MENDEKATI detik-detik kepergiannya meninggalkan dunia yang fana ini, Sultan Abdul Hamid Syah, dengan izin Allah, masih sempat berwasiat kepada putra tunggalnya yang akan menjadi yatim-piatu. Dengan mata berkaca-kaca, penguasa Kerajaan Barbari itu memandang lekat durja anakandanya, Abdul Muluk,  dengan tatapan yang menusuk kalbu. Kedua orang anak-beranak itu bertemu pandang dalam suasana penuh haru. 

Sang ayah berasa haru dalam syukurnya karena masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bertitah kepada putranya. Si anak pula sangat bersedih karena telah melihat tanda-tanda akan ditinggalkan oleh ayahanda yang sangat dicintainya. Alhasil, tak terbendunglah deraian air matanya walaupun ayahandanya sangat ketara sabar dan tabahnya. Orang yang akan pergi itu telah benar-benar ikhlas di mana pun ditempatkan di kampung abadi yang segera akan dijelangnya. 

Kisah kasih menjelang berpisah antara ayah dan anak itu diperikan oleh Raja Ali Haji rahimahullah di dalam karya beliau Syair Abdul Muluk  (Haji, 1846). Jelas bangat cintanya yang tiada bertolok dalam kategori sesama makhluk. Betapa tidak, putra satu-satunya itulah yang begitu lahir ke dunia langsung dipeluk dan ditabalkan namanya Abdul Muluk. Sekejap lagi sampailah takdirnya sebagai seorang makhluk.

 Baginda berkata lemah lembut
Beberapa hikayat yang tersebut
Janganlah tidak anakku ikut
Takuti olehmu Allah al-Ma’bud

Nukilan bait syair di atas mengisyaratkan kualitas karakter yang diharapkan oleh Sultan Abdul Hamid Syah kepada penerusnya. Di dalam nasihatnya itu dia sungguh mendambakan anakandanya tumbuh menjadi manusia yang terus menyuburkan rasa takut atau bertakwa kepada Allah. Dari titahnya itu, dapatlah dipahami dia sangat percaya bahwa bertakwa atau takut kepada Allah merupakan sifat, sikap, dan perilaku yang terpuji lagi mulia. 

Hal itu disebabkan oleh karakter tersebut telah menjadi “pakaian hidup” orang baik-baik sejak zaman-berzaman (Beberapa hikayat yang tersebut). Sesiapa pun yang terus menumbuhsuburkan kualitas takwa kepada Allah dalam dirinya, nescaya dia akan senantiasa mendapat petunjuk dan pertolongan-Nya dalam apa pun persoalan kehidupan yang dihadapinya.Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 57, menjelaskan alasan diperlukannya karakter bertakwa kepada Allah. Kesemuanya itu untuk kebaikan manusia agar mendapatkan kesudahan yang baik, yang diidam-idamkan oleh semua makhluk, kecuali mereka yang ingkar janji kepada-Nya.

Ajar yang baik diajarkan
Halal dan haram dikhabarkan
Murka Allah ditakutkan
Balasan surga dinyatakan

Dalam konteks dan matlamat mencapai kualitas takwa itulah ajaran tentang kebaikan dan keburukan seyogianya disampaikan dengan sebenar-benarnya, sejelas-jelasnya, dan sebaik-baiknya. Tak boleh ada sesuatu apa pun yang disembunyikan dan atau diselewengkan. Jika kesemuanya itu dapat dilaksanakan dengan baik, manusia akan mendapatkan kesudahan yang juga baik. Balasan surga Allah telah sedia menantinya karena dia membuka hatinya untuk senantiasa dihangatkan oleh cahaya Ilahiyah. Bersamaan dengan itu, dihadangnya sekuat dapat sinar syaitaniah yang menjanjikan kehangatan palsu yang tiada berfaedah.

Ajaran seperti apakah itu dan keistimewaan apakah yang dimiliki oleh orang yang bertakwa sehingga dijamin anugerah surga? Berita dalam Tsamarat al-Muhimmah begitu pun wasiat Sultan Barbari sesungguhnya dibenarkan oleh sumber asalnya. 

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat. Akan tetapi, kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa,” (Q.S. Al-Baqarah, 177).

Demikianlah kualitas orang bertakwa. Bukan kata manusia, melainkan langsung diungkapkan oleh Allah SWT. Mereka adalah orang-orang yang jiwa dan raganya telah ditempa untuk semata-mata bersetia kepada Sang Pencipta.

Takut atau bertakwa kepada Allah seperti yang dimaksudkan oleh Sultan Barbari, berdasarkan petunjuk Tuhan Yang Bahari, tiada lain bermakna ‘melaksanakan segala perintah dan menjauhi atau meninggalkan segala larangan-Nya’, apa pun cabaran atau tantangannya. Konsisten terhadap karakter itu membuat manusia tampil tanpa cela dalam apa pun profesi yang ditekuninya. Amanat tersebut terdapat dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus 2000, 130), bait 76. 

Lain daripada itu beberapa pula
Suruh dan larang Allah Ta’ala
Di dalam Quran ‘Azza wa Jalla
Perintah yang baik tiada cela

Bait syair di atas merupakan bagian dari kisah tentang perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ajaran Tuhan. Di dalam tugas kenabian itu, Rasulullah SAW mengajarkan pelbagai perkara berkenaan dengan selok-belok ajaran Islam yang diamanahkan kepada Baginda, termasuklah perkara kewajiban bertakwa kepada Allah, yakni dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal itu bermakna memang sangat mustahak sifat, sikap, dan perilaku takut atau bertakwa kepada Allah sebagai wujud dari perhubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Pencipta.

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal r.a. mereka berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Betakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Dan, ikutilah kejelekan dengan kebaikan, nescaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan, pergaulilah sesama manusia dengan karakter atau akhlak mulia,” (H.R. At-Tirmidzi). 

Benar dan tak terbantahlah sudah kebenaran dan kebaikan wasiat Sultan Barbari kepada putranya. Dengan semua penjelasan yang menyertainya, dapatlah dimaklumi bahwa di antara sifat, sikap, dan perilaku yang seyogianya ada dalam diri manusia tatkala berhubung dengan Allah adalah menyerlahnya rasa takut atau bertakwa kepada-Nya. Dengan demikian, bertakwa kepada Allah merupakan sifat, sikap, dan perilaku terpuji lagi mulia sebagai wujud dari manusia yang berkarakter sempurna. 

Sultan Abdul Hamid Syah, dengan wasiat arifnya, “Takuti olehmu Allah al-Ma’bud,” tak semata-mata berjuang demi menyelamatkan generasi penerusnya. Bersamaan dengan itu, dia juga telah memastikan tempatnya di mahligai surga. Dia boleh berkukuh hati dengan keyakinan itu karena memang telah dijamin oleh Allah Azza wa Jalla. Adakah sesiapa yang sanggup mendebat Sultan Barbari menjelang awal kehidupan akhiratnya?***

Tinggalkan Balasan