Pemandangam salah satu sudut kawasan Kota Piring di Pulau Biram Dewa, di Hulu Riau, Tanjungpinang bulan februari 1989. Masih belum ada rumah penduduk. (Dok. Aswandi Syahri)

DULI Yang Mahamulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah, Sultan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812) akhirnya bertolak ke Pahang (bagian Malaysia, sekarang). Baginda berkunjung ke wilayah otonom itu dari pusat pemerintahan di Riau Lama (wilayah Tanjungpinang, Pulau Bintan, sekarang) bukan karena hendak melakukan kunjungan biasa. Lalu, apakah maksud kunjungan Seri Paduka Baginda kali ini?

Sultan Mahmud mendapat maklumat dari Bendahara Pahang bahwa Raja Haji sedang berada di Pahang. Bahkan, Bendahara Pahang, sesuai dengan wewenang yang ada pada beliau, telah melantik Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang menggantikan Allahyarham Duli Yang Mulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Muda III Daeng Kamboja yang telah mangkat.

Jabatan itu tak boleh kosong. Itulah sebabnya, Bendahara Pahang melantik Duli Yang Mulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Muda IV Raja Haji ibni Allahyarham Duli Yang Mulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Muda II Opu Daeng Cellak. 

Bukan main girang dan bahagianya Seri Paduka Baginda Sultan mendengar kabar bahwa ayahanda Baginda (Raja Haji adalah juga paman Sultan Mahmud Riayat Syah dari pihak ibunda Baginda) sedang berada di Pahang. Sebelum itu, Sultan Mahmud sangat sedih karena dua sebab.

Pertama, Baginda dan seluruh negeri baru ditinggal mangkat oleh Yang Dipertuan Muda III Daeng Kamboja, orang yang telah mendidik dan memelihara Baginda dengan segenap jiwa dan raga semenjak Baginda masih kecil.

Kedua, dalam pada itu, paman Baginda, Raja Haji, sedang tak berada di pusat kerajaan di Riau Lama. Padahal, jabatan Yang Dipertuan Muda harus segera diisi dan orangnya memang tak lain tak bukan adalah Raja Haji.

Begitu mengetahui bahwa Raja Haji sedang berada di Pahang, Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah langsung menjemput sendiri paman Baginda itu untuk dibawa pulang ke Riau Lama. Disingkatkan kisahnya lalu …  

“Syahadan tiada berapa lamanya baginda Sultan Mahmud (Riayat Syah, HAM) serta paduka ayahanda Yang Dipertuan Muda Raja Haji berangkatlah balik ke Riau,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 196).

Sesuai dengan wewenang dan jabatannya setelah menjadi Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777-1784), tugas apakah yang dilaksanakan oleh Baginda Raja Haji setelah sampai di pusat kerajaan? Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah menuturkannya di dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis

“Syahadan apabila tiba di Riau maka Yang Dipertuan Muda pun membuat istana di Pulau Malam Dewa (atau Biram Dewa, HAM) serta dengan kotanya yang indah-indah yang bertatah dengan pinggan dan piring sangatlah indah perbuatannya, dan satu pula balai dindingnya cermin. Adalah tiang balai itu bersalut dengan kaki pahar tembaga dan kota itu sebelah atasnya berkisi-kisikan bocong.

Adapun kota itu apabila kena matahari memancar-mancar cahayanya. Kemudian memperbuat pula satu istana lagi di Sungai Galang Besar sangat juga indah-indah perbuatannya, iaitu istana paduka anakda baginda itu Sultan Mahmud. Dan perhiasan istana Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda itu daripada emas dan perak hingga rantai-rantai setolopnya dengan rantai perak jua, dan seperti talam dan ceper kebanyakan diperbuat di negeri China, dan seperti tepak dan balang air mawar daripada emas dan perak diperbuat di negeri Benila yang berkarang dan bertatahkan intan dan yang berserodi. Dan adapun pinggan mangkuk dan cawan kahwa dan teh kebanyakan diperbuat di negeri China serta tersurat dengan air emas pada pantat cawan itu tersebut Pulau Malam Dewa. Adalah cawan itu hingga sampai kepada anak cucunya, iaitu sah dengan nyatanya,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 196-197).

Rupanya, di antara serangkaian tugas Baginda, Raja Haji membangun dua buah istana yang indah dan tesergam. Tentulah pembangunan itu berdasarkan titah atau sekurang-kurangnya dengan persetujuan Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud. Tidakkah pembangunan kedua-dua istana itu terkesan pemborosan dan menghambur-hamburkan uang negara? Jawabnya pasti, tidak!

Tercatat puncak kemakmuran Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang memang pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda Raja Haji. Kala itu pelabuhan kerajaan senantiasa sibuk selama 24 jam saban hari tiada hentinya karena keluar-masuknya kapal-kapal maskapai perdagangan internasional dari pelbagai negara, baik Timur maupun Barat, juga kapal-kapal sesama kerajaan nusantara.

