PELBAGAI strategi dan taktik digunakan oleh Siti Rafiah, istri Sultan Abdul Muluk, untuk membebaskan negerinya dari penjajahan bangsa Hindustan. Di antaranya, dia membantu negeri yang ditemuinya dalam pengembaraan melawan tindakan makar yang dilakukan oleh kerabat penguasanya sendiri yang haus akan kekuasaan. Mamanda (paman) sultan yang sah negeri itu rela merebut kuasa keponakannya, bahkan berupaya membunuh anak kandung kakaknya demi memuaskan birahinya menjadi sultan. Karena berasa senasib sepenanggungan dengan sultan yang tersandera kuasanya, Siti Rafiah menolong penguasa sah itu melawan si paman. 

Menariknya, dalam misi pengembaraannya, Rafiah yang sejatinya jelita itu mengubah penampilannya seperti laki-laki sejati. Di negeri orang dia mengubah namanya menjadi Duri. Karena dia mengenakan seragam hulubalang dan mahir menggunakan senjata, orang-orang yang ditemuinya mengenalnya sebagai Hulubalang Duri dari Negeri Barbari. Dia memang berlatih keras agar dapat tampil sebagai laki-laki yang hulubalang sejati. Oleh sebab itu, memang tiada sesiapa pun yang tahu bahwa dia sesungguhnya istri Sultan Barbari.

Dengan kemahirannya berperang, dia membantu negeri tetangganya yang bertikai. Alhasil, dia dengan mudah mengajak pemimpin negeri yang dibantunya untuk berkoalisi menyerang Kerajaan Hindustan. Pemimpin dan tentara negeri itu berasa mendapat kehormatan membantunya tanpa menghiraukan apa pun risikonya. Mereka yakin bahwa di bawah kepemimpinan Hulubalang Duri, upaya mereka mengalahkan penjajah Hindustan akan berhasil. Benarkah demikian kenyataannya?

Untuk menjawab pertanyaan itu, ada baiknya dirujuk Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), antara lain, pada bait 1.789. Raja Ali Haji rahimahullah menuturkannya dengan bait syair yang tersusun begitu indahnya.  

Hendaklah kita berbanyak syukur
Kepada Tuhan Azizul Ghafur
Melepaskan bala dan kufur
Kepada kemuliaan izzat dan falhur

Bait syair di atas merupakan jawaban sekaligus nasihat Tuan Syekh kepada Sultan Abdul Muluk dan istrinya, Siti Rafiah. Orang berdua suami-istri itu mengucapkan terima kasih kepada Tuan Syekh yang telah menolong Siti Rafiah dan anakandanya semasa dalam pelarian dahulu. Oleh Tuan Syekh dikatakannya bahwa kesemuanya itu merupakan pertolongan Allah kepada keluarga Sultan Abdul Muluk dan Negeri Barbari. Oleh sebab itu, sudah sepatutnyalah Sultan Abdul Muluk dan keluarganya bersyukur kepada Allah.

Nyatalah sudah bahwa misi Siti Rafiah berhasil. Dia dan pasukannya mampu mengalahkan Kerajaan Hindustan sehingga Kerajaan Barbari dan seluruh bangsanya merdeka kembali. Memang mudah menceritakannya secara ringkas, tetapi jalan yang harus ditempuh oleh perempuan perkasa itu sungguh berliku-liku. Hanya pahlawan sejatilah yang mampu mengembalikan marwah bangsanya yang pernah terpuruk karena dijajah oleh bangsa asing.

Setelah sukses menyelesaikan misinya, Siti Rafiah dapat berkumpul kembali dengan keluarganya. Sebagai tanda terima kasih kepada Tuan Syekh yang telah menolong istri dan anaknya, Sultan Abdul Muluk mengirim utusan untuk menjemput keluarga angkat istrinya itu ke istana. Bait syair di atas merupakan jawaban Tuan Syekh kepada Sultan Abdul Muluk dan Siti Rafiah yang berterima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan oleh keluarga alim itu kepada mereka.

Dengan jawabannya itu, Tuan Syekh secara tersirat hendak mengatakan bahwa bukan dia dan keluarganya yang menolong Rafiah berdua beranak, melainkan kesemuanya itu merupakan pertolongan Allah. Kebetulan mereka yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menolong istri Sultan Abdul Muluk dan anaknya. Oleh sebab itu, kita sebagai manusia makhluk Allah harus banyak bersyukur (berterima kasih) kepada-Nya. 

Tanpa kasih sayang dan pertolongan Allah, mustahil manusia mampu mengatasi kesulitan dalam kehidupannya. Dengan demikian, Tuan Syekh juga hendak mengingatkan bahwa orang yang banyak bersyukur kepada Tuhan menunjukkan kualitasnya sebagai manusia yang berkarakter mulia. Pasalnya, rasa syukur yang sesungguhnya lahir dari lubuk hati yang paling bersih. Ianya bukanlah kepura-puraan yang membuat jiwa semakin merintih.

Tuan Syekh memang pakar dalam ilmu agama. Tentulah dia tak menggunakan hujah tanpa makna. Dengan kata lain, tentulah ada referensi sahih yang dirujuknya.

“Sesungguhnya, Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan tauladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan, sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. Dan, dia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah, (maka) Allah telah memilihnya dan menunjukinya jalan yang lurus,” (Q.S. An-Nahl,120-121).

Jelas benarlah Tuan Syekh dengan ketinggian ilmu dan nasihatnya karena sumbernya memang berasal dari petunjuk Allah. Sesungguhnya, Siti Rafiah mampu mengalahkan musuh negeri dan dapat berkumpul kembali dengan keluarganya merupakan nikmat Allah kepada mereka sekeluarga, bahkan mereka sebangsa, karena negeri mereka kembali merdeka. 

Nikmat yang kecil saja harus disyukuri. Apatah lagi, nikmat yang sangat besar yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Sultan Abdul Muluk sekeluarga dan seluruh bangsa Barbari. Semakin banyak manusia bersyukur kepada Ilahi, nikmat yang diberikan-Nya semakin menjadi-jadi.  Perihal mustahaknya manusia bersyukur kepada Tuhan juga dapat dijumpai dalam SyairSinarGemala Mestika Alam (Haji dalam Malik dan Junus 2000, 123). Dalam bait syair ini ungkapan syukur kepada Allah langsung menggunakan bahasa Arab.

Bismillahi permulaan kalam
Alhamdulillah Tuhan seru alam
Selawatkan Nabi Sayidil Anam
Serta keluarganya sahabat yang ikram

Pada larik kedua bait syair di atas terekam kalimat, “Alhamdulillah Tuhan seru alam.” Ungkapan Alhamdulillah bermakna ‘Segala puji bagi Allah’. Ungkapan itu di dalam tamadun Melayu-Islam merupakan pernyataan rasa syukur kepada Allah karena beroleh nikmat dari-Nya. Dengan demikian, bait syair di atas juga berisi anjuran agar manusia senantiasa bersyukur kepada Allah. Pasalnya, kesyukuran itu menunjukkan kualitasnya sebagai manusia yang memahami cara menjaga perhubungan yang sepatutnya dengan Sang Pencipta. 

Kisah bersyukur menjadi semakin menarik bagi nurani yang terbuka. Tauladan inilah yang membuatnya semakin menggoda jiwa. Jelaslah bahwa ianya bukan ungkapan kosong tanpa makna.

Dikisahkan oleh Aisyah r.a. bahwa jika Rasulullah SAW shalat, Baginda berdiri sangat lama hingga kulit kakinya mengeras. Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapakah engkau sampai demikian? Bukankah dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, bukankah semestinya aku menjadi hamba yang bersyukur?” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Tauladan itulah yang diharapkan oleh Tuan Syekh agar diikuti oleh Sultan Abdul Muluk sekeluarga dan seluruh bangsa Barbari. Janganlah pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan karena sangat banyak nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka sebangsa.

Cobaan terjajah yang pernah dialami boleh jadi peringatan Allah kepada mereka yang mungkin pernah lalai dan atau telanjur terlena dengan kebesaran, kesejahteraan, dan kemakmuran yang dikira hanya karena kerja keras mereka sahaja. Semoga dengan selalu bersyukur kepada Allah, aib terjajah tak berulang mendera negara dan bangsa mereka.  

Manusia bersyukur karena sungguh-sunguh menyadari adanya nikmat dari Tuhan yang diperolehnya. Berhubung dengan itu, lisannya mengucapkan pujian kepada Allah karena kesadaran telah dianugerahi nikmat yang tiada berhingga. Hati dan jiwanya pula semakin memantapkan cintanya kepada Tuhan Yang Mahakuasa.  Oleh sebab itu, sekujur tubuhnya setia membaktikan ketaatan kepada-Nya. Nasihat Tuan Syekh memang sungguh memesona. Salam Aidiladha!*** 

Tinggalkan Balasan