SIAPAKAH lagi yang dapat menolongnya? Dia bukan berada di lingkungan manusia. Bahkan, hutan belantara tempatnya berada berbulan-bulan belakangan ini seperti tak ada ujungnya. Dalam pada itu, kehamilannya semakin memberat pula. Walaupun begitu, Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk yang berhasil lari dari kejaran musuh yang hendak menawannya, tak pernah berputus asa. Dia yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah akan menolongnya dan anaknya yang tak lama lagi akan lahir ke dunia. Oleh sebab itu, dia tak pernah bosan bermohon akan pertolongan Allah kepada mereka berdua.

Siti menangis tersedu-sedu
Sambil berkata suaranya merdu
Ya Allah ya Rabbi ya Tuhanku
Engkau jua yang menolongi aku

Bait 887 Syair Abdul Muluk (Haji, 1846) yang dinukilkan di atas berkisah tentang harapan dan doa Siti Rafiah kepada Tuhannya. Suatu hari Allah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa setiap hamba-Nya memberikan pertolongan kepada perempuan jelita yang berhati baja itu. Entah bagaimanalah rahasia Tuhan, dia telah berada di luar hutan dan tak jauh dari sebuah kampung. Kala itu dia benar-benar berasa sakit sebagai tanda akan melahirkan anaknya. Seraya mengucapkan syukur kepada Allah, Siti Rafiah mempercepat langkahnya menuju sebuah rumah yang berada di pinggir desa.

Dengan syairnya itu, Raja Ali Haji rahimahullah hendak menyampaikan amanat: manusia seyogianya senantiasa mengharapkan pertolongan Tuhan dalam apa pun kesulitan hidup yang dialami dalam kehidupan ini. Manusia dan atau makhluk lain mungkin tak dapat dan atau tak mampu membantu, tetapi Allah pasti menolong hamba-hamba-Nya yang yakin akan pertolongan-Nya. Oleh sebab itu, orang-orang yang senantiasa mengharapkan pertolongan Allah tergolong manusia yang berkarakter mulia. Dia tak pernah melepaskan harapannya kepada Tuhan. Tak hanya di kala dirundung derita dan nestapa. Akan tetapi, tatkala dianugerahi rahmat bahagia pun, dia tak pernah larut dalam kebahagiaan dunia sehingga lupa kepada Allah yang telah mengaruniakan nikmat itu kepadanya.

Disingkatkan kisahnya, sampailah Siti Rafiah di rumah indah yang berada di pinggir desa. Rumah itu milik seorang Tuan Syekh yang alim lagi baik hatinya. Bersama Tuan Syekh ada istri dan anak-anaknya. Orang sekeluarga itu memang dikenal sebagai warga yang selalu menaruh belas kasih kepada sesama manusia. 

Tuhan menjawab doa dan harapan Siti Rafiah yang ditujukan kepada-Nya. Dengan kuasa-Nya, diarahkan-Nya istri Abdul Muluk yang sebentar lagi akan melahirkan itu kepada keluarga yang tepat untuk ditumpanginya. Alhasil, permohonan Siti Rafiah untuk menumpang di rumah keluarga Tuan Syekh diterima oleh tuan rumah dengan suka-cita. Padahal, mereka sama sekali tak mengetahui siapakah gerangan perempuan yang meminta pertolongan kepada mereka. 

Rafiah hanya menyebutkan bahwa dia berasal dari Negeri Barbari. Di rumah itulah, beberapa hari kemudian, dia melahirkan anaknya, yang diberi nama Abdul Gani. Hebatnya lagi, Tuan Syekh sekeluarga, walaupun belum lama mereka bersama, menganggap Siti Rafiah dan anaknya keluarga sendiri. Begitulah rahmat Allah diberikan-Nya kepada sesiapa pun yang menggantungkan harapan hanya kepada-Nya dengan setulus hati. 

Apakah yang mendasari doa dan harapan Siti Rafiah yang nyaris bertubi-tubi akan pertolongan Allah kepadanya dan anaknya? Keimanannyalah yang menyempurnakan pesonanya. Perempuan itu sesungguhnya tak hanya jelita dan berhati baja, tetapi sangat yakin akan petunjuk dari Tuhannya.

“(Ingatlah), ketika kamu ber-istighatsah (memohon pertolongan) kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu. “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (Q.S. Al-Anfal, 9).

Perempuan shalihah seperti Siti Rafiah, oleh karena keyakinannya akan kebenaran firman Tuhannya, tak pernah gentar walaupun harus berbulan-bulan di hutan belantara hanya bertemankan anaknya yang masih di dalam kandungan. Dia yakin bahwa Tuhan bersama mereka. Dengan keyakinan itu pula, dia pun tak pernah takut terhadap beribu-ribu laskar Kerajaan Hindustan. Dia hanya perlu mematangkan siasat dan menghimpun pasukan baru untuk membebaskan bangsa dan negaranya dari penjajahan bangsa asing. 

Keyakinannya semakin menjadi-jadi setelah Tuhan menjawab doanya dan mengabulkan harapannya. Tiada kebahagiaan yang pernah dirasakannya sehebat ketika Allah melepaskannya dari penderitaan karena perbuatan manusia. Ketika itu, dia bagai hendak mengumandangkan isi hatinya kepada sesiapa sahaja, “Jangan pernah lepaskan dirimu barang seketika pun dari Tuhanmu. Dan, janganlah kamu berpura-pura!”  

Kisah manusia yang secara tulus mengharapkan pertolongan Allah juga dapat ditemukan dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik dan Junus 2000, 123), bait 2. Begitulah setiap manusia yang yakin setiap niat dan perbuatan baik pasti mendapat pertolongan Allah akan membiasakan dirinya dengan ikhtiar yang terpuji.

Waba’duhu kemudian daripada itu
Fakir mengarang syair suatu
Kepada Allah mintak perbantu
Menyudahkan maulud Nabi yang ratu

Penulis syair di atas (Raja Ali Haji) meminta pertolongan kepada Allah agar beliau dapat menyelesaikan syairnya. Dalam hal ini, beliau menulis syair naratif tentang riwayat maulid Nabi Muhammad SAW. Perilaku itu merupakan contoh bagi sesiapa sahaja yang melakukan pekerjaan yang baik seyogianya meminta pertolongan kepada Allah. Dengan demikian, pekerjaan yang dilaksanakan akan menjadi lebih mudah karena selalu dalam bimbingan Allah.   

Manusia sebagai makhluk memang sepatutnyalah mengharapkan pertolongan kepada Allah. Hal itu karena tiada sesiapa yang sanggup menolong, kecuali Dia, lebih-lebih ketika kita menghadapi kesulitan dalam kehidupan dan atau hambatan dalam melaksanakan pekerjaan. Jika ternyata ada makhluk, manusia misalnya, yang menolong dalam kesulitan, seperti Tuan Syekh sekeluarga terhadap Siti Rafiah, semua makhluk itu memang digerakkan dan atau dikerahkan oleh Allah. Hal itu bermakna bahwa mengharapkan pertolongan Allah merupakan perbuatan yang terpuji, yang memang, bahkan, dianjurkan oleh Allah.

Perihal hanya memohon pertolongan kepada Allah juga diwasiatkan oleh Rasulullah SAW. Kenyataan itu membuktikan bahwa permohonan pertolongan kepada Allah ketika menghadapi pelbagai persoalan dan kesulitan, baik kecil maupun besar, memang perilaku yang benar dan dianjurkan. 

Rasulullah SAW berwasiat kepada Abdullah bin Abbas r.a. dengan sabda Baginda,  “Apabila engkau meminta (berhajat akan sesuatu), maka mintalah kepada Allah. Dan, apabila engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan hanya kepada Allah,” (H.R. Ahmad dan At-Tirmidzi).

Siti Rafiah dengan cerdas dan bijaksananya mengikuti wasiat yang memang tak terbantahkan kebenarannya. Dalam deraian air mata karena dirinya manusia biasa, tetapi dengan suara merdu yang dimilikinya, dia berdoa mengharapkan pertolongan Tuhan yang sangat diyakininya. Dengan meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan, dia percaya bahwa segala penderitaan dan kesulitan hidupnya akan berlalu pada waktunya. Ketika dipertemukan dengan keluarga hebat yang tinggal di pinggir desa, dia sadar bahwa itulah jawaban Tuhan atas doa dan harapannya.

Seorang perempuan jelita, cerdas, tangguh dalam melawan angkara murka, lagi tabah menghadapi penderitaan tak mesti hanya ada dalam cerita rekaan. Dia pun boleh wujud di semua kelas sosial dalam kehidupan. Manusia berkarakter hebat seperti itu sulit dipatahkan oleh lawan dan pasti disukai oleh kawan. Perempuan sejati seperti Siti Rafiah berjaya mengekalkan statusnya sebagai bangsawan. Bukan karena bangsa atau keturunan, melainkan dia tak pernah berani, walau sedikit pun, melawan ketetapan Tuhan.***

Tinggalkan Balasan