Kasus wabah penyakit yang mematikan seperti kasus corona yang terjadi saat ini bukan sesuatu yang baru dalam sejarah di nusantara. Seabad yang lalu, wabah cacar, pes hingga malaria pernah menyerang Indonesia. Wabah penyakit malaria pernah menyerang penduduk Dabo Singkep pada periode 1928-1930-an.

Kasus malaria di Dabo Singkep diungkap J. E. Boumeester, dokter di NV Singkep Tin Exploitatie Maatschappij (NV SITEM), perusahaan timah Dabo Singkep. Tulisannya berjudul Malariabes trijding te Dabo Singkep ( Melawan Malaria di Dabo Singkep). Artikelnya dimuat dalam Jurnal Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsche-Indie 1934 Vol.74 No.19 pp.1209-1218.

Boumeester menulis, Pulau Singkep dengan ibukotanya Dabo sejak 1889 telah diekspolitasi hasil timahnya oleh perusahaan timah Belanda. Dabo sendiri wilayahnya membentang di sepanjang pantai timur rendah Singkep sepanjang dua kilometer. Tahun 1928, hasil pemeriksaan kesehatan penduduk Dabo menunjukkan ganasnya wabah malaria kota itu.

Jumlah penduduk Singkep tahun 1930 sebanyak 9.400 jiwa dan 6.800 diantaranya orang Melayu asli. Ada 2.450 orang Tionghoa di wilayah Dabo. Orang Eropa tak sampai 100 orang.
Tahun 1928 itu, ada dua pabrik yang mengeruk timah di Dabo. Lokasinya di Dabo bagian selatan dan Dabo bagian tengah yang dipisahkan daerah Sekop. Adanya pengerukan timah menyebabkan di Dabo banyak ditemukan genangan besar dan kadang-kadang dalam, kolong tua, dan rawa-rawa.

Sepanjang 1928 sampai 1932 dilakukan pemeriksaan terhadap penduduk Dabo, baik itu orang Melayu, Tionghoa maupun Eropa. Tes darah dan limpa dilakukanyang berlangsung pada Februari 1928. Hasil pemeriksaan terhadap pekerja kuli orang Tionghoa memiliki indeks parasit 12,3. Pada bulan Mei pada tahun 1928, sebanyak 156 anak-anak sekolah, khususnya anak Melayu indeks limpa 84,6.

Sebanyak 76 anak sekolah di Dabo bulan Maret 1932 diperiksa lagi kesehatannya. Hasilnya, anak-anak pribumi ditemukan memiliki indeks limpa yang tinggi (78.6), yang secara signifikan melampaui indeks parasit (37.5), sehingga endemik malaria dinilai cukup berat. Limpa juga menunjukkan kepadatan infeksi yang tinggi. Secara umum memang penyakit malaria tidak menyebabkan banyak yang terkena meninggal dunia. Namun, dengan banyaknya penduduk yang terkena penyakit malaria tentu saja sangat meresahkan di zaman itu.

Deskripsi malaria endemik di Dabo cukup berat. Banyak peningkatan setelah membersihkan tempat berkembang biaknya anopheles ludlowi var. sundaica (A.sundaicus dan A. hyrcanus typicus var. Dalam 281 pembedahan memang tidak infeksi perut, namun perlu dicari penyebab malaria dan dampaknya yang lain.

Tim medis dari perusahaan timah juga memeriksa nyamuk yang ditangkap dalam kelambu di tempat tidur pada Agustus 1931. Total ada 52aAnophelin betina yang membesar, 49 diantaranya A.ludlowi Var.sundaica dan 3 A umbrosus. Di beberapa rumah Eropa di atas bukit yang ada di Dabo ditemukan spesimen A.umbrosus, A.hyrcanus typicus, Var sinensis, A. karwari dan A. ludlowi.

Dalam mengatasi malaria di Dabo dilakukan langkah penanganan secara cepat. Daerah dermaga (pelabuhan) dibersihkan. Dermaga sekarang juga diminyaki setiap minggu, bahkan untuk waktu dua kali seminggu. Selain itu, ternyata perlu untuk secara bersamaan mengeluarkan air dari membebaskan massa alga superfisial. Genangan air juga dibersihkan. Beberapa selokan yang ada di Dabo juga dibersihkan.

Untuk mengetahui kondisi malaria setelah dilakukan penanganan secara massif, dilakukan pengecekan missal pada bulan Februari dan Juni 1933 di Dabo. Ada 553 penduduk Dabo yang diperiksa. Lokasi pemeriksaan di Kampung Jangkang dan Kampung Boyan, lokasi yang diduga berpotensi besar terjangkit malaria karena letaknya dekat pantai dan juga dekat daerah penambangan.

Penelitian yang dilakukan pada bulan Februari 1934 menghasilkan 23 anak indeks parasit 34,8 ± 6,7 dan indeks limpa 60,9 ± 6,8 dan pada 49 Orang dewasa memiliki indeks parasit 6,1 ± 2,3 dan indeks limpa 65,3 ± 4.6. Indeks parasit anak-anak sesuai dengan indeks Melayu. Perbaikan kondisi di Dabo dapat dilakukan dengan cara mengontrol larva ludlowi.

Dengan penanganan yang serius oleh pemerintah dengan cara membersihkan lingkungan selain pengecekan kesehatan warga secara rutin, penyakit malaria bisa diatasi. ***

Tinggalkan Balasan