SESUNGGUHNYA Allah-lah yang menciptakan alam semesta ini. Dia pulalah yang menguasai seluruh alam, baik duniawi maupun ukhrawi.

Oleh sebab itu, agar senantiasa mendapat pelindungan-Nya, manusia seyogianya tak pernah luput memuji kebesaran dan memohon keampunan-Nya, sama ada bersama-sama ataupun seorang diri.

Pasalnya, sesuai dengan fitrahnya, manusia tak pernah sunyi dari berbuat kesalahan, yang sudah barang tentu melanggar ketentuan Ilahi.  

Bertolak dari kesadaran dan keyakinan itulah, Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Tsamarat al-Muhimmah menitipkan amanat religiusnya.

Pasalnya, manusia mungkin tak bersengaja melakukan perbuatan dosa, apatah lagi jika memang bersengaja, tetapi karena kealpaannya, kesalahan pun tak dapat dihindarinya. 

“… Serta, mengharap akan diampun dan dimaafkan oleh Allah Ta’ala barang yang tersalah dan terkurang di dalam kitab ini adanya,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Raja Ali Haji, sebagai penulis karya yang dinukilkan di atas, khawatir apa-apa yang ditulisnya terkandung kesalahan walaupun beliau berniat baik dalam membahas persoalan hukum, politik, dan pemerintahan dalam karya tersebut. Oleh sebab itu, beliau minta ampun kepada Allah. 

Pesan yang sama, juga dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), disertakan melalui syair nasihat yang dilampirkan dalam karya itu, antara lain pada bait 30. 

Lepas berhukum banyaklah istigfar
Kepada Tuhan Ilah al-Gaffar
Sepertiga malam sajadah dihampar
Berdiri mengata(kan) Allahu Akbar

Bait syair di atas mengandungi nasihat yang ditujukan kepada para pembuat keputusan dalam bidang hukum.

Dalam hal ini, mereka dianjurkan supaya senantiasa memohon ampun kepada Allah setiap selesai melaksanakan tugas (Lepas berhukum banyaklah istigfar).

Istigfar merupakan ucapan permohonan ampun kepada Allah. Kenyataan itu menegaskan kembali sikap dan perilaku terpuji, baik, dan mulia sesiapa pun yang memilikinya. Manusia dengan kualitas hebat itu tergolong orang yang berkarakter terbilang.

Pasalnya, dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, apatah lagi masalah hukum, dia dan atau mereka senantiasa berhubung dengan manusia lain dan, tentu saja, dengan Tuhan.

Kesalahan dalam praanggapan, dugaan, dan atau lebih-lebih putusan hukum dapat mengancam fisik, marwah, dan atau bahkan nyawa orang lain. Oleh sebab itu, selain kepakaran yang dimiliki, manusia harus senantiasa bermohon akan petunjuk Tuhan untuk kemudian memohon ampun kepada-Nya.

Keampunan yang dimohonkan itu bukan karena sengaja membuat dugaan dan putusan yang salah dengan alasan tertentu, melainkan sebab sama sekali alpa akan kebenarannya.

Karena kebesaran dan kasih-sayang-Nya jualah petunjuk tentang permohonan ampun itu diberikan oleh Allah kepada manusia.

Dengan demikian, anjuran itu bukanlah berasal dari pemikiran terbernas manusia, melainkan jalan benar yang ditunjukkan oleh Allah untuk menjaga perhubungan yang baik dengan-Nya.

Allah SWT berfirman, “Beristighfarlah (mohon ampun) kepada Tuhanmu. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun. Nescaya, Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (Q.S. Nuh, 10-12).

Sedia berendah hati dan sadar akan kekurangan diri seraya minta ampun kepada-Nya memungkinkan manusia beroleh limpahan karunia yang tiada terkira.

Manusia yang tercerahkan pikiran dan jiwanya sangat menyadari akan hal itu sehingga karakter mulia bersebati dalam kehidupan dan perjuangannya. 

Para kesatria sejati umumnya mengambil jalan yang telah ditunjukkan oleh Tuhan, yakni jalan keampunan dari-Nya.

Kisah patriotiknya, antara lain, terekam dalam Tuhfat al-Nafis. Pikiran dan hati yang tercerahkan pasti berasa kagum tiada terkira. Mereka adalah para pejuang yang, atas nama Allah, tak pernah gentar berdepan dengan angkara murka.

Yang terpatri dalam diri mereka hanyalah hidup dan mati karena Allah, tiada sebarang makhluk pun boleh dan dapat mengubahnya.

“… Adapun ayahanda suka serta rela kerana dosa ayahanda selama-lama ini. Maka ayahanda harapkan diampuni Allah taala dengan sebab kematian perang ini….” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 207).

Kalimat patriotik sekaligus religius itulah yang diucapkan oleh Seri Paduka Baginda Raja Haji, Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1777-1784). Baginda menuturkannya kepada Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761-1812). Orang berdua beranak itu (Raja Haji adalah mamanda (paman) Sultan Mahmud Riayat Syah, yang kemudian juga menjadi mertua Baginda Sultan) berkalam pemutus jihad dalam peperangan dengan Belanda di Teluk Ketapang, Melaka, Juni 1784. 

Sebelum menyerang Melaka, Raja Haji telah memenangi perang melawan Belanda di Tanjungpinang, 6 Januari 1784.

Tak selesai sampai di situ, Baginda Yang Dipertuan Muda, bersama Baginda Sultan, mengejar Belanda yang melarikan diri ke Melaka.

Matlamatnya untuk merebut kembali Negeri Melayu itu dan membebaskannya dari cengkeraman penjajah. Perang pun berkecamuk beberapa bulan. Tuhfat al-Nafis merekamkan kisah selanjutnya. 

 “… Dan beberapa lagi orang yang baik syahid itu dengan tiada membuang belakang. Syahadan adapun Holanda mati di dalam perang itu ada kira-kira tujuh puluh orang dan tiga orang besarnya yang mati.

Maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun bangkit mengunus badiknya dan sebelah tangannya memegang Dala’il al-Khairat. Maka dipeluk oleh beberapa orang maka di dalam tengah berpeluk-peluk itu maka Yang Dipertuan Muda Raja Haji pun kenalah peluru baris senapang.

Maka ia pun rebahlah mangkat syahidlah ia innalillahi wa inna ilahihi rajiun,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 209).

Dalam Perang Teluk Ketapang, Melaka, Raja Haji dan sebagian prajuritnya gugur sebagai syuhada pada 18 Juni 1784. Baginda mangkat dengan sebelah tangannya memegang badik dan tangannya yang lain memegang kitab Dala’il al-Khairat.

Yang Dipertuan Muda sekaligus bertindak sebagai panglima perang yang gagah perkasa itu telah membuktikan kepada generasi penerusnya. Negeri kita ini telah dibangun oleh para leluhur sejak dahulu.

Pantang ianya diharu-biru oleh bangsa lain. Oleh itu, hendaklah negeri ini dijaga dan dibela dengan sepenuh cinta walau apa pun cabaran dan tagannya. Jika tidak, para anasir luar akan berbuat sesuka hati mereka sehingga anak bangsa akan merana.  

Ketika perang sedang berkecamuk, Baginda telah berfirasat akan syahid dalam perang itu. Itulah sebabnya, Baginda memohon ampun kepada Allah. Jiwa dan semangat patriotisme yang mengalir di dalam darahnya telah memacu semangat Baginda untuk berbakti kepada bangsa dan negara.

Dengan pilihan lebih mulia syahid di medan juang daripada negeri dan bangsanya terjajah, dimulainyalah perang dengan didahului pekik, “Allahu Akbar!” Raja Haji Fisabilillah secara bermartabat telah menunaikan baktinya sebagai pemimpin sekaligus prajurit sejati, yang tiada membuang belakang di tengah gelanggang.

Dalam laporan Netscher (1870), Belanda memutuskan bahwa yang menjadi aktor intelektual Perang Riau I (1782-1784)  adalah Sultan Mahmud Riayat Syah. Sultan yang telah kehilangan pamannya itu, walau digertak, tetap tak mau berunding apatah lagi berdamai dengan Belanda. Itulah kemudian yang memicu Perang Riau II di Tanjungpinang sebagai kelanjutan Perang Riau I. 

Perang Riau II telah menghancurkan garnizun Belanda di Tanjungpinang dan menewaskan banyak tentara mereka. Bahkan, David Ruhde, Residen Belanda di Tanjungpinang kala itu,  terpaksa lari ke Melaka untuk menyelamatkan diri. Perang Riau II penuh dengan siasat dan strategi yang luar biasa.

Setelah itu, dimulailah Perang Gerilya Laut setelah Baginda Sultan sekaligus pemimpin perangnya memindahkan pusat pemerintahan ke Lingga pada 24 Juli 1787.

Dengan rahmat Allah jualah, Raja Haji Fisabilillah telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Maritim pada 1997. Sultan Mahmud Riayat Syah pula Pahlawan Nasional Gerilya Laut pada 2017.

Dan, cucu Raja Haji sekaligus keponakan Sultan Mahmud, Raja Ali Haji, yang meriwayatkan kisah heroisme pendahulunya, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bidang Bahasa dan Bapak bahasa Indonesia pada 2004.

Beliaulah, menurut K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang memungkinkan persatuan bangsa Indonesia tetap kokoh sampai setakat ini. 

Di dalam diri orang sekeluarga itu, sejak nenek-moyang mereka, memang mengalir darah pahlawan.

Kesemuanya itu dimungkinkan karena dalam setiap gerak perjuangan, mereka tak pernah melupakan Tuhan. Selamat Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia, tanah tumpah darahku yang menawan. Tak seinci dirimu kami relakan dikuasai kawan, apatah lagi lawan!***

Tinggalkan Balasan