PRASASTI BUKIT SIGUNTANG DAN BADAI POLITIK
DI KEMAHARAJAAN MELAYU 1293-1913
(Sebuah Renungan)

BAB – III
LUKA HATI SANG RAJUNA TAPA
(Jatuh Bangun Kerajaan Melayu Singapura, 1294-1392)

Kerajaan Singapura didirikan Sang Nila Utama, pada  awal abad XIII (sekitar tahun 1294), dengan ambisi besar untuk membangun kembali kejayaan kerajaan Sriwijaya, yang ketika itu sedang redup dan menuju titik keruntuhannya, akibat serangan Jambi, Singosari, dan kemudian Majapahit. Dialah yang menjadi Raja pertamanya, dank arena itu memakai  ber gelar Raja Sri Tri Buana, nama yang menandakan bahwa dia adalah penguasa di tiga negeri. Palembang, Bintan, dan Singapura.Untuk meujudkan mimpinya itu, dia membawa serta Demang Lebar daun, sebagai penasehat kerajaannya. Kerajaan ini bertahan selama lebih kurang 98 tahun, sebelum ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit. Selama hampir 100 tahun itu, Singapura telah menjadi sebuah negeri yang maju, dan pusat perdagangan penting di Selat Melaka, dan   menguasai hampir  

sebahagian besar jalur perdagangan di kawasan selatan Semenanjung itu. Banyak peristiwa-peristiwa penting terjadi selama hampir seabad itu. Ada yang merupakan fakta sejarah sebagai konsekuensi kedudukannya yang strategis itu, dan membuat negara-negara lain, serperti Siam, Kedah,dan Majapahit, melihat Singapura sebagai sahabat, sekaligus  ancaman. Terlebih Majapahit, yang saat itu kemaharajaannya selain meliputi pulau Jawa, juga termasuk bekas daerah Sriwijaya yang ditaklukkannya. Tapi ada juga yang masih bersifat legenda, dan cerita pusaka, masih hidup sampai sekarang dan menjadi bahagian dari gimmick dunia wisata.

Di masa pemerintahan Raja Sri Pikrama Wira (1347-1362), misalnya, Majapahit pernah menyerang Singapura setelah Singapura menolak tunduk pada Majapahit. Tapi Majapahit dapat dikalahkan, dan itu menimbulkan dendam yang lama. Kemudian di masa pemerintahan Parameswara (1388-1392), Majapahit kembali menyerang Singapura, dan kali ini Singapura kalah, dan Parameswara harus menyingkir ke daratan Semenanjung Melayu, untuk menghindari serbuan laskar Majapahit. Menyingkirnya Parameswara ke daratan semenanjung itu, menandai berakhirnya masa kerajaan Melayu Singapura, karena setelah aman dari gangguan Majapahit, Parameswara memutuskan untuk tidak lagi kembali ke Singapura yang sudah dikuasai Majapahit, tetapi membangun pusat pemerintahan baru di semenanjung, disebuah tempat yang diberi nama Melaka, dan menamakan kerajaan barunya itu kerajaan Melayu Melaka. Negeri baru itu terletak di tepi selat yang luas, kira-kira 500 km di utara  Singapura.

Akan halnya kerajaan Singapura, setelah penaklukan itu, juga ditinggalkan Majapahit. Pulau itu dikuasai orang-orang suku Laut yang disebut orang-orang Selat yang sangat setia kepada dinasti Sang Sapurba itu. Kelak, ketika Melaka besar dan berjaya, Singapura merupakan negeri bahagian dari kerajaan Melaka, dan kerajaan-kerajaan Melayu lainnya setelah itu, seperti kerajaan Johor, Riau dan Lingga. Tetapi dinasti Sang Nila Utama ini, telah berhasil membangun Singapura sebagai cikal bakal sebuah bandar dagang utama di selatan Semenanjung Melayu itu, karena selain letaknya yang strategis, juga secara alami, Singapura terlindung dari angin Munson, angin yang sangat mengganggu dan menghawatirkan dunia perdagangan dan pelayaran. Topografinya yang berteluk-teluk itu, menyebabkan pulau itu sangat aman untuk berlindung. Karena itu, orang-orang Selat dan orang-orang Suku Laut lainnya (kelompok proto Melayu), juga sangat suka mendiami pulau itu. Melalui selat-selat yang  tidak terlalu luas, seperti Selat Singapura, maka orang-orang Selat akan dengan mudah berpergian ke pulau-pulau yang lain di selatannya, seperti pulau Belakang Padang, Batam, Galang, dan Rempang. Pulau-pulau inilah dalam riwayatnya menjadi pusat-pusat pemukiman orang Selat dan orang-orang Laut, yang sisa-sisanya masih ada sampai saat ini, terutama di Batam, Rempang dan Galang. Mereka selalu menamakan diri mereka, hamba Raja.

Selama masa kejayaan Singapura, ada juga peristiwa yang masih dibumbui legenda, seperti tentang Badang, orang kuat Singapura, yang berhasil mengalahkan lawan-lawannya. Cerita yang paling terkenal adalah ketika Badang berhasil mengalahkan Bendarang, orang kuat negeri Perlak (Aceh), hanya dengan menindih pahanya. Karena kehebatannya itu, kemudian Badang diangkat sebagai pengawal Raja Singapura Sri Rana Wirakrama. Ada juga kisah Singapura di langgar Todak (ikan bercucut tajam), sebagai hukuman alam terhadap sikap zalim Raja Sri Maharaja (1375-1388), yang menzalimi  seorang ulama Aceh bernama Tun Jana Khatib, karena cemburu ulama itu telah menggoda permaisurinya, hanya dengan memandang sekilas. Tun Jana Khatib dibunuh. Kezaliman itu itu kemudian dibalas dengan serbuan ikan todak, yang beribu-ribu ekor, menyerang penduduk Singapura, sehingga banyak yang tewas. Hanya kecerdikan seorang anak bernama Kabil, serangan ikan todak itu bisa diatasi. Kabil menyarankan agar sepanjang pantai Singapura dipagari dengan pohon pisang yang sudah ditebang, sehingga begitu todak-todak menyerang, cucutnya menusuk pohon pisang, dan tertancap disana. Lalu sesudah itu, penduduk Singapura beramai-ramai membunuhnya. Tapi kecerdikan Kabil, dianggap ber-bahaya. Atas hasutan beberapa pembesarnya yang iri dan dengki, lalu Raja Sri Maharaja, menghukum Kabil dengan menenggelamnya di laut antara Singapura dan pulau Sambu,  dengan tubuh terantai besi. Maka  Kabil yang malang, tewas, dan berubah ujud menjadi batu, yang kemudian dikenal dengan legenda Tokong (batu) Berantai. Raja Sri Maharaja, memang diceritakan sebagai Raja Singapura yang punya banyak catatan hitam semasa pemerintahannya, berbeda dengan ayahnya Sri Rana Wikrama, yang lebih arif.

Sementara Parameswara, penggantinya, juga dicerita-kan punya cacatan hitam, ketika dia termakan fitnah dan hasutan para isterinya, untuk membunuh salah satu isterinya yang paling cantik dan disayanginya, puteri dari Sang Rajuna Tapa, salah seorang pembesar negeri (Penghulu Bendahari). Puteri Rajuna Tapa itu dihukum dengan kejam (kepalanya dipancung dan kemudian dicacak di atas tombak, dan dipamerkan ke tengah masyarakat) . Sang Rajuna Tapa marah, dan kemudian berkhianat. Dialah yang dikatakan membocorkan rahasia kelemahan pertahanan Singapura kepada Majapahit, dan dengan informasi itu, kemudian Majapahit menyerang kembali Singapura, dan Singapura dikalahkan. Parames-wara, sang raja harus menyingkir ke daratan Semenanjung Melayu, untuk menyelamatkan diri. Dan tamatlah riwayat kerajaan Singapura. Cara Parameswara menghukum Puteri Rajuna Tapa itu, telah, meninggalkan luka yang dalam di diri Sang Rajuna Tapa. Parameswara dianggap telah melanggar sumpah dan kesepakatan antara Sang Sapurba dengan Demang Lebar Daun. Pengkhianatan dan pelanggaran atas Prasasti Bukit Siguntang. Dan akibatnya, adalah kutukan, dan bala yang menimpa negerti Singapura itu. Pengkhianatan terhadap prasasti Bukit Siguntang itu juga terjadi pada cerita kezaliman Raja Sri Maharaja, terhadap Tun Jana katib, sang ulama Aceh, dan kisah Singapura dilanggar todak, atau kezaliman penguasa Singapura terhadap anak ajaib, Kabil.

Selama 98 tahun, ada 5 Raja yang memerintah di kerajaan Melayu Singapura. Sri Tribuana, sang pendiri dari tahun 1294 sampai 1347. Sri Pikrama Wira (1347-1362), Sri Rana Wikrama (1362-1375), Paduka Sri Maharaja (1375-1388), dan Parameswara (1388 sampai tahun 1392, ketika ditaklukkan Majapahit, dan Parameswara mengundurkan diri ke semenanjung dan mendirikan kerajaan baru disana yang diberinama kerajaan Melayu Melaka. Parameswara, menjadi Raja pertama kerajaan Melaka, dan kerajaan ini berdiri tahun 1394, dua tahun setelah Singapura dikalahkan Majapahit.

Demang Lebar Daun, tokoh pemimpin rakyat jelata (hamba Melayu), yang ikut bersama Sang Nila Utama dari Bintan membangun negeri yang baru itu, dikatakan, wafat di Singapura dan dimakaamkan di pulau ini. Dia telah ikut mendampingi Sang Nila Utama, ketika pertama kali membangun Singapura. Dia wafat tahun 1340, dan hampir bersamaan dengan wafatnya Wan Sri Beni, permaisuri Sang Nila Utama, puteri Ratu Iskandarsyah Bintan. Dua tahun kemudian, 1342, Sang Nila Utama alias Sri Tri Buana, juga wafat, 53 tahun setelah memimpin dan meujudkan mimpinya membangun imperium Melayu  baru  fdari Singapura. Mereka dimakamkan di Bukit Singapura. Mungkin, Demang Lebar Daun tak sempat menyaksikan kekejaman Raja Sri Maharaja dalam menghukum Tun Jana Khatib dan Kabil,  tapi sumpah setianya bersama Sang Sapurba, di Bukit Siguntang, telah meninggal bala, di negeri itu, hingga baru beraja lagi, 400 tahun kemudian. Itupun hanya 58 tahun, setelah itu, rakyat Singapura itu beraja dengan orang  Barat, Inggeris, sampai Singapura merdeka, tahun 1957.

****

Selengkapnya :
BAB I
https://jantungmelayu.com/2020/07/prasasti-bukit-siguntang-dan-badai-politik-di-kemaharajaan-melayu-1293-1913-sebuah-renungan/

BAB II
https://jantungmelayu.com/2020/07/memanggul-prasasti-bukit-siguntang/

BAB III
https://jantungmelayu.com/2020/07/luka-hati-sang-rajuna-tapa-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-singapura-1294-1392/

BAB IV
https://jantungmelayu.com/2020/07/sebelum-berbunyi-meriam-peringgi-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-melaka-1394-1528/

BAB V
https://jantungmelayu.com/2020/07/bisanya-keris-megat-sri-rama-jatuh-bangun-kerajaan-melayu-johor-1529-1722/

BAB VI
https://jantungmelayu.com/2020/07/jejak-tapak-sang-laksamana-sungai-carang-menjadi-pusat-kerajaan-riau-johor-1673-1782/

BAB VII
https://jantungmelayu.com/2020/07/kinja-daeng-marewa-dan-dendam-tun-dalam-jatuh-bangun-kerajaan-riau-johor-1723-1787/

BAB VIII
https://jantungmelayu.com/2020/07/jembia-cinta-kuala-bulang-akhir-kerajaan-riau-lingga-johor-1812-1913/

BAB IX
https://jantungmelayu.com/2020/07/akhirnya-berpisah-di-tanjung-puteri-hari-hari-terakhir-kerajaan-singapura-johor-pahang-1819-1878/

BAB X
https://jantungmelayu.com/2020/07/dan-bunda-tanah-melayu-pun-tersedu/

Tinggalkan Balasan