PRASASTI BUKIT SIGUNTANG DAN BADAI POLITIK DI KEMAHARAJAAN MELAYU 1293-1913
(Sebuah Renungan)

BAB – V
BISANYA KERIS MEGAT SRI RAMA
(Jatuh Bangun Kerajaan Melayu Johor, 1529-1722)

Kerajaan Johor, didirikan Alaudin Riayat Syah II, tahun 1529. Seperti Parameswara, pendiri Melaka, maka Alaudin Riayat Syah II juga memanggul sejarah kelam yang ditinggalkan ayahnya, ke negeri baru yang dibangunnya. Johor, tetap merasa sebagai penerus Melaka, tetap merasa sebagai keturunan Parameswara, sang pendiri Melaka, pengusung prasasti Bukit Siguntang. Pewaris darah biru Sang Sapurba dan Iskandar Zulkarnaen. Karena itu sistem pemerintahan, adat istiadat, dan peraturan-peraturannya, sama seperti masa kerajaan Melaka. Cukup lama kerajaan ini bertahan dan jatuh bangun. Mulai didirikan tahun 1529, dan berakhir tahun 1722 , ketika Raja Kecik yang mengaku putera Mahmudsyah II,Sultan Johor ke-9, mati dibunuh Megat Sri Rama, dan tahta kerajaan direbut oleh keturunan Bendahara Johor, Tun Abdul Jalil. Dan, tahun 1719, Tun Abdul Jalil pula dibunuh Raja Kecik, Kemudian, tahun 1723, Raaja Kecik dikalahklan oleh Tengku Sulaiman, [putera Tun Abdul jalil, dan Johor pecah dua menjadi kerajaan, Siak Sri Indrapura dibawah Raja Kecik dan Riau-Johor-Pahang, dibawah Tengku Sulaiman. Tak kurang dari 193 tahun, setelah Alaudin Riayat Syah II mendirikan kerajaan Johor. Dan dan kerajaan ini merupakan bahagian dari imperium Melayu yang cukup lama eksistensinya dan yang juga paling tragis dalam perjalanan sejarahnya dengan berbagai badai dan bala politik . 

     Dalam rentang waktu hampir dua abad itu, banyak hal-hal penting yang terjadi, dan bahkan sangat fundamental bagi keberadaan sistem pemerintahan, tradisi, adat istiadat, dan peradaban Melayu. Baik itu karena jalannya sejarah, ambisi politik, dan juga konflik sosial dan ekonomi, serta campur tangan kekuatan asing, yaitu penjajah Belanda dan Inggeris, sebagai penerus Portugis. Jika Portugis, berlatar issu Kristenisasi, sementara Belanda dan Inggeris, lebih banyak   ke masalah ekonomi, meskipun misi agamanya tetap ada. Zendingnisasi, juga adalah bahagian dari peran para penjajah Belanda dan Inggeris ini, terutama Belanda.

Ada 11 Sultan yang jadi penguasa Johor ini. Dimulai oleh Alaudin Riayat Syah II (1529-1564), Muzaffar Syah (1564-1570), Abduljalil Syah I (1570-1571), Abduljalil Syah II (1571-1597), Alaudin Riayat Syah III (1597-1615), Abdullah Muayat Syah (1615-1623), Abduljalil Syah III (1623-1677), Ibrahim Syah (1677-1685), Mahmud Syah II (1685-1699), Abduljalil Riayat Syah (1699-1718), dan Abdul Jalil Rahmat Syah (1718-1722).

      Banyak kejadian penting yang terjadi semasa kerajaan Johor ini. Ada kecemerlangan, dan kemuliaan jejak tapak para pemimpin Melayu, tetapi ada juga sikap alpa para penguasanya, yang sengaja mengabaikan daulat  Prasasti Bukit Siguntang itu.

Salah satu peristiwa penting dan amat bersejarah  dalam perjalanan sejarah kerajaan Johor yang dibangun dinasti Tun Fatimah ini, adalah takluknya Johor oleh kerajaan Islam Aceh. Sebagai salah satu kerajaan besar dan berpengaruh di kawasan  alam Melayu ini, Aceh, sudah lama ingin menguasai  Semenanjung Melayu. Keinginan ini, selain karena alasan pengaruh perebutan ekonomi di Selat Melaka, juga karena Aceh adalah benteng Islam di nusantara. Begitu Portugis menaklukkan Melaka, 1511, maka Aceh merasa, keberadaan Islam di semenanjung Melayu ini mulai terganggu, dan arus Kristenisasi mulai mengancam. Apalagi Portugis juga mengancam arus perdagangan dunia yang semula ke Melaka, di era keSultanan Melaka, tapi kemudian pindah ke Aceh, setelah Melaka jatuh. Beberapa kali terjadi serangan portugis ke Aceh. Kapal-kapal dagang yang menuju ke Aceh, juga dirampok Portugis. Bahkan satu catatan sejarah menyatakan sebuah armada Portugis dipimpin Jorge de Brito, pernah mau merampok emas di kerajaan Aceh, tetapi armada de Barito melarikan diri karena diserang kembali oleh Aceh. Karena itu, Aceh terus menerus menyerang Melaka, dan sekutu-sekutunya termasuk kerajaan Melayu di Semenanjung yang bersekutu dengan Portugis. Meskipun berkali-kali gagal.  Serangan pertama Aceh ke semenanjung tanah Melayu itu terjadi tahun 1537. Sekitar 3000 pasukan Aceh dikerahkan untuk menaklukkan Portugis di Melaka, meskipun gagal. Sepuluh tahun kemudian (1547), kembali Aceh menyerang Melaka, dan hampir menaklukkan benteng A Formosa. Tapi, karena kesalahan strategi pengepungan, kembali Aceh gagal.

