PRASASTI BUKIT SIGUNTANG DAN BADAI POLITIK DI KEMAHARAJAAN MELAYU 1293-1913
(Sebuah Renungan)

BAB – IX
AKHIRNYA BERPISAH DI TANJUNG PUTERI
(Hari Hari Terakhir Kerajaan Singapura-Johor-Pahang, 1819-1878)

Akan halnya  Husin Syah, Sultan Singapura, setelah ambisi politiknya menjadi Sultan berhasil, maka ianya segera membangun dinasti baru Husinsyah di Singapura, sebagai penerus dinasti Mahmudsyah III, dinasti Melayu Bugis. Paling tidak dia telah memulai jejak kerajaannya, terlepas bagaimana kerajan itu ujud, apakah dengan kehandalannya sebagai pemimpin, atau hanya bidak dari sebuah skenario kekuasaan dan politik yang lain di semenanjung tanah Melayu itu. Setelah dilantik, 6 Februari 1819, dia segera minta Temenggung Abdurrahman membantunya membangun istana untuk tempat tinggal. Maka dibangunlah istana itu di kampung Gelam, di kawasan Teluk Belanga itu juga, di belahan selatan pulau Singapura, berhampiran dengan sungai Kalang. Kemudian dia mulai memindahkan semua anak isterinya, ke Singapura, sehingga Kampung Bulang di pulau Penyengat, tempat dia menetap selama 4 tahun, setelah meninggalkan Lingga, menjadi kosong.

Tapi Inggeris tidaklah seperti yang mereka bayangkan. Rafles dan Farquhar, memanglah penuh tenggang rasa, karena mereka sudah terbiasa membangun kerjasama dengan negeri-negeri yang dijadikan sahabat dan bekerjasama. Tapi tidak dengan John Crawfurd, yang jadi residen Singapura setelah Raffles dan Farquhar pergi. Tahu bahwa pulau Singapura berkembang pesat, dan wilayah perdagangan perlu yang lebih luas, karena berbagai pembangunan dan kebutuhan lahan baru untuk memperbesar bandar Singapura yang dikuasai Inggeris, maka Crawfurd mulai melihat keberadaan kawasan yang dikuasai Husin Syah dan Temenggung Abdurrahman sebagai masalah. Dia merasa perjanjian politik bulan februari 1819, antara Sultan Husin, Temenggung dan Inggeris, tidak cukup  sebagai sandaran. Dia memerlukan sandaran baru. Karena itu, Agustus 1819 , dia paksa  Husin Syah dan Temenggung Abdurrahman untuk membuat perjanjian baru, dimana dia minta pulau-pulau, 10 mil sekitar Singapura masuk dalam wilayah kekuasaan Inggeris .

Residen Crawfurd  juga mulai melihat kerjasama dengan Husin Syah dan Temenggung, kurang menguntungkan Inggeris dalam mengembangkan kekuasaan dan perda-gangannya. Terutama dengan Husin Syah, yang dianggap  sering menimbulkan masalah antara Inggeris dan Belanda dalam mematuhi Tractat London, 1824. Karena  Husin Syah masih berambisi untuk menguasai pulau-pulau yang ada di selatan Singapura, seperti Karimun, dll, yang berdasarkan Tracktat London, masuk dalam wilayah kekuasaan Sultan  Riau-Lingga , dan  Belanda. Sempat terjadi perang  saudara  antara Husin Syah dengan  Abdiurrahman Muazzam Syah, memperebutkan pulau Karimun. Abdurrahman Muaazzam Syah datang dengan kekuatan besar dan dibantu Belanda, sementara Husins Syah harus menghadapi sendiri, karena Inggeris enggan membantunya. Akhirnya Husin Syah kalah.

Crawfurd juga mulai menjalankan politik adu dombanya, untuk membangun konflik politik antara pihak Husin Syah dan kerabatnya dengan Temenggung Abdurrahman dan kerabatnya. Ketika Temenggung Abdurahman wafat, 1825, dia beri perhatian lebih besar. Dengan menambah tunjungan pensiun, dll, sementara Sultan Husin makin diabaikannya. Akhirnya antara pihak  Husin Syah dan pihak Temenggung, mulai  retak. Apalagi ketika jabatan Temenggung Singapura dan Johor itu dipegang  Tengku Ibrahim, 1833, yang menjadi pengganti Tengku (Daeng) Abdurrahman (penggantian ini memang makan waktu hampir 8 tahun, karena Tengku Ibrahim, ketika ayahnya wafat, baru berumur 15 tahun). Konflik ini ,melebar, karena Pahang yang menjadi daerah kekuasaan kerajaan Singapura, dan dibawah kendali seorang Bendahara, segera memisahkan diri, dan ingin mendirikan kerajaan sendiri. Padahal sejak Raja Bajau, putera Sultan Johor, Abdullah Muaayat Syah menjadi Raja Muda Pahang, dan mangkat, maka Pahang tidak pernah lagi mempunyai Sultan, dan dianeksasi oleh Johor, hanya menjadi daerah pegangan Bendahara Johor.

Akhirnya, Husin Syah tidak kuat menghadapi tekanan poilitikj dan kesulitan keuangan, maka dia menyingkir ke Melaka, di daratan semenanjung Melaka itu, ke suatu tempat pemukiman bernama Bandar Hilir. Dan tahun 1835, dia wafat di sana. Jabatan Sultan Singapura dan Johor ini, sempat kosong selama 6 tahun, dan kendali pemerintahan berada di tangan Temenggung Ibrahim. Sampai akhirnya, Tengku Ali, putera Husin Syah, menggantikannya sebagai Sultan Singapura, dengan gelar Ali Iskandar Syah, dan dilantik tahun 1840. Tapi pelantikan dan keberadaan Ali Iskandar Syah itu, tidak sepenuhnya didukung Inggeris. Ali Iskandar Syah, dizinkan kembali ke Singapura, tapi hanya berkuasa di lingkungan istananya di Kampung Gelam, beserta harta lainnya, termasuk tanah tempat komplek istana yang dahulu dikuasai oleh ayahnya, Husin Syah.

Konflik politik antara keturunan Husin Syah dengan keturunan Temenggung Abdurrahman terus meroyak, dengan Inggeris sebagai batu apinya. Akhirnya, Ali Iskandar Syah, bertekat kembali minta dukungan kerabatanya yang ada di kerajaan Riau-Lingga. Bahkan, tahun 1852, Ali Iskandar Syah berniat menyerahkan kembali kerajaan Singapura dan Johor itu, kepada kerajaan Riau-Lingga yang ketika itu Sultannya adalah Sulaiman Badrul Alam Syah II sepupu jauhnya. Tapi gagal karena traktat London sudah memutuskan, bahwa semua negeri yang ada di utara selat Singapura, ada dibawah kerajaan Inggeris. Dan Riau-Lingga  yang berada di selatan Selat Singapura, dalam kekuasaan Belanda, dan arena itu Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II, tidak berani mengambil alihnya Singapura dan Johor. Niat politik Ali Iskandar Syah ini, membuat Inggeris , marah, dan semakin kuat mendukung Temenggung Ibrahim, dan puncaknya, Inggeris mendorong Temenggung Ibrahim  menguasai semua hasil perdagangan dari daratan Johor, seperti karet, rotan, dll, dan  Ali Iskandar Syah, tidak mendapatkan apa-apa. Tahun 1855, dalam tekanan ekonomi yang berat, akhirnya Ali Iskandar Syah menyerahkan daratan Johor kepada Temenggung Ibrahim dengan kompensasi 5.000 ringgit, ditambah tunjangan tetap kepadanya sebesar 400 ringgit setiap bulan. Yang dipertahannya di daratan Johor itu, hanya kawasan Kesang, dan itupun menjadi syarat, suatu saat kelak akan diserahkan  kepada Temenggung. Dengan kejadian itu, maka Ali Iskandar Syah, bukanlah lagi Sultan Singapura dan Johor, seperti kerajaan yang diwariskan ayahnya Husinsyah. Menurut Ahmad Dahlan (Sejarah Melayu. Of. cit), Ali Iskandar Syah, hanya dapat dinamakan Sultan Kesang.

Temenggung Ibrahim, yang nama kecilnya adalah Daeng Ronggek itu, mulai membangun kekuatannya. Dia mewarisi kekuatan angkatan perang dan pendukung dari ayahnya Temenggung Abdurrahman, hampir 10.000 orang, belum termasuk dukungan orang-orang Bugis dibawah pimpinan Arung Balewa, yang pernah mengobrak abrik, kekuatan Belanda di Tanjungpinang. Kini dia memiliki wilayah kekuasaan yang lebih riel, yaitu Johor. Karena Singapura secara de fakto, sudah diambil seluruhnya dikuasi oleh Inggeris. Karena itu maka  dari daratan Johor yang sudah dikuasainya itu. Dia  memulai ambisinya untuk membangun kembali kebesasaran Johor, yang dahulunya adalah kerajan besar yang diwariskan oleh Abdul Jalil Riayat Syah, 1699, moyangnya. Untuk membangun kerajaan dan dinasti barunya, Temenggung Ibrahim menjaga hegemoni hubungannya dengan Inggeris, yang menguasai Singapura. Dia mengatasi masalah perompak dan bajak laut yang merajalela di Selat Melaka dan selat Singapura, yang tak sanggup diatasi oleh Inggersi sendiri. Keberhasilannya menumpas bajak laut itu, membuat Temenggung Ibrahim mendapat apresiasi dari Ratu Inggeris, dan  tahun 1856, dia dihadiahi sebilah pedang kebesaaran. Dan sebagai strategi membangun kekuasaannya, maka diapun membangun sebuah pusat pemeritahan yang baru di Johor, dengan memilih tempat yang dinamakan Tanjung Puteri. Memang dia tak sempat pindah kesana dan menjadikan Tanjung Puteri sebagai pusat pemerintahannya, karena terlebih dahulu wafat, 1862, setelah 7 tahun menyingkirkan Sultan Ali Iskandar Syah. Dia dimakamkan di Teluk Belanga, di sisi makam ayahnya Temenggung Abdurrahman, dalam komplek makam para temenggung Johor, di Singapura. Dia digantikan oleh puteranya  Tengku  (Daeng) Abu Bakar, puteranya yang lahir di Teluk Belanga, Singapura, tahun 1833.

Temenggung Abu Bakar yang memulai kepemimpinan pada usia 29 tahun, sama cergas dan ambisius, seperti ayahnya, Temenggung Ibrahim. Nama Tengku Abubakar mulai muncul, ketika dia ditugaskan ayahnya untuk pergi ke Lingga, membantu menyelesaikan nasib Sultan Riau-Lingga ketika itu, Mahmud Muzaffar Syah, yang dimakzulkan Belanda. Seperti sudah diceritakan lebih dahulu, Abubakar disuruh bertemu dengan Residen Belanda di Tanjungpinang, dan minta izin mengambil keluarga Mahmud Muzaffar Syah dan harta bendanya, untuk dibawa ke Singapura. Kemudian di istana Sultan Lingga, dia sempat memberi harapan kepada para keturunan Melayu di sana, bahwa Inggeris akan segera merajakan kembali Mahmud Muzaffar Syah sebagai Sultan Riau-Lingga, meskipun impian itu tak terujud, karena kerajaan  Riau-Lingga, tetap dalam cengkraman Belanda, sebagaimana isi dari Traktat London, 1824. Temenggung Abubakar juga, tetap memelihara persaudaraannya dengan para penguasa kerajaan Lingga-Riau. Tahun 1866, misalnya, 4 tahun setelah dilantik jadi Temenggung, dia datang ke Riau dan Lingga lagi, bertemu dengan Sultan Riau-Lingga yang waktu itu sudah dipegang oleh Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II.  Pada tahun yang sama, dia memindahkan ibukota pemerintahan ketemenggungan Johor, dari Teluk Belanga, ke Tanjung Puteri yang dibangun ayahnya, dan mengubah nama kota itu menjadi Johor Baru (dalam Bahasa Malaysia sekarang, Johor Baharu), dan pada tahun itu juga, dia dilantik sebagai Temenggung Sri Maharaja Johor, seperti gelar yang disandang ayahnya, Tengku (Daeng) Ibrahim.

Lalu, dua tahun kemudian, 1868, dia mengirimkan lagi utusannya ke pulau Penyengat, bertemu dengan Raja Ali Haji, ulama ,budayawan yang termashur itu, untuk minta nasihat berbagai hal tentang pemerintahan, termasuk  tentang niatnya untuk menjadi Sultan Johor, negeri baru yang sedang dibangunnya. Raja Ali Haji, tokoh yang arif itu, membekali para utusan itu dengan sejumlah buku karyanya, dan mengantarnya dengan sebuah surat, yang berisi: Maka hendaklah membaca sejarah dan siarah karangan aku ini dari awal hingga akhirnya, dan perhatikan baik-baik….”. (Ahmad Dahlan, of. cit ). Niatnya menjadi Sultan Johor itu, baru terujud 19 tahun kemudian, setelah secara politik dia menyingkirkan Ali Iskandar Syah, Sultan Kasang, bahagian dari kerajaan Johor yang masih dikuasai eks Sultan Singapura itu. Ali Iskandar Syah, wafat tahun 1877, di Umbai, di hulu negeri Melaka, dan sesuai dengan kesepakatan ketika daratan Johor itu diserahkan kepada Temenggung Ibrahim, oleh Ali Iskandarsyah, maka Kasang diambil alih oleh Temenggung Maharaja Johor, Abubakar, dengan dukungan politik dari Temenggung Muar, dan para pembesar negeri Kasang.

Tengku Alam, putera  Ali Iskandar Syah, yang waktu ayahnya wafat, berada di istana Kampung Gelam, Singapura, telah minta Gubernur Inggeris di Singapura, William Robinson, untuk melantiknya sebagai Sultan Kasang, menggantikan Ayahnya, namun tidak diacuhkan oleh Gubernur Inggeris. Bahkan Inggeris menyetujui Temenggung Maharaja Johor mengambil alih Kasang, dan setahun kemudian, 1878, melantik Temenggung Maharaja Johor itu sebagai Sultan Johor. Pelantikan itu dilakukan oleh Gubernur Inggeris untuk Negeri-Negeri Selat (Penang, Melaka, dan Singapura), Sir Hugh Clifford. Peristiwa ini menandai, kembalinya keturunan Tun Abdul Jalil, mantan Bendahara kerajaan Johor, yang menjadi Sultan Johor, tahun 1699, menggantikan Sultan Mahmud Syah II, yang mati dibunuh Megat Sri Rama. Abubakar, mengembalikan tahta kerajaan Johor itu setelah 159 tahun, lepas, saat Raja Kecik, merampas tahta itu dari Abdul Jalil Riayat Syah, tahun 1719, dan membunuh  Sultan Johor ke-10 itu, di Kuala Pahang. Pembunuhan ini, sama seperti pembunuhan Sultan Mahmud Syah oleh Megat Sri Rama di Kota Tinggi, adalah punca bala politik yang mengurung kerajan yang dibangun Alaudin Riayat Syah II, putera Mahmud Syah Melaka itu. Keturunan Husin Syah, Sultan Singapura  yang  sebenarnya juga adalah keturunan  Abdul Jalil Riayat Syah, tapi dari garis Tengku Sulaiman, memang melawan. Tengku Alam dan pendukungnya, 1879, memberontak, melawan, tapi  Sultan Johor, Abubakar, segera memadamkannya. Dan sejak itu, tamatlah jejak Tengku Husin, putera Mahmud Syah III , dari sejarah kerajaan Melayu itu. Keturunannya, ada yang bertahan di Kampung Gelam, Singapura, tetapi ada yang menyingkir ke Hulu Melaka, di kampung Umbai. Jika jejak Raja Djaafar, YDM VI Riau-Lingga itu berakhir di Penyengat, 1913, maka jejak Tengku Husin, berakhir di Umbai, Melaka. Inilah bahagian dari tragedi cinta Cik Puan Bulang itu. Tragedi pertarungan politik keturunan Tengku Sulaiman, salah satu putera Tun Abdul jalil (Sultan Abdul jalil Riayat Syah) dan Keturunan Daeng Celak (salah satu dari lima Upu-upu Bugis lima bersaudara, keturunan Daeng Rilakka, Luwu. Dan yang memenangkan pertarungan itu, sampai hari ini adalah, Keturunan Temenggung Tun Abbas, karena kerajaan Johor yang masih eksis hari ini di semenanjung Malaysia, adalah dari keturunannya. Dalam penulisan sejarah, kerajaan Johor sekarang ini disebut kerajaan Johor Baru, mulai dari Sultan Abubakar, 1878, keatas. Dan kerajaan Johor lama, mulai 1629 sampai 1878 (lihat Mardiana Nordin, of. cit). Dari Teluk Belangalah, kemudian orang-orang Melayu melintas waktu, menuju sebuah mimpi baru: Malaysia

Tapi sebelum mimpi baru rumpun Melayu itu ujud, dan gagasan sebuah imperium baru tercipta, maka marilah kita melihat garis sejarah dan badai politik yang terus mengguncang-guncang sisa-sisa kemaharajaan Melayu itu, yang pada saat-saat terakhir, setelah Johor runtuh, 1722, menyisakan dua buah kerajaan penerus : Riau,Johor, Pahang dan Terengganu, yang membawa bendera dinasti Bendahara Tun Abdul Jalil Mangkat di Kuala Pahang , dan Siak Sri Indrapura, yang membawa Dinasti Mahmud Mangkat Dijulang. Nasib Riau Lingga sudah jelas, tamat di tangan Belanda, 1913. Singapura, tamat ditangan Inggeris, 1787. Johor, menaikkan bendera sendiri, sebagai kerajaan Johor, dibawah dinasti Temenggung, yang masih berdarah Bendahara Tun Abdul Jalil. Tinggal Pahang, Terengganu dan Siak. Tamat dan terus berkibarkah bendera dinastinya, yang sama-sama mengaku sebagai dinasti  Sang Sapurba dan sama-sama memanggul Prasasti Bukit Siguntang, sama-sama membawa tuah Gunung Bentan ?.

                               ***

Konflik politik  yang menimbulkan badai politik yang menimpa  pihak Melayu, masih menyisakan beberapa tragedi lagi, seperti  tragedi Pahang. Meskipun tidak terlalu riuh rendah, dan penuh amuk perang, tetapi Pahang selalu menyisakan cerita yang pahit dan pedih. Dimulai, ketika Sultan Melaka, Mansyur Syah (1456-1477), menghukum puteranya Raja Muhammad, calon putera mahkota, dan membuangnya ke Pahang, dan menjadikannya Sultan di sana, sebuah  negeri di timur Semenanjung Melaka. Seperti sudah diceritakan di bahagian sebelumnya, Raja Muhammad dihukum, gara-gara dia membunuh Tun Besar, putera Bendahara Melaka yang tersohor itu, Tun Perak. “Celakalah si Muhammad ini.  Hai Muhammad, apa dayaku. Engkau telah ditolak  bumi Melaka”, begitu kata Mansyur Syah, marah, seperti ditulis Sejarah Melayu versi W. G. Shellabeaar (SMW). Sejak itu, Pahang yang semula hanya sebuah negeri taklukan Melaka, dibawah kekuasaan Bendahara, menjadi sebuah kerajaan kecil, mempunyai Sultan sendiri, namun tetap takluk (menyembah) ke Melaka. Setelah  Muhamad Syah, sebagai pengazaz, ada sekitar 11 Sultan yang memerintah di Pahang.

Dari Pahang jugalah cerita Tun Teja, wanita cantik, yang membuat Sultan Melaka Mahmud Syah I, tergila-gila, dan memerintahkan Laksamana Hang Nadim untuk menculiknya, membawanya ke Melaka dan mengawininya, padahal Tun Teja sudah bersuami, dan suaminya adalah Sultan Pahang, keturunan Melaka juga. Kemudian, kisah Tun Fatimah, puteri Bendahara Melaka, Tun Mutahir, yang sudah menjadi isteri Tun Ali, bangsawan Diraja Pahang, tetapi karena jelingan matanya, membuat Mahmud Syah, Sultan Melaka yang baru ditingal wafat, permaisurinya Tun Teja itu, kembali berahi dan tidak bisa tidur nyenyak. Seperti dikisahkan dengan bagus dan dramatis oleh SMW, ketika Mahmud Syah mendapat kabar betapa jelitanya Tun Fatimah, dia sengaja datang ke Pahang pada hari perkawinan Tun Fatimah dan Tun Ali, untuk melihat benar tidak cerita para pembesarnya tentang kejelitaan Tun Fatimah itu. Begitu dia menyaksikannya, di saat kedua mempelai  sedang menjalani acara bersuap-suapan, maka dia segera pergi: “Mendurhaka rupanya Bendahara, sudah tahu dia beta sedang tidak berpermaisuri, disembunyikannya anak daranya…”, begitu Mahmud marah. Dia perintahkan, bunuh Bendahara dan Tun Ali suami Tun Fatimah, dan kemudian dia paksakan Tun Fatimah, menjadi permaisuri.

Tun Fatimah memang terpaksa menjadi permaisuri Mahmudsyah, namun karena kematian ayah dan suaminya, dia menyimpan dendam dan bara benci yang  demikian besar. Balasannya, adalah tahta kerajaan Melaka. Kalau dia tak bisa langsung merebutnya, maka haruslah  melalui anaknya. Karena itu, seperti diceritakan SMW, berkali-kali dia menggugurkan kandungannya, hasil hubungannya dengan Mahmud Syah. Ketika, suatu kali Mahmud Syah bertanya kenapa dia menggugurkan kandungannya, maka dia menjawab: “Untuk apa hamba berputra lagi dengan Baginda, jika Baginda sudah mempunyai putera untuk menggantikan baginda nanti …? ”. Artinya, dia tak mau mempunyai anak, kecuali bisa menjadi putera Mahkota dan menggantikan Mahmud Syah. Karena ketika itu, Mahmud Syah memang sudah mempunyai seorang putera, Raja Ahmad, yang sudah pula dilantiknya sebagai Raja Muda dan akan jadi penggantinya. Akhirnya, karena cintanya yang demikian dalam, Mahmud Syah berjanji, jika kelak mereka mendapat seorang putera, maka dia akan jadikan putera mereka itu sebagai penggantinya. Tun Fatimah hamil, meski yang lahir pada mulanya, beberapa wanita, dan baru kemudian dia mendapat serorang putera, yang dinamakan Raja Ali (kelahirannya disambut dengan upacara yang megah dan mewah, begitulah cerita SMW). Itulah yang kemudian, disiapkan menjadi penggantinya, dengan kelak menyingkirkan Raja Ahmad, meskipun dengan cara tiada patut (dengan racun). Sebuah tragedi  cinta, bala dan badai politik yang bermula dari Pahang.

Pahang rupanya, ditakdirkan menjadi sumber para Ratu, di kerajaan Melayu. Banyak sekali para permaisuri dan isteri para Sultan dan putera mahkotanya, berasal dari Pahang. Alaudin Riayat Syah II, pengganti Mahmud Syah I dan pendiri kerajaan Johor, misalnya, permaisurinya, bersal dari Pahang. Dan karena beristeri dari Pahang inilah, maka dia tidak betah menjadi Sultan, di Pekantua Kampar, meneruskan tahta ayahnya sebagai Sultan Melaka. Dia lebih suka pindah ke Pahang, dan karena di Pahang sudah ada Sultannya, maka dia pindah ke Johor, dan mendirikan kerajaan baru di situ, sebagai penerus Melaka. Sultan Johor kedua, Muzaffar Syah II, juga bersimpuh di kaki puteri Pahang, puteri Sang Nara Diraja Pahang. Muzaffar Syah II  memperisterikannya, meskipun puteri Sri Nara Diraja, meskipun dia seorang janda, karena   sebelumnya  dia  adalah isteri Raja Umar, cucu Sultan Pahang, yang menikahi Raja Fatimah, adik Muzaffar Syah. Kisah cinta mereka ini, menjadi skandal politik di kerajaan Johor, yang, menyebab terjadinya pelanggaran tradisi dan istiadat dalam pergantian Sultan di Johor.

Dan banyak lagi, jika ditelusuri seluruh perjalanan ranjang para penguasa imprerium Melayu itu, dimana jejak kejelitaan wanita Pahang menjadi penghuninya. Tapi, wanita wanita Pahang bukan hanya jelita, tetapi, mereka juga adalah wanita yang memainkan peran dan mempunyai posisi  tawar (bargaining position) politik yang baik. Kebanyakan permaisuri Sultan di negeri Melayu ini, terutama era Johor dan Riau, adalah puteri Bendahara Pahang. Ini strategi para Sultan itu untuk mendapatkan legitimasi kekuasaannya, dan strategi wanita-wanita Pahang untuk tetap mewarnai istana dan pemerintahannya. Karena, Bendahara adalah tokoh sentral, orang kedua setelah Sultan, yang diberi hak dan daulat untuk melantik dan menabalkan Sultan, bila Raja sebelumnya mangkat. Jika dia tidak mau melantik, maka tidaklah sah kedudukan seorang Sultan, atau kalau calon Sultan yang sudah dilantiknya, tidak diakui, maka akan terjadilah sengketa politik. Hak melantik Sultan inilah, yang  misalnya, menjadi pangkal sengketa antara Bendahara Johor Tun Habib Abdul Majid dengan Lakasamana Tun Abdul Jamil. Melalui kata-kata dan daulat  Bendahara Tun Abdul Majid lah, di era kerajaan Riau-Johor, maka Raja Haji Fisabilillah  dilantik dan disahkan menjadi Yang Diperuan Muda (YDM) ke empat, dan menghadang niat pihak Bugis untuk mengangkat Raja Ali putera Daeng Kamboja YDM ketiga, ketika dia wafat. Mahmud Syah III, Sultan Riau-Johor-Lingga, permaisurinya pertamanya, juga adalah puteri dari Bendahara Pahang, meskipun tidak memperoleh keturunan. Bahkan, dalam rangka persiapan menjadi penggantinya, dia mengawinkan puteranya Tengku Husin, dengan anak Bendahara Pahang juga. Itu sebab, dalam strategi politik perebutan tahta kerajaan Riau-Lingga, antara Tengku Husin dengan saudaranya Tengku Abdurrahman, di saat Ayahnya Mahmud Syah III wafat, Tengku Husin minta Bendahara Pahang, Tun Ali melantiknya sebagai pengganti Ayahnya, mendahului Raja Djaafar, YDM Riau-Lingga melantik Tengku Abdurrahman. Hak dan tradisi inilah, yang membuat Engku Puteri Raja Hamidah, pemegang  regelia kerajaan Riau Lingga, lebih memihak Tengku Husin ketimbang Tengku Abdurrahman. Dan kemudian menjadi pangkal sengketa dia dengan adiknya Raja Djaafar, dan jadi bala politik, terpecahnya kerajaan Riau-Lingga menjadi dua kerajaan.

Begitulah Pahang dengan para wanitanya yang jelita, peran politik para Bendahara yang menjadi penguasanya, dalam kancah politik kerajaan Melayu ini. Tapi negeri ini, tidaklah segemuruh Terengganu, tetangganya, yang dalam peta politik kerajaan-kerajaan Melayu, lebih menonjol, dan para Sultan jaya, lebih banyak mencatat jejak sejarahnya, baik dalam damai, maupun dalam perang.  Pahang terbenam, dalam tradisi kebendaharaan, dalam tradisi negeri pegangan.

Seperti diceritakan sebelumnya, Pahang juga pernah ditaklukkan Aceh, ketika Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Penaklukan ini terjadi, karena kerajaan Johor yang sudah dikuasai oleh Aceh sejak tahun 1613, membelot dan membangkang. Sultan Abdullah Mauayat Syah, yang dirajakan  oleh Aceh, 1615, sebagai Sultan Johor ke enam, menggantikan sepupunya Sultan Alaudin Riayat Syah III, membangkang. Abdullah Muayat Syah yang pernah ditawan Aceh, dan dikembalikan ke Johor setelah dia bersedia tunduk dan mau dikawinkan dengan adik Iskandar Muda, tiba-tiba membangkang dengan menceraikan isterinya adik Iskandar Muda itu, dan melantik Raja Bujang, anak Alaudin Riayat Syah III (Sultan yang tidak disukai Aceh), sebagai Raja Muda (Wakil Sultan) di Pahang. Aceh  menyerang  dan menaklukkan Johor, 1618, dan juga menaklukan Pahang. Semua pembesar Johor dan Pahang ditawannya, dan dibawa ke Aceh. Namun Abdullah Muayat Syah, Sultan Johor ke-6, dan Raja Bujang (Raja Muda Pahang) berhasil melarikan diri ke Lingga, dan kemudian terus ke Tembelan. Diantara yang ditawan Aceh ketika itu, adalah Raja Ahmad, kerabat kerajaan Pahang. Raja Ahmad ditawan bersama anak-anaknya.

Sultan Iskandar Muda, yang ahli strategi dan politik perang itu, setelah gagal dengan strategi mengawinkan adiknya dengan Abdullah Muazam Syah untuk menguasai tahta kerajaan Johor melalui perkawinan politik itu, lalu beralih ke Pahang. Dia melihat, salah seorang Putera Raja Ahmad yang dalam tawanannya itu, begitu gagah, cerdas, dan beraura kebangsawanan. Maka dia putuskan, mengawinkan salah satu puterinya dengan anak Raja Ahmad tersebut. Kelak ketika Iskandar Muda wafat, 1636, karena dia tidak mempunyai putera, maka penggantinya adalah menantunya, anak Raja Ahmad Pahang, yang setelah dilantik, bergelar Sultan Iskandar Thani. Aceh bermaksud, dengan cara melantik Iskandar Thani, putera  bangsawan Pahang itu sebagai Sultan, maka Aceh akan dapat menakluikkan Johor dan Pahang, dan sekaligus menjadikan kedua negeri daerah taklukan, sama seperti Perak. Namun, Aceh kembali gagal, karena Abdullah Muayat Syah dan penerusnya, Abdul Jalil Syah III menolak, dan tetap menganggap Johor sebagai negeri merdeka. Mereka lebih rela menyingkir ke luar Johor, dan mencari tempat perlindungan, sambil terus melawan. Mereka menyingkir ke Lingga, dan cukup lama menjadikan Lingga sebagai pusat pemerintahan sementara, sebelum pasukan Aceh datang menyerang. Lalu mundur lagi, ke pulau Tambelan, sebelum tahun 1623, dia wafat disini. Pemerintahan dan perlawanan terhadap Aceh, dilanjut oleh Raja Bujang atau Abdul Jalil Syah III, sampai akhirnya Aceh yang lemah setelah Iskandar Syah wafat, dapat diusir dari Johor, dan juga Pahang .

Setelah dilepaskan dari cengkraman Aceh, maka Pahang  tetap hanya menjadi daerah pegangan Bendahara, tidak ada lagi Sultan disana, meskipun hanya seorang Raja Muda atau wakil Sultan Johor. Raja Ibrahim, anak Raja Bajau, adalah Raja Muda atau Wakil Sultan terakhir di Pahang, dan itupun tak sampai satu tahun. Begitu Raja Ibrahim  dilantik menggantikan  pamannya, Abdul Jalil Syah III, sebagai Sultan Johor, maka jabatan Raja Muda tidak lagi diadakan. Penguasa Pahang, adalah siapa yang menjadi Bendahara Johor. Begitulah seterusnya, dan Sultan Pahang dalam pengertian Sultan berkuasa penuh, memang berarkhir pada Sultan Abdul Gafur, 1614. Tapi, meskipun hanya menjadi sebuah negeri pegangan, tapi Pahang, sepertinya menjadi jantung pertahanan bagi pihak Melayu, karena  ke Pahang semua Sultan Johor, atau Riau rujuk dan mengadu, begitu mereka menghadapi masalah. Sultan Johor Tun Abdul Jalil Riayat Syah (Tun Abdul Jalil) misalnya, mundur dan berlindung di Pahang, ketika tahtanya direbut Raja Kecik. Mahmud Muzaffar Syah, Sultan Riau-Lingga yang dimakzulkan Belanda, 1857, juga pergi ke Pahang, minta dia dirajakan di sana. Tapi taka da yang berani melawan tradisi. Juga  Tengku Husin Syah, ketika dia disingkirkan Raja Djaafar dalam merebuit tahta kerajaan Riau. Bahkan, rivalnya Tengku Abdurrahman, yang sudah dilantik oleh Raja Djaafar sebagai Sultan Riau-Lingga, pergi mengadu ke Pahang, karena Engku Puteri, Ibunda Ratu (ini satu-satunya Ratu, dari darah Bugis) enggan menyerahkan regalia kerajaan untuk mengesahkan pelantikannya. Dia merajuk dan pergi ke Pahang, dan tidak, mau pulang ke Lingga, kecuali Regelia itu dia peroleh (ada setengah riwayat mengatakan, dia ke Pahang sebenarnya, minta Bendahara Pahang, melantiknya sebagai Sultan Riau-Lingga, seperti tradisi yang pernah ada. Tapi Tun Ali, Bendahara Pahang, tidak mau, karena dia sudah melantik Tengku Husin, dan Tengku Husin masih hidup). Akhirnmya dia pulang ke Riau, karena Belanda membertitahu, mereka telah berhasil memaksa Engku Puteri menyerahkan regelia itu, dan dia bisa dilantik ulang.

Sejarah Pahang, sebahagiannya adalah sejarah para Bendahara. Baik di Melaka, Johor, maupun Riau dan Singapura. Ada sejumlah Bendahara, yang mencatat jejaknya, cukup penting dalam bentangan perjalanan sejarah kerajaan Melayu ini. Ada Tun Perak (Bendahara paling cemerlang dari Tanah Melayu), ada Tun Sri Lanang (Penulis buku Sejarah Melayu), ada Tun Habib Abdul Majid (Bendahara Johor yang dikatakan ahli strategi politik, yang keturunannya, Tun Abdul Jalil, menjadi Bendahara pertama yang menjadi Sultan. Dia dikatakan telah merancang strategi ini, sejak konflik politiknya dengan Laksamana Tun Abdul Jamil, karena  mencurigai Tun Abdul Jamil ingin keturunannya menjadi Sultan), Tun Abdul Jalil, yang akhirnya menjadi orang pertama keturunan Bendahara yang berhasil menjadi Sultan (Sultan Johor ke-10). Tun Abbas, anak Tun Abdul jalil yang menggantikan Ayahnya, jadi Bendara karena Ayahnya naik menjadi Sultan. Tun Abbas juga adalah bendahara pertama, yang dilantik dalam era kerajaan Johor dibawah dinasti Melayu-Bugis, era sumpah setia Melayu Bugis. Keturunan Tun Abbas inilah kelak, yang kembali menjadi Sultan di Pahang, dan juga Johor, melepas diri dari Riau dan Singapura. Meskipun baru terujud 140 tahun kemudian, selepas Sumpah Setia Melayu Bugis itu, atau 250 tahun setelah Sultan terakhir Pahang, Sultan Abdul Ghafur wafat.  Buyut Tun Abbas, yang bernama Wan Ahmad,  yang menjadi Bendahara Pahang mulai tahun 1865, setelah menjatuhkan saudaranya Tun Mutahir,dengan bantuan Inggeris, tahun 1882, dinobatkan sebagai Sultan Pahang. Hanya 3 tahun setelah Temenggung Johor, Abu Bakar, dilantik oleh Inggeris menjadi Sultan Johor. Di Semenanjung Melaka ini, Inggeris menobatkan 2 Sultan baru, di Johor dan Pahang, dan menguburkan (menamatkan) satu Sultan, yaitu Sultan Singapura. Sementara Belanda, di Riau dan Lingga, menelan habis semua Sultan yang ada disana, dengan cara memakzulkannya. Korban terakhir Belanda, adalah Sultan Riau-Lingga, Abdurrahman Muazzam Syah II . Yang memenangkan pertarungan politik di Kerajaan Melayu ini, adalah keturunan Tun Abas, dan jejak  dialah di kerajaan-kerrajaan Melayu modern di Semenanjung, terutama di Johor dan Pahang, yang menjadi cikal bakal neger-negeri semenanjung, yang kelak menjadi Negera Malaysia itu.

Satu lagi negeri yang dalam matarantai sejarah kemaharaajaaan Melayu selalu disebut, hampir dalam satu nafas, yatu Terengganu. Kerajaan Johor yang dibangun Alaudin Riayat Syah II, tahun 1529 iyu misalnya, menyebut kerajaannya sebagai Kerajaan, Johor, Pahang, dan Terengganu. Pahang dan Terengganu adalah negeri taklukan Melaka. Setelah Melaka runtuh, 1529, dan Johor menyatakan sebagai penerus Melaka, maka kedua negeri ini, menjadi negeri taklukan Johor. Demikian setelah Johor runtuh, dan diteruskan oleh kerajaan Riau, maka kedua negeri inipun menjadi negeri taklukan Riau, dan nama kerajaan inipun disebut kerajaan Riau,Johor,Pahang dan Terengganu.

   Dimanakah posisi negeri ini, yang dikatakan adalah jantung Melayu yang paling  kukuh, dan tidak takluk dalam perebutan kekuasaan antar etnik, misalnya dengan pihak Bugis dan lainnya ini ? Dalam goncangan badai politik negeri ini dan negeri Melayu lainnya,  Terengganu memang selalu muncul sebagai kekuatan penyeimbang. Berbeda dengan Pahang, yang jadi negeri pegangan Bendahara,Terengganu, sudah dipimpin seorang Sultan, paling tidak sejak era kerajaan Johor pecah menjadi Riau,Johor dan Pahang , serta Siak Sri Indrapura, 1722. Menurut Tuhgfat Al Nafis, pelantikan sultan pertamanya, Zainal Abidin, dilakukan setelah berakhir perang Riau dan Siak, sekitar tahun 1726. Sultan Zainal dilantik oleh Raja Tua ( Penasehat YDB dan pemangku Adat ). Zainal Abidin, adalah saudara Sultan Riau-Johor-Pahang-Terengganu, Sulaiman Badrul Alamasyah. Mereka adalah putera dari Tun Abdul Jalil. Berarti, disini juga berkuasa dinasti Bendahara.

     Terengganu ini, menjadi sangat berperan di peta sejarah kerajaan Riau,Johor,Pahang dan Terengganu ini, terutama dalam badai politik persengketaan pihak Melayu dan Bugis, ketika putera Mahkota Terengganu, Raja Mansur alias Tun dalam, menjadi pemimpin orang-orang Melayu menentang kekuasaan Bugis. Mulai sejak Daeng Marewa menjadi YDM , sampai Daeng Celak, dan puncaknya di era Daeng Kamboja sebagai YDM.  Bagi pihak Bugis, Tun Dalam adalah pengacau dan pembuat masalah. Tetapi bagi kalangan Melayu, dia adalah pahlawan, karena berjuang mempertahankan hak-hak politik dan kekuasaan pihak Melayu.

      Tun Dalam, dikatakan sudah menetap di Riau, sejak berusia 11 tahun, dan dipelihara serta dididik oleh YDB Sulaiman Badrul Alamsyah. Bahkan setelah cukup umur, dia dinikahkan dengan Puan Bulang, puteri Sulaiman Badrul Alamsyah. Tahun 1732, ketika ayahnya Sultan Zainal Abidin wafat, dia dipanggil pulang ke Terengganu, dan dilantik menjadi pengganti ayahnya sebagai Sultan Terengganu. Tetapi, sejak 1746, dia lebih banyak berada di Riau dan memimpin pihak Melayu melawan konspirasi pihak Bugis. Itu sebab misalnya, meskipun YDM Daeng Celak wafat tahun 1745, tetapi karena pihak Bugis menginginkan Daeng Kamboja sebagai YDM, tak kurang 3 tahun, Tun Dalam dan pihak Melayu berjuang menghalangi ya , dan baru 1748  Daeng Kamboja dilantik, itupun karena Sultan Sulaiaman meminta pihak para pembesar Melayu untuk mengalah. Seperti sudah diceritakan terlebih dahulu,berkali-kali  terjadi perang saudara antara pihak  Melayu dan Bugis. Perang besar, terjadi tahun 1756, yang disebut perang Linggi, dimana Tun Dalam dan pihak Melayu, yang didukung Belanda, menyerang pihak Bugis di Linggi dan  dikalahkan. Sengketa politik ini, membuat Daeng Kamboja sempat merajuk dan tidak mau kembali ke Riau, dan lebih banyak berada di Linggi, dan menjalankan kekuasaannya sebagai YDM dari tempat ini. Dia baru kembali ke Riau, ketika Sultan Sulaiman wafat, tahun 1760. Dan  perseteruannya dengan Tun Dalam dan kelompok Melayu, kembali meledak ketika dia 1761, memaksa kehendaknya melantik Tengku Maahmud sebagai YDB Riau, dan dicurigai oleh pihak Tun Dalam sebagai otak dari kematian Abdul jalil Syah dan  Ahmad Syah, pengganti Sulaiman Syah, yang takj sampai setahun, menjadi Sultan, dan dicurigai mati diracun. Abdul Jalil Syah  hanya 6 bulan, dan Ahmad Syah juga tak sampai satu tahun , kedua-duanya masih kuat darah melayunya. Sementara Mahmudsyah,adik Ahmad syah, dari ibu yang lain, sudah makin kuat darah Bugisnya, karena ayahnya adalah Abdul jalil Syah, tapi ibunya, Raja Lebar, anak Daeng Celak dan ibunya Tengku Mandak

   Di kalangan orang-orang Melayu, baik di Riau, di Pahang, di Terengganu, dan bahkan di Siak, Tun Dalam dianggap sebagai tokoh, pelindung, dan pahlawan orang Melatu ( Mardiana Nordin, of,cit )  , dan menjadi kekuatan yang membuat pihak Bugis menjadi gerun. Ketika Tengku Alam, putera tertua Raja Kecik ( Siak ) berseteru dengan adiknya Tengku Buang Asmara, berebut tahta kerjaan Siak, maka Tengku Buang Asmara mengadu kepada pamannya Sultan Sulaiman ( Riau ) dan Tun Dalam ( Terengganu ). Sebaliknya, Tengku Alam minta bantuan Daeng Kamboja, iparnya, untuk menolongnya. Akhirnya Tun Dalam,memimpin angkatan perang berangkkat akan menyerang Siak, tapi di Selat Singapura mereka dihadang oleh Daeng Kamboja, dan angkatan perang Tun Dalamitu terpaksa kembali ke Terengganu. Perseteruan politik Melayu-Bugis ini, baru benar-benar reda setelah Daeng Kamboja wafat 1777, dan Tun Daalam juga wafat di Terengganu. Bertahun-tahun kemudian, setelah YDM  Riau-Johor dibawah Raja Haji, dan YDB nya Sultan Mahmud, konflik itu reda, dan pihak Melayu-Bugis bersatu. Seperti sudah diceritakan, pada masa inilah Riau-=Johor mengalami masa-masa kejayaannya. Persebatian Melayu-Bugis sebagaimana disepakati dalam Sumpah Setia Melayu Bughis itu, dibuktikan selama berlangsung perang Riau-Johor melawan Belanda ( 1782-1784 ).

 Tahun 1787, setelah perang Riau, YDM Mahmud harus nmenyingkir ke pulau Lingga, menghindar dari Belanda setelah kalah perang Riau., dan dalam tekanan serta kondisi kerajaan yang hampir porak poranda, Mahmudsyah datang menemu Tun Dalam di Terengganu, yang sebenarnya adalah bapak saudaranya, untuk minta bantuan Tun Dalam, membaikkan hubungannya dengan Belanda. Tun Dalam pun mengirim utusannya  Enchik Ismail dan Wan Kobat, untuk bertemu dengan Jacob van Braam, laksaamana Belanda yang memimpin perang melawan Riau-Johor. Tapi Belanda menolak, karena masih marah pada Mahmudsyah, karena dianggap terus membangkang, meski Riau-Johor sudah dianggap dalam kekuasaan Belanda , dan Mahmud Syah dengan bantuan para perompak dan lanun Tempasuk, sempat mengusir Residen Belanda , David Ruhde, yang ditempatkan di pulau Bayan kembali kembali  Melaka, dalam keadaan yang hanya sehelai sepnggang,

Tapi masih ada satu dinasti lainnya lagi, bahagian dari bala dan badai politik ini,  dinasti yang mengklaim sebagai dinasti Melayu Melaka, yaitu dinastinya Raja Kecik, putera Mahmud Syah II, Sultan Johor ke-9, yang wafat dibunuh Megat Sri Rama. Raja Kecik, 1719, dalam konflik politik perebutan tahta kerajaan Johor, setelah merebut tahta keSultanan Johor  dari  Abdul Jalil Riayat Syah (Tun Abdul Jalil) dan membunuh mantan Bendahara Johor itu, membawa tahta kerajaan itu, ke Siak, dan mendirikan kerajaan penerus Johor di sana, setelah kalah melawan Tengku Sulaiman yang bersekutu dengan Bugis. Raja Kecik dan kerajaan Siak Sri Indrapuranya, juga hanya bertahan sampai  tahun 1781, atau hanya 148 tahun sejak dia membangun kerajaan Siak Sri Indrapura, dari serpihan kerajaan Johor, Riau dan Pahang, yang pecah dua, menjadi kerajaan Riau, Johor dan Pahang dan kerajaan Siak Sri Indrapura . Jejak Raja Kecik ini berakhir ketika keturunannya Tengku Yahya, yang ketika menjadi Sultan Siak bergelar  Yahya Abdul Jalil Muazzam Syah, digulingkan dibawah ancaman senjata oleh Sayid Ali bin Usman, keturunan Hadramaut, yang juga  Panglima Perang Siak. Tengku Yahya terpaksa melarikan diri, di tengah hujan lebat, ke Reteh, lalu menyeberang ke Melaka, sebelum akhirnya, ke Terengganu. Kalaupun dalam peta sejarah, nama Kerajaan Siak bertahan  sampai awal kemerdekaan, 1946, sebelum  Sultan terakhirnya, Syarif Qasim Abdul Jalil Saifuddin, Sultan Siak ke dua belas itu (1915-1946) menggabungkannya ke dalam pemerintahan Republik Indonesia, tapi itu bukanlah dinasti Raja Kecik, tapi dinasti Sayid Usman Sahabuddin (dinasti Arab-Melayu) yang membangun dinastinya mulai 1781 sampai 1946. Dinasti Raja Kecik, berakhir di sebuah kampung kecil, di Dungun, Terengganu, tempat Tengku Yahya dimakamkan, di kampung halaman asal Ibunya, Tengku Tipah, puteri Sultan Terengganu.

Memang, menurut Dr. Muhammad Yusoff  Hashim, penyelenggara buku Sejarah Melayu (SM) versi Siak (SMvs), ada satu tokoh keturunan Raja Kecik, yaitu Tengku (Raja)  Akil, yang malang melintang di berbagai kawasan di seputar Selat Melaka, mulai dari Siak, ke Palembang, sampai ke Sukadana di Kalimantan Barat, dan berusaha untuk mendapatkan kembali tahta kerajaan Siak, dari tangan para penguasa keturunan Arab-Melayu itu, namun dia gagal. Tengku Akil, menurut SMvs adalah cicit dari Raja Kecik, anak Tengku Musa. Tetapi   kalau menurut silsilah Raja –Raja Siak,  dalam buku Sejarah Kerajaan Siak (OK Nizami Jamil, dkk), Tengku (Raja)  Akil adalah cucu Raja Kecik, karena ayah Raja Akil adalah Raja Alam, putera tertua Raja Kecik, Sultan Siak keempat). Tetapi, tentang Tengku (Raja) Musa , buku Sejarah Kerajaan Siak, karya OK Nizami Jamil, dkk, ini juga ada menampilkan  sebuah silsilah, dimana pada jalur keturunan Tengku Buang Asmara (Abduljalil Muhammad Muzaffar Syah), dia mempunyai dua orang putera, yaitu Tengku Ismail yang kemudian menjadi Sultan Siak ke-3, dan Tengku Musa. Tetapi dalam rajah silsilah itu, anak Tengku Musa itu  pertempuan, bernama Tengku Aminah, yang kemudian dikawinkan dengan Sultan Yahya Abduljalil Muazzam Syah .

Tapi kalau Tengku Akil itu, anaknya Tengku Alam, menurut buku OK Nizami Jamil (yang juga dipakai oleh Dr  Mohammad Yusoff Hashem sebagai rujukan), memiliki 6 saudara, seayah. Salah satu saudara seayahnya itu, adalah Tengku Embong Badariah. Dan Tengku Embong Badarian inilah yang dinikahkan oleh Ayahnya Tengku Alam (Alamudin Abduljalil Syah, Sultan Siak keempat), dengan Sayid Usman Sahabudin, ulama yang datang ke Siak dari Yaman, Hidramaut. Hasil perkawinan ini melahirkan Sayid Ali. Dan kelak Sayid Ali inilah yang menjadi Panglima Perang Siak, di masa Siak dibawah  Mohammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Jabatan panglima perang itu disandangnya sampai ke masa Sultan Yahya Abdul Jalil Muazzam Syah, dan Sayid Ali menggulingkan pemerintahan Sultan Yahya, dengan alasan Sultan Yahya tidak mampu memerintah, lemah, dan tidak berwibawa. Maka, dengan naiknya Sayid Ali ke tahta Siak Sri Indrapura, maka dimulailah dinasti Arab-Melayu di Siak Sri Indrapura, dan baru berakhir tahun 1946, ketika Sultan terakhirnya Sultan Syarif Qasim, menyerahkan kerajaan itu ke pemerintah Republik Indonesia, ke tangan Presiden Soekarno, yang memimpin Indonesia ketika itu.

Bagi pihak Melayu di Siak, posisi dan kedudukan Tengku (Raja) Akil ini ternyata cukup penting, karena itulah kemudian muncul Hikayat Raja Akil, yang ditulis oleh  Tengku Said ibni Tengku Deris, yang juga katanya adalah piut dari Raja Kecik melalui garis keturunan Tengku  Buang Asmara. Di dalam SMvs, Hikayat  Raja Akil itu dikatakan telah dimasukkan sebagai tambahan dari karya SMvs ini, walaupun dikatakan hanya sebagai appendix (tambahan penjelasan). Sebuah hikayat untuk meluruskan sejarah, sebuah hikayat, untuk menutup riwayat. Tetapi bagaimanapun, Raja Kecik juga meninggalkan riwayat, yang jejak bara konflik dan bala politik, boleh jadi bermula dari sini. Pemutusan pertunangannya dengan Tengku Tengah atau Enchik Erang, puteri  Bendahara Tun Abdul Jalil, menjadi luka dan dendam sejarah. Sambil menyibak rambut di sisi lehernya, maka Tengku Tengah berkata kepada Upu-Upu Bugis Lima Bersaaudra: “Hai, Raja Bugis, jikalau engkau berani, hendaklah tolong lepaskan malu aku dan jikalau sudah lepas malu ku ini, sukalah aku menjadi hamba engkau, akan menjadi penanak nasimu. Dan apalah kehendak engkau, aku sekelian turut…” ( Mariana Nordoin, of .cit ). Marah dan  merasa telah diberi malu, membuat Tengku Tengah memeram dendamnya yang panjang. Dia dan saudara-saudaranya (Tengku Sulaiman, Tengku Tengah, Tun Abbas, dll) berhasil mengalahkan Raja Kecik dalam perang di Riau. Meskipun, selama peperangan itu, dia membayar mahal juga, karena Suami tercintanya, Daeng Perani, tewas, dalam perang dengan Raja Kecik. Dan bara dendam keturunan Tun Abdul Jalil ini, bertambah-tambah, karena atas suruhan Raja Kecik lah, maka Panglima Sekam membunuh Tun Abdul Jalil, setelah bendahara tua dan mantan Sultan yang telah kehilangan harapan itu, akan menyerah dan terbujuk untuk kembali ke Panchor, ibukota kerajaan Johor, menjadi Bendahara kembali. Membunuh orang yang telah menyerah, adalah perbuatan yang kurang patut. Dan bala politik dari saktinya prasasti Bukit Siguntang itupun, menerbang semua jerih payah, putera angkat Raja Pagaruyung itu, keluar dari perjalanan sejarahnya.

Ada satu lagi catatan menarik dari kisah Raja Kecik membangun kerajaannya itu, yaitu ketika dia berdamai dengan musuhnya Tengku Sulaiman ibni Tun Abdul Jalil, di sebuah masjid, di Buantan, Siak. Dia telah bersumpah, bahwa  apabila ia bertitah salah lagi membuat pergaduhan dan perkelahian dengan baginda Sultan Sulaiman serta YDM (Yang Dipertuan Muda), melainkan ia tiada mendapat baik bagi seumur hidup sampai kepada anak cucu cicitnya, binasalah dan hilang daulat kerajaan seperti tembatu serta dimakan besi kawi…. (Mariana Nordin, of. cit).  Dan setelah berdamai itu, dikatakan Raja Kecil masih datang menyerang Riau, meskipun menurut catatan lainnya, yang datang menyerang itu, bukan Raja Kecik, tetapi anaknya Tengku Alam, menantu Daeng Kamboja, YDM Riau ketika itu .

Akanhalnya Sayid Usman Sahabuddin, peletak dasar dinasti Arab-Melayu di Siak Sri Indrapura itu, adalah salah seorang dari 4 ulama yang berasal dari Yaman, Arab,  yang  datang ke Asia Tenggara, termasuk Sumatera, dalam  upayanya menyebarkan agama Islam. Sayid Usman Sahabuddin, Sayid Abdullah Alqudsi, Sayid Muhammad Al Idrus, dan Sayid Husen Al Qadri.  Sayid Hussen Al Qadri, meneruskan perjalanannya ke Pontianak, dan berdakwah disana. Sedangkan Sayid Usman, ke Sumatera, dan tiba di Siak dan berdakwah di situ. Sayid Usman Sahabuddin ini, kalau diurut-urut silsilahnya, kononnya sebagaimana dicatat oleh OK  Nizami Jamil (of. cit), merupakan keturunan dari Muhammad Rasulullah, melalui puterinya Siti Fatimah.

Demikianlah, dan tahun 1946, Siakpun menjadilah bahagian dari Republik Indonesia. Bukan cuma negeri Siak yang diserahkan oleh Sultan Syarif Qasim, tetapi dikatakan dia juga menyerahkan sumbangan f 13.000.000,00 (tiga belas juta gulden), mahkota kerajaan, sebilah pedang kerajaan, sebuah mobil kerajaan bermerek Marcedes. Sultan Syarif Qasim, wafat, 24 April 1968, di Siak, di istana peraduannya Asserayah Hasyimiah, yang dipinjamkan oleh pemerintah RI, dan dia berwasiat agar istana itu dikembalikan kepada yang berhak, pemerintah Republik Indonesia. Itu semua terjadi 245 tahun setelah Raja Kecik, membangun negeri Siak Sri Indrapura, dengan darah, cinta, dan airmatanya. Kisah cintanya pada Tengku Kamariah, bukan alang kepalang. “Ambil adinda dengan perang, jika tidak biarlah adinda menikah dengan anak Raja Bugis itu…”, begitu surat cinta Tengku Kamariah, kepada Raja Kecik dan raja Kecik nekat, dengan hanya sepasukan tenteranya, datang membebaskan kekasihnya, dari tawanan para saudaranya dan pihak Bugis di Ulu Riau. Tak heranlah, ketika Tengku Kamariah wafat, Raja Kecik begitu berduka. Tiap hari dia berziarah ke makam isterinya itu, tak ingat makan, tak ingat minum, sehingga jatuh sakit, dan kemudian wafat, tahun 1746, setelah 23 tahun diatas tahta kerajaan Siak Sri Indrapura. Kisah cinta Raja Kecik dan Tengku Kamariah ini, dikatakan adalah salah satu dari 5 kisah cinta yang amat indah , bersejarah,  tragis dan penuh bala, di era kemaharajaan Melayu ini. Kisah cinta pertama, yang  indah dan penuh luka, adalah kisah cinta Sultan Mansyur Syah, Sultan Melaka ke-6 dengan Puteri Raja Majapahit, Galuh  Chandra Kirana. Kedua, kisah Cinta Mahmud Syah Melaka dengan Tun Fatimah, puteri Bendahara Melaka. Ketiga, kisah cinta Muzaffar Syah, Sultan Johor kedua, dengan Cik Puan Puteri Sri Nara Diraja Pahang. Keempat, kisah Cinta Raja Kecik, Sultan Johor  dan Tengku kamariah, puteri Tun Abdul Jalil. Dan kelima, kisah cinta Raja Djaafar, putera Raja Haji Fisabilillah dengan Cik Puan Bulang, puteri Engku Muda Muhammad, Temenggung Johor.  Setidaknya, begitulah  dikisahkan di dalam Sejarah Melayu, Tuhfat Al Nafis, dan sumber lainnya, meskipun masih bercampur dengan cerita, legenda, dan bumbu-bumbu  fiksiponal lainnya, karena hampir semua karya-karya tersebut, meskipun adalah sumber sejarah yang kuat, tetapi tetaplah masih bercampur dengan genre sastra. Karya-karya itu, kata Ahmad Dahlan, (of.cit) adalah sebuah  seismograf, yang mencatat gerakan gempa  sejarah, dalam perjalanan kemarajaan Melayu ini.

Selengkapnya :
BAB I
https://jantungmelayu.com/2020/07/prasasti-bukit-siguntang-dan-badai-politik-di-kemaharajaan-melayu-1293-1913-sebuah-renungan/

BAB II
https://jantungmelayu.com/2020/07/memanggul-prasasti-bukit-siguntang/

BAB III
https://jantungmelayu.com/2020/07/luka-hati-sang-rajuna-tapa-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-singapura-1294-1392/

BAB IV
https://jantungmelayu.com/2020/07/sebelum-berbunyi-meriam-peringgi-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-melaka-1394-1528/

BAB V
https://jantungmelayu.com/2020/07/bisanya-keris-megat-sri-rama-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-johor-1529-1722/

BAB VI
https://jantungmelayu.com/2020/07/jejak-tapak-sang-laksamana-sungai-carang-menjadi-pusat-kerajaan-riau-johor-1673-1782/

BAB VII
https://jantungmelayu.com/2020/07/kinja-daeng-marewa-dan-dendam-tun-dalam-jatuh-bangun-kerajaan-riau-johor-1723-1787/

BAB VIII
https://jantungmelayu.com/2020/07/jembia-cinta-kuala-bulang-akhir-kerajaan-riau-lingga-johor-1812-1913/

BAB IX
https://jantungmelayu.com/2020/07/akhirnya-berpisah-di-tanjung-puteri-hari-hari-terakhir-kerajaan-singapura-johor-pahang-1819-1878/

BAB X
https://jantungmelayu.com/2020/07/dan-bunda-tanah-melayu-pun-tersedu/

5 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan