KERAJAAN Barbari berduka cita. Orang nomer satu negeri itu, yakni Sultan Abdul Hamid Syah, mengakhiri hidupnya di dunia yang fana. Selesai sudahlah tugas dan tanggung jawab dunianya, tinggal menanti persidangan akhirat yang pasti dijalaninya. Begitulah memang kenyakinannya seperti yang sering disampaikannya kepada Abdul Muluk, putranya tercinta.

Dalam mendidik putranya, Sultan Abdul Hamid Syah memang senantiasa menghubungkan persoalan-persoalan duniawi dengan perihal ukhrawi agar setelah menggantikannya nanti putranya tak terlena oleh tipuan dunia. Dia selalu mengingatkan putranya bahwa tanggung jawab kepemimpinan dunia akan dibawa sampai ke pengadilan akhirat di alam baka. Ianya tak selesai hanya di dunia sahaja. Jika baik kepemimpinan dunianya, setiap pemimpin akan mengakhirinya dengan kebaikan dan kemuliaan, bahkan akan beroleh rahmat Allah sehingga akhiratnya yang abadi akan diisi dengan kehidupan yang bahagia. Bukan pula sementara, melainkan nikmat itu akan dirasakan selama-lamanya.   

Berdasarkan kenyataan itu, Sultan Barbari mengharapkan anakandanya untuk secara konsisten menjaga perhubungan dengan Allah. Untuk itu, dinasihatinya Abdul Muluk agar senantiasa dan bersungguh-sungguh bermohon akan pelindungan Allah. Di dalam Syair Abdul Muluk karya Raja Ali Haji rahimahullah perkara itu terdapat, antara lain, pada bait 142 (Haji, 1846).

Anakku sedang remaja putera
Pasti-pasti sebarang bicara
Pekerjaan jahat janganlah segera
Kepada Allah minta pelihara

Bait syair di atas berkisah tentang peristiwa menjelang kemangkatan Sultan Abdul Hamid Syah. Ketika akan sampai ajalnya, ayahanda Abdul Muluk itu berpesan kepada anakandanya mengenai pelbagai perkara yang mustahak, baik berkenaan dengan keberadaan putranya sebagai pribadi maupun sebagai calon sultan yang akan menggantikannya. Di antara pesannya itu adalah Abdul Muluk dinasihatkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah supaya memperoleh pelindungan-Nya. Menurut Sultan Hamid Syah, jika putranya senantiasa bermohon kepada Allah agar terhindar dari segala perbuatan jahat, sama ada perbuatan jahat dari diri sendiri ataupun orang dan atau makhluk lain, Allah akan melindunginya. Kebiasaan itulah yang terus-menerus dilakukannya selama memerintah Kerajaan Barbari. 

Merujuk bait syair di atas, dalam perhubungannnya dengan Allah, manusia seharusnya selalu dengan ikhlas memohon pelindungan-Nya. Oleh sebab itu, senantiasa mendambakan pelindungan Allah merupakan karakter yang harus terus tersemai, tumbuh, dan berkembang dalam diri setiap manusia, tak kira apa pun pangkat dan jabatannya. Bahkan, semakin tinggi pangkat dan jabatan, semakin besar tanggung jawab, dan semakin banyak tugas duniawi yang harus dikerjakan, seyogianya manusia semakin banyak berdoa agar mendapat pertolongan Allah sehingga tak tergelincir pada perbuatan yang salah. Masalahnya itu tadi. Kesalahan yang dibuat di dunia, apatah lagi berkaitan dengan manusia juga makhluk lain, tak sekadar menjadi persoalan pribadi dengan Tuhan, tetapi akan dan pasti dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. 

Masalah lainnya, kehidupan akhirat itu taklah pula sementara seperti di dunia, tetapi abadi selama-lamanya. Jika bahagia, maka bahagialah selama-lamanya. Akan tetapi, seandainya  menderita, azab dan derita yang akan diterima kekal dan abadi pula adanya.

Berdasarkan kenyataan itulah, Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Pertama, bait 5-6 mengingatkan manusia.

Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat 
Tahulah ia dunia mudarat

Dunia, menurut bait gurindam di atas, tiada lain penuh dengan tipu daya. Barang siapa yang tak berhati-hati, dia akan menjadi korban tipuan dunia. Padahal, dibandingkan dengan nikmat akhirat, dunia tak ada apa-apanya, baik kuantitas maupun kualitasnya. Kaya yang diperolah manusia di dunia, akan lebih kaya lagi dia di akhirat. Asal, kekayaan dunianya dijadikannya modal dalam bentuk amal jariah, misalnya, untuk menempah kekayaan dan kebahagiaan akhiratnya. 

Kedudukan tinggi yang diperoleh manusia di dunia, akan dinikmatinya juga di akhirat dalam kedudukan yang lebih tinggi dan mulia lagi. Asal, kedudukan tingginya di dunia digunakannya untuk membahagiakan orang lain, bukan untuk menekan orang lain supaya menjadi lebih rendah serendah-rendahnya, semenderita-menderitanya, sedangkan dirinya menjadi lebih tinggi setinggi-tingginya, sebahagia-bahagianya, menurut takaran nafsu dunianya.

Jika menyadari azab dan nikmat akhirat, maka manusia seyogianya sadar bahwa dunia ini, kalau tak dikelola dengan baik, tiada lain dari sesuatu yang mudarat. Akan tetapi, jika diri dikelola dengan benar, maka kebahagiaan sejati dan abadi akan menantinya dengan setia di akhirat yang kekal dan tak bertolok banding dalam semua hal yang ada di dunia.

Berdasarkan kenyataan itu, amat benarlah nasihat di pengujung hayat Sultan Abdul Hamid Syah kepada anakandanya, Abdul Muluk. Berhati-hatilah terhadap karenah dan tipu daya dunia. Pasalnya, dalam suka-ria kenikmatannya, panah dunia akan menusuk. Oleh sebab itu, senantiasa bermohon akan pelindungan Allah menjadi karakter yang terpuji karena sesungguhnya kasih-sayang Allah tiada bertolok.

“Dan, ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Quran), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis), lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Lalu, Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan dirinya di hadapan Maryam dalam bentuk manusia sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sesungguhnya, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu jika engkau adalah orang yang bertakwa,” (Q.S. Maryam, 16-18).

Rupanya, nasihat Sultan Abdul Hamid Syah kepada putranya bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Kesemuanya itu memang bagian dari petunjuk Allah. Dalam hal ini, dikisahkan-Nya bagaimana Maryam bermohon pelindungan-Nya dari segala angka murka dunia. Dengan kasih-Nya, Tuhan Yang Maha Pengasih pun memberikan pelindungan kepada Maryam sehingga kesucian perempuan itu tak terjejas oleh makhluk apa pun. Alhasil, perempuan suci itu tak mampu ditaklukkan oleh tipuan dunia yang fana.

Mengharapkan pelindungan Allah menjadi perilaku yang tak boleh diabaikan. Untuk itu, Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Pertama, bait 3, menunjukkan caranya.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Begitulah caranya. Berkehendakkan pelindungan Allah dari segala angkara murka dunia, tiadalah rumit syaratnya. Cukuplah sekadar melaksanakan perintah dan menjauhi atau meninggalkan larangan-Nya. Dengan begitu, manusia tak hanya terbebas dari tipuan dunia seperti halnya Maryam yang tak tersentuh oleh sebutir pun debu dunia, tetapi seperti halnya juga perempuan yang teramat suci itu, manusia pun berhak menyandang predikat berkarakter mulia. Dengan predikat hebat itu, janganlah ragu, singgasana megah lagi mewah telah sedia menanti di surga. Oleh sebab itu, Sultan Abdul Hamid Syah tersenyum manis ketika pergi menemui Tuhannya. Padahal, orang-orang yang ditinggalkannya menangisi kepergiannya. Dunia dan surga memang berbeza karenahnya.***   

Tinggalkan Balasan