TAK ada cara lain baginya. Pilihan sulit itu harus diambil apa pun konsekuensinya. Demi menaikkan moral pasukan Kerajaan Barbari yang sedang digempur habis-habisan oleh tentara Kerajaan Hindustan, dia harus terjun langsung ke medan perang untuk memimpin pasukan negerinya. Keputusan Sultan Barbari, yang belum lama menjadi pemimpin untuk menggantikan ayahandanya yang telah mangkat, itu mula-mula memang tak disetujui oleh para menteri berida (senior)-nya. Akan tetapi, Sultan Abdul Muluk bersikukuh dengan pendiriannya. 

Pemimpin sejati harus bersedia dan berani berada di barisan paling depan, sama ada pada kala tenang ataupun, dan lebih-lebih, saat-saat genting seperti sekarang, untuk mempertahankan marwah bangsa dan negara. Kalau sekadar unjuk hebat di hadapan publik sendiri, semua orang pun boleh, apatah lagi dengan “dandanan” yang dibuat luar biasa agar terkesan memesona. Akan tetapi, apalah arti semua kepalsuan itu jika menghadapi pihak asing yang hendak menguasai negerinya dia tak mampu berbuat apa-apa. Pikiran itulah yang ada di benak Sultan Abdul Muluk, pemimpin karismatik yang masih muda usia.    

Bulat sudah tekadnya. Keputusannya itu harus disampaikannya kepada orang yang sangat dicintainya, perempuan muda lagi jelita yang sedang mengandung putra sulung mereka. Selanjutnya, Raja Ali Haji rahimahullah melanjutkan kisah patriotisme Sultan Abdul Muluk itu dalam karya beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 674, yang jika dihayati benar memang sungguh menggetarkan sukma. 

Adinda jangan berhati rawan
Mintakan doa kepada Tuhan
Jikalau ada mudah-mudahan
Selamat kakanda bertemu tuan

Bait syair di atas merupakan ucapan Sultan Abdul Muluk kepada istrinya, Siti Rafiah, setelah dia menyampaikan keputusannya untuk memimpin langsung pasukan perang untuk menghadapi musuh yang tiba-tiba datang menyangsang.  Dilarangnya istrinya bersedih hati. Dia hanya berharap Siti Rafiah banyak berdoa kepada Tuhan supaya diri dan negerinya selamat dari serangan dan penaklukan pihak musuh. Pada akhirnya, mereka sekeluarga dapat berkumpul kembali setelah peperangan selesai. Begitu pun rakyat serata negeri tak perlu lagi bergundah hati dari ancaman pihak luar yang sekarang sedang gencar-gencarnya mencabar.

Dalam karya beliau Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji mempraktikkan langsung keyakinan beliau seperti yang dinukilkan dalam bait Syair Abdul Muluk di atas.    

“… Dan aku namai akan dia ‘Tuhfat al-Nafis’ pada menyatakan kelakuan daripada Raja-Raja Melayu serta Bugis. Padahal mengharapkan aku akan Allah yang mengampuni daripada tersalah pada segala tawarikh dan pada perjalanannya. Ya Tuhanku, perkenankan oleh-Mu akan pinta hamba-Mu intaha,” (Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 1).

Dari nukilan dua teks di atas dapatlah ditemukan amanat yang hendak disampaikan penulisnya. Dalam hal ini, manusia harus berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan kemudahan dalam melaksanakan segala pekerjaan yang baik. Dengan demikian, perilaku senantiasa berdoa kepada Allah tergolong karakter mulia dan terpuji dalam perhubungan manusia dengan Tuhannya. Kenyataan itu diperkuat oleh keyakinan bahwa Allah akan menolong hamba-hamba-Nya yang  bermohon kepada-Nya secara ikhlas dan bersungguh-sungguh.

Dari manakah sebenarnya sumber kearifan tentang keutamaan berdoa kepada Tuhan dalam kaitannya dengan pelaksanaan pekerjaan yang baik? Petunjuk ini menjelaskan kebenaran ikhtiar itu.

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, nescaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina-dina,” (Q.S. Al-Mukmin, 60).

Ajaran berdoa kepada-Nya sebagai ikhtiar yang baik memang datang langsung dari Allah, Tuhan Yang Maha Penolong. Bahkan, Tuhan akan kecewa jika ada hamba-Nya yang tak membuat permohonan kepada-Nya dalam menghadapi persoalan kehidupan. Dengan demikian, sebesar dan seberat apa pun masalah kehidupan yang dihadapinya, manusia patut memohon pertolongan kepada Allah dengan cara berdoa kepada-Nya secara ikhlas. 

Berhubung dengan masalah yang dihadapi, ikhtiar untuk menyelesaikannya tetap harus dilakukan. Oleh sebab itu, Sultan Abdul Muluk memilih berada di garis paling depan untuk menghadapi musuh yang datang menyerang negerinya. Hidup dan mati dalam perjuangan bukan ditentukan oleh perbuatan makhluk, apa dan atau sesiapa pun dia dengan segala kehebatan dan kebesarannya, melainkan semata-mata karena takdir Allah. 

Sultan Barbari sangat yakin akan hal itu. Oleh sebab itu, dia tak berasa gentar sedikit pun ketika berhadapan dengan pasukan Kerajaan Hindustan. Bukankah Kerajaan Barbari adalah milik sah bangsa Barbari sehingga tak ada sebarang alasan pun bagi bangsa lain untuk menguasainya, dengan cara apa pun. Maka, amat dayuslah para pemimpin dan rakyatnya jika membiarkan penguasaan itu terjadi, baik secara tersembunyi maupun, dan lebih-lebih, secara terang-terangan. 

Kewajiban dan tanggung jawab menjaga negeri memang terletak di pundak pemimpin dan seluruh rakyatnya. Kenyataan itu tersurat dalam syair nasihat yang melengkapi teks Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 40.

Ayuhai segala raja menteri
Serta pegawai kanan dan kiri
Hendaklah jaga ingatkan negeri
Perampok penyamun perompak pencuri

Agar Negeri Barbari milik sah bangsa Barbari tak dirampok, disamun, dan atau dirompak oleh para pencuri dari Negeri Hindustan, segenap elemen bangsa Barbari harus kompak mempertahankannya. Itulah yang disebut perjuangan dan ikhtiar manusia. Jika elemen bangsa Barbari selamba (acuh tak acuh) saja, pastilah negeri mereka akan dikuasai oleh bangsa lain, yang memang sangat bernafsu untuk menguasai negeri yang makmur itu. Sama sekali tak boleh dibiarkan para pengkhianat bersimaharajalela dan mengambil kesempatan dalam kegentingan yang dihadapi oleh bangsanya. Sebagai penyempurna sekaligus penguat perjuangan pemertahanan bangsa dan negara itulah, doa kepada Tuhan harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya.

Dari Bara’ bin ‘Azib bahwasanya Nabi Muhammad SAW menyuruh seorang laki-laki berdoa. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “Apabila engkau hendak tidur, maka ucapkanlah doa ini: Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan tubuhku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, (dan) aku sandarkan punggungku kepada-Mu dengan keinginan dan ketakutan yang cukup kepada-Mu. Tak ada tempat berlindung, kecuali kepada-Mu, aku percaya kepada kitab-kitab suci yang Engkau turunkan dan kepada nabi-nabi yang engkau rasulkan,” (H.R. Bukhari).

Sabda Rasulullah SAW itu lebih menguatkan hujah bahwa berdoa kepada Tuhan memang perbuatan terpuji dan mulia. Tak diragukan jadinya bahwa orang-orang yang menerapkannya dalam kehidupan mereka memiliki karakter yang baik. Perilakunya itu menunjukkan bahwa dirinya senantiasa menyandarkan perjalanan hidupnya dalam bimbingan dan pertolongan Tuhan.

Pilihan dan keputusan yang tepat telah diambil oleh Sultan Abdul Muluk, pemimpin Kerajaan Barbari. Ketika prahara menerpa negerinya, dia memilih berada di barisan paling depan untuk berlawan dengan musuh bangsanya sebagai bukti bahwa dirinya pemimpin sejati. Bersamaan dengan itu, selain dirinya, dimintanya keluarganya, bahkan seluruh rakyatnya, untuk berdoa secara ikhlas kepada Tuhan agar negeri mereka tetap berdiri kokoh dalam penjagaan dan kasih Ilahi. 

Ketika ikhtiar telah dilaksanakan dan doa tulus telah diucapkan, marwah suatu bangsa akan dikekalkan oleh Tuhan. Keyakinan yang diimplementasikan dalam perbuatan yang ditunjukkan oleh Sultan Barbari membuat ngeri pihak lawan. Dalam keadaan seperti itulah, suatu bangsa akan tetap bertahta secara anggun di singgasana kemuliaan. Sebaliknya pula, jika angkara murka diselambakan, mereka tinggal menanti detik-detik kehancuran.***   

Tinggalkan Balasan