Kemarahan Aceh kepada kerajaan Johor, bukan hanya karena Johor, di era pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah II (1529-1564), tidak mau membantu Aceh menggempur Melaka, tetapi justru karena Johor bersekutu dengan Portugis. Aceh menganggap itu sebagai pengkhianatan terhadap Islam. Meskipun persekutuan Johor dengan Portugis itu, karena terpaksa sebagai konsekuensi akibat  Johor kalah ketika diserang Portugis tahun 1536. Tetapi yang lebih menyakitkan Aceh, dalah ketika Johor menyerang kerajaan Aru, di Sumatera bagian Timur, yang menjadi daerah jajahan Aceh, sampai hancur, dan pasukan  Aceh di sana dikalahkan. Serangan Johor ke Aru itu, menurut sementara catatan sejarah, karena pengaruh Enchik Sini, mantan permaisuri Sultan Aru. Dia menyatakan bersedia menjadi isteri Sultan Alaudin Riayat Syah II, asal Johor mau merebut kembali keraajaan Aru dan membalas dendam kematian suaminya, Sultan Aru. Sementara Alaudin Riayat Syah II bersedia menikahinya, karena kepentingan politik perluasan kerajaannya ke wilayah Sumatera. Tahun 1564,  Aceh membalas serangan Johor, dan menaklukkan Aru. Dari Aru, laskar Aceh menyeberang ke semenanjung Melaka, dan menyerbu Johor, yang berpusat di Johor Lama. Johor kalah, dan Aceh menawan Sultan  Johor Alaudin Riayat Syah II, kerabat dan pembesarnya serta membawa mereka  ke Aceh dan ditahan di sana . Sultan Alaudin Riayat Syah II mangkat di Aceh, dalam tawanan kerajaan Aceh, dalam usia belum 60 tahun.

Anaknya, Raja Muzaffar, yang tidak ikut ditawan, menggantikannya sebagai Sultan Johor ke-2, tahun 1564, dalam usia 19 tahun, dengan gelar Sultan Muzaffar Syah II (karena pada era Melaka, salah satu Sultannya bergelar Sultan Muzaffar Syah juga. Sebenarnya, masih ada satu Muzaffar Syah lagi, putera Mahmud Syah I yang disingkirkan dari Bintan, dan kemudian menjadi Sultan di  kerajaan Perak).  Muzaffar Syah II, yang memerintah sampai tahun 1571, sebenarnya seorang Sultan yang bijak. Dia berdamai dengan Aceh, dan membiarkan Aceh berpengaruh di Johor, meskipun kekuasaan tetap di tangannya. Dia memindahkan ibu kota kerajaan dari Johor Lama ke Seluyut, di salah satu anak sungai Johor. Dia membangun  benteng pertahanan yang kuat di sana. Johor maju, perdagangan ramai, meskipun Muzaffar Syah II harus pandai menjaga hegemoni hubungan dengan kekuatan lain yang ada disekitar Johor. Terutama Aceh, Portugis, dan bahkan ketika itu sudah mulai ada pengaruh Inggeris (EIC) dan Belanda (VOC). Muzaffar Syah II memerintah sampai tahun 1571. Ketika wafat, dan karena dikatakan tidak memiliki putera (meskipun sebenarnya ada dan dirahasiakan akibat skandal asmara di istana kerjaan Johor), dia digantikan oleh keponakannya,  Raja Ali, anak adiknya Raja Fatimah, sebagai Sultan Johor ke-3, meskipun masih sangat muda. Usianya baru 9 tahun. Sultan baru ini bergelar Abdul Jalil Syah I .

Pergantian Sultan Johor dari Muzaffar Syah II ke Abduljalil Syah I , adalah peristiwa politik pertama di Johor, sebagai penerus Melaka yang  dinilai bertentangan dengan tradisi Melaka dalam sistem pemerintahan, karena Abduljalil Syah I , Sultan Johor ke-3 ini bukan berdarah Melaka tulen , Hanya Ibunya Raja Fatimah yang berdarah Melaka, karena dia anak perempuan Alaudin Riayatsyah II sang pendiri Johor. Sedangkan ayahnya , Raja Umar, adalah cucu Sultan Pahang. Garis darah Melakanya sangat jauh, dan berasal dari isteri Alaudin Riayat Syah II, puteri Sultan Pahang yang dinikahinya, sebelum mendirikan Johor. Pergantian ini, memang sebuah rancangan politik yang matang dan disiapkan sejak awal. Peristiwa ini disebut juga sebagai dendan Pahang  terhadap keturunan Melaka, meskipun sebenanrnya semua penguasa Melaka itu adalah keturunan Melaka juga, karena Sultan pertamanya, adalah Muhamamad Syah, putera dari Manstur Syah, Melaka.

        Karena Abdul Jalil Syah I  masih kecil, pemerintahan sehari-hari dipegang oleh ayahnya, Raja Umar. Hanya setahun Abdul Jalil Syah sebagai Sultan. Karena sakit-sakitan, dia wafat, . Penggantinya, adalah ayahnya, Raaja Umar. Pergantian ini, menjadi skandal politik yang berdampak jauh dalam siostim pemerintahan Johor. Ambisi politik dan kekuasaan dari Raja Fatimah , puteri Alaudinsyah, yang tak ingin kekuasaan jatuh ke tangan keturunan abangnya Musaffar Syah II, telah memaksa semua pembesar negeri, terutama Bendahara dan Temenggung , untuk menerima dan menyetujui Raja Umar sebagai Sultan Johor. Raja Fatimah mengancam akan meninggalkan negeri Johor, kalau keinginannya untuk merajakan suaminya, Raja Umar, ditolak.

             Akhirnya, Raja Umar menjadi sultan Johor ke-4, menggantikaan anaknya, Abdul Jalil Syah I, dengan gelar Abdul Jalil Syah II.Dia memerintah mulaai tahun 1572 sampai 1597. Dengan pergantian ini, maka garis darah  bukan Melaka itu, makin eksis. Apalagi kemudian anak-anaknya dijadikan sultan di daerah taklukannya, seperti Siak, Indragiri dan Kampar . Ini ,menimbulkan konflik politik yang makin tajam dan melebar, antara darah Melaka . Ketika Raja Umar wafat, dia digantikan anaknya Raja Masyur, dan anaknya ini hasil perkawinannya dengan Puteeri Naara Diraja, Pahang yang dinikahinya sebelum menikah dengan raja Fatimah.  Raja Mansur sebagai Sultan Johor ke-5 , bergelar Sultan Alaudin Riayat Syah III (1597-1615). Peristiwa pelanggaran tradisi Melaka ini bukan saja jadi peristiwa politik, tetapi juga tragedi politik, yang berdampak jauh pada eksistensi kerajaan Johor, seratus tahun kemudian.

Di tengah pertarungan politik dinasti ini, tahum 1572. diawal  pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah I, Aceh yang masih tetap berambisi menaklukkan Melaka dan negeri-negeri lain di semenanjung Melaka, kembali melancarkan serangan. Kali ini sasarannya selain Melaka, juga ke Perak dan Johor. Tapi serangan kali ini, Aceh kembali gagal menaklukkan Melaka dan Johor. Tapi berhasil menguasai Perak (wilayah taklukan Melaka dahulunya  dan dipegang oleh dinasti Melaka Mahmud Syah I, melalui anaknya Raja Muzaffar yang diusir dari istana Melaka oleh Tun Fatimah dan anaknya Raja Ali ). Dengan penaklukan Perak ini,  Aceh menancapkan kuku kekuasaannya di Perak lebih 100 tahun. Bahkan, sejarah mencatat, hubungan Aceh dan Perak demikian eratnya. karena beberapa Sultan Aceh setelah persekutuan itu, ada yang berketurunan Sultan Perak. Seperti Sultan Aceh Alaudin Mansyur Syah (1577-1585) . Di era ini hubungan Aceh dan Johor sempat sangat dekat . Tapi, ambisi Aceh untuk menguasai Johor, kembali muncul dan itu ditandai dengan gagasan Sultan Aceh Mansyur Syah ingin memasukkan Johor dalam kekuasaan Aceh. Dia ingin, Johor sama kedudukannya dengan Perak, yang berada di bawah kekuasaan Aceh. Gagasan ini ditolak oleh Sultan Johor ke-5, Abduljalil Syah II (Raja Umar) . Akibatnya Aceh marah, dan mengancam akan menyerang Johor. Untuk melindungi Johor,  Abduljalil Syah II kemudian mendekati kembali Portugis, dan membangun kerjasama, menghadapi Aceh.

Tahun 1582, tiga tahun setelah usul penggabungan itu ditolak, Aceh memang menyerang Johor. Tapi karena ada bantuan Portugis yang mengerahkan pasukannya dari Melaka membantu Johor, maka serangan Aceh kembali gagal. Meskipun, setelah koalisi itu, Johor dan Portugis, kembali bersengketa, karena Portugis ingin menguasai perdagangan Johor, sebagai balas budi. Johor menolak, dan tahun 1587, pecah perang Johor dan Portugis. Johor berhasil membebaskan diri dari tekanan Portugis, dan kembali sebagai negara berdaulat, meskipun hubungan dagang dengan Portugis tetap berjalan

        Seperti diceritakan sebelumnya,  Sultan Abduljalil Syah II, wafat , dan digantikan oleh anaknya Raja Mansur, dengan gelar Sultan Alaudin Riayat Syah III (1597-1615), inilah Sultan Johor yang terlemah. Karena, menurut catatan sejarah,  Alaudin Riayat Syah III ini, seorang seniman dan flamboyan yang suka berhura-hura. Dia tidak begitu mengurus pemerintahannya, dan  pemerintahannya, dikendalikan oleh Raja Abdullah, sepuopunya, anak Muzaffar Syah II, Sultan Johor ke-2. Dan sebenanya, juga adiknya, satu ibu,  berlainan ayah. Ibunya mereka adalah Puteri Nara Diraja ,Pahang. Sementara ayah Raja mansyur adalah Raja Umar,  daan ayah Raja Abdullah, adalah Muzaffar Syah. Artinya, Raaja Abdullah.lah yang paling berhak atas tahta Johor itu, bukan abangnya Raja mansyur. Tetapi karena paksaan dari Raja Fatimah, mka Raaja mansyur lah yang menjadi sultan. Sementara, Raja Abdullah, diangkat sebagai Raja Muda. Kononnya, menurut SMW ataupun SMvs, Raja Abdullah lah yang menolak menjadi Sultan, karena ingin membalas budi bibinya raja Fatimah, yang telah memeliharanya sejak masih bayi. Bagi raja Abdullah, bibinya itu adalah ibu angkatnya. Begitulah.

      Karena Raja Mansur ( Alaudin Riayat Syah III asyik berhura-hura ) maka Raja Muda Abdullah lah yang menjalankan pemerintahan ( dia disebut juga sebagai raja Seberang, karena istanannya di seberang sungai ) , dibantu Bendahara Tun Sri Lanang, bendahara yang terkenal karena siasat politik dan pemerintahan, dan pengarang buku Sejarah Melayu, Salalatus Salatin .

Tahun 1613,  Aceh kembali menyerang  Johor, karena  tahu Johor  sedang dalam posisi lemah, karena  sedang dirundung konflik politik, dan sudah putus hubungan dengan Portugis, sejak perang Johor-Portugis, tahun 1587. Aceh yang ketika itu di puncak kebesarannya, dibawah pimpinan  Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Kali ini mereka berhasil mengalahkan Johor, dan menawan semua kerabat dan pembesar kerajaan Johor. Semua tawanan dibawa ke Aceh, kecuali  Sultan Alaudin Riayat Syah III, yang dikembali ke istanannya di Batu Sawar. Sedangkan  sepupunya Raja Abdullah, dan Bendara Tun Sri Lanang, dibawa dan ditahan di Aceh.

        Sultan Aceh Iskandar Muda marah kepada panglimanya, karena tidak menawan Sultan Johor, dan membiarkan dia kembali ke istana. Namun panglimanya memberi tahu, bahwa yang memerintah sebenarnya adalah Raja Muda Abdullah fdan Bendahara Tun Sri Lanang. Dan bahkanb, raja Abdullah itulah yang paling berhak atas tahta Johor, karena dia berdarah Melaka, bukan Alaudin Riayat Syah III. Artinya, jika Aceh mau menaklukkan Johor, maka menawan Raja Abdullah itu adalah tindakan yang benar.

          Lebih  setahun mereka ditawan di Aceh. Selama masa tahanan itu, Bendahara Tun Sri Lanang, meninggal dan dimakamkan di sana. Raja Abdullah dikembalikan ke Johor, setelah berjanji akan tunduk pada kemauan Sultan Aceh. Untuk mengikat kesetiaannya, Raja Abdullah dikawinkan dengan salah seorang adik Sultan Iskandar Muda, dan  kelak, bila Sultan Alaudin Riayat Syah III mangkat, Raja Abdullah-lah yang harus menggantikannya, bukan anak Sultan Alaudin Riayat Syah yang bernama Raja Bujang. Dengan perkawinan ini, Aceh berharap Johor akan jadi negeri taklukan Aceh, sama seperti Perak, dan kelak mereka akan menguasai Pahang juga, karena Pahang ketika itu, adalah negeri taklukan Johor. Dan Aceh melarang Raja Abdullah menganmgkat raja Bujang, putera Alaudin Riayat Syah III menjadi Raja Muda Pahang.

        Ketika Sultan Alaudin Riayat Syah III wafat, tahun 1615, memang Raja Abdullah-lah yang menggantikannya sebagai Sultan Johor ke-6 , dengan gelar  Abdullah Muayat Syah, dan gelar ini memang sangat berbau Aceh, karena di era kerajaan Johor kala itu tak ada yang memakai gelar Muayat Syah. Gelar ini, hanya ada di kerajaan Aceh, karena itu Aceh mengklaim Acehlah yang merajakan raja Abdullah sebagai sultan Johor..

            Tapi, Abdullah Muayat Syah, mengingkari janjinya untuk tunduk pada Aceh. Dia melawan, dan menceraikan isterinya, adik Sultan Aceh Iskandar Muda, serta melantik Raja Bujang, anak Alaudin Riayat Syah III  sebagai Raja Muda  Pahang, tanpa persetujuan Aceh. Maka Aceh pun marah, dan  tahun 1617, kembali menyerang Johor. Abdullah Muayat Syah menyingkir ke pulau Lingga, di selatan pulau Bintan, yang ketika itu masih menjadi daerah taklukan Johor. Ikut bersama Abdullah Muayat Syah menyingkir dari Johor adalah Raja Bujang ( Raja Muda  Pahang), Laksamana Abdul Jamil, dan para pembesar kerajaan. Aceh mengejarnya ke Lingga. Abdullah Muayat Syah dengan dukungan armada perangnya dibawah pimpinan Laksamana Johor Tun Abdul Jamil melakukan perlawanan, sambil terus menyingkir ke pulau Tembelan, di gugusan kepulauan Tujuh (Natuna sekarang).

 Tetapi Raja Abdullah teerlalu lelah terus berperang, dan tahun 1623, dia wafat di Tembelan, pulau kecil di Laut Cina Selatan, itu dalam usia sekitar 63 tahun . Dia digelar Marhum mangkat di Tembelan. Kemudian Raja Bujang ( Raja Muda Pahang), putera Alaudin Riayat Syah III dilantik menggantikannya sebagai Sultan Johor ke-7, dengan gelar Sultan Abduljalil Syah III  (1623-1677). Menurut catatan sejarah Johor, untuk pertama kali pelantikan Sultan Johor ini dikatakan pelantikan bersyarat ( Abd. Razak kamaruddin, Kerajaan Johor sampai 1699, dalam ilustrasi, yayasan warisan Johor, 2005 ). Dalam warkah pelantikan yang dibacakan oleh laksamana Tun Abdul Jamil disebutkan, bahwa Raja Bajau, anak Abdullah Muayat Syah haruslah dilantik menjadi Raja Muda Pahang, dan menjadi calon pengganti Abdul Jalil Syah III, jika kelak mangkat. Pelantikan bersyarat itu terjadi, karena Abdul Jalil Syah III atau Raja Bujang itu adalah cucu Raja Umar, dan bukanb berdarah Melaka murni. Yang sebenarnya berdarah Melaka murni, adalah raja Bajau.

           Abdul Jalil Syah III atau Raja Bujang ini, adalah Sultan Johor yang paling cemerlang, dan paling lama memerintah, sekitar 54 tahun. Di era pemerintahannya ini, Johor sangat maju dan terkenal dan  Johor kembali berdaulat penuh, terbebas dari tekanan Aceh yang sudah lemah setelah ditinggalkan Sultan Iskandar Muda dan Aceh tidak pernah lagi menjadi ancaman, meskipun secara kekeluargaan, pertalian darah antara Johor dan Aceh tetap ada.

        Peristiwa penting lainnya yang terjadi dimasa kerajaan Johor ini, adalah berhasilnya Johor mengusir Portugis dari Melaka, setelah 130 tahun penjajah itu bercokol di negeri yang dibangun Parameswara itu.Tahun 1640, Johor berhasil mengusir Portugis dari Melaka, dengan bantuan VOC. Balas dendam politik yang lama menjadi obsesi kemaharajaan Melayu, semenjak Sultan Melaka Mahmud Syah I masih hidup. Sudah ribuan nyawa yang tewas dan harta yang habis, untuk menebus dosa sejarah itu, meskipun kemenangan itu, dengan bantuan Belanda (VOC) dan Johor harus membayar mahal atas dukungan Belanda itu. Kaarena lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya, terutama dalam bidang perdagangan, karena Belanda ternyata lebih lihai. Mereka justru mencengkram Melaka, sekitar 183 tahun, sebelum Inggeris merebutnya melalui tractaat London, 1824.   

Kesepakatan Johor dan Belanda (VOC) untuk bersama-sama mengusir Portugis, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1603, ketika utusan VOC, Jacob van Heemskerck bertemu Raja Abdullah (ketika itu masih sebagai pemangku kerajaan. Sementara Sultannya adalah Alaudin Riayat Syah III). Ketika itu belum diperoleh kesepakatan final, karena antara Raja Abdullah dan VOC terjadi perbedaan pendapat yang tajam. Raja Abdullah menginginkan Melaka menjadi milik Johor, jika mereka berhasil mengalahkan. Dan VOC diberi hak berdagang yang lebih luas. Tapi VOC justru ingin menguasai Melaka, sementara Johor, hanya boleh menguasai harta rampasan perang, persenjataan, dan harta lainnya. Perundingan buntu. Tapi kedua pihak, setelah itu, tetap melanjutkan perundingan. Tahun 1606, kembali berunding. Kali ini yang mewakili Johor, adalah Sultan Alaudin Riayat Syah III (Sultan Johor yang dikatakan paling lemah), dan dari VOC, admiral Matilief. Kali ini, Johor mengalah. Yang penting dendam sejarah terpenuhi, Portugis terusir dari Melaka. Belanda silakan menguasai Melaka, dan Johor cukup mendapat hak bebas berdagang di Melaka, tanpa dipungut cukai. Setelah ditandatangani kesepakatan, maka beberapa hari kemudian, Johor dan VOC menyerang Melaka. Tapi gagal, karena portugis mendapat bantuan pasukan dan armada dari Goa.

Tahun 1640, ketika Johor berada dibawah Sultan Abdul Jalil Syah III, kembali Johor dan VOC bersepakat menyerang Melaka dan denga isi perjanjian lama, di era Alaudin Riayat Syah III. Armada Johor dipimpin Laksamana Tun Abdul Jamil, dan VOC dipimpin Admiral Van Diemen. Mereka bertempur habis-habisan, selama lebih kurang 6 bulan lebih, tak kurang 1000 orang perajurit Johor dan VOC gugur. Demikian juga dengan Portugis. Bahkan Gubernur Portugis di Melaka, Manuel de Sousa Coutinho, ikut gugur. Akhirnya Portugis kalah, dan meninggalkan Melaka. Belanda (VOC) jadi penguasa baru mengambil alih benteng A Formosa, membangun pelabuhan Melaka yang baru, dan mengendalikan perdagangan di Selat Melaka. Perginya Poirtugis, dan masuknya Belanda, menimbulkan persaingan baru di kawasan Selat Melaka, dimana Johor berada di tengah-tengahnya, sebagai pemilik syah selat Melaka yang strategis itu. Disitulah seterusnya, harkat dan martabat kerajaan Johor, sebagai  representasi rumpun melayu itu, dipertaruhkan.

Terbebas dari cengkraman Aceh dan Portugis, maka Sultan Abdul Jalil Syah III meneruskan kembali ambisinya, menyatukan kembali bekas jajahan Melaka yang pernah lepas dan  dikuasai Aceh, seperti Kampar, Indragiri, Siak, di sumatera bagian tengah, dan Negeri Sembilan dan Perak, di semenanjung Melaka, kembali dibawah kerajaan Johor. Memang tidak semua yang tunduk kembali. Seperti Jambi, misalnya tetap menolak, karena merasa mereka adalah negeri asal usul kerajaan Melayu, dan tahu penguasa Johor saat itu, bukan berdarah  Melaka.  Sultan Abdul jalil Syah III marah, dan menghukum Jambi. Tahun 1667, dia mengirim angkatan perangnya ke Jambi dan menyerang bekas negeri taklukan yang membangkang itu . Akhinya Jambi kalah, dan menyerah. Meskipun kekalahan itu menimbulkan dendam politik yang lama, dan Jambi tetap tidak mau tunduk ke kuasaan yang dianggap bukan keturunan Sang Sapurba.  Jambi membalas serangan itu, 6 tahun kemudian, dengan memporak-porandakan Makam Tauhid, ibukota Johor, dan memaksa Abdul Jalil Syah III menyingkir ke Terengganu.

        Peristiwa lain yang juga sangat mempengaruhi keberadaan kerajaan Johor sebagai penerus Melaka, dan pengemban warisan peradaban Melayu, adalah pelanggaran dan pengingkaran atas tradisi politik, terutama dalam hal pergantian para penguasanya. Pertarungan politik antarxa para penguasa yang berdarah Melaka, dan yang bukan berdarah Melaka, berlangsung sangat tajam dan lama. Pelanggaran tradisi yang kemudian menimbulkan  sengketa politik, tragedi politik, dan bahkan sering juga disebut sebagai “bala politik”. Tindakan melanggar sumpah, yang berakibat runtuhnya imperium ini, seakan mengulangi tragedi pengkhiantan terhadap prasasti Bukit Siguntang, yang pernah terjadi di era Singapura, dan di era Melaka.

 Seperti diceritakan sebelumnya, pelanggaran tradisi Melaka itu, pertama kali terjadi ketika Sultan Johor ke-2, Muzaffar Syah II wafat, tahun 1571. Dia dikatakan tidak memiliki putera pewaris tahta, maka sebagai penggantinya, dilantiklah Raja Ali, keponakannya, anak dari Raaja Fatimah.

Pergantian dari Muzaffar Syah II ke Abdul Jalil Syah I ini menjadi punca sengketa politik, dan perebutan kekuasaan di kerajaan Johor, karena di kalangan dalam istana tahu bahwa sebenarnya, Muzaffar Syah II punya pewaris. Namanya Raja Abdullah, anak yang diperoleh Muzaffar Syah dari perkawinannya dengan puteri Sri Nara Diraja, Pahang. Keberadaan Raja Abdullah ini dianggap skandal dan dapat mencemarkan nama baik istana Johor ketika itu, karena sebelum dinikahi oleh Sultan Muzaffar Syah II, puteri Sri Nara Diraja Pahang ini, adalah isteri dari Raja Umar, cucu Sultan Pahang .  Puteri Sri Naradiraja Pahang ini, diceraikan oleh Raja Umar, begitu dia menikahi Raja Fatimah, puteri dari Sultan Alaudin Riayat Syah II, pendiri kerajaan Johor, adik dari Muzaffar Syah II.  Keberadaan Raja Abdullah sebagai putera Muzaffarsyah, telah dirahasiakan. Dan rahasia itu disimpan sejak Puteri Sri Nara Diraja hamil, sampai dia melahirkan, dan berada dibawah pengawasan Raja Fatimah. Setelah Raja Abdullah lahir, dia tetap berada di dalam istana, bermain dan bersahabat dengan Raja Ali, anaknya Raja Fatimah dengan Raja Umar. Raja Abdullah juga bermain dan bersahabat dengan Raja Mansyur, anak Raja Umar dengan Puteri Sri Nara Diraja Pahang, anak tiri Raja Fatimah.

Konflik politik antara sultan berdarah Melaka dan bukan berdarah Melaka, antara dinasti Muzaffar Syah II dengan Raja Umar, terus melebar, karena ikut campurnya Aceh yang ingin penguasa berdarah Melaka lah yang berkuasa, karena itu adalah bahagian kesepakatannya dengan kerajaan Perak, yang juga berasal dari dinasti Melaka. Secara politis, jika Aceh dapat menguasai keturunan darah Melaka, seperti cara mereka menguasai Perak, maka mereka akan menguasai Johor dan juga Pahang, tanpa harus melakukan perang dan menelan korban nyawa.

    Konflik politik ini, berlanjut ke lapisan yang di bawah, yaitu Bendahara, orang kedua yang berkuiasa di kerajaan Johor. Tindakan Bendahara Johor yang menyetujui Raja Umar menjadi sultan nJohor, meskipun dia bukan berdarah Melaka, menjadi seba jabatan Bendahara juga menjadi rebutan, antara yang berdarah Melaka dan bukan berdarah Melaka.  Apalagi, ketika Laaksamana Tun Abdul Jamil, juga mengambil alih tugas Bendahara dalam urusan pemerintaha, karena merasa Johor ketika itu sedang, tidak memiliki Bendahara setelah  Bendahara Tun Sri Lanang, wafat. Tun Abdul Jamil misalnya, mengambil alih tuhgas Bendahara untuk melantik Raja Bujang, sebagai sultan Johor ke-7  ketika Abdullah Muayat Syah wafat. Pelantikan yang terjadi di pulau Tembelan itu, merupakan serbuah pelanggaran tradisi pula, padahal kretika itu, di Batu sar, ibukota kerajaan Johor, sudah ada bendahara baru, Tun Habib Abdul Majid,, putera dari Abdullah Mauayatsyah juga ( Mariana Nordin, of.cit ). Perdseteruan dan perebutan kekuasaan Bendahara antara Tun Abdul jamil dan Tun habib Abdul Majid, berlangsung selama 65 tahun.

         Raja Abdullah, yang dikatakan darah Melaka itu   harus sabar menunggu 44 tahun sebelum haknya diserahkan sebagai Sultan Johor . Lalu 8 tahun kemudian, dinasti Raja Umar atau bukan darah Melaka,kembali berkuasa selama 54 tahun, dimasa pemerintahan Abdul jalil Syah III, cucu Raja Umar. Bahkan satu sumber dari Johor yang ditampilkan oleh Mariana Nordin dalam bukunya Politik Kerajaan Johor 1718-1862, menunjukkan ada sebuah silsilah yang menyatakan bahwa keturunan darah Melaka itu baru kembali berkuasa sebagai sultan Johor itu, pada masa Tun Abdul Jalil, sultan Johor ke-10 ( 1699-1719 ), karena Tun Abdul Jalil itu dikatakan adalah anak Tun Habib Abdul majid, dan Tun Habib Abdul majid, seperti dicvertita sebelumnya, adalah anak dari Raja Abdullah, Sultan Johor ke-6. Itu berarti Sultan Johor setelah Abdul jalil Syah III ( Raja Bujang ), yaitu  Ibrahim Syah ( 1677-1685 ), dan Mahmud Syah II ( 1685-1699 ), adalah juga keturunan Raja Umar. Sumber ini cukup kuat karena, dikatakan berasal dari “ Geneological Tree of  The Johore Royale Families “. Tun Habib Abdul Majid disebut sebagai “ ….the original descendant of Sultan Alaudin Riayat Shah II, faunder of Johore …..” ( Mardiana Nordin, of.cit ). Berarti, darah Melaka itu kemudian jadi penerus Johor ketika Tengku Sulaiman, anak Tun Abdul jalil menjadi Sultan di kerajaan Riau-Johor-Pahang ( 1722-1760 ), ketika dia berhasil merebut tahta kerajaan Johor dari tangan Raja Kecik. Jejak darah Melaka melalui dinasti Bendahara ini, sampai ke Sultan Riau-Lingga Sulaiman Badrul Alamsyah II ( 1857-1883 ), atau sampai ke Sultan Singapura Ali Iskandar Syah ( 1840-1877 ), atau bahkan sampai tahun 1878 ketika Inggeris melantik Temenggung Johor, Abu Bakar, sebagai Sultan Johor ( baru ), dan 1882, ketikaWan Ahmad, Bendahara Pahang dilantik Inggeris menjadi Sultan Pahang ( baru ). Karena mereka ini adalah keturunan Tun Abbas, puteranya Tun Abdul Jalil.

         Sedangkan yang bukan darah Melaka, dibawa raja Kecik ke DSiak, setelah Mahmud Syah II mati terbunuh di Kota Tinggi, 1699. Raja Kecil meraampas tahta Johor dari Tun Abdul Jali, 1722, dan mendirikan kerajaan Siak. Darah Maahmud Syah II ini, berakhir tahun 1781, ketika Sultan Yahya Abdul jalil Muazamsyah, sultan Siak ke 6, digulingkan oleh Sayyid Ali, dan Sultan yahya, melarikan diri ke Terengganu, dan mangkat dui Dungun, 1784.

      Memang, ada sumber lain yang selama ini lebih banyak dipakai sebagai refertensi dalam penulisan sejarah kemaharajaan Melayu di kawasan ini, yatu Tuhfat Al Nafis, Hikayat Siak, Sejarah Johor, dll, yang menytakan bahwa darah Melaka itu, kembalimke tahta Johor setelah Abdul Jalil Syah III wafat. Dia digantikan oleh Ibrahimsyah, cucu Abdullah Muayat Syah. Ibrahim dfigantikan oleh Mahmud Syah II, yang ternbunuh, di Kota Tinggi, dan Raja Kecik yang dikatakan keturunnya, melanjutkan mulai tahun 1722 sampai 1784 ( wafatnya Sultan yahya di Dungun ), karena sultan Siak setelah itu, sampai 1946, adalah ketrunan Arab Melayu, dinasti Sayyid Usman sahabuddin.

         Sedangkan di kerajaan Riau-Lingga, mulai tahun 1883 sampai 1911, Sultannya berdarah Bus-Melayu, karena Sultan Abdurrahman Muazzam Syah II, adalah anak Raja Mohd Yusuf Al Ahmadi, Yang Dipertuan Muda Riau-Lingga ke-10, keturunan Bugis, dari garis moyangnya daeng Celak. Hanya ibunya Tengku Mandak, puteri Tun Abdul Jalil. Begitulak konflik politik dan sengketa tahta ini, berjela-jela, karena sumber utama kisah kemaharajaan Melayu ini, memanmg sebahagian besar berasal dari Sejarah Melayu, karya Tun Sri lanang, dan karya ini, tamat, tahun 1602, dan tidak diteruskan lagi, karena Tun Muhammad anak Tun Ahmad, Pduka Raja alias Tun Sri Lanang, wafat tahun 1612 di Aceh. Karyanya itu, memang sampai pada masa Johor di bawah perintah Sultan Alaudin Riayat Syah III, alias Raja Mansur, putera Raja Umar dengan isterinta Puteri Sri Nara Diraja, Pahang.  

 Meskipun Abdul Jalil Syah III, dikenang sebagai Sultan Johor yang paling sukses, dan berhasil meredam sengketa politik di kerajaan Johor, tapi dia tidak berhasil memadamkan sama sekali bara dan bala politik yang pernah meletus di kerajaan itu, yang  terus membara, dan menunggu saat untuk meledak dan membakar negeri yang dibangun oleh Alaudin Riayat Syah II itu.

Tahun 1699, bala politik itu meletus kembali, ketika Sultan Mahmud Syah II, mati dibunuh oleh Megat Sri Rama, laksamananya sendiri. Pembunuhan politik ini, menjadi tragedi politik yang luar biasa dampaknya. Karena pembunuhan itu, adalah bentuk pendurhakaan yang pertama dan pengingkaran yang paling keras terhadap prasasti Bukit Siguntang, dimana di situ dijanjikan, bahwa rakyat melayu tak akan pernah mendurhaka kepada Sang sapurba dan keturunannya yang menjadi penguasa, betapapun kejam dan zalimnya sang penguasa. Tetapi, Megat Sri rama telah menghancurkan prasasti itu, dengan mengatakan kepada Mahmud Syah II, sebelum Sultan itu menghembus nafas terakhirnya: Raja alim raja di sembah, Raja zalim raja disanggah. Pekik berontak dan perlawanan ini, mengubah semua tradisi dan istiadat kesetiaan pada Sultan yang tidak berbelah bagi itu. Betapapun hebat pendurhakaan Hang Jebat, dia tidak pernah menyentuh tubuh Sultan, meski sehelai rambut pun, kecuali hanya melampiaskan amarahnya kepada para pendukung dan pembesar kerajaan yang dituduhnya telah menjadi penghasut, pemitnah, dan punca segala bala dan petruisak akal sehat Sultan. Dia masih berpegang pada konsep kesetiaan: Pantang Melayu Mendurhaka. Perndurhakaan Hang Jebat itu, menurut istilah hasan Junus, “ Hanya lah merupakan semacam hors d’oefre atau makan pembuka selera sebelum santapan utama dalam sebuah kenduri besar dihidangkan dengan sempurna ( Engku Puteri Raja Hamidah, 2002 )

     Bisa tikaman keris Megat Sri rama, telah mengubah arah perjalanan sejarah imperium Melayu yang bermula dari Bentan Bukit Batu itu. Jika berberapa penulis sejarah Melayu menganggap Traktat London, 1824, yang menjadi bala dan punca kemaharajaan Melayu ini pecah, maka sebenarnya, keris Megat Sri Rama itulah yang jadi pemulanya. Sebab setelah itu, bala politik mengaum dan menelan satu persatu jejak dan perjalanana imprium ini.  Tapi, apakah yang dibunuh Megat Sri Rama itu sultan Johor yang berdarah Melaka atau Pahang ? Wallahualam, ada berbagai rujukan dan sumber, tetapi analisa yang cermat aakan menemukan jawaban yang terang, setrang kata-kata Megat Sri Rama, kepada Bendahara Johor Tun Abdul Jalil : “ jika Datuk berkehendak menjadi Sultan, inilah saatnya, Hamaba hendak mendurhaka, tidak boleh tidak…” seperti ditulis oleh Tuhfat Al Nafis, Hikayat siak, dll, sumber setelah itu.

       Kisah selanjut ini, dapat menjadi bukti, betapa dahsyatnya, tikaman keris Laksamana Bentan itu:

Pertama, tahun 1699, setelah Mahmud Syah II mangkat di julangannya, dia digantikan oleh Tun Abdul Jalil, Bendahara kerajaan Johor waktu itu. Itulah untuk pertama kali terjadi peristiwa, Sultan yang mangkat, yang dikatakan tidak mempunyai pewaris, digantikan oleh Bendaharanya. Menurut adat istiadat pemerintahan dikerajaan Melayu, cara ini dibolehkan, karena Bendahara itu dikatakan masih satu darah dengan Sultan. Dia boleh jadi pamannya, abangnya, atau saudara sedarah lainnya. Tetapi, cara itu, belum tentu merupakan tradisi Melaka, karena sepanjang sejarah negeri itu, sampai tahun 1529, belum ada kasus pergantian penguasa tertinggi kerajaan,seperti itu. Di era kerajaan Johor sendiri, di era pemerintahan Sultan Muzaaffar Syah II, sempat terjadi krisis kekuasaan, karena ketika dia wafat, dia dikatakan tidak memiliki putera pengganti. Tidak ada saudara lelaki lain yang sedarah dengannya ketika itu. Tetapi dia mempunyai saudara perempuannya, Raja Fatimah. Melalui celah keturunan sebelah ibu inilah, pergantian tahta itu, dilakukan. Walaupun setelah itu, Raja Fatimah telah memaksa terjadinya pelanggaran istiadat yang lebih besar, dengan memaksakan suaminya sebagaai Sultan Johor, menggantikan anaknya yang wafat, meskipun suaminya itu bukan sedarah dengan keturunan para Sultan Johor.

Peristiwa pergantian Sultan oleh Bendahara di Johor inilah, yang merupakan salah satu peristiwa politik yang sangat penting dan berpengaruh. Bukan saja dalam sistem adat istiadat berkerajaan, tetapi juga, pergantian ini memunculkan satu dinasti baru, dalam alur kekuasaan di kerajaan Johor, yaitu dinasti Bendahara. Tak heran, Mardiana Nordin, seorang sejarawan Malaysia, dalam bukunya “Politik Kerajaan Johor 1718-1862”, perlu mendedahkan tiga silsilah Tun Habib Abdul Majid, ayah Tun Abdul Jalil ini, untuk mendapat bandingan, dari mana sebenarnya keturunan Tun Abdul Jalil ini. Jadi kalau dia boleh menggantikan Mahmud mangkat Dijulang , apakah memang dia boleh , dan sedarah? Apakah itu bukan sebuah perbutan kekuasaan, cup de tat, yang menggunakan Megat Sri rama sebagai eksekutornya? Di dalam Tuhfat an Nafis, ada satu ucapan Megat Sri rama, yang boleh ditafsirkan, bermacam-macam, termasuk sebuah scenario politik: “Jika Datuk berkehendak jadi Sultan, kinilah saatnya. Hamba mau mendurhaka, tidak boleh tidak…”. Beberapa catatan sejarah lainnya juga menyebutkan, bahwa pendurhakaan Megat Sri rama itu mendapat dukungan dari beberapa pembesar kerajaan Johor ketika itu, termasuk Bendahara, dan 30 sampai 40 orang pembesar lainnya (Orang kaya). Dan dilantiklah Tun Abdul Jalil menjadi Sultan Johor ke-10, dengan gelar Sultan Abdul Jalil Riayat Syah .

