SEBAGAI ciptaan yang paling mulia, manusia seyogianya senantiasa memuji kebesaran Sang Pencipta. Karakter mulia itu memang harus menyerlah dalam perhubungan manusia dengan Allah, yang tiada tuhan selain Dia. Bukankah diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna merupakan bukti kasih sayang-Nya kepada manusia? Bahkan, dengan memuji kebesaran Allah, manusia menampilkan kelasnya sebagai makhluk yang paling mulia. Sebaliknya, sesiapa pun yang enggan dan atau tak pernah memuji kebesaran Tuhan menunjukkan kelasnya sebagai makhluk berkualitas rendah yang tak memahami mulianya perilaku berterima kasih kepada Penciptanya.  

Perkara memuji kebesaran Allah tak luput dari pembahasan Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya-karya beliau. Di dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 307, dinukilkan perilaku yang mengindikasikan karakter mulia itu dimiliki oleh seorang pemimpin yang tahu bersyukur atas anugerah Tuhan.

Amir terkejut mengangkat kepala
Katanya Subhan Allah Ta’ala
Aku pun seperti orang yang gila
Tidak membawa persembahan pula

Dia Amir Negeri Ban. Betapa terkejutnya pembesar Kerajaan Ban itu ketika mengetahui bahwa kapal yang baru sahaja tiba di dermaga negerinya milik Sultan Abdul Muluk, bahkan dinakhodai sendiri oleh Sultan Negeri Barbari itu. Dalam keterkejutannya pembesar yang religius itu mengucapkan pujian kepada Allah SWT. Pasalnya, dia sama sekali tak menyangka bahwa negerinya akan dikunjungi oleh sultan dari negeri besar, yakni Negeri Barbari. Bait syair yang dinukilkan di atas itu menyiratkan pesan tentang karakter mulia manusia dalam perhubungannya dengan Tuhannya. Dalam hal ini, ketika dia beroleh berkah (dalam konteks syair di atas dikunjungi oleh pemimpin negara besar yang pasti berdampak positif bagi negerinya), dia langsung memuji Allah atas rahmat yang dianugerahkan-Nya.

Walaupun tak terdapat di dalam pasal-pasal utamanya, mukadimah Gurindam Dua Belas pun dimulai dengan ucapan puji-pujian kepada Allah. “Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta salawatkan Nabi yang akhir al-zaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya,” (Haji 1847, 1).

Seperti yang tertera pada kutipan di atas, mukadimah Gurindam Dua Belas diawali  dengan memuji kebesaran Allah. Hal itu bermakna, secara tersirat, terkandung amanat bahwa  sesiapa saja, khasnya umat Islam, seyogianya mengucapkan puji-pujian kepada Allah tatkala hendak memulai sebarang pekerjaan yang baik, tulis-menulis sebagai contohnya. Dengan demikian, memuji kebesaran Allah merupakan sifat dan amalan yang terpuji dan mulia sehingga tergolong karakter mulia yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia.

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah  terdapat bagian yang memuji kebesaran Allah. Berikut ini pujian itu disajikan dengan gaya yang sungguh indah (Haji dalam Malik, Ed., 2013). 

“Wal-hamdulillahi jalla jalaluh wa-’azama sya’nuhu min qalbu wa-min ba’du amarahu-‘llahu al-mulku wal-hukumu wa-ilaihi turja’un ….” 

Kutipan di atas lagi-lagi menjelaslah bahwa memuji kebesaran Allah memang dianjurkan dan menjadi kelaziman para penulis klasik Melayu dalam setiap tulisan mereka. Ketakziman itu menyerlahkan perhubungan manusia dengan Allah SWT. Hal itu bermakna bahwa memuji kebesaran Allah menjadi bagian dari karakter mulia manusia sebagai bukti kecintaan dan kesyukurannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Adakah rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga manusia yang berkarakter mulia senantiasa secara ikhlas memuji kebesaran Tuhannya? Ternyata, memang ada dan sumbernya langsung dari Allah SWT. ”Segala puji bagi Allah, Rabb pemelihara sekalian alam,” (Q.S. Al-Fatihah, 2). Firman Allah itu menjadi pedoman utama bahwa memuji kebesaran Allah memang diperintahkan-Nya kepada manusia.

Atas dasar itu, tak heranlah bahwa Syair Sinar Gemala Mestika Alam juga dimulai (bait 1) dengan puji-pujian kepada Allah (Haji dalam Malik dan Junus 2000, 123). Matlamatnya tentulah agar pekerjaan (dalam konteks ini menulis syair) beroleh berkah. Pasalnya, tak pernah ada pekerjaan, apa pun itu, akan berhasil baik tanpa berkah dari Allah.

Bismillahi permulaan kalam
Alhamdulillah Tuhan seru alam
Selawatkan Nabi sayidil anam
Serta keluarganya sahabat yang ikram

Berasaskan kutipan di atas, nyatalah bahwa memuji kebesaran Allah memang tergolong perilaku utama. Kenyataan itu membuktikan juga bahwa amalan itu dinilai terpuji dan mulia. Dengan demikian, memuji kebesaran Allah merupakan penanda karakter dan atau kehalusan budi manusia terhadap Allah SWT.

Kualitas karakter memuji kebesaran Allah dalam rujukan di atas ditunjukkan oleh Amir Negeri Ban dan penulisnya sendiri, Raja Ali Haji. Keyakinan itu memang sedia ada di dalam diri mereka. Penggambaran kualitas yang dimiliki itu menampilkan konsistensi manusia yang berbudi dalam mengekspresikan kecintaannya kepada Sang Pencipta.

Selain petunjuk langsung dari Allah, keutamaan karakter memuji kebesaran Allah juga diajarkan oleh Rasulullah SAW. Banyak hadits yang menjelaskan tentang perilaku mulia itu. Di antaranya yang berikut ini. 

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua kalimat (zikir) yang ringan diucapkan di lidah, (tetapi) berat (besar pahalanya) pada timbangan amal (kebaikan) dan sangat dicintai oleh ar-Rahman (Allah Ta’ala Yang Mahaluas Rahmat-Nya), (yaitu) Subhaanallahi wabihamdihi, subhaanallahil ‘azhiim (Mahasuci Allah dengan memuji-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung),” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Allah menciptakan manusia karena cinta-Nya. Dengan cinta itu jugalah dijadikan-Nya manusia sebagai ciptaan-Nya yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan lainnya. Bahkan, hanya dengan melaksanakan pekerjaan yang sangat ringan, yakni memuji kebesaran-Nya, Allah melipatgandakan cintanya kepada manusia.

Kesemuanya itu adalah rahmat-Nya atas nama Cinta. Maka, tak terbantahkanlah bahwa barang siapa yang membiasakan diri memuji kebesaran Tuhan nescaya dianugerahi-Nya karakter yang mulia. Oleh sebab itu, memang tak ada alasan yang sabit di akal untuk mendustakan segala nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah kepada manusia.*** 

Tinggalkan Balasan