunia yang fana ini, tinggal menanti perhitungan akhirat yang pasti akan dihadapi. Kepergian pemimpin itu tak hanya diratapi oleh kedua anak yang ditinggalkannya, Jamaluddin Adamani dan Siti Rahatulhayani serta menantunya, Siti Lela Mengerna (istri Jamaluddin), tetapi juga ditangisi oleh semua orang besar-besar kerajaan dan rakyat Negeri Barham sekaliannya. Negeri yang ditinggalkan oleh pemimpinnya itu pun berkabunglah.

Usai masa berkabung, pekerjaan mengurus negeri dan rakyat dilanjutkan. Pemimpin yang telah mangkat mesti ada yang menggantikan. Berduka dan berkabung memang dibenarkan, tetapi pelaksanaan pemerintahan harus dilanjutkan. Jika terus larut dalam kesedihan, sehingga pentadbiran negeri dilalaikan, tentulah berdampak buruk bagi bangsa Barham dan kerajaan.

Kisahnya dilanjutkan oleh Raja Ali Haji rahimahullah melalui syair naratif karya beliau, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 940-941. 

Tiada beberapa lamanya ada
Laki isteri hilanglah baginda
Tinggal Jamaluddin bangsawan muda
Mufakatlah sekalian menteri biduanda


Putus bicara wazir sekalian
Jamaluddin menggantikan ayahanda sultan
Setelah sudah ia dirajakan
Masuklah dengki pada hati Bahsan

Musyawarah para menteri Kerajaan Barham telah memutuskan bahwa Jamaluddin Adamani, putra sulung sultan yang telah mangkat, menjadi Sultan Barham. Hasil musyawarah itu sesuai dengan adat dan hukum Kerajaan Barham. Dalam hal ini, pengganti sultan sebelumnya adalah putra tertuanya (laki-laki). Musyawarah para menteri telah membuat keputusan sesuai dengan tradisi yang berlaku sejak lama sehingga tak dapat digugat oleh sesiapa pun juga.

Malangnya, hasil mufakat para menteri itu ditentang oleh Bahsan. Siapakah dia? Bahsan adalah adik kandung ibunda Jamaluddin. Dengan demikian, Bahsan itu sesungguhnya paman atau mamanda Jamaluddin dari pihak ibunya. Menurut Bahsan, dialah yang sepatutnya menggantikan kakanda iparnya, sultan yang telah mangkat, karena dia lebih senior daripada keponakannya. Masalahnya, adat dan hukum Kerajaan Barham tak mengatur seperti yang diinginkannya. Oleh sebab itu, Bahsan menaruh dendam dan dengki kepada keponakannya sendiri, Sultan Jamaluddin. Tak hanya sampai di situ, dia pun dengan segala upaya berusaha hendak membunuh keponakannya, bagaimanapun caranya, demi memperebutkan tahta Kerajaan Barham.

Ternyata, Bahsan tak sekadar menggertak. Niatnya itu memang dilaksanakannya. Berkaitan dengan itu, Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 943, melanjutkan kisahnya.

Duduklah Bahsan dengan dengkinya
Kepada Jamaluddin sakit hatinya
Negeri Barham diharu-birunya
Dagang senteri habis dimufakatinya

Taktik si paman yang memburu kuasa itu mula-mula dengan memorak-porandakan negeri yang dipimpin oleh keponakannya. Para menteri, rakyat, dan sebagian pemimpin tentara dibujuk dan dipaksanya untuk ikut menjatuhkan pemerintahan Sultan Jamaluddin. Mereka yang tak dapat dibujuk dan dipaksa dengan cara biasa dirayunya dengan janji jabatan, bahkan sebagian rakyat disogoknya dengan uang dan harta.

Karena kurang berpengalaman, Sultan Jamaluddin benar-benar sulit mengatasi upaya jahat pamannya. Apatah lagi, sebagian menteri dan pemimpin tentara yang sebelum ini begitu setia mendampingi ayahandanya kini bahkan lebih memilih setia kepada Bahsan setelah dijanjikan pelbagai jabatan yang menarik dan hadiah-hadiah yang menggiurkan. Hanya beberapa gelintir menteri, tentara, dan rakyat yang masih berpihak kepada sultan yang masih muda usia itu. Alhasil, Bahsan dapat merebut kuasa dari keponakannya. Walaupun begitu, dia masih penasaran karena belum berhasil membunuh Sultan Jamaluddin.

Ketika Hulubalang Duri datang menghadapnya dan bertanya mengapakah dia begitu sabar menghadapi ancaman pamannya, Sultan Jamaluddin menjawabnya apa adanya. Jawaban sultan muda itu terekam dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.004, yang menunjukkan karakter pemimpin yang baru saja dilantik itu, tetapi hanya tak lama antaranya langsung dijatuhkan oleh kerabatnya sendiri.

 Jamaluddin segera menjawab sabda
Benarlah kata hulubalang yang muda
Sahaya segores di dalam dada
Apalah daya syaratnya tiada

Ternyata, Jamaluddin tak membalas perbuatan jahat pamannya karena di dalam dirinya tertanam buat karakter beralah atau mengalah demi kebaikan. Dalam situasi yang dihadapinya, karakter beralah memang sangat diperlukan karena yang dihadapinya kerabatnya sendiri. Jika Sultan Jamaluddin mengambil sikap dengan melakukan perlawanan, samalah halnya dengan yang dibidalkan oleh orang tua-tua, “Kalah jadi abu, menang jadi arang.” Kesemuanya berakhir dengan nestapa. Belum lagi jika diperhitungkan malu yang datang menerpa karena sesama saudara berbunuh-bunuhan demi berebut tahta, yang tiada lain hanyalah bagian dari tipuan dunia.

Jika Sultan Jamaluddin yang masih muda berdiri anggun dengan karakternya yang mulia, tak demikian halnya dengan Bahsan, si paman yang mabuk kuasa. Dia boleh saja ingin menjadi penguasa, tetapi tak dengan menghalalkan segala cara. Karakter Bahsan sangat bertolak belakang dengan kearifan yang termaktub dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Kesebelas, bait 3.

 Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela

Seyogianya begitulah hendaknya. Jika berahikan pangkat dan jabatan apa pun, Bahsan harus melalukannya dengan cara-cara yang terhormat lagi mulia. Sebagai manusia, bahkan laki-laki sejati, semestinya dipantangkannya dirinya melakukan perbuatan tercela, bahkan sampai sanggup membunuh keponakannya. Itulah karakter manusia yang tiada berbangsa. Karena cara tak beradab yang diterapkannya, jatuhlah dirinya ke lembah kehidupan yang paling hina.

Sultan Jamaluddin yang pokta, walaupun masih muda usianya, menjalani kehidupan berdasarkan pedoman Allah Yang Mahakuasa. Itu sebabnya, jalan beralah yang ditempuhnya. Tak berani dia melawan ajaran Tuhan yang sangat diyakininya.   

“Dan, berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan. Maka, Allah mempersatukan hatimu, lalu karena nikmat Allah, menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara. Dan, kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari neraka itu. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk,” (Q.S. Ali ‘Imran, 103).

Sebagai pemimpin, Sultan Jamaluddin sangat khawatir akan datangnya murka Allah. Dalam keadaan seperti itu, sesiapa pun manusianya, sehebat apa pun dirinya, selicik apa pun taktiknya, dia yakin tak akan mampu menjadi pemimpin yang akan mendatangkan tuah. Bahkan, nestapa dan lara negeri dan rakyat akan semakin bertambah-tambah.Keyakinan Jamaluddin Adamani memang disuratkan dalam syair nasihat Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.) 2013), bait 43-44. Hanya pemimpin yang berkarakter mulialah yang mampu mengambil pelajaran yang bermanfaat. Oleh sebab itu, tak hanya di dunia mereka beroleh selamat, tetapi lebih-lebih di akhirat merasakan semua nikmat.

 Jika datang murkanya Tuhan
Ahli negeri tidak ketahuan
Kelakuan seperti binatang dan hewan
Hilanglah malu hilanglah bangsawan

Kacaulah negeri tidak terperi
Berdengki-dengkian sama sendiri
Umpat dan keji sehari-hari
Kepada raja tidaklah ngeri

Ringkasnya, kekacauan negeri itulah yang dihindari oleh Sultan Jamaluddin. Dengan pertimbangan itu, dia lebih memilih beralah atau mengalah demi kebaikan bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan lebih-lebih demi bangsa dan negaranya. Dia sangat menyadari bahwa harta dan tahta hanyalah tipu-daya dunia semata-mata. Kesemuanya itu materi uji kepada sesiapa pun yang mengaku dirinya dari jenis manusia: hendak jadi mulia atau hina!

Karakter beralah jugalah yang ditonjolkan oleh Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda III Riau-Lingga-Johor-Pahang, Daeng Kamboja (1745-1777). Sikap itu dipilihnya daripada berperang sesama sendiri ketika tuduhan dan fitnah ditujukan kepada beliau secara bertubi-tubi. Kisahnya disajikan oleh Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis

“Syahadan di dalam hal itu maka Yang Dipertuan Muda pun menyiapkan perahunya serta diturunkannya segala harta bendanya dan anak isterinya. Maka apabila sudah mustaid sekaliannya barulah ia pergi bermohon kepada Sultan Sulaiman, sambil berdatang sembah dengan tangisnya. ‘Ampun, tuanku! Yang patik ini keluarlah, diberi tidak diberi, patik keluar. Derhaka celaka patik tidak. Bukannya perbuatan patik dan bukannya perbuatan tuanku, tiada dapat patik bertahan lagi, seumpama karung sudah penuh tiada muat lagi. Jikalau patik bertahan sehari dua lagi, tentulah jadi rugi atas diri tuanku. Apalah nama patik? Selama-lama ini, paduka kekanda-kekanda membaikkan Riau ini tiba-tiba masa patik ini merosakkan pula. Adapun patik semua anak Bugis di mana-mana diam [bertempat tinggal, bermastautin, HAM], apabila ada titah perintah ke bawah duli memanggil patik menyuruh bekerja, insya Allah taala patik kerjakan. Akan tetapi, pada waktu ini bercerai dahulu antara tuanku dengan patik semua anak Bugis, sebab jangan rosak hati sanak saudara tuanku, kerana patik ini selagi orang suka patik tunggu, pada ketika orang benci patik keluar dahulu yang derhaka celaka merosakkan nama dan sumpah setia. Tiadalah harus patik menghilangkan nama orang tua-tua patik!” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 135).

Rupanya, tuduhan dan fitnah yang ditujukan kepada Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja dan saudara-saudaranya datangnya dari kerabat Duli Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I (1722-1760), penguasa tertinggi Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Jika Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja tak memilih beralah, tentulah akan terjadi perang di antara mereka—Melayu dan Bugis—yang padahal sudah diikat dengan janji sakral sumpah setia: “ibarat mata hitam dan mata putih”, tak dapat dipisahkan oleh apa dan sesiapa pun jua. Yang ingkar dan khianat akan menerima padah (akibat buruk) yang teramat pedih. Akan tetapi, godaan dan karenah dunia, terutama tahta yang menggoda, membuat manusia cenderung lupa.

Untuk menghindari perpecahan di antara mereka itulah, Yang Dipertuan Muda Daeng Kamboja membuat pilihan bermohon diri meninggalkan pusat pemerintahan kerajaan di Riau Lama (Tanjungpinang) untuk sementara menuju Linggi (bagian Malaysia sekarang). Dengan begitu, persaudaraan di antara Melayu dan Bugis dapat dipertahankan. Alhasil, walaupun harus melalui peristiwa yang berliku-liku dan mendebarkan, kesemuanya berakhir bahagia. Karisma pemimpin yang beralah menyerlahkan kemaslahatan bagi bangsa dan negara. Hanya pemimpin terbilanglah yang mampu mewujudkannya menjadi nyata. 

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jangan kalian saling mendengki, jangan saling najasy, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! Dan, hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Berdengki-dengkian sesama sendiri adalah perilaku yang dilarang oleh Baginda Rasulullah SAW. Saling dengki dan benci tak pernah mampu membawa negeri menjadi maju dan dapat bersaing dengan negeri dan bangsa mana pun. Sifat dan sikap buruk itu tak ubahnya virus yang segaja ditularkan oleh syaitan untuk mematikan semangat manusia untuk maju secara benar di bawah ridha Allah SWT.

Ketika menghadapi keadaan genting, pemimpin cerdas dan tercerahkan lebih memilih beralah (mengalah) demi kebaikan. Keunggulan karakternya itu memungkinkan bangsa dan negara yang dipimpinnya mampu menghadapi pelbagai cobaan dan cabaran. Itulah kelebihan pemimpin yang memang dipilih oleh Tuhan. Benci dan dengki orang dia abaikan, dari dan dalam dirinya dia pantangkan.*** 

Tinggalkan Balasan