Rakyat hidup sangat sejahtera dan barang-barang keperluan pokok masyarakat dapat dibeli dengan harga yang sangat murah. Pada masa itu siang hari rakyat bekerja sesuai dengan profesi masing-masing dan malam hari mereka memenuhi rumah-rumah ibadah, sama ada untuk beribadah ataupun melakukan pengajian-pengajian agama. Kesejahteraan zahir dan batin betul-betul dinikmati oleh rakyat. Semasa itu pulalah kemahiran maritim bangsa Melayu semakin dikagumi oleh bangsa-bangsa lain.

Selain kemajuan ekonomi dan perdagangan serta kestabilan politik dan pemerintahan, yang disokong oleh pertahanan dan keamanan yang sangat kuat, keistimewaan apakah yang sangat menyerlah dari kepemimpinan Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji kala itu? Ini dia keistimewaannya. 

Kedua-dua pemimpin itu sangat mencintai keindahan dan seni. Hal itu tecermin dari penataan kota dan seni-bina istana yang mereka bangun. Hanya pemimpin yang mencintai senilah yang rela mengeluarkan dana yang sangat besar untuk memperindah negerinya dengan pelbagai jenis karya seni, baik cabang-cabang seni murni maupun seni terapan seperti arsitektur yang indah-indah. Dalam kasus Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang semasa, kesemuanya sesuai dengan capaian kemakmuran negara yang berhasil diraih. Bukan besar pasak dari tiang, bermegah-megah ketika rakyat menderita.

Dengan demikian, sama ada rakyat sendiri ataupun bangsa lain yang datang berasa bahagia berada di negeri yang berlimpah nilai seni-budaya tersebut. Dampaknya, kemajuan ekonomi pun berhasil diraih karena masyarakat berbilang bangsa terus saja berdatangan ke negeri itu. Begitulah tesergamnya Riau Lama kala itu yang membuat bangsa-bangsa lain terkagum-kagum. Kuncinya pada kedua tokoh pemimpinnya yang sangat mencintai keindahan dan seni-budaya.

Belajar dari pengalaman kejayaan pemerintahan Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji Fisabilillah, satu lagi karakter kepemimpinan yang seyogianya dimiliki oleh pemimpin terbilang. Dalam hal ini, pemimpin harus memiliki karakter sejati (bukan sekadar pencitraan) mencintai keindahan dan atau seni. Dampaknya, pemimpin mampu mengelola pemerintahan secara cerdas, indah, menyenangkan, dan membahagiakan semua orang.

Untuk mampu menampilkan kinerja luaran kepemimpinan yang bernilai cerdas, indah, dan menyenangkan, pemimpin harus menempa dalaman dirinya terlebih dahulu. Dari situlah akan tampil luaran yang mengagumkan rakyat. Dalam hal ini, seri pantai (keindahan zahiriah) dan seri gunung (keindahan batiniah)-nya harus selaras dan bersebati. Bersabit dengan itu, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), 21 dan 35, memberikan petuah dan mengajarkan kearifannya. 

Tutur yang manis anakanda tuturkan
Perangai yang lembut anakanda lakukan
Hati yang sabar anakanda tetapkan
Malunya orang anakanda pikirkan
Ayuhai segala pegawai sultan
Hendaklah jaga pada jabatan
Kamu itu seperti intan
Jangan dibuangkan ke dalam hutan

Bertutur, berperilaku, dan bersikap memerlukan kecerdasan dan kemahiran seni. Ianya menjadi indah dan menyenangkan jika pelakunya memang memiliki kecerdasan yang memadai dan berkarakter mulia. Sesungguhnya, sesiapa pun pemimpinnya,  dia memikul amanah jabatan yang bernilai tinggi lagi mulia, ibarat intan yang berkualitas baik. Dari situlah munculnya sifat pandai bertimbang rasa (empati) kepada orang-orang yang dipimpinnya, membanggakan rakyat dan atau masyarakat, bukan sebaliknya mempermalukan mereka. 

Hanya pemimpin yang tak memahami nilai-nilai mulia kepemimpinanlah yang menyia-nyiakan jabatan pemimpinnya dengan sikap dan perbuatan tercela dan atau tak terpuji. Ibarat sesuatu yang bernilai tinggi, tetapi malah dibuang ke dalam hutan. Dalam kasus ini, pemimpin gagal mengapresiasi nilai-nilai keindahan dan seni kepemimpinan. Dapat dipastikan bahwa pemimpin seperti itu tak akan pernah mampu menemukan kebahagiaan sesungguhnya dalam kepemimpinannya, apatah lagi membahagiakan orang lain, rakyatnya.

