SANGAT beruntunglah manusia yang mampu menjaga perhubungan dirinya dengan Allah. Apatah lagi, untuk menjaga perhubungan itu, dia senantiasa berjuang menegakkan agama Allah. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa agama yang benar di sisi Allah adalah agama yang memang diturunkan-Nya kepada mahkluk-Nya yang diberi hidayah. Dalam bimbingan Allah, perjalanan hidup manusia pasti akan mudah.

Raja Ali Haji rahimahullah dalam karya beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), antara lain pada bait 1.792, menuturkan kisah manusia, kebetulan juga seorang pemimpin, yang sangat setia berjuang mendirikan agama Allah. Dengan kesadaran dan keyakinannya itu, sang pemimpin menempatkan pembangunan keagamaan sebagai sektor utama dalam kepemimpinannya. Oleh sebab itu, dia membina kerja sama yang baik dengan para ulama

Baginda pun adil lagi saksama
Sangatlah keras mendirikan agama
Barang yang ada diajarkan ulama
Sekalian itu baginda terima

Tokoh yang dikisahkan dalam bait syair di atas adalah Sultan Abdul Muluk, penguasa Negeri Barbari. Berasaskan keyakinannya akan kebenaran ajaran agamalah, dia menempatkan  dan menerapkan keadilan sebagai nilai utama dalam kepemimpinannya. Pasalnya, agamanya mengajarkan bahwa pemimpin yang benar adalah mereka yang mampu berlaku adil kepada bawahan dan rakyat sekaliannya. Dengan kepemimpinannya itu, Sultan Barbari menjadikan perjuangan menegakkan agama Allah sebagai karakter diri dan kepemimpinannya. Alhasil, dia telah berupaya menempatkan dirinya tiada berjarak dengan Tuhan. Pada gilirannya, perjalanan hidup dan kepemimpinannya senantiasa dalam bimbingan Allah. 

Kisah pemimpin yang berjuang menegakkan agama Allah juga terdapat dalam Tuhfat al-Nafis. Kali ini sang pemimpin harus berhadapan dengan manusia yang telah dirasuki oleh iblis. Banyaklah orang yang dipengaruhinya sehingga keimanan mereka nyaris habis kikis.

“Alkisah kata sahibul hikayat adalah pada masa baginda Sultan Mahmud kerajaan di dalam negeri Lingga dan Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar di negeri Riau, maka datang seorang lebai orang (…) ke negeri Lingga, namanya Lebai Tamat. Maka mengaku dirinya orang alim pada ilmu hakikat mengajarlah ia akan setengah orang-orang Lingga akan ilmu hakikat, dinamakannya ilmunya itu ‘Isa’ konon, dan banyaklah perkataan syathīyăt, hingga akhir-akhirnya pekerjaannya jatuhlah seperti i’tiqăt mulhīd mengaku dirinya Allah taala. Maka banyaklah muridnya mengikut i’tiqăt itu serta sehari-hari berkumpullah orang-orang kepadanya, setengah orang mengatakan ia keramat. Ada pula ia mengajar bicara istinjă’ dan bersuci yang datang burung dari syurga namanya s-r-a-h-n atau s-a-r-h-n. Itulah yang mensucikan junub dan lainnya. Dan banyak lagi konon ajarannya yang mukhălif al-syar’. Dan apabila ia berkayuh maka dikayuhkan oleh muridnya sampai berdikir, ‘Habīb al-Rahmăn.’ Maka jadilah besar pekerjaan itu.

Syahadan pada masa itu Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar di dalam negeri Lingga maka datanglah segala pegawai-pegawai negeri Lingga itu memaklumkan kepada Yang Dipertuan Muda, maka murkalah Yang Dipertuan Muda. Maka Lebai Tamat itu dengan segala murid-muridnya ditaubatkan serta ditakzir digondolkan kepalanya. Kemudian daripada itu, maka lebai itu pun keluarlah dari Lingga dengan beberapa muridnya berlayar ke Lampung. Maka mengaku pula ia mengatakan dirinya Yang Dipertuan Muda al-Marhum Raja Haji al-syahid fi sabil Allah hidup semula….

Maka di dalam itu besarlah pekerjaan itu. … Maka murkalah Sultan Mahmud akan lebai itu. … lalu disuruhnya bunuh lebai itu serta murid-muridnya…,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 261-262).

Nukilan di atas merupakan kisah perjuangan dua tokoh pemimpin Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Mereka adalah Yang Dipertuan Besar Sultan Mahmud Riayat Syah dan Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar. Kedua pemimpin itu harus berjuang keras menegakkan agama Allah yang akan diselewengkan oleh Lebai Tamat. Pembawa ajaran sesat yang mengaku ulama itu hendak meruntuhkan nilai-nilai agung agama Allah dan bertindak nyaris mengakui dirinya sebagai tuhan. Setelah dihukum “buang negeri”, dia pun masih bersiasat dengan mengaku dirinya jelmaan Allahyarham Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang, Raja Haji Fisabilillah, yang adalah ayahanda Yang Dipertuan Muda Raja Jaafar. 

Jika ditelusuri lebih jauh, perbuatan Lebai Tamat itu jelas bermotif politik. Pasalnya, dia berani mengaku sebagai YDM Raja Haji Fisabillah yang hidup kembali. Oleh sebab itu, karena membahayakan keimanan rakyat, pada akhirnya dia harus menerima hukuman yang terberat. 

Kedua tokoh pemimpin yang berhadapan dengan ulama palsu itu harus berjuang keras menjaga kemurnian nilai-nilai dan menegakkan agama Allah. Konsekuensi itu harus diambil oleh Sultan Mahmud Riayat Syah dan Raja Jaafar sebagai tanggung jawab mereka kepada Allah. Jika tidak, seluruh negeri akan terpapar ajaran sesat yang mengundang murka Allah.

Mengapakah tokoh-tokoh yang diperikan di atas berjuang keras untuk mempertahankan nilai-nilai dan mendirikan agama Allah dalam kepemimpinan mereka? Dalam hal ini, apakah dasar yang dirujuk dan dijadikan pedomannya?

“Hai, orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong (agama) Allah seperti Isa ibnu Maryam telah berkata kepada para pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, “Kamilah penolong-penolong agama Allah …,” (Q.S. As-Saff, 14).

Petunjuk Allah itulah, antara lain, yang dipedomani oleh manusia yang beriman dalam berjuang menegakkan agama Allah. Tak sedikit pun mereka berasa gentar dalam berjuang karena mereka yakin akan pertolongan Allah. Dengan demikian, perhubungan mereka dengan-Nya akan diperteguh oleh Allah. Adakah makhluk yang mampu membinasakan manusia yang dilindungi oleh Allah?

Para kekasih Allah memang tak pernah berhenti berjuang menegakkan agama Allah dan nilai-nilai mulianya. Pasalnya, dalam setiap zaman senantiasa ada manusia yang berupaya merusaki nilai-nilai mulia ajaran Tuhan Yang Maha Esa. Dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik dan Junus (Ed.) 2000, 131),  antara lain bait 88, dikisahkan perjuangan tokoh utamanya. 

Hingga sampai pada khalifahnya
Mendirikan agama sangat teguhnya
Syam dan Rum Parsi sertanya
Dilanggar diperang dialahkannya

Bait syair di atas berkisah tentang perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Allah. Baginda Rasul berjuang karena ketaatan kepada Allah dan kecintaan kepada umat manusia. Perjuangan itu Baginda lakukan karena hanya dengan melaksanakan ajaran agama yang benar di sisi Allah sajalah manusia dapat selamat, baik di dunia maupun di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, “Masih akan tetap ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan perkara yang hak hingga orang yang terakhir dari mereka memerangi dajjal,” (H.R. Abu Daud).

Jelas bangat petunjuk Rasulullah. Perjuangan menegakkan agama Allah akan terus berlanjut di dunia ini. Generasi pejuang terakhir adalah mereka yang akan menghadapi para dajjal. Kenyataan itu menunjukkan bahwa akan terus ada makhluk (apa pun wujud dan namanya) yang berupaya menyelewengkan dan atau melenyapkan nilai-nilai kebenaran agama Allah.

Perjuangan menegakkan agama Allah sesungguhnya bermatlamatkan kehidupan di bawah limpahan cahaya rahmat. Dalam pancaran sinar itu kehidupan berjalan sempurna lagi nikmat. Itulah sebabnya, cahaya kemuliaan dan kebenaran tetap dan terus diupayakan oleh syaitan dan para pengikutnya untuk ditutup agar kehidupan menjadi sekarat.

Akan tetapi, manusia yang setia menjaga perhubungan dengan-Nya dijamin oleh Allah pasti selamat.  Karena dipimpin oleh iblis, kisah Lebai Tamat baru benar-benar tamat ketika dunia telah kiamat. Dan, perkara itu patut diambil ingat, baik oleh pemimpin maupun rakyat.***

Tinggalkan Balasan