Peta situasi dan letak Negeri Riau (Rhio) dan pelabuhan di Pulau Bintan pada akhir abad ke-18. Sebuah peta laut yang dibuat oleh Mr. Mannevillette dan dipublikasikan di London, Inggris, oleh Laurie & Whittle pada 17 Mei 1794. Di Negeri Riau pada masa itu, “…kawasan istana Raja (King Palace) dikelilingi oleh rapatnya rumah-rumah yang terhampar di tebing sebelah Utara sungai; sebuah kawasan pemukiman dimana rumah baru dibangun setiap hari...”

Setelah dibuka oleh Laksamana Tun Abdul Jamil sempena menjunjung titah Sultan Johor,  Sultan ‘Abdul Jalil Syah pada 1672, perlahan-lahan negeri baru di Sungai Carang, Pulau Bintan, yang kemudian dikenal sebagai Negeri Riau tumbuh menjadi tempat “nadi sejarah” di Selat Melaka berdenyut.

Awalnya, pembukaan Negeri Riau itu adalah bagian dari strategi pertahanan ketika Kerajaan Johor lama, yang masih berpusat di Semenanjung, kalah dalam peperangan dengan Jambi pada tarikh 1083 Hijriah bersaman dengan 1672 Miladiah.  Dalam beberapa teks sejarah istana Johor-Riau-Lingga-dan Pahang, seperti dalam Hikayat Negeri Johor, peristiwa itu dicatat sebagai berikut: “…tatkala masa alah Negeri Johor oleh orang Jambi pada hijrat seribu delapan puluh tiga tahun. Syahdan, maka Sultan Abdul Jalil Syah, Raja Muda, semayam di Pahang. Dan Laksamana Tuan Abdul Jamil dititahkan ke [Pulau] Bintan. Maka Laksamana pun berbuat negeri di Sungai Carang. Disebut orang, Riau. Setelah itu, maka Laksamana pun beberapa puluh membangun kelengkapan…”

Peristiwa pembukaan Negeri Riau di Pulau Bintan itu adalah sebuah historical watershed, sebuah titik sejarah yang sangat penting dalam kaitannya dengan tahap-tahap perjalanan sejarah yang panjang pada masa-masa berikutnya.

Dari  sebuah kawasan benteng yang perlahan-lahan berubah menjadi pelabuan dagang, Negeri Riau yang terletak di Sungai Carang itu pada akhirnya silih-berganti menjadi ibukota Kerjaan Johor menggantikan  ibukota lama di Tanah Johor, di Semanjung, sejak Sultan Ibrahim yang menggantikan ayahnya pindah bersemayam sebegai Sultan Johor Negeri Riau pada 1678.

Negeri Riau ini juga pernah menjadi tempat Sultan Mahmud Mangkat (Marhum Dijulang) bermastautin sebelum ia memerintah dan memindahkan kembali ibukota Johor ke Tanah Johor (Johor Lama) di Semanjung.

Bagaikan wujud nyata dari gerak sejarah yang berulang, Negeri Riau di Sungai Carang, Pulau Bintan, sekali lagi menjadi ibu kota Johor ketika Sultan-Sultan dari Dinasti Bendahara memerintah Kerajaan Johor. Begitu pula ketika daulat Dinasti Benadahara itu dirampas oleh Raja Kecik untuk beberapa waktu lamanya.

Ketika daulat Kerejaan Johor itu behasil dirampas semula dari rangan Raja Kecik, selama 65 tahun lamanya Negeri Riau ini menjadi ibukota Kerajaan Johor, yang disebut oleh Leonard Andaya sebegai “Kerajaan Johor yang baru”, terhitung sejak Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dari Dinasti Bendahara Johor naik tahta sebagai Sultan “Kerejaan Johor yang baru” pada 1722.

***

Negeri Riau di Sungai Carang, Pulau Bintan, inilah yang dilihat dari geladak kapalnya oleh Herke Becker, seorang mualim (stuurman) kapal dagang Vereeniging Oost Indische Companie (VOC) pada tahun 1710. Ketika itu, Riau telah menjadi sebuah pelabuhan yang dicatat oleh Herke Becker sebagai sebuah negorij (negeri) yang juga terkenal sebagai tempat pembuatan kapal.

Menurut laporan Becker, sungai yang menjadi jalan masuk ke pelabuhan Negeri Riau itu dilindungi oleh sebuah perintang dan sarang meriam (kubu) yang dipersenjatai dengan tujuh buah bedil. Negeri utamanya terhampar 400 meter di belakang dua perintang itu.

Adapun kompleks istana Sultan, yang disebut juga dengan istilah dalam, menurut bahasa istana raja-raja Melayu, terletak lebih ke hulu. Herke Becker menggambarkan kawasan istana itu dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk yang bersusun rapat, yang terhampar di tebing sebelah Utara sungai; sebuah kawasan pemukiman dimana rumah-rumah baru dibangun setiap harinya.

Pulau Bayan yang yang terletak di kawasan ‘kuala’, membentuk bagian yang terakhir dari bandar pelabuhan Negeri Riau itu; pulau kecil yang pernah mejadi benteng pertahanan Yamtuan Muda Raja Ali ibni Daeng Kamboja pada masa-masa Perang Riau melawan VOC-Belanda setelah Yamtuan Muda Raja Haji mangkat di Teluk Ketapang Melaka pada 1784, berfungsi sebagai pelindung“pintu masuk”ke pusat Negeri Riau yang berada di hulu. Pulau yang berada di tengah-tengah Kuala Riau ini dikawal oleh pasukan dan dibentengi pancang-pancang kayu yang  runcing dan barisan meriam.

***

Sebagaiibu kota Kerajaan Johor sejak pertengahan abad ke-17 hingga pertengahan abad ke 18, Negeri Riau di Sungai Carang sesungguhnya tidak menghasil apapun komoditi perdagangan yang dicari oleh pedagang antarbangsa ketika itu.

Namun demikian, seperti telah ditunjukkkan oleh sejarawan Leonard Y Andaya dalam The Kingdom of Johor 1641-1728 (Oxford University Press,1975), pelabuhan dan labuhan Negeri Riau riuh dengan aktifitas perdagangan antarbangsa. Pelabuhan Negeri Riau mampu tampil menjadi tempat berkumpulnya kapal-kapal dagang yang datang dari Eropa, Asia, dan Nusantara.

Utusan-utusan kapal dagang VOC-Belanda yang datang berdagang ke pelabuhan Negeri Riau pada abad ke- 17 hingga menjelang dekade terakhir abad ke-18 umpamanya, sangat kagum dengan kemampuan Negeri Riau dalam mengelola pelabuhannya pada zaman Laksamana Tun Abdul Jamil ini.

Bahkan, ada sebuah narasi yang melukiskan situasi pelabuhan Negeri Riau ketika itu menyerupai peranan yang telah dimainkan oleh pelabuhan Negeri Melaka lebih dari seratus tahun sebelumnya.Pelabuhan Negeri Riau di Sungai Carang ketika itu digambarkan sebagai sebuah entrepot  antarbangsa. Sebuah pelabuhan penyalur komoditi dagang antarbangsa yang dilengkapi dengan gudang-gudang, dan pegawai-pegawai yang terampil dalam mengendalikan dan mengatur arus keluar masuk barang niaga.

Oleh karena itu, meskipun tidak memproduksinya, ketika itu Negeri Riau mampu menyediakan komoditi lada, timah, dan berbagai jenis kain corak terbaru dengan harga yang murah. Begitu pula halnya dengan berbagai komoditi dagang lainnya yang dibutuhkan dalam perdagangan antarbangsa pada abad 17 dan 18 itu.

Willem Valentyn dalam misinya ke Kerajaan Johor, melaporkan bahwa pelabuhan Negeri Riau ketika itu juga mampu menyediakan emas, kayu gaharu, kelembak (sejenis gaharu juga), batu benzoar yang digunakan untuk bahan obat, sarang burung, gading, kapur barus, tembaga, beras, sutera putih dari Cina, tembikar, kuali besi Cina, laken (sejens kain merah), benang emas Jepang, dan Candu.

Sebagai entrepot, Negeri Riau dan pelabuhannya adalah saingan yang menakutkan bagi pelabuhan Melaka yang ketika itu telah dikuasai oleh VOC-Belanda. Terlebih ketika penguasa pelabuhan Negeri Riau memberlakukan cukai dagang yang rendah, dan melengkapinya dengan fasilitas galangan dan perbaikan kapal.

Thomas Slicher, Gubernur VOC di Melaka, tak memandang enteng Negeri dan pelabuhan yang dibuka Laksamana Tun Abdul Jamil itu. Bahkan, ia menyebut bahwa faktor utama yang memungkinkan pelabuhan Negeri Riau tampil sebagai sebuah entrepot yang penting di Selata Melaka ketika itu, adalah karenamanagierse aequipage, yaknikepiawaian manajemenpara pengendali pelabuhan dan perdagangannya dalam menyediakan segala sesuatuyang dibutuhkan bagi perdagangan antarbang ketika itu. .

Dengan kepiawaian managierse aequipage dalam mengelola pelabuhan, Negeri Riau mampu memikat pedagang antarbangsa. Mampu menyediakan segala kebutuhan bagi kapal-kapal dagang yang singgah di labuhannya, dan mampu mengendalikan serta mebekalkan komoditi perdagangan yang penting kepada semua kapal dagang dengan cepat dan murah.

Selain karena managierse aequipage-nya, daya tarik lain yang mengundang para pedagang antarbangsa ke pelabuhan Negeri Riau adalah selisih harga komoditi dagangnya yang murah. Halini ditopang pula oleh cara pembayaran yang lebih mudah ketimbang di pelabuhan Melaka. Menurut Thomas Slicher, para pedagang timah dibayar setengahnya dengan duit dan setengahnya lagi dengan kain. Sebaliknya di Pelabuhan Melaka, yang dikuasai VOC-Belanda, “…mereka diberikan apa saja jenis kain yang ada dan bukannya jenis kain dengan corak yang terbaru seperti di pelabuhan Negeri Riau…”

Dalam sepucuk suratnya ke Batavia pada tarikh bulan Mei 1687, Gubernur Thomas Slicher antara lain menggambar suasana pelabuhan Negeri Riau di Sungai Carang yang riuh. Menurutnya, sebagaimana dikutip Andaya dalam The Kingdom of Johor, jumlah kapal yang berlayar ke Negeri Riau, yang ketika itu telah menjadi ibukota kerajaan Johor yang baru, begitu besar. Menurut Thomas Slicher, sungai-sungai di Negeri Riau ketika itu sukar untuk dilalui karena terlalu banyaknya kapal dagang berlabuh. ***

Artikel SebelumSumpah Setiap Melayu dan Bugis 1691
Artikel BerikutBerdengki-dengkian Sama Sendiri
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan