SULTAN Jamaluddin Adamani, penguasa muda usia Kerajaan Barham, sungguh tak berdaya menghadapi sepak terjang pamannya sendiri, Bahsan. Sang Paman memang memendam niat terselubung ketika suatu hari nanti abang iparnya (ayahanda Jamaluddin) mangkat (wafat), dia hendak menjadi sultan. Menjelang saat-saat dinantikannya itu tiba, dia telah berhubungan dengan para pembesar kerajaan yang berpotensi diajak berkhianat untuk merebut kekuasaan. Ambisi pamannya yang disokong sebagian besar orang besar-besar kerajaan itulah yang membuat Sultan Jamaluddin tak kuasa melawan.

Rakyat yang mencintainya, dan lebih-lebih memahami bahwa dirinyalah pemimpin yang sah, sangat prihatin terhadap Sultan Jamaluddin. Di antara mereka muncul juga pertanyaan mengapakah sultan mereka membiarkan saja Bahsan merajalela? Bahkan, ada juga yang bersedia melawan Bahsan kalau ada perintah langsung dari Sang Sultan. Akan tetapi, titah Sultan Jamaluddin tak kunjung turun. Akibatnya, rahasia pembiaran itu hanya Sultan Barham itu sajalah yang tahu.

Sultan Jamaluddin baru membuka rahasia dirinya tak melawan Bahsan selama ini setelah Hulubalang Duri, yang baru datang ke negerinya, menghadapnya. Walaupun tak semuanya disampaikannya, terutama pertimbangan bahwa Bahsan itu pamannya, pertanyaan takzim dan ikhlas Hulubalang Duri dijawabnya juga. Raja Ali Haji rahimahullah menuturkan kisahnya dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.005.

Karena Bahsan banyak orangnya
Seisi negeri suka padanya
Wazir menteri berhimpun semuanya
Sekaliannya sudah di bawah perintahnya

Itulah pertimbangan Sultan Jamaluddin yang masih muda. Dia khawatir jika mengambil tindakan tegas terhadap Bahsan akan terjadi perang saudara. Akibatnya, negeri yang telah dibangun oleh nenek-moyangnya dan baru ditinggal mangkat oleh ayahandanya jadi porak-poranda. Dampaknya tentulah rakyat yang tak berdosa akan menderita. Oleh sebab itu, dia terkesan membiarkan pamannya merajalela walaupun marwahnya sebagai sultan yang sah harus tercedera. Apatah lagi, sebagian besar menteri, hulubalang, dan tentara berkhianat kepadanya karena disogok Bahsan dengan jabatan dan harta.

Hulubalang Duri sangat prihatin terhadap Sultan Barham. Berasa senasib dengan sultan yang kekuasaannya tersandera, Duri bersedia mengabdi dan menolong Jamaluddin agar bebas dari cengkeraman kekejaman pamannya. Bait 1.006 Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) menuturkan kisah selanjutnya.

Sembah Duri muda bangsawan
Suaranya halus perlahan-lahan
Jikalau ada yang cakap melawan
Apakah titah Yang Dipertuan

Ternyata, Hulubalang Duri menawarkan dirinya untuk memimpin perlawanan terhadap Bahsan demi membela martabat Sultan Jamaluddin dan kerajaannya. Bagaimanakah tanggapan Sultan Barham atas tawaran Duri yang setia? Kisahnya terekam dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 1.010.

Baginda sultan mendengar kata
Terlalu suka Duli Mahkota
Wazir yang kelima adalah serta
Sekaliannya sangat suka cita

Kisah perseteruan Sultan Jamaluddin dan Bahsan, pamannya, yang dinukilkan di sini berintikan satu lagi karakter utama yang seyogianya dimiliki oleh setiap pemimpin. Karakter yang dimaksud adalah setia menjaga rahasia, khasnya rahasia negara yang tak boleh diketahui oleh pihak-pihak yang tak berkepentingan. Karakter itu ditunjukkan oleh Sultan Jamaluddin yang tak pernah membuka rahasianya yang tak melawan Bahsan, kecuali kepada Hulubalang Duri yang telah bersetia kepadanya dan menyatakan kesungguhan untuk menolongnya. 

Karakter setia menjaga rahasia jabatan dan atau negara juga ditunjukkan oleh Hulubalang Duri dan para wazir (menteri) yang hadir dalam pertemuan antara Sultan Jamaluddin dan Hulubalang Duri. Mereka tak membicarakan hasil pertemuan itu kepada sesiapa pun, termasuk strategi dan taktik yang akan digunakan oleh Hulubalang Duri untuk melawan Bahsan dan pengikutnya. 

Pemimpin yang setia menjaga rahasia negara dan atau jabatan sangat menyadari bahwa hal itu memang menjadi tanggung jawabnya ketika menyatakan diri bersedia memangku jabatan tertentu dalam pemerintahan. Kenyataan itu juga telah diingatkan dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Kesebelas, bait 3.

Hendak memegang amanat
Buanglah khianat

Jabatan apa pun yang dipercayakan kepada seseorang, lebih-lebih jabatan di pemerintahan, merupakan amanah negara yang harus dijaga oleh orang yang menyandangnya. Berhubung dengan itu, ada perkara-perkara yang tak boleh diketahui pihak mana pun, termasuk anggota keluarga sekalipun, karena berisiko terhadap keberlangsungan pemerintahan dan atau negara. Oleh sebab itu, pemangku atau pemegang jabatan tak boleh berkhianat dengan membuka rahasia negara sehingga membahayakan pemerintahan dan atau negara. 

Dengan demikian, karakter setia menjaga rahasia jabatan dan atau negara sangat mustahak dimiliki oleh setiap pemimpin. Pasalnya, para pemimpinlah yang mengetahui sesuatu yang harus dirahasiakan, bukan bawahan. Sumber kebocoran rahasia jabatan dan atau negara adalah pemimpin yang tak amanah dalam melaksanakan tanggung jawab kepemimpinannya.

Dari manakah sesungguhnya manusia belajar tentang mustahaknya menjaga rahasia jabatan dan atau negara? Sumber utamanya ternyata memang dari Tuhan. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, memang ada hal-hal tertentu yang tak boleh diketahui publik demi keberlangsungan pemerintahan dan atau negara. Perkara-perkara seperti itu wajib dirahasiakan.

“Wahai, orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih-sayang. Padahal, sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa-apa yang kamu sembunyikan dan apa-apa yang kamu nyatakan. Dan, barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus,” (Q.S. Al-Mumtahanah, 1).

Begitulah Allah mengecam orang-orang, terutama pemimpin, yang membocorkan rahasia jabatan dan atau negara. Mereka dikategorikan oleh Allah sebagai orang-orang yang sesat. Dengan kesesatan itu, jelas pulalah sanksinya dari Allah. Tentulah, mereka pun—yang membuka rahasia negara—akan mendapat sanksi dari negara jika terbukti melakukan pengkhiatan itu,  sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dan, hukuman yang dijatuhkan oleh negara itu sah di hadapan Tuhan. Pasalnya, ianya sesuai dengan petunjuk Allah. Bukankah Allah telah mengingatkan, bahkan, dengan pertimbangan kasih-sayang kepada seseorang pun rahasia negara tak boleh diceritakan kepada para pihak yang tak berwewenang? 

Begitu pentingnya karakter setia menjaga rahasia jabatan dan atau negara juga dikemukakan dalam Tsamarat al-Muhimmah. Pedoman kepemimpinan itu hendaklah diperhatikan dengan bersungguh-sungguh oleh setiap pemimpin. Pemimpin yang mampu melaksanakannya akan mendapatkan kejayaan kepemimpinan.  

“Maka barang siapa yang sudah masuk dalam pekerjaan kerajaan dan mahkamah itu menyembunyikan rahasia apa-apa yang diperbuat di mahkamah, sama ada rahasia muslihat pada agama atau tipu hikmat yang hendak dilakukan kepada segala hamba Allah, atau siasat kerajaan, apalagi daripada segala surat-surat yang tiada harus dinyatakan kepada orang yang bukan ahlinya jika ia di dalam mahkamah sekalipun, maka yaitu tiada boleh dibuka rahasianya itu jika kepada anak-isterinya atau bapanya sekalipun adanya, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Karena mustahak jugalah perihal setia menjaga rahasia bagi sesiapa pun yang menyandang jabatan tertentu ditegaskan lagi dengan syair nasihat dalam karya yang sama (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 26.

Membuka rahasia jangan sekali
Jahat adab sangat pemali
Kepada rajanya yang ter’ali
Supaya bernama bangsawan asli

Perbuatan membuka rahasia jabatan dan atau negara, selain tergolong biadab dan sangat dipantangkan (pemali) dalam kehidupan bangsa yang beradab, juga tergolong kejahatan terhadap negara. Pelakunya memang tak layak menjadi pemimpin pemerintahan dan atau negara. Jika menjadi pemimpin pun, orang-orang yang berkarakter buruk lagi khianat itu hanya mendapat tempat sebagai pemimpin penjahat. Seandainya telanjur menjadi pemimpin negara dan atau pemerintahan, mereka akan senantiasa menempatkan negara dan bangsa dalam ancaman bahaya.

Selain firman Allah, Rasulullah SAW juga membenarkan perilaku pemimpin yang setia menjaga rahasia jabatan dan atau negara. Di antara hadits Baginda Rasul tentang perkara itu termasuklah sabda berikut ini.    

Rasulullah SAW bersabda, “Jadikanlah kitman (upaya untuk menutupi sesuatu) sebagai penolong dalam memenuhi beberapa keperluan kalian karena pada setiap kenikmatan itu pasti ada yang mendengkinya,” (H.R. Thabrani).

Sesuatu yang bersifat rahasia memang sengaja dirahasiakan demi keberlangsungan kehidupan sehingga berjalan dengan baik dan harmonis. Dihubungkan dengan penyelenggaraan pemerintahan, ianya sengaja dirahasiakan agar, antara lain, tak meresahkan rakyat dan tak diketahui oleh pihak musuh. Dengan demikian, kehidupan berjalan dengan baik dan menyenangkan. Oleh sebab itu, setiap pemimpin dituntut untuk memiliki karakter mulia setia menjaga rahasia jabatan dan atau negara.

Sultan Jamaluddin kembali menduduki tahta yang memang menjadi milik sahnya. Begitu pulalah, Hulubalang Duri, yang tiada lain Siti Rafiah istri Sultan Abdul Muluk dari Kerajaan Barbari, berjaya mengembalikan kemerdekaan bangsa dan negaranya. Kedua-dua kerajaan itu dapat kembali menjadi negeri yang aman, makmur, dan sentosa. Di antara rahasia suksesnya adalah para pemimpinnya sangat setia menjaga rahasia negara. Memang itu pulalah perintah Allah kepada sesiapa pun yang diamanahkan-Nya menjadi pemimpin di dunia. Sesiapa pun yang “jahat adab sangat pemali” bersiap-siaplah menerima padahnya.*** 

Tinggalkan Balasan