RASULULLAH SAW baru saja kembali ke Kota Mekah. Sebelum itu, Baginda Rasul melakukan perjalanan niaga ke Negeri Syam, yang antara lain, didampingi Maisarah. Mereka menjalankan bisnis milik Khadijah binti Khuwailid, perempuan terkemuka lagi terhormat di Kota Mekah. Dari kegiatan bisnis itulah Khadijah Radhiallahu’anha mengetahui bahwa Rasulullah merupakan sosok laki-laki yang amanah. Pasalnya, menurut penilaian perempuan mulia itu, perniagaannya kali ini beroleh berkah yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang sudah-sudah.

Maisarah, pembantu laki-laki Khadijah, rupanya mengamati perilaku Muhammad bin Abdullah selama mereka melaksanakan kegiatan niaga di Negeri Syam. Semua yang dilihatnya tentang Rasulullah dilaporkannya kepada majikannya setelah mereka sampai di Mekah. Menurut pembantu yang setia itu, Rasulullah orangnya lemah-lembut, jujur, berpikiran cerdas dan bernas, dan amanah sebagai penanda manusia yang berkarakter mulia.

Dari pengamatannya sendiri dan dilengkapi oleh laporan pembantu setianya, Khadijah langsung berasa jatuh hati kepada Rasulullah. Padahal, sebelum ini sangat banyak tokoh dan pembesar Mekah yang berupaya menikahinya, tetapi kesemuanya itu ditolak oleh Khadijah. Diringkaskan kisahnya, dari cinta suci pandangan pertama itulah, akhirnya Khadijah menikah dengan Rasulullah. Pasalnya, cinta Khadijah rupanya tak bertepuk sebelah tangan. Rasulullah pun sangat mencintai perempuan mulia itu. Kesemuanya memang telah ditakdirkan Allah.

Mengapakah Khadijah r.a. terkesan begitu cepat jatuh cinta kepada Rasulullah? Hikmah apakah yang ada di sebalik cinta sejati kedua insan yang terhormat lagi mulia itu?  Raja Ali Haji rahimahullah melalui karya beliau Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus 2000, 128), bait 53, mengemukakan pandangannya. 

Datanglah hidayah yang akbar
Daripada Tuhan Ilahul Jabbar
Kepada Khadijah perempuan yang ahyar
Jatuhlah hatinya dengan sebentar

Berdasarkan bait syair di atas, peristiwa jatuh cinta Khadijah r.a. kepada Nabi Muhammad SAW merupakan hidayah yang paling besar dari Allah kepada perempuan pokta lagi terbilang itu. Keyakinan itu didasari oleh kenyataan bahwa Khadijah berasa jatuh hati kepada Baginda Rasulullah nyaris secara serta-merta atau dalam waktu yang tak terlalu lama dari waktu pertemuan mereka. 

Nikmat yang diperoleh Khadijah r.a. dari Allah itu tergolong hidayah taufik, yakni jenis hidayah dalam bentuk ilham yang dianugerahkan oleh Allah dan dimasukkan ke hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar. Orang yang menerima hidayah dalam bentuk ilham itu menjadi terbuka hatinya terhadap kebenaran, lalu memilihnya secara suka rela. Hidayah jenis ini tergolong petunjuk yang sempurna. Pada gilirannya, manusia yang menerimanya akan mengikuti petunjuk Allah.

Begitulah hidayah yang diperoleh Khadijah. Karena cinta Ummul Mukminin itu berasal dari hidayah Allah, ianya bukanlah cinta biasa. Cinta Khadijah kepada Rasulullah dan ajaran yang dibawa suaminya dilukiskan sendiri oleh Rasulullah di dalam sabda Baginda.

Rasulullah bersabda, “Allah tak memberiku pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Dia telah beriman kepadaku saat orang lain kufur, dia memercayaiku ketika yang lain mendustaiku. Dia memberikan hartanya kepadaku ketika  tak ada orang lain membantuku. Dan, Allah juga menganugerahiku anak-anak melalui rahimnya, sedangkan  istri-istriku yang lain tak memberiku anak,” (H.R. Bukhari, Ahmad, dan Thabrani).

Sungguh, bukan cinta biasa! Cinta yang serbasempurna itu berasal dari hidayah Allah yang dianugerahkannya kepada makhluk-Nya yang terpilih. Merekalah orang-orang yang mulia. Itulah sebabnya, dalam perhubungan dengan Allah, manusia yang berkarakter mulia seyogianya meyakini hidayah Allah.

Lalu, bagaimanakah fenomena cinta Siti Rafiah kepada suami, negeri, dan bangsanya dalam Syair Abdul Muluk ? Ada baiknya kita ikuti kisahnya pada bait 680-681 (Haji, 1846).

Niat beta sehari-hari
Jika kakanda sebarang peri
Beta tiada diam di negeri
Ke dalam hutan membawa diri
 
Haraplah kakanda akan kata beta
Sekali-kali tiada berdusta
Jika tak sungguh bagai dikata
Yaumal kiamat berdakwalah kita

Ternyata, cinta Siti Rafiah juga bukanlah cinta sebarang cinta. Karena cinta kepada suaminyalah, dia melarikan diri ke hutan ketika negerinya telah dikalahkan musuh, padahal dia sedang hamil anak pertama. Karena cintanya kepada negerinyalah, ditempanya dirinya menjadi perempuan perkasa berkemahiran menggunakan senjata di atas laki-laki agar dapat berkoalisi dengan negeri-negeri lain untuk mengembalikan kemerdekaan negerinya. Karena cintanya kepada bangsanya jugalah, beberapa tahun kemudian, diserangnya negeri penjajah untuk mengembalikan marwah bangsanya. 

Karena cinta Siti Rafiah adalah cinta dari hidayah Allah, maka Tuhan Yang Maha Penolong senantiasa menjaga dan membantunya dalam perjuangannya membela negeri dan bangsanya. Begitulah indahnya hidayah anugerah Allah kepada makhluk yang menjadi pilihan-Nya.

Perkara hidayah dijelaskan Allah di dalam firman-Nya. Dialah yang sesungguhnya mengetahui sesiapa saja yang patut dan bersedia diberi hidayah (petunjuk).

Sesungguhnya, engkau (wahai Muhammad SAW) tak dapat memberikan hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan, Dia yang lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk,(Q.S. Al-Qashash, 56).

Dengan begitu, adakah ucapan Baginda Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang, dalam perang terakhirnya di Teluk Ketapang, Melaka, menunjukkan gejala orang yang dianugerahi hidayah oleh Allah? Memang perlu disimak kisahnya di dalam Tuhfat al-Nafis sehingga jelas duduk perkaranya.

“Kemudian tiada berapa antaranya maka Sultan Mahmud pun datanglah ke Teluk Ketapang itu mendapatkan paduka ayahanda Raja Haji. Maka sembah Raja Haji kepada paduka anakda baginda itu Sultan Mahmud, ‘Baik silakan paduka anakda balik ke Muar. Nanti ayahanda di dalam Muar, tiada usahlah masuk, biarlah ayahanda saja kerana barangkali dikehendaki Allah taala ayahanda sampai janji di dalam perang, dahulu Allah wa baadu al-rasul … Maka ayahanda harapkan diampuni Allah taala dengan sebab kematian perang ini….” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 206-207).

Itulah ucapan patriotis sekaligus religius Baginda Raja Haji Fisabilillah kepada Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah. Baginda seolah-olah mendapat firasat akan gugur dalam perang berakhir 18 Juni 1784 itu. Akan tetapi, karena keyakinannya kepada Allah dan kecintaannya kepada bangsa dan negara, Baginda tak gentar menghadapi musuh. Dan, benarlah hidayah yang diperolehnya. Dengan takdir Allah, Baginda gugur sebagai syuhada dalam perang yang gegap-gempita itu. Kesemuanya karena cinta kepada bangsa dan negara.

Berbahagialah sesiapa pun yang beroleh hidayah Allah. Mereka menjadi orang pilihan, yang karena keterbukaan dan kesucian jiwanya, ditetapkan sebagai penerima anugerah. Tak berasa sedikit pun terbebani untuk melaksanakan amanah. Dalam keadaan serupa itu, jalan kembalinya teranglah sudah. Karena cintanya bukan cinta biasa, kepada mereka telah dipersiapkan Jannah, mahligai abadi terindah yang telah dijanjikan Allah.***  

Tinggalkan Balasan