PADA 23 Oktober 1784 Belanda datang menyerbu pusat Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang di Hulu Riau, Sungai Carang, Tanjungpinang, pasca Perang Teluk Ketapang, Melaka. Perang Teluk Ketapang yang berakhir 18 Juni 1784 menyebabkan jatuhnya korban dari kedua belah pihak, termasuk Paduka Baginda Raja Haji Fisabilillah, sebagai kesatria yang gugur sebagai syuhada. Berasa kekuatan perang Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang jauh berkurang, Belanda kembali datang menyerang Tanjungpinang dengan misi penaklukan Kesultanan Melayu yang belum juga dapat mereka kuasai walaupun telah dilakukan pelbagai siasat dan cara.

Ternyata, prediksi Belanda salah besar. Sesampainya di Tanjungpinang mereka tak dibiarkan bertindak leluasa, tetapi disambut dengan perlawanan perang oleh pasukan Melayu yang dipimpin langsung oleh Seri Paduka Baginda Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) dan Paduka Baginda Raja Ali ibni Allahyarham Paduka Baginda Daeng Kamboja.

Kala itu Raja Ali telah dilantik oleh Sultan Mahmud menjadi Yang Dipertuan Muda V (1784-1806) menggantikan Allahyarham Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV (1777-1784). 

Perang berkecamuk, tetapi tak berlangsung lama. Pasalnya, alih-alih Belanda minta berdamai atau mengajukan genjatan senjata. Dalam masa genjatan senjata itulah, Belanda mengirim utusan kepada Sultan Mahmud.

Intinya, mereka minta Sultan Mahmud mengusir Raja Ali dari Tanjungpinang. Tentulah permintaan Belanda itu ditolak keras oleh Baginda Sultan.

Entah mengapa, tetapi kuat dugaan sebagai strategi menghimpun kekuatan melawan Belanda, subuh hari berikutnya di tengah hujan lebat, Raja Ali meninggalkan pusat kerajaan di Tanjungpinang.

Baginda belayar menuju Sukadana, Kalimantan Barat, yang merupakan salah satu sekutu Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Kepergian Raja Ali itu disebut strategi karena pada Mei 1787 terjadi perang besar antara Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang dan Belanda yang menyebabkan Belanda mengalami kekalahan untuk sekian kalinya.

Dalam Perang Riau II itu kekuatannya memang berasal dari bantuan tentara dari Sulu, Filipina, dan Tempasuk, Kalimantan, yang terdiri atas 7.000 tentara dengan 90 kapal perang.

Sesampainya di Sukadana, apakah yang dilakukan oleh Paduka Raja Ali? Ternyata, Baginda membantu pemimpin negeri itu membangun kerajaannya. Setelah sekian lama, berkembanglah Negeri Sukadana, yang membuat bahagia pemimpin dan rakyatnya. Selanjutnya, Raja Ahmad Engku Haji Tua dan Raja Ali Haji rahimahullah mencatatnya dalam karya mereka Tuhfat al-Nafis, antara lain, sebagai berikut ini. 

“Alkisah maka tersebut perkataan Yang Dipertuan Muda Raja Ali di dalam negeri Sukadana. Maka ramailah negeri Sukadana itu, maka datanglah pula fitnah dunia yang menunjukkan dunia ini negeri yang tiada kekal dan nikmatnya yang tiada tentu, supaya mengambil ibarat orang yang mempunyai mata hati akan tiada harus mengasihi dunia ini, maka hendaklah mengasihi akan akhirat negeri yang kekal dan nikmatnya yang tiada berkeputusan.

Syahadan adalah sebab datang kegeruhan dunia atas Yang Dipertuan Muda Raja Ali, iaitu bersalah-salahan maksud dan faham antaranya dengan Sultan Pontianak dan Holanda, lebih-lebih maklumlah di dalam dunia ini tiada sunyi daripada tamak dan loba. Di dalam hal itu berdengki-dengkianlah antara nikmat yang lebih dan nikmat yang kurang. Maka itulah jadi pokok perbantahan,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.), 1982, 231).

Setelah makmur Negeri Sukadana, seperti diungkapkan oleh Tuhfat al-Nafis, terjadilah selisih paham antara Seri Paduka Baginda Sultan Pontianak dengan Baginda Raja Ali. Pemecah belahnya siapa lagi, kalau bukan Belanda. Motifnya perbedaan pandangan tentang pembagian rezeki dunia.

Menurut Raja Ahmad dan Raja Ali Haji, kedua pemimpin itu lebih mengasihi (harta) dunia sehingga melupakan atau kurang memperhatikan manfaat dan nikmat akhirat. Dengan kata lain, menurut penulis dan intelektual hebat berdua beranak itu, seyogianya manusia, terutama pemimpin, harus lebih mencintai akhirat yang abadi dibandingkan dunia yang serbasementara. Artinya, dalam perhubungan dengan Allah, manusia seyogianya harus lebih mencintai akhirat.     

Kearifan dan amanat seyogianya manusia lebih mencintai akhirat dibandingkan dengan dunia juga terekam dalam Gurindam Dua Belas (Haji, 1847). Anjuran tentang karakter mulia itu tersurat pada Pasal yang Kedua Belas, bait 6-7.

Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti

Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta

Bait 6, Pasal yang Kedua Belas, Gurindam Dua Belas, di atas memberikan peringatan ini. Setiap manusia pasti mati. Oleh sebab itu, hendaklah manusia berbuat bakti di dunia ini sesuai dengan petunjuk dan perintah Ilahi. Bakti yang dibuat dalam wujud amalan dan atau perbuatan baik haruslah semata-mata karena Allah, bukan dengan motivasi yang lain seperti untuk memperoleh popularitas, pencitraan, dan atau penguasaan di kalangan manusia. Bakti yang semata-mata bermotivasi Ilahiyah itulah yang akan menjadi bekal bagi kehidupan di akhirat kelak. Dengan demikian, manusia seyogianya lebih mencintai akhirat yang kekal daripada dunia yang serbafana.

Pasal yang Kedua Belas, bait 7 pula, lebih menegaskan lagi bahwa kehidupan akhirat itu memang benar adanya atau sangat nyata bagi sesiapa saja yang hatinya terbuka dan mengimani Allah dan hari akhirat. Oleh sebab itu, segala perbuatan yang dilakukan di dunia ini harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Dengan demikian, lebih mencintai akhirat daripada dunia merupakan karakter mulia dalam perhubungan manusia dengan Allah.

“Akan tetapi, kamu memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan kekal,” (Q.S. A’la, 16-17).

Betapa Allah memperingatkan bahwa manusia cenderung lebih mencintai kehidupan dunia walaupun dia sering membantahnya. Padahal, Dia telah menciptakan kehidupan akhirat yang jauh lebih baik dan abadi. Pada akhirnya, kesemuanya terpulanglah kepada manusia. Yang lebih memilih dunia dapatlah dia tipu-dayanya.

Sebaliknya pula, yang memilih akhirat akan diberikan-Nya laluan yang lapang menuju keridhaan-Nya.Syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 41-42, juga mengingatkan manusia, lebih-lebih mereka yang dianugerahi amanah sebagai pemimpin di dunia yang fana ini. Amanah itu harus dijadikan modal untuk berbakti sebagai bekal kehidupan yang selesa (menyenangkan) di akhirat nanti.

Kehidupan rakyat janganlah lupa 
Fakir miskin hina dan papa
Jangan sekali tuan nan alpa
Akhirnya bala datang menerpa

Beberapa negeri terkena bala
Sebab perbuatan kepala-kepala
Karena perbuatan banyak yang cela
Datanglah murka Allah Taala

Sesiapa pun pemimpin yang berupaya sekuat dapat untuk membahagiakan mereka yang “kurang beruntung” dari segi materi di dunia ini, bermakna dia sedang mempersiapkan kehidupan akhirat yang dipastikan dalam jaminan Allah Taala. Bahkan, kepemimpinannya akan senantiasa dalam penjagaan-Nya. Sebaliknya pula, mereka yang lalai, semata-mata mementingkan kehendak dunianya sehingga lupa akan tanggung jawab kepada orang-orang yang dipimpinnya, dia akan diterkam pelbagai bala. Tak hanya dia yang menanggung akibatnya, tetapi juga negeri yang di bawah kepemimpinannya. Kejatuhan negeri yang dulu-dulu lebih karena itulah puncanya, kealpaan kepala-kepala.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah memberikan kekayaan dalam hatinya, mengumpulkan semua usahanya, dan dia akan dihampiri dunia walaupun dia enggan. Dan, barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, Allah menjadikan kefakiran di depan matanya, menceraiberaikan usahanya, dan tak diberikan dunia kepadanya, kecuali yang sudah ditakdirkan-Nya,” (H.R. At-Turmudzi).

Begitulah rahmat Allah kepada manusia. Sesiapa pun yang lebih mencintai akhirat, akan dianugerahi-Nya juga dunia yang memang diperlukan untuk mencapai matlamat mulia akhiratnya. Sebaliknya pula, sesiapa pun yang tujuan hidupnya semata-mata mengejar kesenangan dunia, bahkan harapannya itu tak akan pernah dirasakannya cukup walaupun orang lain melihatnya serbaada. 

Hendakkan contohnya? Sangat banyak di sekitar kita. Sesungguhnya, hanya karena rahmat Allah-lah manusia akan beroleh bahagia, sama ada di dunia ataupun di akhirat, yang sudah pasti bangat adanya.*** 

Tinggalkan Balasan