KISAH ini tentang nasib, tetapi juga kesetiaan, permaisuri Kerajaan Barbari. Siti Rahmah, nama permaisuri itu, tak rela memuaskan nafsu Raja Hindustan yang tak mampu menahan birahi.

Syihabuddin, Raja Hindustan itu, memang telah berniat jika dia dan pasukannya dapat menaklukkan Kerajaan Barbari, Siti Rahmah yang jelita akan direbutnya dari suaminya, Sultan Abdul Muluk, Raja Negeri Barbari.

Karena menolak ajakan, bujukan, bahkan paksaan dengan siksaan Syihabuddin, Siti Rahmah dimasukkan ke bui. Sesampainya sang permaisuri di dalam penjara, peristiwa apakah yang terjadi?

Eloklah disimak kisahnya yang dituturkan oleh Raja Ali Haji rahimahullah dalam Syair Abdul Muluk, antara lain, pada bait 861-862 (Haji, 1846). Kisah nestapa dialami oleh orang berdua. Meskipun begitu, mereka tak tertakluk kepada penceroboh yang membawa angkara murka.     

Hancur hati Siti bangsawan
Melihat hal paduka sultan
Beberapa belenggu rantai di badan
Azab tak dapat lagi dikatakan

Abdul Muluk melihat adinda
Tubuhnya yang permai sangat berbeza
Anguslah hati di dalam dada
Rebah pingsan sultan muda

Penjara mempertemukan kedua orang suami-istri yang telah ditawan. Dalam pertemuan itu, tahulah Siti Rahmah bahwa suaminya tak hanya dikurung, tetapi juga disiksa dengan pelbagai jenis siksaan, dari pukulan sampai dibelenggu dengan rantai, tak ubahnya perlakuan terhadap hewan. Hancurlah hati Siti Rahmah menyaksikan azab dan derita yang dialami oleh suaminya tercinta. 

Syihabuddin pula sengaja memperlihatkan keadaan Abdul Muluk yang tersiksa kepada istrinya dengan satu tujuan. Harapannya agar permaisuri setia itu memohon keringanan hukuman bagi suaminya dengan imbalan Rahmah Jelita bersedia memuaskan nafsu birahinya yang telah mencapai titik ledak sejajar dengan hewan.

Akan tetapi, semua siasat jahat Raja Hindustan tetap tak mempan bagi Rahmah Yang Dipertuan.  

Sebelum dipenjara, Siti Rahmah juga lebih dahulu disiksa dengan pelbagai siksaan yang berat oleh Raja Hindustan. Oleh sebab itu, tampilan dirinya membuat suaminya semakin sedih dan pilu.

Semakin remuk hati Sultan Abdul Muluk begitu mengetahui istrinya diperlakukan secara tak manusiawi oleh Syihabuddin yang serakah. Akan tetapi, dia tak dapat berbuat apa-apa karena dibelenggu di penjara.

Kedua suami-isteri itu diperlakukan demikian karena mereka ditawan setelah kalah berperang. Siti Rahmah sebetulnya dapat terhindar dari kurungan dan siksaan seandainya dia bersedia melayani nafsu birahi Raja Hindustan. Bahkan, jika menyerahkan diri, dia akan dijadikan istri oleh Syihabuddin. Rupanya, Raja Hindustan memang telah lama jatuh hati kepada Siti Rahmah, sejak negeri mereka masih menjalin persahabatan. 

Kala itu dia tak berani menyatakan hasratnya karena Siti Rahmah telah menjadi istri Abdul Muluk, penguasa negeri yang bersahabat dengan negerinya. Setelah dia berhasil mengalahkan Negeri Barbari, barulah hasratnya itu akan dilampiaskan.

Malangnya, kesetiaan dan kecintaan Rahmah terhadap suaminya telah menggagalkan semua angan-manis-ngeri Syihabuddin yang terpendam. Bagi Rahmah, dia rela mati daripada memuaskan nafsu birahi Raja Hindustan.

Jadilah kedua suami istri itu orang tahanan, bahkan setiap hari mereka didera dengan pelbagai jenis pukulan. Walau harus menderita, keduanya tetap bersabar. Bagi mereka, semua siksaan yang diterima merupakan cobaan Allah untuk menguji keyakinan dan iman mereka kepada-Nya. Mereka yakin, jika mereka mampu bersabar meskipun harus mati karenanya, di akhirat mereka akan selamat karena rahmat Tuhan. Mengapakan kedua suami-istri itu sampai pada simpulan keimanan yang sungguh mengagumkan?

“Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (di surga) karena kesabaran mereka dan mereka (akan) disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,” (Q.S. Al-Furqan, 75).

Jaminan Allah itulah yang mendasari keimanan Abdul Muluk dan Siti Rahmah. Dengan keyakinan yang kokoh itu, tiada sebarang siksaan Syihabuddin dapat membuat mereka berpaling tadah. Jangankan sekadar disiksa, bahkan kalau dibunuh pun keimanan mereka tak akan goyah. Bersabar menghadapi ujian-Nya merupakan karakter terpuji lagi mulia dalam perhubungan manusia dengan Allah.

Suami-istri pemimpin Negeri Barbari itu mendasarkan keyakinan mereka kepada ketauladanan. Siapakah yang mereka pedomani dalam hal kesabaran ketika menghadapi ujian Tuhan? Karya Syair Sinar Gemala Mestika Alam, antara lain bait 77-78, mengisahkan tokoh yang menjadi anutan orang-orang yang bersabar karena keimanan (Haji dalam Malik & Junus 2000, 130).

Apabila dizahirkan olehnya Nabi
Agama Islam yang terpuji
Mendustakan kaumnya ahlil-makki
Menyakiti dengan sumpah dan maki

Tiada diindahkan Nabi Muhammad
Bersungguh-sungguh juga mengajar ummat
Melepaskan daripada kafir zhalalat
Di negeri akhirat boleh selamat

Tokoh yang mereka tauladani tak lain tak bukan adalah Rasulullah SAW. Walau dicaci-maki oleh kaumnya di Mekah karena menyiarkan agama Allah,  Rasulullah tetap tak berganjak.

Rasulullah terus melaksanakan amanah yang dititipkan Allah kepada Baginda. Tantangan dari kaumnya sangat keras dan bertubi-tubi, tetapi tak seinci pun Baginda mundur demi menjayakan perintah Allah. Baginda bersabar karena taat kepada Allah dan sayang kepada umatnya. Matlamat Baginda tiada lain agar umat manusia selamat di akhirat kelak.

Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang mukmin, yang bergaul dengan manusia dan dia bersabar atas perlakuan buruk mereka, itu lebih besar pahalanya dari pada orang mukmin yang tak bergaul dengan manusia dan dia tak bersabar atas perlakukan buruk mereka,” (H.R. Ahmad, Bukhari, dan Ibnu Majah). 

Sikap yang diambil oleh Abdul Muluk dan Siti Rahmah ternyata memang sulit diatasi oleh manusia kelas rendah seperti Syihabuddin. Betapa tidak? Yang dicontohi oleh kedua suami istri dari Negeri Barbari itu adalah tokoh tauladan, manusia suci, yang bahkan dalam melaksanakan perintah Allah, Baginda pun harus menghadapi ujian kesabaran. Matlamat untuk menyelamatkan manusia lebih Baginda utamakan walau harus menghadapi pelbagai cabaran. Memang itulah sesungguhya ajaran Tuhan.

Dalam pada itu, Syihabuddin dari Negeri Hindustan hanyalah sekadar pelayan syaitan. Untuk memuaskan nafsu berkuasa dan birahi, dia rela memutuskan hubungan persahabatan. Segala perbuatannya itu memang menjadi hidangan terlezat bagi iblis yang dipertuan. Sehebat-hebatnya pengikut iblis dan atau syaitan, suatu ketika dia akan bertemu lawan. Nantikan saja, ada Siti Rafiah yang akan melakukan tindak balasan.

Sabar yang menjadi pilihan Siti Rahmah dan Abdul Muluk tak terbantahkan sebagai karakter yang membawa berkat. Dengan bersabar, martabat mereka sebagai manusia jadi terangkat. Jaminan itu bukan berasal dari makhluk yang lidahnya pandai bersilat, melainkan langsung dari Allah, Sang Pemilik Dunia dan Akhirat. Berbahagialah pasangan setia Muluk dan Rahmah, karena sampai di negeri akhirat pun, mereka dipastikan selamat.***

Tinggalkan Balasan