Begitulah mustahaknya karakter mencintai keindahan dan atau seni bagi setiap pemimpin. Amanat dan atau berpedoman kepada siapakah sesungguhnya bahwa pemimpin wajib memiliki karakter mencintai keindahan?   

“Maka, Dia menjadikan tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan, Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui,” (Q.S. Fushshilat, 12).

Sekali lagi, sesungguhnya kesemuanya itu bukan kepandaian dan kearifan manusia. Tuhanlah yang memerintahkan manusia untuk mempelajari ciptaan-Nya. Dihiasi-Nya langit dengan benda-benda langit dan bintang-bintang yang cemerlang sehingga sesiapa pun yang memandang langit pada waktu malam akan terpesona akan keindahan ciptaan-Nya. Kenyataan itu membuktikan bahwa Tuhan mencintai keindahan, yang seyogianya diikuti oleh makhluk-Nya, lebih-lebih lagi para pemimpin. Tentulah ada hikmah di sebalik kesemuanya itu, yang pasti berdampak positif bagi kejayaan kepemimpinan, yang pada penutup tulisan ini disaripatikan.

Seperti halnya Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Haji Fisabilillah, pemimpin ini pun sangat mencintai seni. Bahkan, bakat dan kecintaan seninyalah yang mengantarkannya ke puncak jaya kepemimpinan. Dia adalah hulubalang yang kemudian menjadi Sultan Duri. Kisahnya tersurat dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.020-1.021.

Kaum Bahsan pula bermadah
Sambil tertawa riuh dan rendah
Bermainlah engkau biar kuupah
Dengan pakaian yang indah-indah
Duri pun segera memetik kecapinya
Terlalu halus rupa jarinya
Serta pula dengan gurindamnya
Sangatlah merdu bunyi suaranya

Dengan kecintaan dan kemahiran seninya, dalam hal ini bermain kecapi dan bernyanyi atau bersyair, Hulubalang Duri dapat mengembalikan kerajaan sahabatnya, Sultan Jamaluddin Adamani, penguasa sah Kerajaan Barham yang sebelumnya tersandera. Bahkan, kecintaan dan kemahiran seninya jugalah yang memungkinkannya menggalang bantuan kekuatan negara sahabatnya untuk merebut kembali kemerdekaan negara dan bangsanya, Kerajaan Barbari. Kecintaan seni Hulubalang kemudian Sultan Duri telah meruntuhkan kesombongan manusia. Walaupun mulanya ada upaya manusia untuk mendustakan dan mengingkarinya, akhirnya, kesemuanya dapat dikembalikannya kepada kebenaran yang indah sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Tuhan. 

Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu. (Ketika mendengar sabda Rasulullah SAW itu) ada seseorang yang bertanya, “Sesungguhnya, setiap orang yang suka (memakai) baju yang indah dan alas kaki yang bagus, (termasuk sombongkah itu)?” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, Allah Mahaindah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain,” (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah SAW yang dinukilkan di atas lebih menjelaskan firman Allah yang dipetik terdahulu. Ada dua hal yang dapat disarikan dari hadits itu. Pertama, Allah-lah yang memerintahkan manusia untuk mencintai keindahan karena Dia Mahaindah dan mencintai keindahan. Hal itu bermakna melenyapkan keindahan merupakan perbuatan melawan Allah. Kedua, sangat berbeda antara mencintai keindahan dengan kesombongan. Pasalnya, kesombongan itu mengikari kebenaran, sedangkan mencintai keindahan bermakna meneguhkan dan memuliakan kebenaran.Puncanya terpulanglah kepada hati yang menentukan.

Hati yang memungkinkan manusia mencintai keindahan. Sebaliknya, hati jugalah yang dapat memutarbalikkannya menjadi kesombongan yang menyedihkan sehingga harus berhadapan dengan Tuhan. Oleh sebab itu, hati harus terus tercerahkan. Dalam hal ini, kearifan yang tersurat Gurindam DuaBelas (Haji, 1847), Pasal yang Keempat, bait 1, menjadi tak terbantahkan.

Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota pun roboh

Pemimpin yang mampu membangun karakter mencintai keindahan dan seni dalam dirinya akan beroleh banyak manfaat dalam kepemimpinannya. Di antaranya, imajinasinya akan terus berkembang sesuai dengan perjalanan masa. Dengan itu, kreativitas pun mengalir untuk melakukan inovasi dan atau menerusbarukan pemikiran dan gagasan lama, tetapi berguna. Bonusnya, mencintai keindahan dan seni membangkitkan ketenangan jiwa. Imajinasi, kreativitas, inovasi, dan ketenangan merupakan faktor-faktor penting lagi menentukan kejayaan kepemimpinan pada peringkat mana pun adanya.***

Tinggalkan Balasan