Qawluh al-Haqq, PerkatanNya Benar: Letak dan formulasi kepala surat yang dipergunakan dalam sepucuk surat Sultan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang, Sultan Mahmud Ri’ayatsyah, di Daik-Lingga kepada Gubernur Jenderal Willem Arnold Alting pada tahun 1212 Hijrah bersamaan tahun 1797 M. Surat ini berada dalam simpanan Perpustakaan Univ. Leiden, Belanda. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

PADA masa kini, tradisi menulis surat mungkin tak populer lagi bagi sebagian masyarakat Melayu yang hidup di tengah gencarnya rempuhan teknologi informatika. Terlebih lagi tradisi menulis surat yang indah penuh kaidah, dan berpedoman kepada Kitab Terasul, kitab ilmu surat-surat menyurat, yang menjadi pegangan dalam tradisi surat-menyurat Melayu. 

Pada masa lalu (antara abad ke-16 hingga awal abad ke-20), tradisi menulis surat yang penuh kaidah dan indah dari segi artistik ini adalah salah satu tradisi agung dalam warisan tradisi tulis Melayu. Sepucuk surat yang ditulis dengan penuh kaidah dan indah, adalah simbolisasi kedudukan, kelas,  derajat, dan wibawa yang berfungsi sebagai wakil mutlak sang pengirim berdepan-depan dengan sang penerima surat.

Demikianlah, sepucuk surat Melayu tempo doeloe: indah, berwibawa, dan penuh kaidah. Semua ini adalah sebuah tradisi yang akar tunggangnya dapat ditelusuri jauh hingga ke pusat tamadun Islam dunia seperti: Arab, Parsi, India, Iran, dan Turki. Banyak unsur-unsur dalam sepucuk surat Melayu, juga terdapat dalam tradisi surat-menyurat orang Persia (Parsi), khususnya yang berasal dari India.

 T.J. Newbold dalam bukunya yang bertajuk Political and statistical account of the British Settlement in the Straits of Malacca (1839), pernah menjelaskan perihal ketinggian tradisi surat-surat Melayu. Ia mengatakan: “The Malay, like the Persians, have a set forms for letter writing, a science in which it requires some study and attention to excel…” [“Orang Melayu, seperti juga orang Persia, memiliki kaidah yang ketat untuk menulis surat, sebuah ilmu yang membutuhkan pembelajaran dan perhatian untuk menguasainya dengan baik…”].

Salah satu unsur yang penting dalam sepucuk surat  Melayu pada masa lalu, adalah  tajuk atau  kepala surat, yakni sbuah ungkapan pendek bernuansa Islam dan ditulis dalam bahasa Arab. Ungkakapan pendeknya ini letaknya pada salah satu titik pada bagian atas halaman surat.

Letak dan Bentuk Kepala Surat

Letak sebuah kepala surat dalam sepucuk surat dalam tradisi surat-menyurat Melayu mengacu kepada derajat, pangkat, dan sifat hubungan antara pengirim dan penerima surat. Dalam Kitab Terasul yang disusun oleh M. Abdul Nasir dari Serawak atau Brunei (akhir abad ke-19), dijelaskan bahwa lazimnya, letak sebuah kepala surat pada sepucuk surat adalah sebagai berikut:

Dalam surat orang yang rendah pangkat [dari orang yang menerima surat], kepala surat di[tulis di] sebelah kiri; [dalam surat-menyurat] antara orang yang setaraf, kepala surat di[tulis di] tengah-tengah, dan dalam surat raja atau pembesar [kepada rakyat jelata], kepala surat di[tulis di] sebelah kanan.”

Pemilihan bentuk ungkapakan dalam bahasa Arab (Arabic formula) yang dipergunakan sebagai kepala surat dalam sepucuk surat Melayu pada masa lalu, ditentukan oleh tujuan penulisan surat dan sifat hubungan antara penulis atau pengirim surat dengan sang penerim surat.

Formulasi kata-kata ungkapan yang dipergunakan sebagai kepala surat dalam surat- menyurat Melayu itu hampir sebagian besarnya adalah mengacu kepada sejumlah ungkapan-ungkapan keislaman, yang beberapa di antaranya mengandungi nama atau sifat-sifat kebesaran ilahiah.

Sebagai contoh, salah satu formulasi ungkapan yang paling populer digunakan sebagai kepala surat dalam surat-surat diraja Melayu abad ke-18 dan ke-19 yang ditujukan kepada bangsa Eropa (menurut istilah Kitab Terasul, formulasi ungkapan kepala surat ‘dari raja Islam kepada raja kafir’) adalah Qauluh al-Haqq; dengan formulasi bentuk panjangnya adalah, Qauluh al-Haqq wa kalamuh al-sidq.

Dalah tradisi surat-menyurat Melayu di Kepulauan Riau pada masa lalu, formulasi ungkapan kepala surat Qawluh al-Haqq, antara lain dapat ditemukan pada beberapa pucuk surat Sultan Johor-Riau-Lingga-dan Pahang, Sultan Madmud Ri’ayatsyah, kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan sejumlah raja di Eropa dan Inggris, yang kini masih  disimpan oleh beberapa perpustakan di Inggris dan Belanda. Selain itu, formulasi kepala surat Qawluh al-Haqq, juga dipergunakan dalam seratus pucuk lebih surat dari Raja Ali Haji kepada Hermaan von de Wall.

Formulasi Kepala Surat Melayu

Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab (Arabic formula) yang lazim dipergunakan sebagai kepala surat dalam seni surat-menyurat Melayu pada abad ke-19 sangat beragam. R. J. Wilkison dalam catatannya tentang kaidah dan seni menulis surat Melayu yang dimuat dalam, Pepers of Malay Subjects (1097:Part III, h. 29-32), mencatat ada 20 bentuk ungkapan yang lazim dipergunakan sebagai kepala surat oleh orang Melayu.

Sementara itu, Annabel The Gallop, mencatat terdapat 23 bentuk ungkapan yang populer dipergunakan sebagai kepala surat dalam 100 pucuk surat Melayu dari Indonesia dan Malayasia yang diselanggarakannya dalam sebuah buku mewah bertajuk, The Legacy of The Malay Letter (1994).

Berikut ini adalah contoh beberapa uangkapan atau formulasi perkataan yang lazim dan yang jarang dipergunakan sebagai kepala surat dalam surat menyurat Melayu (namun ada, dan dikenal dalam tradisi surat-menyurat Melayu) sebagaimana yang dicatat oleh R.J. Wilkinson:

Ya Amir al-Mukminin. Ungkapan ini bermakna, Wahai Pemimpin Yang Setia. Pada masa lalu, formulasi  kepala surat seperti ini lazim dipergunakan dalam sepucuk surat dari rakyat jelata kepada seorang penguasa yang sangat perkasa. Ungkapan ini tak terpakai lagi pada awal abad ke-20.

Qawluh al-Haqq. Ungkapan ini bermakna, PerkataanNya Benar. Lazim digunakan sebagai kepala surat ketika dua penguasa yang sederajat berkirim surat. Lazim juga dipergunakan pada surat-surat dari penguasa pribumi kepada Gubernur Jenderal, Resident, atau sebaliknya. Dalam surat-surat mereka kepada Herman von de Wall, Asistent Resident Riouw di Tanjungpinang, Raja Ali Haji dan Haji Ibrahim dari Pulau Penyengat juga  menggunakan ungkapan ini sebagai kepala surat-nya.

Wa-Qalam al-Shadiq. Ungkapan ini bermakna, Dan TulisanNya Sangat Tulus. Ungkapan ini adalah sebuah bentuk lain atau kelanjutan dari ungkapan Qawluh al-Haqq. Fungsi dan penggunanannya juga sama. Bentuk lain ungkapan yang serupa dengan ungkapan ini adalah al-Mustahakk, yang bermakna: “kebenaran” atau “yang sebenarnya”.

Ya-Allah Ya-Muhammad. Ungkapan ini ada kalanya dipergunakan ketika bangsawan-bangsawan pribumi saling berkirim surat, akan tetapi tak terpakai dalam surat-surat antara Gubernur Jenderal atau Resident yang beragama Kristen kepada seorang bangsawan pribumi.

Ya Nur al-Shams wa-al-qamar. Ungkapan ini bermakna, Wahai Cahaya Matahari dan Bulan. Sebuah pujian-semu (quasi-compliment) yang mengandungi makna ‘bersinar cemerlang. Namun tanpa cahaya agama yang sejati’. Formulasi ungkapan kepala surat seperti ini lazim digunakan oleh seorang Raja Melayu ketika melayangkan sepucuk surat yang dialamatkan kepada seorang “penguasa kafir” (“infidel potentate”).

Ya Ghafur al-Rahim. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengampun. Formulasi ungkapan kepala surat seperti ini sangat lazim dipergunakan sebagai kepala surat dalam warkah-warkah atau petisi yang ditujukan kepada pejabat-pejabat daerah oleh para penghulu atau kepala kampung, dan kepada kepala-kepala sebuah kantor oleh bawahannya. Ya Ghafur al-Rahim sesungguhnya adalah nama sifat Allah. Dengan menggunakan formulasi kepala surat ini, para pejabat atau kepala kantor dingatkan dengan salah satu sifat kemulian ilahiah, dengan harapan dapat mengabulkan permohonan si pembuat  surat atau petisi.

Ya Fatah al-Qulub. Ungkapan ini bermakna, Wahai Pembuka Segala Pintu Hati. Kepala surat dalam bentuk ungkapan seperti ini, sanga langka dan jarang digunakan. Formulasi ungkapan seperti ini adalah kepala surat yang tepat digunakan dalam sebuah petisi atau desakan agar dilakukan penyelidikan atas sejumlah masalah. Dengan menggunakan formulasi ungkapan ini sebagai kepala surat, penguasa atau pemerintah diingatkan akan tugasnya sebagai perwujudan kuasa ilahiah, “yang tak ada rahasia disembunyikan daripada-Nya”.

Ya Qadi al-Hajat. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Mepertimbangkan Segala Harapan. Formulasi kepala surat seperti ini sangat jarang digunakan dalam surat-surat Melayu. Cocok dipergunakan pada surat petisi yang mengandungi sebuah permintaan tentang beberapa hal. Kepala surat ini, mengandungi makna pengharapan si penulis surat yang dikaitkan dengan salah satu sifat kebesaran Iilahiah.

Ya ‘Aziz. Ungkapan ini bermakna, Wahai Yang Maha Mulia. Ini adalah sebuah ungkapan atau pernyataan yang lazim dipergunaan sebagai kepala surat dalam sepucuk surat kepada seorang guru, kepada seorang Tuan Said, kepada seorang Tuan Kadhi, atau ulama besar.

Ya Karim. Maknanya adalah Yang Maha Pemurah. Sebuah formulasi ungkapan ungkapan yang lazim digunakan sebegai kepala surat pada sepucuk surat dari seorang anak kepada seorang ayah atau ibunya.

Wa-al-Shams al-Qamar. Makna harfiahnya adalah, Matahari dan Bulan. Suatu bentuk ungkapan sanjungan yang juga lazim dipergunakan  sebagai kepala surat dalam surat-surat raja atau orang besar-besar istana. Formulasi ungkapan kepala surat ini antara lain pernah dipergunan oleh Engku Putri Raja Hamidah dari Pulau Penyengat dalam sepucuk suratnya kepada Gubernur Jenderal Gerard Philip Baron van der Capellen di Batavia, yang bertarikh 7 Rabi’ul-awal 1238 H bersamaan dengan 20 November 1822.***

Artikel SebelumArung Mendara dan Arung Lenga
Artikel BerikutHati yang Betul Hendak Disahaja
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan