Hamka, ketika akan meninggalkan Pulau Penyengat setelah ziarah mengunjungi khazanah peninggalan Kutubkhanah Marhum Ahmadi di Masjid Pulau Penyengat tahun 1954. Dimuat dalam jalah Hikmah, 17 April 1954. (dok: aswandi syahri)

Ziarah Buya Hamka Ke Pulau Penyengat dan Daik-Lingga (1954 dan 1957)

Dua kali Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka mengujungi Kepulauan Riau. Dalam dua kunjungan yang dilakukan pada dua waktu yang berbeda itu, beliau menziarahi dua tempat yang penting artinya dalam sejarah peradaban Alam Melayu.

Kedua tempat yang berbeda letaknya itu adalah Pulau Penyengat di Tanjungpinang dan Daik di Pulau Lingga: kunjungan Hamka di kedua tempat ini bukanlah ziarah biasa. Beliau datang tersebab kebesaran dan peranan kedua tempat itu yang sangat terkenal dalam sejarah dan tamadun Melayu-Islam di Alam Melayu.

Dalam kunjungan pertamanya ke Kabupaten Kepulauan Riau pada tahun 1954, Buya Hamka menziarahi Pulau Penyengat. Bukan tanpa sebab Hamka menziarahinya. Tentulah Hamka telah lama mendengar nama pulau yang tak dapat dilepaskan dari nama pujangga besar Raja Ali Haji ini. Tentulah beliau sangat familiar  dengan kebesaran sejarah tamadun Melayu-Islam di pulau kecil itu melalui pembacaan sekian banyak buku sejarah dan kebudayaan ketika menyusun empat jilid buku Sejarah Umat Islam yang penulisannya dilakukan dalam rentang waktu antara tahun 1938 hingga tahun 1950. Oleh karenakKarena itulah, beliau datang berkunjung ke Kepulauan Riau: berziarah ke makam-makam diraja, mengunjungi masjid, dan tapak-tapak istana diraja di Pulau Penyengat.

Seorang penduduk Pulau Penyengat mencatat peristiwa kunjungan Buya Hamka ke pulau yang sangat bersejarah itu dalam catatan hariannya. Dalam catatan harian itu, disebutkan bahwa Buya Hamka berkunjung ke pulau bersejarah tersebut pada tarikh 13 Maret 1954. Selengkapnya, dalam catatan harian itu tertulis sebagai berikut: “Pada 8 Raja 1373 bersamaam 13 Maret 1954 jam pukul 9 pagi Tuan Hamka pengarang tasawuf datang ke Penyengat melihat-lihat bekas istana raja dan mesjid dan makam-makam”.

Selain mengungjungi situs-situs peninggalan sejarah kerajaan Riau-Lingga, satu hal yang menyita perhatian Buya Hamka selama ziarahnya di Pulau Penyengat adalah kitab-kitab milik Kutubkhanah (Perpustakaan) Marhum Ahmadi peninggalan Yamtuan Muda Riau X, Raja Muhammad Yusul al-Ahmadi, yang masih tersimpan dalam dua almari antik di Masjid Jamik Pulau Penyengat pada ketika itu.

Menurut Buya Hamka, diantara kitab-kitab dalam almari itu antara lain tersimpan sebuah kitab langka dan penting berjudul Al-Qanun, karya cendekia besar Islam Ibnu Sina. Lebih jauh tentang  kitab tersebut, Buya Hamka menuliskannya dalam sebuah catatan yang kemudian dicantumkan oleh pengarang Dada Meuraxa dalam bukunya yang berjudul, Keradjaan Melaju Purba, yang diterbitkan oleh Penerbit Kalidasa, Medan, tahun 1971: “…Dan jang menarik hati ialah sebuah Kutubchanah (Bibliotheek). Ah, sajang sekali! Kitab2nja, termasuk kitab2 jang mahal dan sangat berharga. Dari berbagai tjabang ilmu pengetahuan dalam Islam. Fikih, Tafsir, Tasauf dan Filsafat. Diantaranja terdapat kitab “Al-Qanun” karangan Ibnu Sina…”, tulis Hamka dengan penuh kakaguman yang berbancuh dengan kecemasan seorang intelektual pada zamannya.

Tampaknya, ziarah Hamka ke Pulau Penyengat adalah untuk melengkapi informasi yang diperolehnya dalam Konggres Bahasa Indonesia di Medan pada tahun 1954, yang antara lain menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau di Pulau Penyegat. Untuk itu, ia berkepentingan untuk bertandang langsung ke pusat sumbernya. Dan selama di Pulau Penyengat, kepada Hamka diperlihatkan sejumlah manuskrip dan buku cetakan lama tentang bahasa dan sastra Melayu  karya-karya Raja Ali Haji dan pengarang-pengarang Riau-Lingga yang sebahagian sisanya masih tersimpan di dalam dua almari peninggalan Kutubkhanah Marhum Ahmadi di Masjid Jamik Pulau Penyengat.

Berbagai informasi penting tentang sejarah, sastra, dan Bahasa Melayu Riau yang diperoleh Hamka selama berziarah ke Pulau Penyengat itu disarikannya dalam majalah Hikmah edisi 17 April 1954 dan juga dikemukakannya dalam Seminar Sejarah Riau yang diselenggarakan di Pekanbaru pada tahun 1970.

Dari kiri ke kanan: Raja Abdulrahman Djantan, Prof. Dr. Jan van der Putten, dan Dr. Nico J. Kaptein ketika menyimak sisa-sisa koleksi Kutubkhanah Marhum Ahmadi yang pernah dilihat oleh Hamka tahun 1954. (dok. aswandi syahri)

Tentang bahasa Melayu Riau yang menjadi teras utama kitab dan karya-karya dari Pulau Penyengat ini, Hamka menjelaskannya  dalam kertas kerja yang berjudul Pandangan Tentang Sejarah Riau yang dibetang dalam Seminar Sejarah Riau yang pertama itu. Dalam kertas kerjanya yang kemudian dihimpunkan dalam buku kumpulan tulisan sejarah yang diberi tajuk Dari Perbendaharaan Lama itu (Pustaka Panjimas, Jakarta 1982), Hamka antara lain mengatakan:

“…dalam konggres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954, telah dijelaskan bawa bahasa Indonesia adalah berdasar[kan] dan berasal dari bahasa Melayu. Dari segi itu seminar ini sangat penting. Karena dari Riau (Pulau Penyengat) inilah datang apa yang disebut “Bahasa Melayu Riau”, yang dijadikan bahasa persuratan, bahasa ilmu pengetahuan…”

***

Kunjungan Buya Hamka untuk kedua kalinya ke Kepulauan Riau berlangsung sekitar tiga tahun kemudian, atau tepatnya pada bulan Juli 1957. Dalam kunjungan yang kedua ini, Buya Hamka yang tiba dari Jakarta terus bertolak dari Tanjungpinang ke Daik-Lingga.

Sama seperti kunjungan sekitar tiga tahun sebelumnya ke Pulau Penyengat, di Daik-Lingga, beliau juga menziarahi situs-situs sejarah di bekas ibukota kerajaan Riau-Lingga yang mewarisi kebesaran Bukit Siguntang-Bintan-dan Melaka itu.

Hanya sehari-semalam Buya Hamka di Daik-Lingga. Namun dalam waktu yang singkat itu, beliau telah menziarahi sejumlah situs sejarah, dan berdiskusi tentang kitab-kitab dengan cendekia Melayu tempatan. Dengan ditemani oleh tokoh-tokoh Daik-Lingga ketika itu, seperti, Tengku Muhammad Saleh, Encik Muhammad, Encik Muhammad Saleh, S. Mahmud, dan S. Ralib, Buya Hamka keluar masuk hutanbelukar Daik-Lingga  untuk “mentjari hikmat sedjarah”.

Menurut Buya Hamka, dengan ditemani oleh tokoh-tokoh masyarakat Daik seperti Tengku Muhammad Saleh yang merupakan seorang ulama keturunan Sultan Lingga, Encik Muhammad, Encik Muhammad Saleh, Said Mahmud, dan Said Ralib, beliau menghabiskan jarak tempuh sejauh 10 Km keluar masuk hutan belukar untuk “mentjati hikmat sedjarah” itu.

Kekaguman Buya Hamka terhadap Daik-Lingga dan kebesaran masa lalunya itu, diungkapkannya dalam sepucuk kartu pos ucapan terimakasih kepada Tengku Muhammad Saleh dan pemuka masyarakat Daik yang dikirimnya dari Jakarta pada 24 Juli 1957, dan diterima oleh Tengku Muhammad Saleh di Daik-Lingga pada 11 Agustus 1957.

Dalam kartu pos yang ditulis dengan mesin tik itu, yang salinan alih medianya dalam bentuk microfilmdibuat oleh Virginia Matheson dan Viviene Wee pada tahun 1984 dan kini berada dalam simpanan Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negera Malaysia, Buya Hamka antara lain mengatakan: “…Maka kedatangan saya ke Daik ini, meskipun hanya sehari semalam, samalah dengan berladjar setahun. Banjak ilmu pengatahuan bertambah…”.

Demikianlah ungkapan Buya Hamka tentang ziarah singkatnya ke Daik-Lingga pada bulan Juli tahun 1957. Hingga beberapa waktu kemudian, silaturahim Buya Hamka dengan Tengku Muhammad Saleh, yang sisilahnya bersambung lurus dengan Sultan-Sultan Lingga itu, masih terus berlangsung. Bahkan, Hamka juga sempat mengirimkan kitab Silalamul Ushul karya almarhum ayahnya, Dr. H. Abdul Karim Amrullah, kepada Tengku Muhammad Saleh. Sebuah buku yang sempat mereka diskusinya dalam pertemuan  singkat mereka di Daik-Lingga, dan disebutkan Buya Hamka dalam sepucuk kartu pos  kepada Tengku Muhammad Saleh, yang hingga masih ada dalam simpanan keluarga Tengku Muhammad Saleh di Daik-Lingga.

Berikut ini, adalah adalah salinan lengkap isi kartu pos dari Buya Hamka di Djakarta kepada Tengku Muhammad Saleh di Daik Lingga. Disalin sebagaimana ejaan aslinya, dengan tambahan keterangan yang saya tulisa dalam tanda kurung:

Assalamu ‘alaikum w.w. Sjukur Alhamdulillah, hari sabtu 20 Juli saya selamat sampai di Djakarta, Maka kedatangan saja ke Daik ini, sekalipun hanya sehari semalam, samalah dengan belajar setahun. Banjak ilmupengetahuan bertambah. Terutama karena tjinta-mahabbah yang tertumpah daripada Tengku dan Al-Ichwan semua, jang telah bersusah pajah, bermandi keringat menemani saja berjalan sampai 10 Km, masuk hutan belukar, mentjari hikmat sedjarah. Kepada bapa2 dan saudara2 saja semua sampaikanlah salam dan terimakasih saja. Kepada E.[Encik]Muhammad, E,[Encik]Muhammad Saleh, S,[said] Mahmud, S.[Said] Ralib dan lain-lain. – Darihal kitab “Silalamul Ushul” pena pusaka Al-Jauhar Guru dan Ayah Sjech (Dr.) H. A. Karim Amrullah akan segara disalin kehuruf  latin dan didalam beberapa bulan ini akan ditjetak. Selesai tjetakan Insya Allah saja kirim kepada Tengku”.

Artikel SebelumYusuf Kahar Pahlawan Dari Belakang Daik
Artikel BerikutJahat Adab Sangat Pemali
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan