MANUSIA, sebagai makhluk Tuhan, telah ditetapkan takdirnya. Suatu ketika manusia beroleh bahagia yang tiada bertara, tetapi pada ketika yang lain mungkin dia akan berduka cita pula. Suka dan duka datang silih berganti dalam kehidupannya, yang sering pula dengan tiada diduga-duga. Kenyataan itu membuktikan bahwa manusia tak memiliki sebarang kuasa, bahkan, terhadap dirinya. Perjalanan hidup manusia sangat bergantung kepada takdir Allah Taala

Sebagai hamba-Nya, manusia seyogianya rida menerima takdir Allah, sama ada suka ataupun duka. Amanat itu dapat ditemukan dalam karya Raja Ali Haji rahimahullah. Dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 684, dikisahkan peristiwa yang dialami oleh Sultan Negeri Barbari.  

Jikalau datang suatu peri
Janganlah menyesal adinda puteri
Bukannya perbuatan kita sendiri
Dengan perintah Tuhan Yang Bahari

Bait syair di atas merupakan penggalan percakapan Sultan Abdul Muluk kepada istrinya, Siti Rafiah. Ketika itu Sultan Negeri Barbari hendak berperang. Dalam ucapannya itu Sultan Abdul Muluk berpesan bahwa jika terjadi musibah terhadap dirinya, dia gugur di medan perang misalnya, hendaklah istrinya menerima musibah itu dengan sabar. Pasalnya, kesemuanya itu dapat terjadi hanya karena takdir Allah SWT. 

Sultan Abdul Muluk, dengan sifat, sikap, dan perilakunya itu, telah menampilkan karakternya sebagai manusia yang rida menerima takdir Allah. Dengan karakter mulianya itu, dia yakin bahwa setiap manusia tak mungkin dapat mengelakkan diri dari takdir Allah, baik yang baik maupun yang buruk, sehingga dia dan keluarganya harus rida menerimanya. Di samping itu, mereka tentulah harus berikhtiar sebagai upaya zahiriah dan berdoa sebagai usaha batiniah agar terhindar dari sebarang musibah.

Perihal karakter rida terhadap takdir Allah juga termaktub dalam Tsamarat al-Muhimmah. Berikut ini petikannya.

“… sabar dan rida dan tawakal apabila kedatangan segala anwa’ul bala’ yang telah tersebut itu kepada kita. Karena di dalam dunia ini tiada hampa daripada anwa’ul bala’ yang tersebut itu.

Maka, hendaklah jangan kita ikutkan susahnya karena tiada berguna sudah dan tiada bertolak perintah Allah Taala dengan sebab susah kita itu dan tiada boleh kita menegahkan takdirnya. Akan tetapi, jika dilawan susah kita itu dengan sabar dan rida dan tawakal, mudah-mudahan bertemu dengan barang yang dijanjikan Allah Taala di dalam Qur’an ul-‘azim, yaitu Allah Ta’ala kasihan kepada orang yang sabar dan meluaskan orang yang tawakal di dalam dunia dan di dalam akhirat ….” (Haji dalam Malik (Ed.) 2012, 78).

Begitulah mustahaknya sifat, sikap, dan perilaku rida menerima takdir Allah. Janganlah pula terlalu bimbang. Berita gembiranya, orang yang rida menerima takdir Allah akan diluaskan tempatnya, baik di dunia maupun di akhirat, seperti yang telah dijanjikan oleh Allah. Jadi, rida menerima takdir Allah merupakan karakter terpuji lagi mulia dalam perhubungan manusia dengan Allah, Sang Maha Pencipta.

Jika masih ragu terhadap pemikiran manusia tentang perkara itu, tentulah perlu dicari rujukan yang dapat menenteramkan jiwa. Langsung sajalah diperhatikan petunjuk langsung dari Allah SWT.

Tiada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, kecuali dengan izin Allah. Dan, barang siapa yang beriman kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(Q.S. At-Taghaabun, 11).

Itulah petunjuk sekaligus jaminan dari Allah. Janganlah pernah ragu kepada-Nya. Jika Dia berkehendak, ujian kesulitan menghadapi musibah akan diakhiri-Nya, dengan kuasa-Nya segalanya akan berakhir bahagia. Pasalnya, jaminan petunjuk akan datang dari-Nya.    

Amanat keutamaan rida menerima takdir Allah juga tersurat dalam Tuhfat al-Nafis. Di antaranya dihimpun dalam nukilan berikut ini.

“Syahadan apabila selesailah musyawarahnya itu maka Yang Dipertuan Muda pun berlayarlah ke Tapukan memeriksa segala jajahan itu, serta mengaturkan tempat-tempat itu. Maka dengan takdir Allah taala Yang Dipertuan Muda pun geringlah sangat, maka lalulah dibawa oleh orang-orang besarnya segera ke Riau berlayar dengan dayungnya. Maka apabila sampai ke Pulau Pitung, maka Yang Dipertuan Muda pun mangkatlah kembali ke rahmat Allah taala. Maka apabila tiba ke Riau gemparlah di dalam Riau mengatakan Yang Dipertuan Muda sudah mangkat …” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 104-105).

Begitulah sekilas peristiwa kemangkatan Duli Yang Mulia Yang Dipertuan Muda I Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, Opu Daeng Marewah (1722-1729). Baginda mangkat ketika sedang melaksankan tugas menata kembali wilayah-wilayah negerinya yang porak-poranda pascaperang. Walaupun berduka cita, musibah wafatnya Baginda itu diterima oleh keluarga, orang besar-besar kerajaan, dan rakyat sekaliannya dengan rida. Pasalnya, mereka yakin kepergian Baginda itu memang telah ditakdirkan oleh Allah, tak kira siapa pun orang dan bangsanya.

Karakter rida menerima takdir Allah mesti dibuktikan—seperti dalam beberapa nukilan di atas—dengan sikap, sifat, dan perilaku. Kesemuanya itu harus berlandaskan keikhlasan karena keimanan kepada-Nya. Tanpa itu, segala cobaan dan cabaran akan terasa lebih berat dihadapi. Dalam hal ini, janji Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang bersabar hendaklah diyakini sepenuh hati.

Dari Anas bin Malik r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya, jika Allah SWT mencintai sesuatu kaum, maka Dia mengujinya. Sesiapa yang rida (menerima ujian itu), maka dia mendapatkan keridaan (Allah). Dan, sesiapa yang benci, maka dia akan mendapatkan kebencian (Allah pula),” (H.R. At-Tirmidzi).

Saat ini umat manusia sedang diterpa musibah Covid-19 yang sungguh mendera. Apa pun yang melatari merebaknya virus korona itu, hendaklah diyakini bahwa kesemuanya dapat terjadi karena takdir Allah Taala. Di tengah kecemasan yang mencekam, patutlah dipahami bahwa semua ujian itu menjadi tanda: Dia masih mencintai umat manusia. Pilihan dalam menghadapinya hanya dua. Pertama, benci yang berkonsekuensi mengundang kebencian-Nya sehingga semakin jelas padahnya. Kedua, rida dengan keyakinan pasti datang juga pertolongan-Nya.

Benci dan rida menuntun perbedaan sifat, sikap, dan perilaku dalam menghadapinya. Karena benci, mungkin ada sebagian manusia semakin menjauhkan diri dari penciptanya. Sebaliknya, keridaan membangkitkan ikhtiar untuk mencegah penularan makhluk superkecil yang bergentayangan entah di mana itu seraya mengobati yang telanjur telah dijamahnya. Selebihnya, doalah yang dapat dimohonkan semoga keridaan-Nya menghentikan wabah yang menyandera sekotah benua. 

Setelah kesemuanya itu, sabar dan tawakal kepada-Nyalah yang memungkinkan nestapa segera berganti bahagia. Sedikit pun tak tebersit keraguan karena kesemuanya itu telah dijanjikan-Nya. Memang tak perlu disangsikan keluasan dan ketulusan cinta-Nya.*** 

Tinggalkan Balasan