Koin Emas (kiri) dan Ketun Timah (kanan) yang digunakan sebagai mata uang resmi Kerajaan Johor di Negeri Riau pada zaman Pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Haji Fisabilillah koleksi Aswandi Syahri (foto: aswandi syahri)

Setelah Yang Dipertuan Muda Riau III Daeng Kemboja mangkat dalam usia 80 tahun pada tahun 1777, maka selanjutnya jabatan Yang Dipertuan Muda Riau dalam Kerajaan Johor yang baharu di Negeri Riau diamanahkan kepada keponakannya, Raja Haji ibni Daeng Celak Yang Dipertuan Muda Riau III, yang ketika itu sedang berada di Pahang.

Usai penabalannya sebagai Yang Dipertuan Muda Riau IV, Datuk Bendahara Tun Abdul Majid di Pahang mengirim untusan membawa sepecuk surat kepada Sultan Mahmud Ri’ayatsyah yang bersemayam di Negeri Riau-Sungai Carang sempena “…mengatakan hal Raja Haji ada di dalam Pahang, sudah dilantik [menjadi Yang Dipertuan Muda Riau] di Pahang oleh Datuk Bendahara Tun Abdul Majid.”

Peristiwa yang terjadi pada bulan Desember 1778 itu juga mendapat apresiasi dari Gubernur VOC di Melaka, P.G. de Bruijn, melalui sepucuk surat felisitasi (surat ucapan selamat) bertarikh 28 Desember 1778.

***

Dari Pahang, Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau IV kembali ke Negeri Riau di Sungai Carang setelah dijemput oleh Sultan Johor, Sultan Mahmud Ria’ayatsyah, yang diiringi oleh Raja Abdulrahman ibni Daeng Kemboja dan Syahbandar Bopeng.

Kembalinya Raja Haji menandai babak baru dalam sejarah Negeri Riau di Sungai  Carang. Karena, sejak saat itu, Negeri Riau yang dibuka oleh Laksamana Tun Abduljamil pada 1672, menemukan kembali jalan menuju puncak kemakmurannya sebagai entreport di kawasan Selat Melaka.

Fakta sejarah ini tidak hanya dicatat oleh kronik-kronik istana seperti Tuhfat al-Nafis, Hikayat Negeri Johor, Siarah Haji Podi, Tawarikh Tok Ngah, dan Silsilah Melayu dan Bugis belaka, tapi juga ditegaskas oleh laporan pedagang-pedagang Belanda dan Inggris yang datang berniaga.

Laporan James Scott, seorang pedagang swasta Ingris (English country trader) yang beraviliasi dengan East India Company (EIC) milik Kerajaan Inggris, sebagaimana dikutip oleh Renout Vos dalam kitab katam kajinya dalam bidang sejerah di Universitas Utrecht, Belanda, Gentle Janus Merchnt Prince: the Thightrope of Diplomacy in the Malay World 1740-1800 (1983:122), antara lain mencatat: “…cukai di Riau (Sungai Carang), meskipun rendah, adalah sumber pendapatan yang baik, jika dibandingkan dengan cukai menakutkan sebesar 12% di [Pelabuhan] Melaka”.

Cukai yang kecil ini adalah salah satu daya tarik pelabuhan Negeri Riau, dan sumber kemakmuran zaman Raja Haji: inilah salah satu hal penting yang menyebabkan labuhannya penuh sesak sengan perahu dagang sejak dari Sungai Carang hingga ke Kampung Cina di Pulau Senggarang.

***

Apa yang disaksikan oleh English country trader James Scott dicatat pula oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis. Menurut Raja Ali Haji, ketika Datuknya (Raja Haji) menjadi Yang Dipertuan Muda, Negeri Riau di Sungai Carang aman dan lebih makmur.

Banyak orang di Negeri Riau menjadi kaya. Salah seorang di antaranya yang sangat kaya adalah Said Husin al-Aidid yang bermastautin di kampung Sungai Timun: Beliau memiliki sejumlah gudang, dan perahu yang berulang-alik berniaga ke dari pelabuhan Negeri Riau ke Tanah Jawa.

Kemakmuran itu ditandai pula dengan banyaknya saudagar Bugis dan Cina dengan Keci dan Wangkang-nya yang berlabuh berjajar dengan perahu Tob yang datang dari Negeri Siam.

Siarah Haji Podi yang dikutip oleh Raja Haji, juga mencatat murahnya sejumlah komoditas dagang yang menjadi kunci daya tarik pelabuhan Negeri Riau di Sungai Carang. “Sebab itulah menjadi makmur negeri.”

Catatan dalam Siarah Haji Podi, dapat disanding-bandingkan pula dengan penjelasan  dalam Tawarikh Tok Ngah yang antara lain menyebutkan “…banyaknya orang di dalam sungai Negeri Riau (di Sungai Carang) sembilan laksa…lapan ribu Bugis di Sungai Timun, dan dua ribu di Pulau Biram Dewa…

Sebagai mercu tanda kemakmuran itu, Raja Haji juga membangun istana dengan sebuah balairung berdidinding cermin di Pulau Biram Dewa. Letaknya persis di pertemuan muara Sungai Galang Besar dan Sungai Galang Kecil yang berhampiran dengan Sungai Sungai Carang.

Istana itu dikelilingi dengan pagar tembok atau kota dari batu karang yang kemudian ditatah dengan pinggan dan piring serta berhiaskan bocong pada bagian atasnya; itulah pangkal mula Pulau Biram Dewa masyhur dengan sebutan  Kota Piring.

Selain di Pulau Biram Dewa, Raja Haji juga membangun sebuah istana yang tak kalah mewahnya untuk kediaman Sultan Mahmud Ria’ayatsyah di Sungai Galang Besar. Perhiasan kedua istana ini dari emas dan perak. Termasuk rantai-rantai setolob (lampu gantungnya) terbuat dari perak. Bahkan, pada bagian belakang semua pinggan mangkuk dan cawan kahwa istana itu, yang dipesan khusus dari Negeri Cina, tersurat nama pulau tempat istana megah Raja Haji bediri: Pulau Biram Dewa yang ditulis menggunakan air emas.***

Artikel SebelumZuriat Iskandar Zulkarnain
Artikel BerikutMintakan Doa kepada Tuhan
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan