Melihat Cara Raja Ali Haji Membuka Kitab Tata Bahasa

PERNAHKAH Anda bertanya, pada usia berapa Raja Ali Haji merampungkan penulisan Bustan al-Katibin di Penyengat? Jawabannya ada pada pengantar kitab tata bahasa Melayu edisi terbitan Yayasan Karyawan, Malaysia. Di bagian awal disebutkan dengan pasti usia Raja Ali Haji saat merampungkan Bustan al-Katibin: 40 tahun.

Fakta ini menjadi pijakan awal untuk melihat cara seorang penulis—katakanlah yang belum tua-tua amat, membuka sebuah buku mahapenting dalam tradisi persuratan bahasa Melayu yang kelak juga ikut urun peran sebagai pondasi kukuh bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.

Orang Barat punya aforisme tentang usia empat dekade manusia. Mereka cakap, “Hidup baru dimulai setelah 40.” Segaris lurus dari kalimat ini, penulis Agus Noor pernah berkelakar, “Saya termasuk orang yang percaya keteguhan dan ketangguhan seorang penyair akan terbukti saat umur 40 tahunan.”

Lalu jenis keteguhan dan ketangguhan apa yang Raja Ali Haji tunjukkan lewat karyanya yang terbit 170 tahun lalu dan bertepatan pada usia 40? Mari kita cari tahu.

Bustan al-Katibin selesai ditulis Raja Ali Haji di pulau Penyengat pada 1850. Inilah karya ilmiah pertamanya. Maksudnya, bukan puisi maupun cerita. Sebelumnya, Raja Ali Haji sudah menerbitkan dua karya sastra dalam bentuk syair nasihat dan kisah: Gurindam Dua Belas (1846-47) dan Syair Abdul Muluk (1846).

Adapun Bustan al-Katibin, secara ringkas, boleh disebut sebagai kitab panduan tata bahasa Melayu. Dalam judul panjang versi aslinya, Raja Ali Haji menuliskan: Bustan al-Katibin Lil-Sibyan al-Mutaallimin (Kitab Perkebunan Jurutulis bagi Kanak-kanak yang Hendak Belajar). Jadi terang di sana, penulisnya berkeinginan menyusun sebuah panduan bagi mereka yang ingin mempraktikan bahasa Melayu dengan tepat dan benar.

Tentang kerja kebahasaan ini, Hashim bin Musa dari Universiti Malaya menulis, “Di sinilah letak keistimewaan tokoh Raja Ali Haji dalam tradisi persuratan Melayu, yang bukan sahaja merupakan ilmuwan Melayu yang pertama yang menulis tentang pengajian bahasa Melayu, tetapi juga yang telah meletakkan asas pengajian bahasa Melayu pada tempat yang sebenar, iaitu sebagai ilmu alat untuk memperoleh ilmu yang benar yang akan membawa kepada keyakinan dan ketakwaan.”

Pada usia 40, seturut dengan pernyataan Hashim, Raja Ali Haji sudah tercerahkan pada dua hal: kebahasaan dan ketakwaan. Dan bukan suatu kebetulan jika dalam bagian Mukaddimah dari Bustan al-Katibin diuraikannya panjang-lebar sebelum kemudian masuk ke pasal demi pasal tentang tata bahasa Melayu.

Setelah berpuja-puji kepada Allah SWT dan berselawat pada Nabi Muhammad, Raja Ali Haji membuka bab Mukaddimah lewat ungkapan dalam bahasa Arab: Fi fadhilatil ilmu wal aqlu. Langkah pertama Raja Ali Haji adalah mengingatkan sidang pembacanya tentang keutamaan ilmu dan akal, yang dipertegas pada bagian selanjutnya, “Syahadan jika demikian nyatalah apabila tiada ‘ilmu dan ‘akal, ‘alamat tiadalah ia mencium ba[h]u kemuliaan dan sangat jinak kehinaan kepadanya.”

Itu pesan pertama Raja Ali Haji: ilmu dan akal. Lalu ia menggerakan pemikirannya sebelum masuk paragraf kedua Mukaddimah dengan menekankan pintu masuk yang bisa ditempuh manusia untuk menuju ilmu dan akal, yakni ilmu kalam atau ilmu percakapan/kebahasaan.

Untuk memperkuat hujjah ini, Raja Ali Haji menyitir ungkapan kesohor ahli hukum tentang keharusan menguasai ilmu kalam.

“Segala pekerjaan pedang boleh diperbuat dengan qalam, adapun pekerjaan-pekerjaan qalam tiada boleh diperbuat dengan pedang … Dan beberapa ribu dan laksa pedang yang sudah terhunus, dengan seguris qalam jadi tersarung, terkadang jadi tertangkap dan terikat dengan pedang sekali.”

Baru sampai sini saja, sudah terasa sedemikian jernih dan tertib cara berpikir Raja Ali Haji dalam membuka karyanya. Mula-mula ia menyebut tanda orang mulia mestilah memiliki ilmu dan akal, lalu untuk dapat memiliki dua hal itu dengan baik diperlukan ilmu: ilmu kalam.

Sampai di sini, Raja Ali Haji tidak ingin terburu-buru menjelaskan pengertian ilmu kalam. Yang dibahas selanjutnya justru kiat sukses menjadi seorang pembelajar. Ia mengudar secara rinci mulai dari syarat menuntut ilmu sampai lima tanda orang tiada memperoleh ilmu. Oleh karenanya, berpijak urutan bahasan ini, sekiranya boleh disimpulkan, Raja Ali Haji ingin setiap orang mempersiapkan diri lebih dulu sebelum memulai kegiatan belajar agar tahu cara menempuhnya dengan benar dan tidak terjerumus pada kesia-siaan.

Lalu apa hubungan itu semua dengan Bustan al-Katibin? Justru di sinilah letak kecerdasan Raja Ali Haji dalam mengurai permasalahan secara tertib dan runut. Raja Ali Haji menyatakan kerisauan situasi berbahasa lewat tanda orang yang tidak memperoleh ilmu dari proses belajarnya.

Satu di antara tanda orang tak berilmu, tulis Raja Ali Haji, adalah mereka yang baru mendengar sedikit tentang sebuah kabar lantas sudah merasa paling pintar. Itu berlaku dalam semua hal, termasuk di antara perihal persuratan.

Tentang situasi ini, Raja Ali Haji menulis: “… terkadang ditambahinya huruf pada suatu kalimah yang berangkai dan terkadang dikurangkannya pula menjadi puntang-panting, apalagi pada peraturannya dan perkataannya, tiadalah sedap pada telinga orang yang ber’ilmu itu mendengarnya. Telah banyaklah aku dapat akan orang yang demikian itu …”

Orang-orang tak berilmu itu membuat gusar Raja Ali Haji. Mereka menulis tanpa kaidah, mereka mendaku sebagai yang paling ahli. Kesalahan penulisan itu diperikan Raja Ali Haji dengan jumlah melimpah, yang bahkan Raja Ali Haji sendiri sampai mengeluh, “… dan tiadalah aku dapat hendak perikan lagi.

Mengapa hal sedemikian sampai terjadi? Raja Ali Haji punya jawabannya. Pertama, karena mereka sebenar-benarnya lalai pada kaidah. Dan kedua, mereka mengambil ringan urusan berbahasa. Lagi dan lagi, Raja Ali Haji bukan sembarang beranggapan. Ia punya kasus faktual terhadap analisisnya itu.

“Maka setengah ada pula daripadanya mereka itu pergi ke sana ke mari mengambil upahan dan gaji kepada segala negeri yang besar-besar dan kepada orang yang besar-besar menjadi jurutulis Melayu konon, padahal belum lagi ia sempurna pengetahuannya.”

Dari sesi Mukaddimah ini, kita jadi tahu alasan di balik keputusan Raja Ali Haji menulis Bustan al-Katibin: kerisauan pada ketakberaturan atau kesembronoan para pengguna bahasa Melayu hari itu. Andaikata Raja Ali Haji seorang komandan perang, barangkali responsnya hari itu dengan menangkapi guru-guru palsu dan juru tulis medioker dan menghukum mereka. Namun, karena ia seorang ahli bahasa, responsnya terhadap situasi tak menyenangkan itu diekspresikannya dalam sebuah karya.

Lantas apakah sebuah kebetulan jikalau adikarya ini rampung ditulis Raja Ali Haji saat usianya 40 tahun? Wallahu a’lam. Hanya saja jika berpatut pada anggapan umum, usia 40 adalah tanda kematangan seorang manusia—yang bahkan Muhammad SAW pun diangkat menjadi rasul pada usia kepala empat.

Jadi menarik juga jikalau mempertanyakan perihal pilihan Raja Ali Haji yang menyampaikan kaidah berbahasa tidak lagi menggunakan format syair. Latar belakangnya sebagai ilmuwan bahasa yang berkiblat pada bahasa Arab, sebenarnya memungkinkan beliau untuk melakukan hal tersebut, apalagi jika mengacu beragam syair panduan berbahasa yang masyhur dalam bahasa Arab.

Raja Ali Haji pasti punya alasan sendiri. Namun jika boleh mengira-kira, inilah pilihan politis yang hadir dari kematangan berpikir pada usia yang tepat pula. Ketimbang berasyik-masyuk pada keindahan berbahasa dalam format syair dengan risiko gagasannya sukar dipahami lantaran ketat menjaga kaidah syair, Raja Ali Haji memutuskan menulis secara lugas kaidah berbahasa dalam format narasi ilmiah.

Jika Orang Barat bilang, “Life begins after forty”, dalam urusan kepenulisan Raja Ali Haji, “Narrative begins after forty.” Tahun-tahun selanjutnya, kita sama tahu makin berserlah narasi-narasi ilmiah yang indah lahir dari kalam Raja Ali Haji. Ada kamus ekabahasa Melayu Kitab Pengetahuan Bahasa, buku undang-undang dan pemerintahan Thamarat al-Muhimmah, buku sejarah Salasilah Melayu dan Bugis, buku sejarah Tuhfat al-Nafis, juga manuskrip sejarah seumpama Peringatan Sejarah Negeri Johor, Sejarah Riau Lingga dan Daerah Takluknya, Tawarikh al-Sughra, Tawarikh al-Wusta, dan Tawarikh al-Kubra.

Pertanyaan besarnya: Penyair kita sudah bisa apa di usia 40?***

Tinggalkan Balasan