Hamparan Pulau Paku (Pakoe) dan kawsan Teluk Keriting (perkamppungan di Teluk Keriting) di Tanjungpinang dalam peta alur perlayaran dan labuh jangkar di kawsaan Tanjungpinang dan sekitarnya tahun 1849. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

Kubu Teluk Keriting

WALAU Perang Riau Haji berakhir dengan kekalahan dan kemangkatan Raja Haji di Teluk Ketapang Melaka pada 18 Juni 1784, namun titik puncak terpenting dari peperangan terbesar di Nusantara sepanjang abad ke-18 itu terjadi di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784: ditandai dengan meledaknya kapal bendera VOC, Malakka’s Welvaaren.

Sepanjang perjalanan sejarah peperangan yang embrionya telah bermula sejak 1782 itu, terdapat banyak sekali titik-titik penting di Tanjungpinang yang terkait rapat dengan peristiwa tersebut. Salah satu titik penting itu adalah Teluk Keriting, atau Kampung Teluk Keriting yang letaknya berdepan-depan dengan Pulau Paku atau eiland Venus menurut peta-peta klasik Belanda .

Dalam sebuah disertasi berbahasa Belanda yang dipertahankan oleh sejarawan Reinout Vos di Universitas Utrecht, yang kemudian  diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Gentle Janus, merchant prince The VOC and the tightrope of diplomacy in Malay worls, 1740-1800 oleh Koninklijk Instituut voor Taal-. Land-en Volkenkunde (1993),  dijelaskan dengan panjang lebar ihwal Perang Riau itu.

Sejauh ini, Reinout Vos adalah satu-satunya sejarawan yang telah merekonstruksi secara lengkap sejarah perang Raja Haji itu dengan menggunakan bahan sumber primer dari kedua belah pihak yang berperang. Ia berhasil mengungkap sebab musabab peperangan yang ternyata sangat kompleks itu, dan menganalisa dampaknya terhadap pentas politik-ekonomi di Selat Melaka untuk jangka waktu yang panjang.

Namun demikian, tampaknya Reinout Vos, lupa mengungkap peran penting yang dimainkan oleh sebuah tempat bernama Teluk Keriting, yang terletak di sebelah Tenggara benteng Raja Haji yang berada di ketinggian puncak Bukit Tanjungpinang (di kawasan komplek rumah sakit Angkatan Laut, di Tanjungpinang, saat ini).

Dalam salah satu bab disertasinya yang diberi judul The 1783-1784 War (Vos, 1993: 147-163), yang khusus membahas peperangan di perairan Tanjungpinang dan Teluk Ketapang, Melaka, Reinout Vos membuat rekonstruksi sejarah peristiwa 6 Januari 1784 itu.

Menurut Reinout Vos, “Pada 6 Januari 1784, setelalu melalui sebuah persiapan yang matang dan panjang, pasukan VOC akhirnya mara ke hadapan dengan sebuah operasi pendaratan di kaki bukit Tanjungpinang, dalam upaya menembus bagian belakang benteng utama Raja Haji yang terletak di puncak dan lerengnya yang menghadap ke laut.

 Di pagi buta itu, kapal-kapal perang VOC berhanyut bersama pasang naik air laut di alur pelayaran sebelah Selatan (alur antara pulau Penyengat dan Tanjung Buntung) yang mengarah ke Tanjungpinang.”

Aslinya, Reinout Vos menulis sebagai berikut: “On 6 Janury 1784, after lengthy preparations, the VOC troop finally went ahead with the landing operation at Riau. In the early hours of the morning, the warships allowed themselves to float with the rising tide in the southern channel towards Riau.”

Apa yang terjadi setelah itu? Sebuah pertempuran laut yang sengit (fierce battle) antara pasukan VOC dan pasukan Raja Haji terjadi. Namun, ketika sinar mentari menyerlah di ufuk timur, perahu-perahu balur pasukan laut Raja Haji diperintahkan mundur.

Kapal-kapal VOC mengira semua itu pertanda awal kemenangan, dan kapal-kapal terus mara mendekati Teluk Riau sehinggalah kandas pada tebing-tebing batu (stone banks) di laut berhampiran Pulau Paku, menjelang menghampiri Bukit Tanjungpinang, yang dibangun khusus oleh pasukan Raja Haji sebagai bagian dari strategi perang dan pertahanan.

Dalam laporan penyelidikan tentang sebab-sebab kekalahan VOC di Tanjungpinang pada 6 Januari 1784 yang dilakukan oleh Hoynck van Papendrecht disebutkan,  kapal-kapal perang VOC yang lain mampu melepaskan diri dari tebing-tebing batu, perangkap yang dibuat Raja Haji dan pasukannya.

Namun demikian, malang tak dapat dielak oleh kapal komando atau kapal bendera (flagship) Malakka’s Welvaaren yang dipimpin oleh Kommissaris Arnoldus Lemker yang penuh dengan pasukan, senjata meriam, serta obat bedil (mesiu). Kapal terbaik dan terbesar dalam ekspedisi di medan perang di laut Tanjungpinang itu tetap terjepit tak dapat melepaskan diri dari tebing-tebing batu yang dibuat oleh pasukan Raja Haji.

Situasi ketika itu semakin memburuk bersamaan dengan pasang surutnya air laut. Sementara itu, pasukan Raja Haji memanfaatkan kesempatan yang mahapenting itu dengan membuka tembakan demi tembakan ke arah Malakka’s Welvaaren yang malang, dari benteng pertahanan mereka di Bukit Tanjungpinang.

Menurut Reinout Vos: dikarenakan panic, Kommissaris Lemker, Komandan Malakka’s Welvaaren, mengirim sebuah detasemen untuk mendarat di Tanjungpinang menggunakan sebuah sekoci melalui bukit Tanjungpinang dalam rangka membungkam benteng-benteng yang ada di bukit itu, dari belakang..

Namun yang terjadi sebaliknya. Belum sempat anggota detasemen tanpa sepatu boot militer (bootless) itu berhasil mendarat, sesuatu yang tak diduga sebelumnya telah terjadi: sebuah tong mesiu (the powder keg) yang terdapat di atas geladak Malakka’s Welvaaren terkena tembakan sebua peluru, yang diikuti dengan ledakan bak detuman halilintar yang paling dahsyat. Akibatnya,  Malakka’s Welvaaren pecah berkeping-keping.

Peristiwa yang terjadi pada 6 Januari 1784 itu menyebabkan penyerangan VOC terhadap Riau (Tanjungpinang) dan keseluruhan ekspedisi militer VOC itu berakhir dengan memalukan: “Het was beschamend”, ungkap sorang sejarawan besar Belanda, H. J. de Graaf, dalam bukunya yang sangat terkenal, Geschiedenis van Indonesie (Sejarah Indonesia: Bandung, 1949).

Namun persoalannya adalah, peluru dari meriam di benteng mana yang mempermalukan VOC-Belanda pada peristiwa 6 Januari 1784 itu? Reinout Vos tak menjelaskan hal ini. Begitu juga setumpuk arsip-arsip Belanda dan lembaran-lembalaran laporan penyelidikan oleh Hoynck van Papendrecht atas peristiwa kekalahan VOC dalam perang laut di Tanjungpinang itu.

Lantans, benteng mana satu dari sekian banyak benteng Raja Haji yang telah menyebabkan hancurnya kapal komando Malakka’s Welvaaren pada 6 Januari 1784? Jawaban atas pertanyan itu dinyatakan Raja Ali Haji dalam karyanya yang berjudul Tuhfat al-Nafis. Penjelasan Raja Ali Haji tentang hal ini masuk akal, apalagi bila kaidah kritik sumber dalam penyelidikan sejarah modern diterapkan ke atasnya. Mengapa? Karena Raja Ali Haji mendapatkan bahan informasi untuk menjelaskan peristiwa itu dari pelaku dan sekaligus saksi mata atas peristiwa itu. Antara lain ia mencatat kesaksian orang-orang seperti Encik Sumpok, Syahbandar Bopeng, dan Encik Kaluk, yang semuanya terlibat dalam peristiwa itu.

Seperti telah dinukilkan oleh Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis, kunci yang membuat VOC-Belanda dipermalukan pada 6 Januari 1784 itu berada pada sebuah kubu atau benteng  di Teluk Keriting.

Dalam peristiwa itu, kubu Teluk Keriting pada mulanya nyaris tewas karena kehabisan mesiu atau ubat bedil. Adalah Syahbandar Bopeng dan Encik Kaluk yang berhasil menyelamatkan satu tong mesiu dari beberapa tong yang dikirim ke benteng Teluk Keriting, setelah sampan mereka karam dihantam meriam kapal VOC.

Dengan memanfaatkan satu tong mesiu itulah peluru dari meriam kubu Teluk Keriting berhasil meluluh-lantakkan kapal bendera Malakka’s Welvaaren pada 6 Januari 1784. Itulah puncak kemenangan Raja Haji yang telah mempermalukan Belanda, kata sejarawan H.J. de Graaf.

Oleh karena itulah, sudah sepatutnya penduduk Kampung Teluk Keriting pada masa kini berbangga hati. Mengapa? Karena kawasan Kampung Teluk Keriting punya andil yang besar dalam peristiwa 6 Januari 1784 yang kini telah dijadikan sebagai momentum historis hari jadi Tanjungpinang, dan diperingati setiap tahunnya. Namun sayangnya kebanggan itu belum tampak pada setiap peringatan hari jadi Tanjungpinang. Mungkin hal ini disebabkan karena ketidaktahuan.

Titik lokasi kubu bersejarah itu harus dicari! Pemerintah Kota Tanjungpinang juga harus memikirkan untuk membuat mercu tanda pada salah titik di Kampung Teluk Keriting. Apalagi ketika bagian dari kawasan kampung bersejarah itu turut dilintasi oleh proyek Gurindam 12 yang menelan miliaran Rupiah. Hal ini penting sempena mengenang peran penting sebuah kubu Raja Haji Fisabilillah di kampung Teluk Keriting dalam peristiwa 6 Januari 1784***

Artikel SebelumDi Negeri Akhirat Boleh Selamat
Artikel BerikutHang Nadim
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan