Profil dua wira Bugis-Maksar abad 18 sebagaimana digambarkan oleh illustrator Belanda, Johan Nieuhof, dalam buku laporan perjalananya. (foto: dokumnetasi aswandi syahri)

“Orang Kecil” di Panggung Sejarah Besar Raja Haji Fisabilillah

Sastrawan besar Rusia, Leo Tolstoy, suatu kali pernah berkata bahwa “…denyut sejarah itu sesungguhnya hanya bisa didengar dari orang-orang kecil…”. Mereka adalah orang-orang yang sedikit sekali tercatat, dan ada kalanya tidak tercatat sama sekali dalam sejarah resmi. Namun, peran mereka di atas panggung sejarah adalah fakta keras yang tak terbantahkan.

Mereka adalah orang-orang yang sukar ditemukan dalam hiruk pikuk narasi ruang dan waktu historis yang dikuasai oleh “orang-besar besar”: yakni para aktor sejarah dan mereka yang selalu dianggap sebagai penentu arah jalannya sebuah peristiwa sejarah.

Ketika peran “orang-orang kecil” mulai mendapat perhatian dalam historiografi modern Indonesia menyusul terbitnya disertasi sejarawan Sartono Kartodirdjo yang berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888 (19840, sejarawan Taufik Abdullah pernah mengemukakan sebuah pertanyaan kontemplatif tentang peran orang kecil dalam panggung sejarah besar Indonesia: “…Apakah orang besar itu akan “besar” jika orang-orang kecil, yang tak tercatat, tak ikut serta dalam segala “perbuatan yang disenagaja” itu…?”

Kutubkhanah minggu ini akan memperkenalkan dua sosok “orang kecil” di atas panggung sejarah besar yang aktor utamanya adalah Raja Haji Fisabillah: yakni “orang besar” di atas panggung sejarah peperangan atantara Kerajaan Johor, Riau, dan Pahang dengan VOC-Belanda di kawasan Selat Melaka pada abad ke-18.

Dua sosok “orang kecil” itu adalah Arung Lengga dan Arung Mendara, yang tak dapat dipandang kecil perannya dalam peristiwa yang menciptakan sosok “orang besar” sekelas Raja Haji Fisabilillah dalan perisiwa sebagaimana ia terjadi (histoire-realite), dan dalam sejarah sebagaimana ia dikisahkan (histoire-recite). Arung Lenga dan Arung Mendara dapatlah disebut sebagai “baut-baut” kecil yang juga penting dan punya andil yang menentukan  gerak lajunya”mesin perang besar” yang dikendalikan oleh Raja Haji Fisabilillah ketika bedepan-dengan armada lau VOC-Belanda di Selat Riau-Tanjungpinang dan Teluk Ketapang-Melaka.

Arung Mendara

Dari gelar Arung yang disematkan di awal namanya, Arung Mendara jelas adalah seorang keturunan bangsawan Bone (Makasar) yang datang ke kawasan Kepulauan Riau-Lingga mengikuti arus penghijrahan pertama  sejumlah bangsawan Bugis-Makasar pada kurun ke-18; seperti yang juga dilakukan bangsawan bangsawan Bugis lima saudara, cikal bakal para Yang Dipertuan Muda Riau serta daerah takluknya.

Arung Mendara kemudian menjadi prajurit Raja Haji, pada masa-masa, meminjam istilah Tufik Abdullah, hero yang romantis itu menjadi Kelana (calon Yang Dipertuan Muda di Riau). Sebelumnya, Arung Mendara juga memperkuat pasukan dan armada laut Yang Dipertuan Muda Riau, Daeng Kamboja (1746-1777), ketika berdepan-depan dengan VOC-Belanda dalam Perang di Linggi di Tanah Semenanjung.

Walau namanya kurang dikenal dalam sejarah, namun Arung Mendara mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya dalam pasukan kelana Raja Haji. Pangkatnya adalah pawang, atau “perwira navigasi”: seorang yang sangat penting di atas kapal komando Raja Haji yang bernama Bulang Linggi.

Karena kemahirannya dalam membaca arah angin, pemahamannya mendalam tentang ilmu perbintangan yang sangat peting sebagai panduan navigasi di laut, dan segala pengetahuan tentang ilmu nautica  pelaut Bugis yang ia kuasai, telah memungkinkan kedudukannya dalam sebuah perahu penjajab perang  Bulang Linggi lebih dihormati dibanding seorang nakhoda.

Setelah hilang dalam perjalanan waktu, nama Arung Mendara kembali mengemuka dalam sebuah diskusi rutin  beberapa cendekia dan “sejarawan lokal” di Negri Riau  Tanjungpinang pada tahun 1950-an.

Diskusi tersebut diselenggarakan di Rumah Raja Haji Muhammad Yunus, yang kini menjadi Hotel Surya di Jalan Bintan, Tanjungpinag. Selain Raja Haji Muhammad Yunus sendiri, diskusi tersebut dihadiri pula oleh Tengku Muhammad Saleh ibni Tengku Abu Bakar (zuriat Sultan Muhammad Syah Lingga dari Daik-Lingga), Residen Riau Mr. Sis Tjakraningrat, Raja Haji Muhammad Medal (mantan sekretaris istana Keraton di Pulau Penyengat), Raja Muhammad Chik, Raja Muhammad Nongman (keduanya dari Penyengat), Raja Haji Abdullah dan Tengku Ahmad Atan  dari Karimun, dan Raja Hitam serta Raja Mohammad Said dari Pulau Tujuh.

Dalam diskusi yang membahas sejarah dan syiarah Riau-Lingga itulah terungkap sejumlah nama, peristiwa, serta bahan-bahan penting berupa buku cetakan lama, manuskrip, dan arsip tentang sejarah Riau-Lingga. Semua bahan sumber sejarah itu kemudian dibukukan dalam 3 jilid, yang tebal  masing-masingnya lebih dari 500 halaman..

Adalah Tengku Muhammad Saleh ibni Tengku Abu Bakar Lingga yang memunculkan kembali osok dan peran historis seorang Arong Mendara dalam sejerah peperangan yang dipimpin oleh  Raja Haji Fisabilillah berdasarkan sebuah catatan kecil yang tersimpan di perpustakaanya. Catatan ‘kecil’ itu, dituliskannya sebagai sebuah babat (catatan kecil pada bagian pinggir buku) dalam edisi cetak kitab Tuhfat Al-Nafis edisi R.O. Winsted (yang dimuat Journal of  The Malayan Baranch of Royal Asiatic Society, Singapore, 1932), yang dijadikannya sebagai salah satu bahan rujukan dalam diskusi itu.

Penemuan kembali nama Arung Mendara ini juga tak terlepas dari gagasan cemerlang Residen Riau ketika itu, Mr. Sis Tjakraningrat, yang telah mendorong usaha-usaha untuk mendokumentasikan nama-nama tokoh sejarah di Kepulauan Riau, dan mengumpulkan bahan-bahan sumber sejarah Kerajaan Riau-Lingga khususnya dan Kepulauan Riau umumnya,  agar tak hanya terekam dalam ingatan dan  tersimpan dalam lipatan buku dan arsip-arsip lapuk.

Arung Lenga

Walau berasal dari zaman dan peristiwa yang bebeda, peran Arung Lenga sangat penting dalam panggung sejarah yang melahirkan sosok Raja Haji Fisabilillah. Seperti Arung Mendara,  Arung Lenga juga keturunan bangsawan Bone (Makasar). Ia adalah salah seorang panglima perang Raja Haji yang turut gugur syahid fisabilillah pada pertempuran terakhir di medan perang Tanjung Palas, Teluk Ketapang, Melaka, pada suatu pagi bulan Juni 1784.

Selain itu, Arong Lenga adalah adik ipar Raja Haji Fisabilillah melalui ikatan perkawinan dengan salah seorang adik Raja Haji Fisabilillah yang bernama Raja Aminah Binti Daeng Celak Yang Dipertuan Muda Riau.

Tuhfat al-Nafis mencatat Arung Lenga sebagai orang yang membuka serangan dalam peperangan terakhir Raja Haji Fisabilillah  di Tanjung Palas, Teluk Ketapang-Melaka. Beliaulah yang mula-mula menghadang beribu-ribu baris Holanda, dan gugur seperti gugurnya Raja Haji Fisabilillah. Atau seperti kata R.O. Winstedt dalam buku klasiknya, A History of Johore (1865-1895), yang sangat terkenal itu: “…ia (Arung Lenga) gugur seperti Raja Haji gugur di medan perang terakhir yang berdepan-depan dengan serdudu-serdudu eskader negara Belanda, pimpinan Laksamana  (Vlootvoogd) Jacob Pieter van Braam…”

Meskipun tidak menjadi tokoh utama dalam narasi sejarah, kisah heroik Arung Lenga dalam pertempuran terakhir di Teluk Ketapang, Melaka, dicatat juga oleh  Raja Ali Haji dalam Tuhfat Al-Nafis. Sejaraman istana Riau-Ligga itu melukiskan bagaimana Arung Lenga gugur syahid fi-sabilillah setelah menghadang baris senapang Holanda sambil memacu kudanya, meskipun ketika itu ia sedang menderita sakit pak-ipa: sejenis bisul, borok yang berbahaya.

Dalam narasi sejarah yang ditulisnya, Raja Ali Haji mencatat ikhwal Arung Lenga itu sebagai berikut: “…Maka Yang Dipertuan Raja Haji itu pun  bertitah menyuruh mengamuk. Maka Arung Lenga pun memacu kudanya padahal ia tengah sakit pak-ipa.  Maka keluar lah ia menempuh baris Holanda itu lalu lah ia mengamuk. Maka mati lah ia dengan kudanya dan Holanda pun banyak yang mati. Maka dimasuknya lah kubu Yang Dipertuan itu oleh segala orang besar-besar itu serta dengan soldadu-soldadunya…”.

Walaupun gugur, dan laju lari kudanya terhenti oleh baris senapang serdadu-serdadu Jacob Pieter van Braam, Arung Lenga telah memicu  amok yang sengit dan dahsyat dari panglima-panglima perang lainnya, yang juga “orang-orang keci”l dalam panggung sejarah besar itu. “…Maka mengamuk pula lah Daeng Saliking, dan Panglima Tolesang, serta Haji Ahmad. Maka seketika ia mengamuk, maka mati lah ia  al-syahid fi-sabilillah ketiganya dengan nama laki-laki…”.

Pertempuran habis-habisan di Teluk Ketapang yang berlansung dalam amok yang sengit dan dahsyat itu berakhir dengan mangkatnya Yag Dipertuan Muda Haji al-syahif fi-sabilillah seperti mangkatnya Arung Leng dan tiga panglima lainya.

Dengan memadu-padankan catatan Raja Ali Haji dan narasi R.O. Winstedt tentang akhir pertempuaran dahsyat di Teluk Ketapang tersebut, sejarawan Hasan Junus merekonstruksi peristiwa yang diawali oleh keberanian seorang Arung Lenga itu dan diakhiri dengan kegagahan Raja Haji ketika menyonsong maut yang digambarkannya bagaikan sebuah tableau (tablo) gegap gempita yang disandingkannya dengan gaya romantisme sapuan kuas pelukis Eugene Delacroix (tambahan keterangan dalam kurung siku, adalah dari saya):

“Seorang panglima perang [bernama Arung Lenga] yang sedang sakit menaiki kudanya dan menyerbu ke tengah kancah pertempuran itu lalu tersungkur bersama kudanya dilanggar peluru sebaris penembak musuh. Raja Haji, sang pemimpin perang, yang berdiri dekat sebuah sarang meriam, sebelah tangannya memegang keris [seharusnya, badik] dan sebelah lagi buku [seharusnya, kita] Dalail Khairat, tubuhnya dilanggar peluru tepat pada dadanya, rebah bersama lebih-kurang 500 orang anggota pasukannya.”

Pertempuran terakhir di medan perang berasar Teluk Ketapang itu  berlansung dari tanggal 18 hingga 24 Juni 1784. Selain Raja Haji dan “orang-orang kecil” pengikutnya, di medan peperang itu juga gugur 373 soldadu VOC-Belanda.***

Tinggalkan Balasan