Nyonya Young, Louise Maria Wilhelmina Younge istri mendiang S.W. Younge (duduk di tengah), dan seluruh karyawan di depan gedung pembangkit listri S.W. Younge Electric Power Station and Ice Plant di Kampong Bakar Batoe (kini Jl. Bakar Batu) Tanjungpinang sekitar tahun 1950-an. (foto: dokumentasi Aswandi Syahri)

Kota Tanjungpinang telah menggunakan listrik (elektrificatie) sejak sejak zaman Belanda. Dan sejak saat itu, listrik telah membawa perubahan yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Kota Tanjungpinang.

Sebelumnya, berbagai  bahan penghasil energi dibawa secara fisik ke rumah-rumah dalam bentuk kayu, minyak lampu, gas, dan batubara.  Sejak elektrificatie itu, penerangan rumah dan jalan-jalan di Kota Tanjungpinang yang menggunakan lambu berbahan bakar gas, bertukar ganti dengan bohlam listrik ciptaan Thomas Alpah Edison.

***

Pembangunan pembangkit listrik dan jaringan transmisi listrik pertama di Tanjungpinang telah dimulai oleh perusahaan partikelir (swasta), milik pengusaha Cina bernama Oei Bok Sien, yang kemudian berkembangan dan terkenal setelah diambil alih oleh Samuel Willian Younge (S.W. Younge).

Oei Bok Sien merisntis pembangunan pembangkit dan jaringan kabel listrik di Tanjungpinang setelah  mengantongi surat keputusan pemerintah Belanda (Gouvernement Besluit) tanggal 7 September 1925, yang isinya, bila diterjemahkan kedalam bahasa Indoensia sebegai berikut: mengizinkan membangunan dan menggunakan jaringan untuk menyalurkan dan membagi tenaga listrik di ibunegeri Tanjungpinang, yang terletak di daerah Keresidenan Riouw dan adaerah takluknya.

Untuk merealisaskan izin tersebut, maka kepada Oei Bok Sien juga diwajibkan menyetor uang jaminan modal sebesar f 1000,- kepada kas daerah (‘sLands kas) di Tanjungpinang pada 4 Desember 1925.

Setelah itu dimulailah pembangunan jaringan transmisi litrik, dan berdirilah bangunan sentral pembangkin tenaga listrik lengkap dengan mesin pembangkit listrik  pertama Tanjungpinang di Kampong Bakar Batoe (kini, Jl. Bakar Batu). Puluhan tahun kemudian, diatas tapak  bangunan pembangkit listrik pertama milik Oei Bok Sien itu berdiri kantor PLN Tanjungpinang.

***

Jaringan pembangkit dan perusahaan listrik Tanjungpinang hanya diopersikan oleh perusahaan Oei Bok Sien hingga sekitar tahun 1930. Karena sejak tahun itu, perusahaan tersebut beralih kepemilikannya kepada Samual William Younge alias S.W. Younge. 

Sebelum menjadi pemilik perusahaan listrik tersebut, Samuel Willian Yonge adalah angota Stadsfonds Tanjungpinang dari kalangan partikelir (particuliere lid), yang juga berkerja sebagai insinyur listrik si perusahaan listrik milik Oei Bok Sien.

Setelah dikelola oleh Samuel William Younge sejak 1930, perusahaan listrik swasta itu semakin maju dan berkembang hingga 1964. Sejak Tahun 1930, tulisan pada papan nama perusahaan listrik itu, yang tergantung tepat di atas pintu utama gedung pembangkit listriknya di Kampong Bakar Batoe,  dirubah pula menjadi S.W. Younge, dengan tambahan keterangan dalam bahasa Inggris, Electric Power Station and Ice Plant:  sebuah sentral pembangkit tenaga listrik yang dilengkapi dengan pabrik es pertama di Tanjungpinang.

Sejak mengambil alih kepemilikan perusahaan listrik Oei Bok Sien di Tanjungpiang, Samuel Willian Younge yang populer di kalangan penduduk kota Tanjungpinang sebagai Tuan Yong itu, dikenal sebagai “Raja Listrik”.

***

Samuel William Younge yang lahir pada 23 Juli 1888, mangkat di rumahnya di Tanjugpinang pada 13 Februari 1946. Makamnya yang erletak di kompleks pemakaman Belanda, kerkhof, di Jl. Kemboja di Tanjungpinang, terkenal sebagai makam paling indah dengan lapisan batu pualam putih (makam ini kemudian dipindah ke kompleks pemakaman kristen di Batu 7)

Sejak tahun 1946, perusahaan listrik S.W. Younge yang mempu menghasilkan daya listrik sebesar 375 K.W. itu dikelalola oleh istrinya, Louise Maria Wilhelmina Younge, bersama karyawan yang sebahagian besarnya terdiri dari orang Melayu. Seperti mendiang suaminya, Louise Maria Wilhelmina Younge juga tak kalah terkenal dan populernya di kalangan penduduk Tanjungpinang ketika itu.

Penduduk Tanjungpinang bisa menyapanya dengan panggilan Nyonya Yong. Ia tidak hanya dikenal kerena perusahaan listrik dan pabrik es serta hartanya yang berlimpah, tapi juga karena kederwananannya.

Hingga kini, sebagian orang tua di Tanjungpinang masih ingat dengan Nyoya Yong yang selalu keliling Tanjungpinang dengan mobilnya dan berderma untuk para janda dan kaum perempuan tua Tanjungpinamng yang kurang mampu.

Nyonya Yong mangkat di rumahnya di Tanjungpinang pada 8 Oktober 1964. Dimakamkan berdampingan dengan mendiang suaminya di kerkhof, kompleks pemakaman Belanda di Jl, Kemboja, Tanjungpinang.

Sebelum meninggal, pada 1951 sebenarnya Nyonya Yong telah mengeluarkan pengumuman resmi untuk menjual harta peninggalan suaminya, terutama perusahaan listrik dan pabrik es di Tanjungpinang dengan total harga $ 450.000,-  (Straits Dollar),  serta kebun karet di Arir Raja seluas 153.75 Ha.        

Namun demikian, hingga beliau wafat pada tahun 1964, asset tersebut tak terjual. Oleh karena tidak mempunyai pewaris, semua harta tak bergerak milik Tuan dan Nyonya Yong di Tanjungpinang, terutama asset perusahaan listrik dan rumahnya yang kini menjadi Mess Daerah di Jl. Diponegoro, diambil alih oleh negara. Khusus asset perusahaan listriknya dialihkan kepada Perusahaan Listrik Negera (PLN).***

Tinggalkan Balasan