Sumber : https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Statues_of_Singaporean_Pioneers_at_the_Raffles%27_Landing_Site_-_three-quarter_front_view.jpg

Oleh : Samson Rambah Pasir

SEPERTINYA Sang Nila Utama, zuriat Raja Iskandar Zulkarnain itu, tidak ditakdirkan menjadi raja di Tanah Bentan! Takdir telah mengiringnya untuk berkerajaan di tempat lain. Apakah sumpah setia antara raja dan rakyat yang pernah diikrarkan Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun semasa di Palembang dulu tetap dijunjung tinggi? Atau malah dilanggar? Cerita apa saja yang melegenda dalam Kerajaan Singapura selama diterajui zuriat Raja Iskandar Zulkarnain?

Begini kisahnya.   

Berpesiar ke Tanjung Bemban

Pada suatu ketika, rombongan istana Kerajaan Bentan berpesiar sekaligus berburu rusa dan pelanduk ke Tanjung Bemban dalam kawasan Pulau Batam. Rombongan itu teramat ramai. Lancang kenaikan (perahu kebesaran) Sang Nila Utama diiringi berbagai perahu seperti pelang peraduan, bidar kekayuhan, jong perbujangan, jong penanggahan, teruntum penjalaan, dan terentang permandian yang berisi para pengikut beliau. Sang Nila Utama didampingi Demang Lebar Daun, Indra Bupala, dan Arya Bupala. Ketika Sang Sapurba meneruskan misi menyatukan bekas Mandala Kerajaan Sriwijaya ke Kuantan dan Pagaruyung, Demang Lebar Daun tinggal di Kerajaan Bentan dan menjadi penasehat Sang Nila Utama.

Sesampainya di Tanjung Bemban rombongan petinggi istana Bentan itu pun bersenang-senang dan bersukaria bermain di pantai. Ada yang berenang dan memetik bunga karang. Ada juga yang duduk di pasir sambil bersenda-gurau. Sebagiannya ada pula yang memetik buah pisang dan merebusnya untuk dimakan beramai-ramai. Para dayang-dayang yang jarang keluar istana melepas kejenuhan dengan mencari siput, menggali pasir, dan memetik bunga bakau lalu dirangkai dan kemudian dijadikan sunting.  

Sedangkan Sang Nila Utama dan pengiringnya serta sebagian besar kaum lelaki masuk ke dalam hutan buat berburu. Ketika mengejar rusa buruannya di kawasan dataran tinggi dalam hutan Tanjung Bemban, Sang Nila Utama sampai ke sebuah batu besar lalu berdiri di sana. Diedarnya pandang ke sana ke mari melacak buruannya yang lari. Tanpa sengaja beliau terpandang ke arah utara barat laut. Nun di sana, menjulur sehamparan pantai berpasir putih yang sangat indah. Sang Nila Utama pun bertanya kepada Indra Bupala yang mengiringinya, pulau apa gerangan yang berpasir putih dan indah itu. Dijawab Indra Bupala, Temasik namanya.

Sang Nila Utama berfirasat, di Pulau Temasek itu bagus didirikan kerajaan. Lalu diperintahkannya kepada Indra Bupala untuk menyiapkan perahu lancang kenaikan kerajaan. Tak lama berselang rombongan kecil Kerajaan Bentan berlayar menuju Pulau Temasik.

Berlayar ke Temasik

Ketika berada di tengah laut, tiba-tiba angin bertiup kencang diiringi hujan yang sangat lebat. Guruh dan petir pun sambar menyambar. Lancang kenaikan yang ditumpangi Sang Nila Utama dan rombongan terombang-ambing tak berdaya. Air pun mencurah masuk dan tak tertimba. Dalam perkiraan sang nakhoda yang dipanggil Penghulu Kenaikan itu, lancang kenaikan bakal tenggelam bila tidak segera diambil tindakan darurat.

Penghulu Kenaikan pun memohon kepada Sang Nila Utama kiranya berkenan memerintahkan kepada seluruh penumpang untuk membuang segala isi perahu yang memberatkan. Setelah semua barang-barang dan harta-benda dibuang ke laut, lancang kenaikan tetap terancam dan bakal tenggelam tak lama lagi. Penghulu Kenaikan yang sudah berpengalaman mengemudikan perahu kebesaran kerajaan, kemudian mengusulkan pendapatnya kepada Sang Nila Utama, sebagaimana dikutip dari Sulalatus Salatin[1]:

“Tuanku, kepada bicara patik, kalau sebab mahkota kudrat ini juga gerangan maka kenaikan ini tiada timbul, karena segala arta (harta) dalam perahu ini telah habislah sudah dibuangkan. Jikalau mahkota itu tiada dibuangkan tiadalah kenaikan ini terpebelakan lagi oleh patik semua.”             

Menurut Penghulu Kenaikan, Pulau Temasek yang mereka tuju tidak bersedia menerima kedatangan seorang raja yang memakai mahkota atau membawa daulat. Demi keselamatan seluruh penumpang, Sang Nila Utama melepaskan mahkota Kerajaan Bentan yang dia kenakan dari jemala atau kepalanya lalu membuangnya ke laut. Tak lama berselang, angin ribut dan hujan lebat pun reda. Guruh dan petir tiada lagi menyambar. Lancang kenaikan pun perlahan mengapung normal di permukaan gelombang yang kian mengecil. Pantai berpasir putih semakin dekat. Lancang kenaikan pun didayung kian merapat ke pantai. Akhirnya sampai juga rombongan Sang Nila Utama di Pulau Temasik. Rombongan dari Kerajaan Bentan itu kembali berpesiar sebagaimana dinukilkan Sejarah Melayu[2] :

Ada yang mandi, bermain pasir, dan memetik bunga karang. Setelah selesai menemani istri tercinta bersenang-senang dan bersukaria di pantai, Sang Nila Utama kemudian naik ke darat, berjalan ke tanah terbuka dekat sebuah kuala, Kuala Temasik namanya. Tiba-tiba dari tepi hutan melintas seekor binatang teramat tangkas dengan bulu tubuh berwarna kuning kemerahan, bulu kepalanya berwarna hitam dan bulu dadanya berwarna putih. Kira-kira sebesar kambing randuk atau kambing gunung ukurannya. Binatang itu lesap seketika saat melihat Sang Nila Utama dan rombongan berada di situ.

Bermula dari Singa

Sang Nila Utama lalu bertanya kepada Demang Lebar Daun, apa kiranya yang melintas itu. Dijawab Demang Lebar Daun bahwa yang melintas itu adalah binatang bernama singa. Sang Nila Utama pun bertitah akan mendirikan kerajaan di Pulau Temasik dengan nama: Kerajaan Singa Pura.

Sang Nila Utama kemudian memerintahkan menjemput rombongan kerajaan yang masih berada di Tanjung Bemban serta mengirim utusan ke Bentan mengabari Permaisuri Iskandar Syah bahwa dirinya akan mendirikan kerajaan di Pulau Temasik.  

Ketika Sang Nila Utama, zuriat Raja Iskandar Zulkarnain itu, mendirikan Kerajaan Singa Pura (berikutnya ditulis Singapura), ribuan rakyat Bentan dikerahkan Permaisuri Iskandar Syah membantu Sang Nila Utama. Selain itu, Permaisuri Iskandar Syah juga mengirim bahan makanan, gajah pekerja, dan gajah tunggangan. Begitulah kasihnya Permaisuri Iskandar Syah kepada Sang Nila Utama menantunya itu.          

Dalam perjalanan berkerajaan di kawasan Tanah Semenanjung dan Kepulauan Riau, peran orang-orang Bentan sangat penting karena dikenal rajin dan pekerja keras. Selain rajin dan pekerja keras, orang-orang Bentan juga dikenal pemberani dan setia, sehingga Bentan banyak melahirkan para pendekar, laskar, dan pahlawan.

Selain Orang Bentan, Orang Selat atau Suku Laut yang hidup berpindah-pindah atau nomaden di kawasan perairan sekitar Pulau Temasik juga terlibat, dan peran mereka dicatat dalam banyak dokumen sejarah turut membantu Sang Nila Utama mendirikan Kerajaan Singapura.

Kelak Sang Nila Utama bergelar Sri Tri Buana atau Raja Tiga Buana, untuk mengabadikan sejarah perjalanannya sebagai raja di tiga buana, yaitu Palembang, Bentan, dan Singapura.

Tak lama berselang Pulau Temasik atau Kerajaan Singapura berkembang pesat. Pelabuhan ditata sedemikian rupa sehingga ramai kapal dagang yang singgah. Penduduknya pun terus bertambah. Nama Kerajaan Singapura pun tersohor ke mana-mana.   

Sementara itu, semangkatnya Permaisuri Iskandar Syah, Kerajaan Bentan dipimpin Tun Telanai dengan gelar Datuk Bendahara Bentan. Dengan demikian, Kerajaan Bentan berada di bawah Kerajaan Singapura. Tun Telanai merupakan putra Demang Lebar Daun. Ada juga sumber menyebutkan Tun Telanai merupakan putra Arya Bupala.

Penerus Sri Tri Buana

Sang Nila Utama atau Raja Singapura pertama yang bergelar Sri Tri Buana menerajui Kerajaan Singapura dalam masa 48 tahun. Beliau mangkat dua tahun setelah berpulangnya permaisuri kerajaan Wan Sri Beni dan penasehat kerajaan Demang Lebar Daun.

Pengganti Sri Tri Buana naik tahta putranya bernama Sri Pikrama Wira sebagai Raja Singapura kedua. Sedangkan putra Sri Tri Buana yang kedua menjabat Bendahara dengan gelar Tun Permatah Permuka Berjajar. Sementara Perdana Menteri dijabat Tun Perpatih Permuka Sekalar yang merupakan putra Demang Lebar Daun.

Sri Pikrama Wira duduk di atas kerajaan selama 15 tahun. Beliau kemudian digantikan putranya Raja Muda dengan gelar Sri Rana Wikrama sebagai Raja Singapura ketiga. Pada masa pemerintahan Sri Pikrama Wira dan Sri Rana Wikrama, Kerajaan Singapura kian maju. Pelabuhan Singapura tidak hanya disandari kapal-kapal dagang Melayu, tetapi juga kapal-kapal dagang dari Cina dan India. Bahkan, di masa itu, para pedagang Melayu sudah banyak yang maju dan setara dengan pedagang yang datang dari Cina dan India.

Sri Rana Wikrama duduk di atas kerajaan selama 13 tahun. Beliau kemudian digantikan putranya dengan gelar Paduka Sri Maharaja sebagai Raja Singapura keempat. Paduka Sri Maharaja duduk di atas kerajaan selama 12 tahun 6 bulan. Menggantikan beliau adalah putranya bernama Prameswara sebagai Raja Singapura kelima.

Pisau dan Subang Pemicu Perang

Semasa Kerajaan Singapura di bawah penadbiran Raja Singapura kedua Sri Pikrama Wira, datang utusan membawa surat dari Betara Majapahit. Di dalam amplop surat tersebut terlampir seutas tali halus teramat tipis sepanjang tujuh depa. Tali yang sangat kuat dan tak mempan dipotong pisau itu digulung sedemikian rupa menyerupai subang atau anting-anting. “Adakah tali sekuat dan seindah ini di Singapura? Bila tidak, jadikanlah anting-anting budak perempuan?” demikian lebih kurang isi surat dari Betara Majapahit tersebut.

Sri Pikrama Wira kemudian berembuk dengan para petinggi istana untuk mencermati isi surat dan makna simbolik tali tersebut. Akhirnya ditemukan kata sepakat, surat dan tali tersebut bermakna, Majapahit menganggap Singapura sebagai budak atau anak perempuan yang selayaknya memakai subang atau anting-anting. Dengan demikian, Singapura belum setara dengan Majapahit sehingga Kerajaan Singapura harus takluk kepada Kerajaan Majapahit.

Sri Pikrama Wira sangat tersinggung tetapi tetap tenang. Sedikit pun beliau tidak menampakkan amarahnya. Disuruhnya hulubalang membawa seorang budak atau anak lelaki ke dalam istana dan dimintanya sebilah pisau cukur yang teramat tajam. Budak lelaki itu lalu dicukurnya di depan utusan Majapahit. Setelah kepala budak lelaki itu gundul, Sri Pikrama Wira pun membungkus pisau cukur tersebut dan memasukkannya bersama selembar surat ke dalam amplop lalu diserahkannya kepada utusan Majapahit. “Mungkin banyak budak-budak di Majapahit yang memerlukan pisau ini untuk bercukur!” demikian lebih kurang isi surat dari Raja Singapura yang dikirim bersama pisau cukur itu untuk disampaikan kepada Betara Majapahit. Utusan Majapahit pun pulang.

Betara Majapahit sangat tersinggung dan berang setelah membaca surat dan memaknai pisau cukur teramat tajam kiriman Raja Singapura. Tak lama berselang Majapahit mengirim armada perangnya menyerang Singapura. Setelah pasukan Kerajaan Majapahit sampai di Singapura, terjadilah perang dahsyat di laut dan di darat. Menggambarkan suasana perang tersebut, Sulalatus Salatin[3] mencatat begini:

Maka terlalu ramai, gemerincing bunyi segala senjata, terlalu azamat bunyi tempik segala hulubalang juga kedengaran, guruh bunyi sorak tempik segala rakyat itu, tiada sangka bunyi lagi bunyinya. Daripada kedua pihak rakyat itu pun banyaklah mati. Darah pun banyaklah tumpah ke bumi.

Perang itu akhirnya dimenangkan dengan gemilang oleh laskar Kerajaan Singapura. Tentara Kerajaan Majapahit yang tersisa, berlayar pulang ke Majapahit menelan kekalahan pahit.  

Tersebab Zuriat Iskandar Zulkarnain

Seletah berhasil dengan gemilang memukul mundur serangan Majapahit yang pada masa itu terkenal sebagai kerajaan besar dan kuat, nama Kerajaan Singapura pun kian terkenal dan menjadi sebutan, bahkan sampai ke negeri-negeri di India dan Cina. Merasa setara dengan kerajaan-kerajaan besar di masa itu, Sri Pikrama Wira pun mengirim utusan ke Benua Keling melamar Tuan Putri Talla Puncadi, putri Jambuga Rama Mendeliar yang memerintah kerajaan besar bernama Benca Negara, untuk dinikahkan dengan putranya Raja Muda. Adapun Jambuga Rama Mendeliar merupakan putra Adiraja Rama Mendeliar yang merupakan putra Raja Suran. Raja Suran adalah juga ayahanda Sang Sapurba, kakek Sri Pikrama Wira.

Dengan demikian, Tuan Putri Talla Puncadi dari Kerajaan Benca Negara dan Raja Muda dari Kerajaan Singapura sama-sama zuriat Raja Suran. Menyadari yang melamar putrinya sama-sama berdarah diraja yang bersusur-galur dari Raja Iskandar Zulkarnain, Jambuga Rama Mendeliar menerima lamaran tersebut. Padahal, sebelumnya sudah banyak para putra raja dari kerajaan-kerajaan besar yang datang melamar, akan tetapi ditolak karena bukan zuriat Raja Iskandar Zulkarnain[4].

Begitu sukacitanya Raja Jambuga Rama Mendeliar, penguasa kerajaan besar di Benua Keling bernama Benca Negara, itu putrinya dilamar untuk dinikahkan dengan putra mahkota Kerajaan Singapura, beliau berucap penuh sukacita kepada utusan Kerajaan Singapura sebagaimana disebutkan Sulalatus Salatin[5]:

“Berkenanlah kepada kita akan kehendak saudara kita itu, tetapi janganlah saudara kita bersusah menyuruhkan anakanda kemari, biarlah kita mengantarkan anak kita ke Singapura.”

Tak lama berselang, rombongan dari Benca Negara datang ke Singapura mengantarkan Tuan Putri Talla Puncadi dan disambut penuh sukacita oleh Sri Pikrama Wira serta segenap rakyat sebagaimana adat menyambut kedatangan putri raja besar. Lalu dilangsungkanlah pernikahan dan kenduri besar-besaran sebagaimana adat orang-orang besar menikah yang dihadiri para raja-raja besar pula. Kian besar dan terkenallah nama Kerajaan Singapura. 

Badang Perkasa

Sebuah catatan penting di masa pemerintahan Raja Singapura ketiga Sri Rana Wikrama, muncul seorang tokoh terkenal dalam legenda Melayu, yaitu orang kuat bernama Badang yang mengabdi sebagai hulubalang dalam Kerajaan Singapura. Badang yang berasal dari Sayung (dalam wilayah Johor) itu dikenal memiliki tenaga yang sangat kuat layaknya Hercules dalam mitologi Yunani. Selain kuat Badang juga dikenal kebal. 

Berkaitan dengan Badang yang bertenaga kuat, di antaranya Sulalatus Salatin[6] mencatat begini:

Setelah terdengarlah oleh baginda Seri Rana Wikrama (akan keperkasaan Badang) maka disuruh baginda panggil Badang itu, dijadikan baginda hulubalang. Ialah yang dititahkan baginda merentangkan rantai (seorang diri) yang menjadi batu rantai segala orang itu supaya kapal jangan beroleh lalu dari Singa Pura.

Sedangkan tentang Badang yang kebal, di antaranya Sulalatus Salatin[7] menulis begini:

Apabila raja akan santap maka Badang disuruh baginda mengambil ulam kuras di kuala Sayung. Maka Badang pergi itu seorang orangnya, pelangnya panjang dulapan, galahnya batang kempas sebatang. Setelah Badang sampai ke kuala Sayung maka dipanjatnya kuras itu, maka dahan kuras itu pun patah. Maka Badang itu pun jatuh, kepalanya terhempas pada batu. Maka batu itu pun belah, kepala Badang itu tiada belah. Sekarang ada batu itu di kuala Sayung. Galah dan pelangnya itu pun ada lagi datang sekarang.

Selama mengabdi di Kerajaan Singapura, Badang banyak membantu kerajaan, terutama dalam menjaga keamanan negeri serta mengharumkan nama Singapura melalui kekuatannya. Pada masa itu Badang amat disegani para hulubalang dari negeri-negeri Melayu yang lain, bahkan para jagoan dari negeri-negeri di India dan Cina. Ini bermula sejak Badang berhasil mengalahkan jagoan dari kerajaan di India dan hulubalang dari Kerajaan Perlak.

Pada suatu masa Raja dari India pernah mengirim jagoannya ke Singapura untuk bertarung dengan Badang membawa tujuh buah kapal sebagai taruhan. Sebaliknya, bila Badang kalah, Kerajaan Singapura harus menitipkan tujuh buah kapal pula kepada jagoannya itu ketika akan pulang ke negerinya. Badang berhasil mengalahkan lawannya sehingga jagoan dari India itu pulang ke negerinya tanpa mempersembahkan sebuah kapal pun kepada rajanya. Semakin tersohorlah nama Badang.

Hulubalang dari Kerajaan Perlak tak terima nama Badang berkibar dan menenggelamkan reputasinya sebagai hulubalang terkuat di negeri-negeri Melayu. Kepada Raja Perlak, hulubalang bernama Bendarang itu memohon izin untuk bertanding melawan Badang. Raja Perlak pun merestui dan memerintahkan kepada orang kepercayaannya Perpatih Pandak membawa Bendarang ke Singapura. Setibanya di Singapura, rombongan Perpatih Pandak dijamu makan malam di istana. Badang dan Bendarang duduk bersisian dan bertindih lutut pada jamuan makan malam untuk menghormati tamu dari Kerajaan Perlak tersebut. Badang menekan paha Bendarang dengan lututnya sambil menyuap hidangan. Sedangkan Bendarang meringis kesakitan tanpa sempat menyentuh jamuan yang dihidangkan barang sesuap. Sampai jamuan makan malam itu usai, Bendarang tak berhasil melepaskan pahanya dari kuncian lutut Badang.

Selepas jamuan makan malam di istana, Bendarang menghadap Perpatih Pandak dan memohon agar membatalkan pertarungannya menghadapi Badang esok harinya. Nyali Bendarang telah ciut karena merasakan berat dan kuatnya tenaga Badang ketika menindih pahanya ketika makan malam itu. Pertarungan akhirnya dimenangkan Badang tanpa bertanding di arena yang sesungguhnya. Sejak itu Bendarang dan Badang bersahabat karib. Hubungan Kerajaan Singapura dan Kerajaan Perlak pun semakin baik.

Hulubalang Badang sangat disegani oleh kawan maupun lawan karena kesantunannya. Selain itu Badang juga rendah hati. Badang yang terkenal kuat dan kebal sangat disayangi raja karena kesetiaannya. Kalangan istana juga menyenangi hulubalang dari Sayung itu karena pengabdiannya. Hulubalang Badang adalah sosok ideal seorang rakyat yang dituntut setia kepada rajanya tanpa syarat. Kelak, setelah meninggal, Badang dimakamkan di Pulau Buru[8]. Kebesaran namanya tetap dikenang sepanjang masa dan melegenda sampai kini.

Singapura Dilanggar Todak

Sampai pada masa pemerintahan Raja Singapura ketiga Sri Rana Wikrama, sumpah setia antara raja dan rakyat yang pernah diikrarkan Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun semasa di Palembang dulu, masih terjaga dengan baik. Namun, semasa pemerintahan Raja Singapura keempat Paduka Sri Maharaja, terjadi sebuah peristiwa fenomenal yang dikenal dengan sebutan “Singapura Dilanggar Todak” dan diyakini sebagai bala atau bencana akibat pelanggaran sumpah setia pertama dalam Kerajaan Singapura yang diterjaui zuriat Raja Iskandar Zulkarnain itu.

Ribuan ikan todak (xiphias gladius) menyerang para nelayan yang tengah melaut dan siapa saja yang berada dan melintas di sepanjang pantai yang mengelilingi Negeri Singapura. Ribuan rakyat mati. Peristiwa tersebut sangat menggemparkan Kerajaan Singapura. Menggambarkan bala bencana tersebut, Sulalatus Salatin[9] mencatat begini:

Maka segala orang di pantai itu dilompatinya oleh ikan todak. Jikalau kena dadanya, terus, lalu mati, jikalau kena lehernya, terpelanting kepalanya, lalu mati dan jikalau kena pinggangnya, terus, lalu mati. Maka banyaklah orang dibunuhnya oleh todak itu. Maka orang pun gemparlah berlarian mengatakan, “Todak datang menyerang kita, terlalu amat banyak sudah orang kita dibunuhnya!”

Bala bencana Singapura dilanggar todak bermula dari tragedi dibunuhnya seorang ulama dari Aceh bernama Tun Jana Khatib atas perintah Paduka Sri Maharaja. Sebelumnya Tun Jana Khatib yang berilmu tinggi itu menyulap batang pinang di depan istana yang cuma sebatang berubah menjadi dua batang. Permaisuri sangat terkesima dan kagum melihat kejadian itu. Namun Paduka Sri Maharaja merasa cemburu karena sang ulama penyebar agama Islam itu telah bertindak lancang mengeluarkan ilmunya di depan permaisuri. Berkenan dengan Tun Jana Khatib, Sulalatus Salatin[10] mencatat begini:

Maka disuruh baginda bunuh. Maka dibawa oranglah Tun Jana Khatib ke pembunuhan. Hampir tempat itu ada orang berbuat bikang, serta ditikam orang Tun Jana Khatib. Darahnya pun titik ke bumi, badannya lenyap terhantar ke Langkawi. Maka oleh orang yang berbuat bikang itu sekepal darah Tun Jana Khatib itu diserkapnya dengan tutup pembikangan, lalu menjadi batu. Itulah datang sekarang.  

Konon, karena Raja telah membunuh sang ulama, Negeri Singapura mendapat bala kutukan dalam bentuk serangan ikan todak. Jumlah rakyat yang mati sia-sia semakin bertambah setelah Raja memerintahkan membuat pagar betis untuk menahan serangan ikan todak tersebut ketika Raja dan rombongan istana akan meninjau peristiwa itu di tepi laut.

Seorang anak dari Bentan bernama Kabil (versi yang lain menyebutnya bernama Nadim) menyarankan agar memasang pagar batang pisang di sepanjang pantai. Raja menerima saran Kabil tersebut lalu memerintahkan kepada rakyatnya untuk memagari pantai dengan batang pisang. Alhasil, paruh ikan-ikan todak yang menyerang itu tertancap di pagar batang pisang. Selamatlah negeri Singapura dari serangan ikan todak.

Namun malang, anak bernama Kabil dari Bentan yang sebelumnya memberi gagasan cemerlang kepada Raja, malah dihukum. Raja dihasut oleh para menterinya yang cemburu kepada Kabil. Lantaran kecerdasannya, Kabil dianggap dapat menjadi ancaman bagi Raja atau pun kerajaan kelak. Berkenaan dengan itu Sulalatus Salatin[11] mencatat begini: 

Maka Paduka Seri Maharaja pun kembalilah ke istana baginda. Maka sembah segala orang besar-besar, “Tuanku, budak ini jikalau sudah besar nescaya besarlah ‘akalnya. Baiklah ia kita bunuh.” Maka titah Paduka Seri Maharaja, “Sungguh seperti kata tuan hamba sekalian itu.” Maka budak itu pun disuruh baginda dibunuh. Tatkala ia akan dibunuh itu maka ia menanggungkan haknya atas negeri itu.

Kabil kemudian dirantai dan dibuang ke Selat Sambu. Kabil pun mati terbenam di celah palung di Selat Sambu yang menghubungkan Singapura dengan Batam.

Keruntuhan Singapura

Pada masa pemerintahan Raja Singapura kelima Prameswara, Kerajaan Majapahit kembali menyerang Kerajaan Singapura. Hal itu bermula dari penghianatan Penghulu Bendahari bernama Sang Rajuna Tapa yang merasa terhina karena putrinya dihukum pancung oleh Prameswara lalu kepalanya dipamerkan di atas pancang di tengah pasar.

Adapun dugaan kesalahan putri Sang Rajuna Tapa yang merupakan salah seorang istri Prameswara itu, diduga berselingkuh atau menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tuduhan itu berasal dari istri-istri Prameswara yang lain didasari rasa cemburu dan kalah bersaing dalam hal merebut hati suami mereka.

Pramewara yang merasa malu karena salah seorang istrinya dikabarkan berselingkuh, kemudian mempermalukan keluarga Sang Rajuna Tapa dengan tindakan kejam. Sang Rajuna Tapa merasa sedih dan malu putrinya dipancung dan kepalanya dipajang di tengah pasar. Beliau lalu berkirim surat ke Majapahit sebagaimana disebutkan Sulalatus Salatin[12]:

Jikalau Betara Majapahit hendak menyerang Singapura hendaklah segera datang, karena hamba akan membantu dari dalam negeri.

Membaca surat dari salah seorang petinggi Kerajaan Singapura itu, Betara Majapahit pun mempersiapkan armada perang berupa tiga ratus buah perahu jenis jong ditambah perahu jenis kelulus, pelang, dan jongkong dalam jumlah yang hampir sama serta tentara seramai dua keti atau dua ratus ribu orang. Armada Tak terperikan lagi jumlahnya itu pun berlayar ke Singapura. Sesampainya di perairan Singapura, terjadilah perang sengit. Sebagian pasukan Majapahit berhasil naik ke darat dan menggempur benteng pertahanan pasukan Singapura di Tanjung Pagar. Pasukan Majapahit terus mendesak sampai ke istana.   

Sang Rajuna Tapa yang mengurus perbekalan kerajaan seperti beras, berkhianat dan jadi musuh dalam selimut dengan membantu pasukan Majapahit berupa beras dan berbagai perbekalan lain. Sementara itu tentara Singapura dibiarkan kelaparan. Alhasil, perang berkesudahan dengan kemenangan di pihak Majapahit. Kerajaan Singapura luluh-lantak dihancurkan pasukan Majapahit.

Sebagai rakyat yang tiada boleh mendurhaka kepada raja sesuai sumpah setia antara Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun semasa di Palembang dulu, Sang Rajuna Tapa pun ditimpa bala. Lumbung beras dan perbekalan kerajaan yang diurusnya roboh serta menimpa dirinya  beserta keluarga lalu menjadi batu. Sedangkan bala yang diterima Prameswara sebagai raja yang tidak boleh berlaku kejam dan menista rakyat, menerima bencana yang lebih berat lagi: Kerajaannya hancur dan dirinya beserta keluarga terusir dari negerinya. Pelanggaran sumpah setia yang kedua kalinya dalam Kerajaan Singapura yang diterajui zuriat Raja Iskandar Zulkarnain itu telah diterima raja sekaligus rakyat.

Prameswara, peneraju terakhir Kerajaan Singapura, beserta keluarga dan orang-orang istana serta pengikutnya kemudian meninggalkan negeri yang dibangun nenek-moyangnya dan masuk ke dalam hutan Tanah Semenanjung menghindari kejaran tentara Majapahit.

Prameswara cuma 3 tahun mengenakan makhkota Kerajaan Singapura. Selama 2 tahun pula hidup berpindah-pindah atau nomaden di dalam hutan-rimba, semak-belukar, bencah-rawa dan gunung-ganang Tanah Semenanjung. Selain berlindung dan menyelamatkan diri dari kejaran laskar Majapahit, juga untuk mencari tapak yang sesuai buat membangun negeri dan mendirikan pusat kerajaan baru.

***


[1] Tun Sri Lanang (1997), Sulalat al-Salatin ya’ni Perteturun Segala Raja-Raja, Penyelenggara Haji Muhmmad Saleh, Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, Hlm. 28.

[2]  Ahmad Dahlan, PhD (2014), Sejarah Melayu, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, hlm. 90-91.

[3] Tun Sri Lanang (1997:33).

[4] Ahmad Dahlan, PhD (2014:102).

[5]Tun Sri Lanang (1997:34-35).

[6] Tun Sri Lanang (1997:38).

[7] Tun Sri Lanang (1997:38).

[8] Sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.

[9] Tun Sri Lanang (1997:55).

[10] Tun Sri Lanang (1997:55).

[11] Tun Sri Lanang (1997:56).

[12] Tun Sri Lanang (1997:56).

 Samson Rambah Pasir, peminat sejarah yang sudah menyunting beberapa buku, di antaranya Kitab Sejarah Melayu versi milenial setebal 621 halaman yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta tahun 2014. Juga buku sejarah bertajuk Nong Isa, Tapak Awal Pemerintahan di Batam yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD, Aswansdi Syahri, dan Edi Sutrisno yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tahun 2014. Selain itu juga menyelia penulisan dan penerbitan buku sejarah tokoh penting dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yaitu Raja Ali Kelana dan Pondasi Historis Industri di Pulau Batam (2006) dan Temenggung Abdul Jamal  dan Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824 (2007) yang ditulis Aswandi Syahri dan diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam. Novel Sejarah yang ditulisnya bertajuk “Sri Batam” meraih Juara Pertama dalam sayembara yang dilaksanakan Pusat Perbukuan Depdikbud tahun 2000 dan diterbitkan Yayasan Pusaka Riau. 

Artikel SebelumHendaklah Kita Berbanyak Syukur
Artikel BerikutTulah di Riau: Wabah Penyakit Pes di Karimun Tahun 1922
Peminat sejarah yang sudah menyunting beberapa buku, di antaranya Kitab Sejarah Melayu versi milenial setebal 621 halaman yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta tahun 2014. Juga buku sejarah bertajuk Nong Isa, Tapak Awal Pemerintahan di Batam yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD, Aswansdi Syahri, dan Edi Sutrisno yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tahun 2014. Selain itu juga menyelia penulisan dan penerbitan buku sejarah tokoh penting dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yaitu Raja Ali Kelana dan Pondasi Historis Industri di Pulau Batam (2006) dan Temenggung Abdul Jamal dan Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824 (2007) yang ditulis Aswandi Syahri dan diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam. Novel Sejarah yang ditulisnya bertajuk “Sri Batam” meraih Juara Pertama dalam sayembara yang dilaksanakan Pusat Perbukuan Depdikbud tahun 2000 dan diterbitkan Yayasan Pusaka Riau.***

Tinggalkan Balasan