BUKAN tak diupayakan untuk dipertahankan sampai ke tetesan darah yang penghabisan. Bahkan, tak hanya melibatkan kekuatan tentara, rakyat pun secara sukarela ikut mengangkat senjata melawan musuh, pasukan Kerajaan Hindustan. Takdir Allah, Kerajaan Barbari yang diserang secara mendadak tetap tak mampu bertahan. Lebih malangnya lagi, pemimpin mereka, Sultan Abdul Muluk ditangkap, ditawan, lalu dipenjarakan.

Mendengar suaminya ditangkap oleh pihak musuh, Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, melarikan diri dari istana. Dia tak ke desa atau ke kota, tetapi ke hutan belantara. Rencananya itu memang telah disampaikannya kepada suaminya sebelum Abdul Muluk berangkat ke medan perang. Dia tak rela ditawan oleh musuh menjadi alasan pertamanya untuk melarikan diri. Selain itu, dia akan berupaya melakukan pukulan balik terhadap Kerajaan Hindustan jika tak tertangkap oleh musuh yang tak memahami nilai persahabatan.  

Kisah pelarian Siti Rafiah diceritakan oleh Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), antara lain, pada bait 881. Dari bait syair tersebut tahulah kita tentang kualitas karakter istri Sultan Barbari itu.

Enam bulan lamanya sudah
Di dalam hutan Rafiah merapah
Serta tawakal kepada Allah
Hamilnya itu sangat beratlah

Ternyata, Siti Rafiah melarikan diri tak seorang diri. Dia bersama anaknya yang masih di dalam kandungan. Bahkan, setelah enam bulan semakin beratlah kehamilannya menjelang melahirkan anak sulungnya. Semakin besar kehamilannya, semakin berat pula penanggungannya seorang diri di hutan belantara. Semua penderitaan itu dihadapinya dengan sabar dan tabah karena dia yakin akan hal ini. Nestapa yang dialaminya bersama keluarganya sesunguhnya ujian Allah terhadap mereka. 

Bahkan, dia lebih beruntung daripada anggota keluarganya yang lain, termasuk suaminya, karena tak tertangkap dan dipenjara oleh musuh. Mungkin itulah pertolongan Tuhan kepada anaknya yang akan lahir. Jika dirinya juga ditangkap, tak dapat dibayangkan betapa menderitanya dia harus melahirkan di dalam penjara. Bahkan, hari-hari pertama anaknya harus dijalani di dalam tahanan. 

Ketika membayangkan kesemuanya itu, Siti Rafiah, walaupun tak terperikan kesedihannya mengingat nasib malang menimpa keluarganya, tetap bersyukur kepada Allah karena melindungi dirinya dan putranya. Untuk melarikan diri itu pun, dia melakukan upaya yang sungguh luar biasa. Hanya karena pelindungan Tuhanlah kesemuanya itu dapat dilakukannya dengan sempurna.   

Dengan kualitas sifat, sikap, dan perilaku yang ditunjukkannya, nyatalah sudah karakter mulia yang dimiliki oleh istri Sultan Abdul Muluk itu. Dia sesungguhnya seorang perempuan yang bukan saja pemberani, melainkan juga sosok manusia yang bertawakal kepada Allah.

Tawakal sesungguhnya bermakna ‘berserah diri kepada Allah’ atau boleh juga dikatakan ‘percaya dengan sepenuh hati kepada Allah dalam menghadapi kesusahan, kedukaan, dan atau kesedihan’. Menurut Imam Al-Gazali, tawakal adalah menyandarkan diri kepada Allah tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana, disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram (Malik, 2015).

Dapat dibayangkan betapa menderitanya Siti Rafiah sebagai istri sultan kerajaan besar, yang biasa hidup di istana dengan serba kecukupan. Tiba-tiba, dia harus hidup di hutan belantara dan  dalam keadaan hamil besar pula. Itulah ujian dan cabaran yang dihadapinya. Akan tetapi, di samping setiap hari berupaya mengatasi persoalan hidupnya seorang diri, dia tetap berserah diri kepada Allah. Itulah buktinya bahwa Rafiah seorang perempuan yang tabah dan kuat menghadapi segala tantangan dalam hidupnya. Dia adalah ikon manusia yang bertawakal kepada Allah.

Tawakal kepada Allah merupakan sifat, sikap, dan perilaku terpuji dan mulia. Manusia yang berkarakter baik seyogianya sanggup berserah diri kepada Allah dalam menghadapi segala cobaan, cabaran, penderitaan, kesedihan, dan atau kesusahan dalam kehidupan. Dengan sifat, sikap, dan perilaku mulia itu, sesiapa pun pada akhirnya akan menerima kebahagiaan yang dianugerahkan oleh Allah. Pasalnya, dia telah lulus dari ujian Allah dengan nilai kepujian.

Merujuk kepada Tsamarat al-Muhimmah, setiap manusia memang dituntut untuk mengembangkan karakter tawakal kepada Allah. Oleh sebab itu, tak heranlah perempuan hebat sekelas Siti Rafiah tak pernah gentar menghadapi cobaan hidup yang menimpa dirinya. Bahkan, dia sangat yakin bahwa pertolongan Allah pasti akan datang juga setelah semua nestapa kehidupan dapat dihadapinya dengan anggun dan berkesan.

“… Akan tetapi, jika dilawan susah kita itu dengan sabar dan rida dan tawakal, mudah-mudahan bertemu dengan barang yang dijanjikan Allah Ta’ala di dalam Qur’anul’azim, yaitu Allah Ta’ala kasihan kepada orang yang sabar dan meluaskan orang yang tawakal di dalam dunia [dan] di dalam akhirat….” (Haji dalam Malik (Ed.) 2013).

Itulah dia. Kasih Allah-lah yang senantiasa didambakan oleh Siti Rafiah. Dia sangat yakin bahwa Tuhan takkan membiarkan dirinya berjuang seorang diri dalam menghadapi cobaan hidup. Tenulah ada rahasia Allah yang belum ditunjukkan kepadanya saat itu sehingga dirinya harus tersingkir ke hutan belantara. Satu hal yang mulai dirasakannya bahwa dia tak lagi menghadapi kesemuanya itu dengan ratapan yang tak membawa harapan. Jiwanya semakin tabah untuk menjalani tugas-tugas penting lagi genting di hadapan.

Keyakinan istri Sultan Abdul Muluk itu memang sesuai benar dengan ajaran Tuhan. Dalam salah satu firman-Nya, Allah menjamin kesejahteraan bagi sesiapa pun yang bertawakal kepada-Nya.

“Dan, barang siapa bertawakal kepada Allah, nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu,” (Q.S. Ath-Thalaq, 3).

Berlandaskan firman Tuhan itu jugalah, syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 16, menitipkan kearifan kepada manusia yang berkarakter tawakal.

Jika benar yang kita hukumkan
Di belakang jangan kita hiraukan
Umpat dan puji kita biarkan
Kepada Allah kita saksikan

Kebenaran juga yang mesti diutamakan dalam apa pun perjuangan kehidupan yang dilakukan. Seperti halnya Rafiah, dia tak pernah hirau apa pun akibat dari keyakinannya kepada Tuhan. Pasalnya, dia tahu pasti bahwa dirinya takkan pernah dibiarkan berjuang sendirian. Asal, hal dan perkara yang diperjuangkannya bernilai benar oleh Tuhan.

Dari Umar bin Khathab r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, nescaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung-burung. Mereka berangkat pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang petang hari dalam keadaan kenyang,” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Al-Mubarak).

Siti Rafiah membaca perangai burung terbang pada pagi hari. Agar kenyang, para burung saja tak berdiam diri. Apatah lagi manusia yang dianugerahi akal-budi. Berserah diri kepada Allah, tak bermakna mematikan ikhtiar karunia Ilahi. Nah, wahai engkau Sultan Hindustan. Beta, Siti Rafiah Putri, akan mengambil kembali hak kami, Negeri Barbari!*** 

Tinggalkan Balasan