FAJAR itu menjadi saksi tentang kesetiaan manusia menyempurnakan dan atau menunaikan janjinya. Janji kepada siapakah dan apakah gerangan yang dipersetiakannya. Jawab untuk pertanyaan pertama adalah janji kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Pertanyaan kedua pula jawabnya ini: melaksanakan ibadah yang diwajibkan kepadanya. Oleh sebab itu, orang sekeluarga yang setia menunaikan janji itu telah bangun dari tidur mereka begitu fajar baru akan bermula.

Memperhatikan perilaku keluarga yang rela bangun dari tidur nyenyak mereka, padahal matahari belum terbit, ingatan dapat dipusatkan pada Gurindam Dua Belas (Haji, 1847), Pasal yang Pertama, bait 3.

Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Keluarga yang bangun pada subuh sunyi itu menunjukkan gejala manusia yang mengenal Allah. Buktinya, mereka tak sekadar bangun sebarang bangun, tetapi bangun untuk melaksanakan ibadah, dalam hal ini salat fardu subuh. Salat subuh merupakan salah satu ibadah wajib yang memang diperintahkan oleh (suruhan) Allah kepada umat Islam.

Kisah keluarga yang dibicarakan itu terdapat dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), antara lain, pada bait 1.686. Raja Ali Haji rahimahullah melukiskannya dengan begitu indahnya membuat jiwa berasa tenteram. 

Setelah fajar sudahlah nyata
Bangun sembahyang Tuan Pendeta
Abdul Gani samalah serta
Anak dan isteri sekalian rata

Bait syair di atas berkisah tentang ketaatan beribadah keluarga Tuan Pendeta. Merujuk kepada ibadah yang dilaksanakannya, Tuan Pendeta yang dimaksudkan oleh bait syair itu adalah ‘pemimpin agama Islam atau orang alim yang beragama Islam’. Selain Tuan Pendeta anak-beranak, di dalam jamaah salat subuh itu terdapat seseorang yang bernama Abdul Gani. Siapakah orang yang satu ini? 

Abdul Gani sesungguhnya adalah putra Sultan Abdul Muluk dan istrinya, Siti Rafiah. Putranya inilah yang menyertai Siti Rafiah dalam pelariannya ke hutan untuk menghindarkan diri dari ditawan oleh tentara Kerajaan Hindustan. Kala itu Abdul Gani masih di dalam kandungan. Diringkaskan kisahnya, dalam pelariannya Siti Rafiah sampai ke rumah Tuan Pendeta atau Tuan Syekh. Dia, yang tak membuka samarannya yang sejatinya istri Sultan Kerajaan Barbari, dijadikan anak angkat oleh Tuan Pendeta. Di rumah orang tua angkatnya itulah Siti Rafiah melahirkan putranya, Abdul Gani, yang kini telah berangkat remaja.

Setelah habis bilangannya pasca-melahirkan, Siti Rafiah mengembara dari satu negeri ke negeri lainnya untuk menghimpun koalisi demi merebut kembali negerinya yang terjajah. Oleh sebab itu, Abdul Gani dititipkannya di bawah penjagaan dan pendidikan orang tua angkatnya. Di dalam keluarga Tuan Pendeta, Abdul Gani dididik secara disiplin dan dengan sangat baik sejak dia masih kecil. Di antara pendidikan yang diperolehnya adalah pendidikan agama, dengan ajaran tak boleh meninggalkan salat wajib dan harus berjamaah bersama keluarga. Menurut Tuan Syekh, manusia akan menjadi baik jika taat melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh Allah. 

Manakala tiba waktu salat, mereka wajib mendirikan salat. Nyatalah bait syair tersebut berisi amanat bahwa setiap muslim wajib taat menjalankan ibadah yang diperintahkan oleh Allah. Dengan demikian, taat beribadah (religius) merupakan karakter terpuji dalam perhubungan manusia dengan Allah.

Dasar apakah yang digunakan oleh Tuan Pendeta membiasakan keluarganya, termasuk Abdul Gani yang dalam pemeliharaannya, untuk taat beribadah? Ternyata, ini adalah salah satu rujukannya.

“Dan, Aku tak menciptakan jin dan manusia, selain supaya mereka beribadah kepada-Ku,” (Q.S. Adz-Dzariyat, 56).

Sangat jelas referensi yang dirujuk oleh Tuan Pendeta. Dengan demikian, apa yang diterapkannya di dalam keluarganya memang diperintahkan oleh Allah. Karena mereka tergolong manusia, maka mereka wajib taat beribadah kepada Allah. Sesungguhnya, wajib beribadah kepada Allah merupakan perintah yang paling utama, bahkan tergolong paling agung, dalam perhubungan manusia dengan Tuhan.  

Atas dasar itu jugalah, persoalan taat beribadah pun ditampilkan di dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Kearifan itu terdapat pada Pasal yang Kedua, bait 2, 3, 4, dan 5. Bait 2 anjuran melaksanakan salat, bait 3 anjuran menunaikan puasa, bait 4 anjuran membayar zakat, dan bait 5-nya berikut ini. 

Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah menyempurnakan janji

Hal itu bermakna bahwa umat Islam yang tak melaksanakan ibadah haji, padahal dia mampu menunaikannya, samalah artinya dengan ingkar janji kepada Allah, yang seyogianya ditaati. Bukankah haji adalah ibadah wajib dalam agama Islam, yang tak boleh dihindari? Begitu pulalah ibadah-ibadah salat, puasa, dan zakat yang telah disinggung di atas tadi. Jadi, taat beribadah merupakan perilaku yang mulia dan orang yang melaksanakannya tergolong memiliki karakter terpuji.

Di dalam Tsamarat al-Muhimmah juga dikemukakan perihal taat beribadah. Hal itu dikaitkan dengan peran pemimpin sebagai khalifah. 

“Bermula makna raja itu jika dikata raja itu dengan makna khalifah yaitu khalifah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa-Sallam, pada mendirikan Islam dan menghukumkan akan segala hamba Allah dengan hukuman Qur’an dan hadits dan ijma’….” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Petikan teks Tsamarat al-Muhimmah di atas menjelaskan mustahaknya seseorang raja (pemimpin) mendirikan agama, khasnya bagi yang beragama Islam. Hal itu bermakna termasuklah taat beribadah sesuai dengan perintah Allah, yaitu melaksanakan rukun Islam: mengucap dua kalimah syahadat, mendirikan salat, berpuasa pada bulan Ramadan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah di Mekah al-Mukarramah. 

Pemimpin yang mampu melaksanakan perintah Allah tergolong manusia yang berkarakter baik karena nilai religius mendasari kepemimpinannya. Pemimpin dengan kualitas itu dipercayai mampu berlaku adil dan tak akan tergamak menyengsarakan rakyatnya. Asal, nilai-nilai ibadah yang mulia lagi agung itu benar-benar dihayatinya dan diimplementasikan dalam  kepemimpinannya. Dia pun dapat dipastikan akan beroleh inayah dari Allah Azza wa Jalla.

Dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Sesungguhnya, Allah Taala berfirman, “Wahai anak Adam! Beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, nescaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi keperluanmu. Jika tak kalian lakukan, nescaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tak Aku penuhi keperluanmu (kepada manusia),” (H.R. Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim).

Begitulah mustahaknya ketaatan beribadah sebagai perintah agung dari Tuhan kepada manusia, makhluk-Nya yang paling mulia. Nyata pulalah rupanya betapa manusia yang hari-harinya dipenuhi oleh pelbagai kesibukan yang luar biasa. Akibatnya, dia tak sempat beribadah kepada-Nya. Semua kesibukan itu sesungguhnya adalah hukuman Tuhan kepadanya. Jadilah kesemuanya itu tak memberi manfaat kepada manusia, bahkan termasuk terhadap dirinya. 

Mereka yang taat beribadah pula, dengan niat semata-mata melaksanakan perintah Tuhan, akan dianugerahi kecukupan dalam apa pun keperluannya dalam kehidupan yang dijalaninya. Tentulah pula mereka akan beroleh karunia Tuhan berupa karakter mulia sebagai anugerah yang sangat berharga. Betapa tidak, mereka akan terus dikenang walaupun telah lama pergi meninggalkan dunia yang fana. Janji Tuhan tak pernah satu pun diingkari-Nya.*** 

Tinggalkan Balasan