SULTAN Abdul Muluk hendak melakukan kunjungan kenegaraan ke negeri jirannya. Misi muhibah itu diserayakan dengan pengenalan dirinya sebagai pemimpin Kerajaan Barbari yang baru ditabalkan setelah kemangkatan ayahandanya. Menimba pengalaman dari para pemimpin berida termasuk dalam senarai perjalanan yang telah direncanakannya.

Berhubung dengan kunjungan kenegaraan itu, Sultan Barbari menetapkan Menteri Mansur sebagai pelaksana tugas kepala pemerintahan. Penunjukan Menteri Mansur didasari pertimbangan bahwa dialah menteri yang paling berida (senior) di kerajaannya.  Menteri Mansur menerima amanah itu dengan penuh hikmat. Dalam acara penyerahan tugas dia berpesan kepada atasannya dalam ungkapan penuh hormat. Penuturan takzim menteri berida itu tersurat dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 204.

Sedikit juga mamanda pinta
Janganlah lama meninggalkan tahta
Mamanda nin tua sudahlah nyata
Kehendak Allah tak tahulah kita

Walaupun dikenal luas sebagai pejabat senior yang paling cerdas, arif, dan bijaksana, dengan rendah hati Menteri Mansur meminta Sultan Abdul Muluk tak terlalu lama berada di luar negeri. Pertimbangan utamanya karena dirinya sudah tua. Berhubung dengan itu, mungkin dia tak mampu melaksanakan tugasnya secara optimal sehingga akan mengecewakan Baginda Sultan dan rakyat. Bahkan, mungkin juga dia wafat ketika bertugas. Tak tertutup kemungkinan pula ada pihak-pihak tertentu hendak mengambil kesempatan ketiadaan sultan di dalam negeri untuk melakukan tindakan tak terpuji terhadap rakyat dan negeri. Senarai kemungkinan lain juga boleh saja terjadi.

Dengan pertimbangan itu, Menteri Mansur menunjukkan kualitasnya sebagai pemimpin yang tak hanya berpengalaman, tetapi memiliki kecerdasan yang komprehensif. Di antaranya, dia sangat yakin akan kehendak Allah, yang tak dapat dihindari oleh makhluk, termasuk manusia, sehebat apa pun dia. 

Dengan kualitasnya itu, dia menampilkan karakter sebagai manusia sekaligus pemimpin yang mengenal Allah sebagai Tuhan yang diyakininya. Karena karakter itulah, dia bersedia menerima tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, apatah lagi demi kepentingan bangsa dan negara. Namun, diingatkannya juga pemimpinnya bahwa kehendak Allah boleh jadi berbeda dengan prakiraan, perkiraan, prediksi, bahkan ramalan manusia. Manusia boleh berencana apa pun sepanjang yang sanggup dipikirkan, tetapi Tuhanlah yang menentukan kesudahannya.  

Dalam perhubungan manusia dengan Tuhan, Raja Ali Haji rahimahullah melalui Gurindam Dua Belas (1847), Pasal yang Pertama, juga mengemukakan mustahaknya karakter mengenal Allah. Amanat yang tertera pada bait 3 itu dinukilkan berikut ini.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Manusia yang mengenal Allah ditandai oleh sifat, sikap, dan perbuatannya yang konsisten dan konsekuen melaksanakan suruhan (perintah) dan menjauhi tegahan (larangan) Allah. Dengan demikian, mengenal Allah merupakan karakter utama yang seyogianya dimiliki oleh manusia dalam perhubungannya dengan Allah. Tanpa mengenal Tuhan yang sesungguhnya, manusia akan terjerat pada perilaku “menuhankan diri” dan atau “menuhankan kehendak diri” yang berdampak pada kecelakaan diri dan orang lain, bahkan sampai robohnya negeri kalau dia peneraju negeri.

Di dalam Kitab Pengetahuan Bahasa dijelaskan perihal yang berhubung dengan Allah. Periannya dihubungkan dengan alam dan manusia.

Allah yaitu isim al-zat yakni nama zat Tuhan Yang Mahabesar dan Mahamulia. Dan, Dialah Tuhan kita yang wajib alwujud yakni wajib adanya, mustahil tiadanya. Dan, keadaannya tiada berkarenakan daripada sesuatu. Dan Ialah yang menjadikan alam ini daripada tiada kepada ada. Dan, tiada boleh alam itu ada dengan sendirinya. Jikalau boleh alam ini ada dengan sendirinya, nescaya bolehlah dua pekerjaan bersamaan keduanya yang menyamai bagi taulannya, maka yaitu mustahil. Dan, demikian lagi menunjukkan kita di dalam perintah Allah tiap-tiap seorang tiada suka akan miskin dan sakit dan hina dan mati, mengapakah penuh di dalam dunia ini, ada yang miskin ada yang sakit ada yang hina, lawannya kaya yang sehat dan yang mulia,” (Haji dalam Yunus (Ed.)1986/1987, 22). 

Manusia yang sesungguhnya mengenal Tuhan yakin bahwa Allah memiliki sifat-sifat Mahasempurna, dari-Nyalah segala makhluk boleh berwujud, yang mula-mulanya sama sekali tiada. Karena semata-mata ciptaan, kewajiban utama dan pertama manusia kepada Sang Pencipta adalah melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Pasalnya, hanya Allah Yang Maha Mengetahui alasan ditetapkan perintah dan larangan-Nya terhadap manusia sebagai ciptaan-Nya.

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan). Oleh sebab itu, Kami jadikan dia mendengar dan melihat,” (Q.S. Al-Insan, 2).

Ternyata, perintah dan larangan yang diberikan oleh Allah semata-mata digunakan sebagai alat uji terhadap manusia. Dari ujian itulah akan teserlah karakter sesungguhnya setiap manusia, yang seyogianya patut dibanggakan karena tercipta sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan sejati manusia sebagai makhluk baru terbukti setelah ianya lulus ujian pengenalan terhadap Rab-nya melalui ketaatan yang tiada berbelah bagi, hanya kepada-Nya.

Oleh sebab itu, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 7, mendendangkan keindahan ketaatan yang bermutu. Hanya mereka yang tercerahkanlah yang sanggup dan bersedia menjadikannya sebagai pedoman bersikap dan berperilaku.

Hendaklah anakanda mengaji selalu
Dari yang lain lebihkan dulu
Had syarak jangan dilalu
Tidaklah anakanda beroleh malu

Sesiapa pun yang bersedia mengenal Allah, dia tak semata-mata dibebankan dengan perintah dan larangan. Pada akhirnya, dia akan memperoleh halua manis ketaatan berupa kemuliaan (tak beroleh malu), sama ada di hadapan Tuhan ataupun manusia.

Rasulullah SAW bersabda (ketika Baginda mengutus Mu’adz r.a. ke Yaman), “Engkau akan mendatangi sekelompok orang dari ahli kitab. Maka, hendaklah perkara yang pertama sekali engkau serukan kepada mereka adalah beribadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah …,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sampailah juga kepada puncaknya. Pembuktian mengenal Allah yang sejati dengan beribadah kepada-Nya. Itulah sebabnya, manusia yang berkarakter mulia menempatkan ketaatan beribadah sebagai bukti cintanya kepada Sang Pencipta. Selamat menunaikan ibadah Ramadan hari terakhir tahun ini dan Salam Aidilfitri 1441 H. disertai permohonan maaf zahir-batin atas segala kesalahan, baik disengaja maupun tak disengaja. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala angkara murka, musibah, dan bencana. Sejauh pengenalan kepada-Nya, Allah senantiasa mengabulkan permohonan hamba-Nya yang menuruti perintah-Nya.*** 

Tinggalkan Balasan