Tahun 1718, muncul bala politik baru di kerajaan Johor. Tahta Tun Abdul Jalil yang setelah menjadi Sultan Johor bergelar Abdul Jalil Riayat Syah, direbut oleh Raja Kecik, melalui suatu serangan angkatan perangnya, yang sebahagian besar terdiri orang-orang Selat. Raja Kecik ini, mengaku sebagai putera dari Sultan Johor Mahmud Syah II yang mangkat dibunuh Megat Sri Rama. Raja Kecik yang dikatakan masih bayi, selamat dari sweeping yang dilakukan para pengikut Tun Abdul Jalil, ketika huru-hara terjadi di istana kerajaan Johor, selepas Mahmud Syah II terbunuh. Raja Kecik telah dilarikan  ke Muar oleh datuknya, Laksamana Johor ( anak Tun Abdul Jamil ) , dan diserahkan kepada Temenggung Muar, kerabat ayahnya. Lalu setelah besar (7 tahun), dikirim ke Pagar Ruyung, dititipkan pada Raja Minangkabau, untuk dididik dan dibesarkan. Lalu Raja Kecik melantik dirinya sebagai Sultan Johor ke-11, dengan gelar Sultan Abdul Jalil, Rahmat Syah. Tapi 4 tahun kemudian, 1719, ditengah sengketa pertebutan tahta tersebut,  Raja Kecik membunuh Tun Abdul Jalil, melalui tangan panglima suruhannya, Panglima Sekam, karena Raja Kecik marah Tun Abdul Jalil dan anak-nanaknya (Tengku Sulaiman, Tengku Tengah, dll) telah menculik isterinya, yang tak lain puteri bungsu Tun Abdul Jalil yang bermana Tengku kamariah, dan Tun Abdul Jalil dikatakan juga mendiri kerajaan baru, pengganti klerajaan Johor, di Pahang. Terbunuhnya Tun Abdul Jalil itu, menjadi bara api baru konflik politik, dan bala politik, di kerajaan Johor. Sebab setelah itu, Tengku Sulaiman,putera Tun Abdul jalil, bersama saudara-saudaranya telah meminta bantuan para perantau Bugis yang tertkenal dengan nama Upu-Upou lima bersaudara (Daeng Perani, Daeng Kemasi, Daeng Marewa, Daeng Celak dan Daeng Manambun), untuk merebut kembali tahta kerajaan Johor itu, dan membalas kematian ayah mereka. Tahun 1722, terjadilah perang saudara lebih dari setahun, memperebutkan tahta kerajaan Johor itu. Tak ada yang kalah dan tak ada yang menang. Kedua-duanya remuk-redam. Akhirnya mereka berdamai, dan membelah dua kerajaaan Johor itu. Yang satu, bernama Kerajaan Siak Sri Indrapura, dengan Sultannya Abdul jalil Rahmat Syah (Raja Kecik), berpusat di sungai Siak, di Riau daratan, dan yang satu lagi kerajaan Riau-Lingga, dengan Sultannya Tengku Sulaiman, dengan gelar Sultan Sulaiman Badrul Alama Syah, berpusat di Ulu Riau, di sungai Carang. Tapi yang boleh menyebut kerajaannya dengan nama Johor, hanya kerajaan yang dipimpin Tengku Sulaiman. Maka jadilah nama kerajaan itu Kerajaan Johor-Riau dan Pahang. Tetapi karena dalam tradisi penyebutan nama kerajaan, selalu dipakai dimana pusat pemerintahannya yang berada secara tetap, dan karena pusat pemerintahan kerajaan ini di Riau, maka nama kerajaan ini menjadi kerajaan Riau-Johor dan Pahang. Sementara yang di Siak, tetap sebagai kerajaan Siak Sri Indrapura dan daerah taklukannya.

Demikianlah, tikaman keris Megat Sri Rama dan pengkhianatannya terhadap Prasasti Bukit Siguntang itu, telah membelah-belah kerajaan Johor, penerus Melaka, penerus Singapura, penerus Bintan itu, menjadi berkeping-keping. Semuanya merasa adalah penerus Melaka, semuanya merasa keturunan Sang Sapurba, tapi tidak semuanya setia pada prasasti Bukit Siguntang itu. Dan  badai politik,bala pertumpahan darah, terus menunggu, untuk mewarnai jejak sejarah negeri Melayu ini, menuju akhir certitanya.

 “ Asfek yang paling superior da lam menentukan kekuasaan dan kedaaulatan seorang  Raja adalah geneologi  nya “ Khoo Kay Kim ( Mardiana Nordin, of cit )

Selengkapnya :
BAB I
https://jantungmelayu.com/2020/07/prasasti-bukit-siguntang-dan-badai-politik-di-kemaharajaan-melayu-1293-1913-sebuah-renungan/

BAB II
https://jantungmelayu.com/2020/07/memanggul-prasasti-bukit-siguntang/

BAB III
https://jantungmelayu.com/2020/07/luka-hati-sang-rajuna-tapa-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-singapura-1294-1392/

BAB IV
https://jantungmelayu.com/2020/07/sebelum-berbunyi-meriam-peringgi-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-melaka-1394-1528/

BAB V
https://jantungmelayu.com/2020/07/bisanya-keris-megat-sri-rama-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-johor-1529-1722/

BAB VI
https://jantungmelayu.com/2020/07/jejak-tapak-sang-laksamana-sungai-carang-menjadi-pusat-kerajaan-riau-johor-1673-1782/

BAB VII
https://jantungmelayu.com/2020/07/kinja-daeng-marewa-dan-dendam-tun-dalam-jatuh-bangun-kerajaan-riau-johor-1723-1787/

BAB VIII
https://jantungmelayu.com/2020/07/jembia-cinta-kuala-bulang-akhir-kerajaan-riau-lingga-johor-1812-1913/

BAB IX
https://jantungmelayu.com/2020/07/akhirnya-berpisah-di-tanjung-puteri-hari-hari-terakhir-kerajaan-singapura-johor-pahang-1819-1878/

BAB X
https://jantungmelayu.com/2020/07/dan-bunda-tanah-melayu-pun-tersedu/

Tinggalkan Balasan