Tiang utama peninggalan Sentral Telepon Lokal (plaatselijke telefooncentral) di Tanjungpinang yang mulai dipergunakan tahun 1939. Kini diabadikan di halaman Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Tanjungpinang. (foto: aswandi syahri)

Hallo in sentral…mohon disambungkan ke nomor…”. Kalimat seperti ini masih diucapkan oleh setiap pengguna sarana komunikasi telepon di Tanjungpinang hingga akhir tahun 1970-an.

Ketika itu, semua telepon di Tanjungpinang masih manual, menggunakan engkol. Juga masih memakai baterei bulat besar yang selalu berada berhampiran pesawat telepon. Pengguna telepon juga harus memutar engkol telepon terlebih dahulu agar dapat tersambung ke operator sentra telepon Tanjungpinang yang terletak di samping Kantor Pengadilan, bekas Landrad, di pangkal Jl. Samudra (kini J. SM. Amin), untuk minta disambungkan ke nomor telepon yang akan dituju.

Memang agak pelik dan kuno menurut ukuran kita pada hari ini yang serba canggih. Akan tetapi demikianlah adanya. Semua itu adalah bagian dari sejarah penggunaan jaringan telepon (telefoonnet) manual di Tanjungpinang yang telah dimulai sejak tahun 1904, dan kemudian bertukar ganti dengan jaringan telepon otomatis sejak sekitar awal 1980-an.

****

Penggunaan sarana komunikasi telepon, lengkap dengan kabel jaringannya di Tanjungpinang ternyata telah dimulai oleh Sultanan Riau-Lingga di ibukota kesultanan tersebut  Pulau Penyengat.

Sebuah dokumen dalam simpanan saya, mencatat bahwa sarana komunikasi ‘modern’ tersebut mulai dipasang di Pulau Penyengat pada hari Ahad (Minggu), pada tarikh 19 Zulhijah 1321 AH bersaman dengan 6 Maret 1904 CE.

Sejak tarikh 6 Maret 1904, tujuh titik bangunan dan tempat penting di Pulau Penyengat telah tersambung dengan jaringan telepon menggunakan kabel: disebut talipun. Di Pulau Penyengat, pusat atau ‘sentral’ talipun tersebut adalah Keraton (Istana Keraton) Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah yang terletak Kampung Kota Berentang.

Dari Keraton jaringan talipun secara berturut-turut tersambung ke gedung Pabean (kantor cukai di pelabuhan Pulau Penyengat), gedung Kantor (gedung Mahkamah tempat Raja Muhammad Thahir berkantor), terus ke rumah Bentara Kiri dan ‘Kepala Arsip’ Raja Khalid Hitam, rumah Tengku Abdul Kadir yang kini dikenal sebagai Gedung Tengku Bilik, rumah Raja Haji Zainal yang berpangkat Bentara Kanan, serta ke rumah Raja Muhammad Thahir yang berpangkat Hakim dan kepala Mahkamah.

Coba bayangkan, bagaimana agaknya bahasa dan etika menggunakan talipun ketika seorang Bentara Kiri bernama Raja Khalid Hitam yang sedang berada di rumahnya, berbicara dengan Sultan Riau-Lingga yang sedang bersemayam di istananya di Pulau Penyengat. Apakah awal pecakapan talipun itu dimulai dengan perkataan Hallo juga?

Penggunaan jaringan talipun di pualau Penyengat diperkekirakan hanya bertahan selama tujuh tahun, dan berakhir pada tahun 1911.

***

Sementara itu, di Kota Tanjungpinang yang merupaka  ibukota Residentie Riouw dan tempat kedudukan Resident van Riouw, penggunaan dan pembukaan jaringan telepon baru dimulai tiga puluh lima tahun setelah Sultan Riau-Lingga menggunakannya di Pulau Penyengat pada 1904.

Langka-langkah untuk membangun dan membuka jaringan komunikasi telepon di Tanjungpinang, dengan sarana dan prasarana yang lebih canggih dari yang pernah digunakan oleh Kesultanan Riau-Lingga telah dimulai pada awal tahun 1939.

Pada 2 Februari 1939, surat kabar berbahasa Belanda, De Sumatra Post, melaporkan hasil pembicaraan (bespreking) diantara Ir. H. van der Veen, ispecteur telepon dan telegrap wilayah enam (zesde telefoon-en telegraaf-district) yang membawahi wilayah Sumatra OostkustAtjeh, Riouw, dan West Borneo dengan Resident Riouw, G. van Brakel, tentang kemungkinan untuk membangun sentral telepon lokal (plaatselijke telefooncentral) di Tanjungpinang.

Sebagai tindak lanjut pembicaraan tersebut, Resident Riouw akhirnya mengirimkan proposal usulan pembangunan jaringan telepon lokal (plaatselijke telefoonnet) dan sentral telepon lokal (plaatselijke telefooncentrale) di Tanjungpinang kepada pengurus besar (hoofdbestuur) Post-Telefoon-en Telegraph (PTT) di Bandung. Sembilan bulan kemudian, yakni pada 8 Nopember 1939, pengoperasian jaringan telepon lokal (plaatselijke telefoonet) pertama di Tanjungpinang di resmikan di hadapan Ir. H. van der Veen dan Residen van Riouw, G. van Brakel.

Dalam daftar pengguna jaringan telepon lokal pertama di Tanjungpinang yang dicantumkan dalam ‘buku telepon’ (Telefoongids Tandjong Pinang) yang berlaku mulai 20 Desember 1939 tercatat 29 pelanggan pertama, dengan nomor telepon hanya terdiri dari 1 dan 2 angka saja: nomor 1 hingga nomor 29.

Kantor Resident G. van Brakel umpamanya, menggunakan menggunkan nomor telepon 1, dan rumahnya (Gedaung Daerah) menggunakan nomor telepon 6. Sedangkan Kantor Pengawas Candu dan Garam (Kantoor Controleur Opium en Zoutregie) Tanjungpinang pimpinan D.A. Simons yang berlokasi di kawasan Bestari Mall sekarang, menggunakan nomor telepon 29.***

Tinggalkan Balasan