Pemandangan Pelabuhan Tanjungpinang dengan latar depan sebuah kapal uap (Stoomschip) pada tahun 1911. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Hingga dekade ketiga abad ke-20, sarana transpostasi laut dari dan ke Tanjungpinang, ibukota Residentie Riouw ketika itu, masih menggunakan  kapal uap, yang dikenal juga sebagai kapal api, atau kapal asap oleh orang Melayu. Orang Belanda menyebutnya stoomvart.

Dulu, hingga sekitar pertengahan tahun 1980-an, masih dapat dilihat dermaga batu yang menjorok ke laut, tepat di sebelah kawasan Tugu Pensil. Penduduk Tanjungpinang menyebutnya Boom Batu. Bersama Pulau Bayan, Boom Batu adalah kolenloods (gudang batubara) dan pelabuhan pengisian batu bara untuk bahan bakar kapal uap di Tanjungpinang. Boom Batu dan Pulau Bayan adalah saksi bisu bagi setiap kapal uap yang mengisi batu bara sebagai bahan bakarnya, sejak kapal-kapal uap milik perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM), mulai membuka jalur perlayaran ke Pelabuhan Tanjungpinang pada pertengahan abad ke-19.

Di pangkal  Boom Batu itu, terletak gudang batubara, atau arangbatu menurut lidah orang Melayu. Karena itu pula, hingga kini sejumlah orang tua di  Tanjungpinang menyebut kawasan di seberang pangkal Jl. Jawa, yang letaknya di tepi laut tersebut, dengan nama Gudang Arang. Karena populernya nama Gudang Arang, sebuah makam keramat  yang terdapat hingga kini di sisi pangkal jalan Jl. Jawa itu  dijuluki pula sebegai ‘Keramat Gudang Arang’.

Kini, hampir tak berbekas jejak fisik zaman kapal uap di Tanjungpinang. Bukti sejarah tentang zaman kapal uap di Tanjungpinang yang masih kekal hanya dapat ditemukan dalam lembaran-lembaran arsip dan dan rekaman visual berupa foto-foto sejarah saja.  

Kapal Uap Residentie Riouw

Residen Riau, G.F. de Bruyns Kops dalam memori akhir masa jabatannya (Memorie van Overgave) sebegai Resident Riouw pada tahun 1914, menyebutkan jaringan transportasi laut menggunakan kapal uap, yang sebagian besarnya menggunakan kapal uap berkaliber kecil (klein caliber), dengan ukuran 30 hingga 90 ton, dikuasai oleh penguasaha-pengusaha Bangsa Cina.

Tiga kapal uap diantaranya berada dibawah bendera Belanda, dan 7 kapal uap sisanya berada dibawah Bendera maskapai perlayaran Inggris yang berpusat di Singapura.

Jajaran kapal uap partikelir itu menghubungkan Tanjungpinang dengan Batavia (Jakarta) sekali dalam empat belas hari, dan menghubungkan Tanjungpinang dengan Singapura, Pulau Tambelan, serta Pontianak sekali dalam dua puluh delapan hari. Disamping itu, terdapat pula sebuah jaringan perlayaran yang menghubungkan kawasan Pulau 7 (Natuna-Kepulauan Anambas) dan Singapura, sekali dalam dua pekan.

Selain jaringan transportasi laut partikelir tersebut, untuk keperluan urusan pemerintahan Residentie van Riouw di Tanjungpinang dan kawasan sekitarnya, pemerintah Belanda di Tanjungpinang mempunyai beberapa buah armada kapal uap, perahu motor-uap, dan kapal layar.

Jajaran kapal-kapal ‘plat merah’ itu terdiri dari kapal uap pemeritah (gouvernement stoomschip) “Gelatik” yang berpangkalan di Tanjungpinang. Kapal uap ini dilengkapi pula dengan sebuah kapal layar (vaartuig)  “Mathilde”,  serta dua bua perahu motor (motorsloep) “Theresa”, dan “Sri Penjengat” yang semuanya berpangkalan di Tanjungpinang.

Kapal layar “Mathilde” dan perahu motor  “Therese” dipergunakan sebagai transportasi urusan pengawsan perdagangan candu, dan untuk pengawasan lampu rambu-rambu di pantai (kustlichten). Sementara itu perahu motor “Sri Penjengat” dipergunakan sebagai perahu penghubung antara kapal yang labuh jangkar di tengah laut dengan pelabuhan Tanjungpinang, dan dipergunakan untuk urusan dinas oleh pejabat-pejabat dari Kerajaan Riau-Lingga.

Khusus kapal uap “Gelatik’, dipergunakan sebagai sarana transportasi utama untuk mendukung mobilisasi dan inspeksi dinas bagi pejabat-pejabat pemerintahan setempat (gewestelijken dienst) seperti: pegawai-pegawai pemerintahan dalam negeri (binnenlandsche bestuur),  pegawai-pegawai pengadilan (Justice), pegawai-pegawai urusan pekerjaan umum dan sipil (Burgerlijke Openbarewerken), dan personil Polisi Bersenjata (Gewapende Politie) yang semua kantor pusatnya berada di Tanjungpinang.

Sebagai administrator bagi kapal-kapal uap, perahu layar, dan perahu motor tersebut, sejak pertengahan abad ke-19 telah ditempatkan pula seorang Syahbandar (Havenmeester) Pemerintah Belanda di Tanjungpinang, disamping seorang Syahbandar Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat.

Kapal Uap Sultan Lingga Meledak

Selain kapal-kapal uap milik pemerintah Hindia Belandadan pengusaha-pengusaha Bangsa Cina, di Tanjungpinang juga beroperasi sejumlah kapal uap atau kapal api milik Kerajaan Riau Lingga.

Sejak pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857-1883) di Daik-Lingga  hingga masa pemerintahan Sultan Abdulrahman Muazamsyah (1855-1911) yang berakhir di Pulau Penyengat pada tahun 1911, Kerajaan Riau-Lingga yang wilayah takluknya adalah sebuah kepulauan, mengoperasikan  sejumlah kapal uap atau kapal api (Stoomschip). Secara berturut-turut kapa-kapal tersebut diberi nama : S.S. (Stoomschip) Lelarum, Sri WangsaS.S. Sri Lanjut, dan S.S. Sri Daik.

S. S. Lelarum (yang artinya pengarung lautan) digunakan pada zaman Sultan Suliman Badrul Alamsyah di Daik-Lingga. Tak banyak catatan tentang kapal S. S. Lelarum ini. Sedangkan tiga kapal lainnya, S.S. Sri Lanjut, Sri Wangsa, dan S.S. Sri Daik digunakan pada zaman pemerintahan Sultan Abdulrahman Muazamsyah di Daik dan Pulau Penyengat. Namun demikian, dari tiga kapal yang terakhir ini, hanya Sri Wangsa dan Sri Daik yang bertahan hingga masa pemerintahan Sultan Abdulrahman Muazamsyah berakhir di Pulau Penyengat pada tahun 1911.

Perlayaran S.S. Sri Lanjut, yang cukup lama menjadi kapal penting dalam setiap isnpeksi yang dilakukan oleh Sultan Abdulrahman Muazamsyah ini, kerberakhir pada tahun 1896. Kapal uap yang dinakhodai oleh Kapten Said Abdulhamid bin Said Ali al-Yahya ini  mengalami kecelakaan ketika akan bertolak dari Pelabuhan Singkep menuju Lingga pada bulan Desember 1896. Mesin kapal uap dengan bobot 70 ton ini meledak dan tenggelam perlahan-lahan.  

Kecelakaan S.S. Sri Lanjut ini telah merenggut nyawa seorang juru mesin Bangsa Cina dan seorang juru mesin Bangsa Melayu. Ledakan mesin kapal ini juga merenggut nyawa anak Kapten Said Abdulhamid yang ketika itu berusia 12 tahun dan sembilan orang Melayu pengiring Sultan Abdurahman Muazamsyah. Beruntung, Sultan Abdurahman ketika itu juga  berada diatas  kapal S.S. Sri Lanjut, dansempat menuju kamar mesin untuk melihat apa yang terjadi, selamat dalam ledakan besar mesin kapal uap yang dicatat dalam sejarah penggunaaan mesin kapal uap di dunia.

Setelah meledaknya  S.S. Sri Lanjut, hanya tersisa S.S. Sri Wangsa dan S.S Sri Daik sebagai kenaikan Sultan dan para pembesar Kerajaan Riau-Lingga yang beulang alik antara Daik-Pulau Penyengat, Batam, dan Singapura higga tahun 1911. Bahkan S.S Sri Daik, yang ketika itu dipimpin oleh Nakhoda Ninggal bin Gharib, adalah kapal yang membawa Sultan Abdulrahman Muazamsyah, Tengku Besar Umar, dan keluarga mereka dari Pulau Penyengat ke Singapura setelah dimakzulkan oleh pemerintah Hindia Belanda di Pulau Penyengat pada bulan Februari 1911.

Tak ada catatan lebih lanjut tentang S.S. Sri Wangsa yang tetap berada di Tanjungpinang setelah Sultan Riau-Lingga dimakzulkan pada tahun 1911. Namun sebaliknya, kisah S.S. Sri Daik sebagai kapal uap Kerajaan Riau-Lingga berakhir setelah Sultan Abdulrahman Muazamsyah menjual kapal bersejarah itu di Singapura  seharga f 20.000,- pada tahun 1912.***

Artikel SebelumPekerjaan Raja Dihelai Belai
Artikel BerikutWabah Malaria di Dabo Singkep Awal Abad 20
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan