Kompleks makam Datuk Kaya Mepar dan keluarganya di Pulau Mepar, Daik, Kabupaten Lingga. (foto: aswandi syahri)

Dalam Pemerintahan Kerajaan Riau-Lingga

Kepala Segala Rakyat

Sebelum kedatangan Sultan Mahmud Riayatsyah, seluruh Pulau Lingga dan pulau-pulau di sekitarnya, menurut C. Van Angelbeek.Korte Schet van Het Eiland Lingga en Deszelf Bewoners (Gambaran Singkat Pulau Lingga dan Penduduknya), berada dibawah mewenang seorang kepala atau pemimpin dengan gelar Orang Kaya atau Datuk Kaya. Hal ini terus berlanjut hingga pada zaman Sultan Mahmud Ri’ayatsyah dan sultan-sultan penggantinya.

Sebuah laporan lain yang berjudul Korte Geschiedenis Riouw en Lingga (Sejarah Singkat Riau dan Lingga) tahun 1846 yang disusun oleh A. L. Weddik, Komisaris Inspeksi untuk wilayah Borneo dan Lingga mencatat pula bahwa pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Muzafarsyah, ada pula seorag yang bergelar Orang Kaya Temenggung di Pulau Memar, seorang laki-laki bertubuh tinggi (Temenggung Jamaludin?) yang juga menjabat sebega kepala bagi semua rakyat Pulau Mepar dan rakyat di pulau-pulau lainnya di sekitar Pulau Lingga.

Seperti halnya Yang Dipertuan Muda Riau, Datuk Kaya Mepar dapat mengangkat kepala-kepala rakyat bagi sebuah puak atau kampung (seperti Batin, Jenang, Juru, dan sejenisnya) yang yang takluk dibawah pemerintahannya.

Menurut A.L. Weddik, Orang Kaya Temenggung, yang merupakan ayah Encik Montel ini memiliki banyak pengaruh. Setelah ia wafat, kedudukannya sebagai pemimpin yang berkedudukan di Pulau Mepar dilanjutkan oleh anak yang bergelar Orang Kaya Montel atau Orang Kaya Mepar.

Menurut Resident van Riouw, D.L. Baumgardt, sebagaimana dimuat dalam laporan kunjungannya ke Pulau Mepar yang berjudul Aantekeningan gehouden gedurende eene reis van Riouw naar de Eiland Lingga, Colombo, Mepar, Singkip en naar het Rijk van Indragiri (1850),Orang Kaya Montel di Pulau Mepar berkuasa seperti ayahnya. Ia bertanggung jawab atas semua rakyat yang berada dibawah takluk Sultan Lingga yang terdiri dari 4.500 orang Melayu, 200 orang Bugis, dan 300 orang Cina. Sedangkan di tempat tinggalnya di Pulau Mepar, terdapat 500 hingga 600 orang penduduk. Di Pulau Mepar, ia mempunyai sebuah rumah yang sangat bagus.

Datuk Kaya Montel

Keberadaan Kampung Ladi di Pulau Penyengat dan asal-usul nama kampung itu erat kaitannya dengan orang Soekoe Ladi (bagian dari orang suku laut yang sangat beragam puak dan kelompoknya) dan juga erat pula hubungannya dengan istana diraja di Pulau Penyengat.

Sejumlah catatan lama menyebutkan bahwa orang-orang Soekoe Ladi ini didatangkan khusus ke Pulau Penyengat oleh Orang Kaya Mepar atau Datuk Kaya Mepar dari Lingga sejak zaman Datuk Kaya Montel (yang wafat di Pulau Penyengat dan kemudian jenazahnya dibawah ke Pulau Mepar dan dimakamkan disana). Di Pulau Penyengat mereka dibuatkan kampung di kawasan yang dinamakan sesuai dengan dengan nama puak mereka: Kampung Ladi. Letaknya berhampiran kawasan balai adat sekarang. Mereka berada dibawah kendali Datuk Kaya Mepar.

Dalam kaitannya dengan Orang Kaya atau Datuk Kaya Mepar tersebut, hingga kini penduduk Pulau Penyengat masih mencatat adanya makam salah seorang Datuk Kaya Mepar atau Orang Kaya Mepar yang bernama Datuk Kaya Awang bin Montel. Seperti ayahnya, ia meninggal di Pulau Penyengat. Lokasi makamnya terletak pada sebuah kompleks makam tua yang berada persis di belakang Balai Adat Indera Perkasa, di Pulau Penyengat.

Dalam struktur masyarakat Kerajaan Riau-Lingga,Oerang Soeko Ladi atau Rakjat Soekoe Ladi ini digolongkan kedalam apa yang disebut oleh Muhammad Apan, dalam laporan penelitiannya yang berjudul Berita District van Bintan (1934), sebagai rakjat kaoem enam soekoe dan Sokoe Asing. Dalam kolompok ini termasuklah di dalamnya, OrangGalang, Orang Mantang, Orang Kelong-Mapor, Orang Buluh Pianan (Perih-Sebong Kecil-Tembeling), Orang Posek, Rakyat Soekoe Asing (Suku Tambus di Pelangke), dan Rakjat Soekoe Ai Jong di Selat Bintan.

Masing-masing kelompok rakjat enam soekoe dan soekoe asing ini dipimpin olehBatin dan Juru yang berada dibawah kendali seorang Datuk Indraguru di Pulau Penyengat. Menurut Muhammad Apan, setelah wafatnya Orang Kayar Meparyag bernama Awang, maka Oerang Soekoe Ladi atau Rakjat Soekoe Ladi di Pulau Penyengat berada dibawah kendali Datuk Indraguru terakhir pada fase-fase akhir Kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat, yang ketika itu dijabat oleh Encik Taib.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, keberadaan Kampung Ladi dan orang-orang Soekoe Ladi di Pulau Penyengat erat kaitanya dengan istana raja itu. Dan bukan kebetulan pula bila letak Kampung Ladi di Pulau Penyengat, baik kampung Ladi ‘yang pertama’ atau ‘yang kedua’, berhampiran dengan kompleks istana ‘awal’ di kawasan yang bernama Kota Rentang dan kompleks istana ‘terakhir’ (Istana Keraton) yang letaknya berhampiran KampungKampung Baharu. Sama seperti Kampung Ladi,  kedua kompleks istana itu terletak di belahan Selatan Pulau Penyengat.

Letak dua Kampung Ladi yang berhampiran dengan dua kompeks istana raja di Pulau Penyengat tersebut erat kaitannya dengan tugas dan fungsi orang Sokoe Ladi atau Rakjat SoekoeLadi dalam istana dan pemeritahan kerajaan pada masa lalu. Bersama OrangSoekoe Galang, Orang Gelam, Orang Sekanak, Orang Sugi, Orang Kelong, Orang Terong, Orang Moro, danOrang Tambus, merekalah yang bertanggung jawab sebagai pendayung perahu perang kerajaan dalam masa peperangan: mungkin ini adalah salah satu sebab mengapa pemukiman mereka berada di pinggir laut.

Dalam arsip-arsip Belanda dan kerjaan Riau-Lingga, disebutkan bahwa kaum laki-laki orang Soekoe Ladi juga mempunyai tugas mengurus dan membawa tompak kebesaran (cogan) kerajaan. Mereka juga yang mengurus persenjataan dan berkawal.

Selain itu, kaum laki-laki Oerang Soekoe Ladi juga bertanggung jawab terhadap persediaan kayu untuk keperluan pembanguan dan pemeliharaa bangunan istana raja, atau untuk keperluan kegiatan lain yang membutuhkan kayu cukup banyak: seperti ketika dilakukan pesta atau kenduri besar di istana.

Tugas dan fungsi orang Soekoe Ladi di istana tidak hanya diperankan oleh kaum laki-lakinya saja. Di stana raja, kaum perempuann OerangSoekoe Ladi juga harus bertugas menjadi penjaga sebuah bilik dimana tempat tidur diraja terletak.

Mereka juga bertugas menjaga halaman pelaminan ketika istiadat pernikahan diraja berlangsung. Mereka memegang alat-alat kebesaran diraja dalam perarakan kebesaran diraja, atau duduk dengan lilin di tangan dalam sebuah istiadat diraja di istana

Ahli al-Mahkamah

Selain mengurus dan menjadi kepala bagi seluruh rakjat yang berada dibawah takluk Sultan di Linga dan kawasaan sekitarnya, ternyata Datuk Kaya Mepar juga menjadi anggota Ahli al-Mahkamah Kerajaan di Daik-Lingga.

Sebagai ilustrasi, Datuk Kaya Awang bin Montel adalah anggota Ahli al-Mahkamah Kecil di Lingga setelah Sultan Abdulrahman mindahkan istana dan kedudukan Sultan ke Pulau Penyengat pada tahun 1900. Datuk Kaya Awang kerap terlibat dalam pengambilan putusan hukum dalam satu perdakwaan yang diputuskan oleh Mahkamah Kecil di Dau-Lingga.

Pada 23 Jumadil Awal 1323 H (1905 M) umpamanya, Datuk Kaya Awang bin Montel terlibat dalam penyusunan hadil prmeriksaan dan menimbang perdakwaan seorang Cina bernama Go-Ping-Ki yang berniagadi Kampung Cina, Daik, dengan seorang Melayu bernama Amat bin Sulaiman yang juga tinggal di Kampung Cina, Daik.

Tugas pemerintahan dalam ini dijalankan oleh Datuk Kaya Awang bin Montel bersam-sama dengan Raja Abdulrahman bin Raja Abdulah yang menjabat sebagai Wakil Kerajaan (Wakil Sultan) di Lingga, Datuk Lasamana Muhammad Yusuf, dan Letnan Keling Abdulrahman bin Muhammad.***

Artikel SebelumAisyah binti Sulaiman
Artikel BerikutDatanglah Murka Allah Taala
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan