Bila kau pernah berkunjung ke Kota Batam, Kepulauan Riau, Indonesia, kau pasti tahu nama bandaranya, yaitu Hang Nadim. Siapakah tokoh yang namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara (Bandara) Internasional dengan panjang landasan pacu 4,2 kilo meter itu?Bagaimana kiprah dan sepak terjang Laksemana Hang Nadim di negeri Melayu pada masa lalu?Jum simak kisah berikut.

Lang-Lang Laut

Hang Nadim berpangkat Laksemana dan diberi tugas sebagai pengawal perairan Melayu dari para pengacau dan perompak serta penjajah Portugis dengan gelar Lang-Lang Laut atau Peronda Laut. Dalam mengemban tugas itu Laksemana Hang Nadim dibantu seorang timbalan atau wakil bernama Sri Bija Diraja.Keduanya bermarkas di Bintan.Perahu Hang Nadim disebut Raja Ali Haji dalam Tuhfat al Nafisbernama Dendang yang panjangnya tiga belas depa, bermeriam dua sehaluan, sunting rentakanya sepuluh sebelah, dan tahan turutnya dua. Sedangkan perahu Sri Bija Diraja disebut Raja Ali Haji juga dalam Tuhfat al Nafis bernama Jurung yang panjangnya sebelas depa, dua juga meriam sehaluan, sunting delapan sebelah, dan tahan turutnya dua.

Sebagaimana diungkai Hikayat Hang Tuah, Hang Nadim adalah putra Hang Jebat dari istrinya Dang Wangi atau Dang Inangsih. Disebutkan Sejarah Melayu, ketika ayahandanya Hang Jebat dibunuh Hang Tuah, Hang Nadim sedang dalam kandungan ibundanya. Setelah lahir Hang Nadim dijadikan anak angkat oleh Hang Tuah. Kelak dewasa, Hang Nadim dinikahkan dengan putri Hang Tuah bernama Tun Emas Jiwa. Kelak, Laksemana Hang Tuah digantikan sebagai Laksemana oleh Khojah Hassan.Tak lama menjabat sebagai Laksemana, Khojah Hassan dipecat lantaran dituduh menfitnah Bendahara Tun Mutahir.Jabatan Laksemanakemudian dijabat Hang Nadim.

Merebut Kota Melaka

Pada tahun 1513, untuk merebut Kota Melaka yang sudah dikuasai Portugis, dari Bintan Sultan Mahmud melepas keberangkatan pasukan dengan armanda 34 buah perahu beserta laskar perang yang gagah perkasa yang dipimpin Laksemana Hang Nadim. Upaya merebut Kota Melaka itu juga melibatkan pasukan Pati Unus dari Pulau Jawa dan Palembang dengan membawa perahu perang 100 buah dan laskar 10.000 orang.

Terjadilah perang dahsyat dan lama yang memakan korban tidak sedikit dari kedua belah pihak. Akhirnya pasukan Portugis yang dipimpin Laksemana Perez de Andrade berhasil memukul mundur pasukan gabungan Melayu, Jawa, dan Palembang itu. Benteng A Famosa yang dibangun Portugis di puncak bukit Kota Melaka terlalu sulit untuk ditembus pasukan Hang Nadim dan Pati Unus yang lebih mahir bertempur di laut. Sementara itu tembakan-tembakan meriam dari puncak Benteng A Famosa tak dapat dielakkan kapal-kapal Melayu, Jawa, dan Palembang sehingga sulit untuk mendaratkan pasukan di pantai Melaka. Merebut Kota Melaka menemui kegagalan.

Beberapa tahun kemudian, Sultan Mahmud kembali mengirim armada perangnya ke Melaka dengan Paduka Tuan sebagai Panglima Perang, Hang Nadim sebagai Laksemana Armada Laut, dan Nara Singa sebagai Panglima Angkatan Darat. Untuk mengepung Kota Melaka, Armada Laut Hang Nadim berlayar langsung ke Melaka sedangkan Angkatan Darat Nara Singa turun di Pagoh dan Muar. Sebagian pasukan Nara Singa bertahan di Pagoh dan Muar serta sebagiannya lagi berjalan kaki menuju Melaka. Armada Hang Nadim dan pasukan Nara Singa pun mengepung Kota Melaka. Terjadilah pertempuran seru.

Setelah bersusah-payah akhirnya pasukan Hang Nadim berhasil naik ke darat dan memanjat tembok Benteng A. Famosa. Pasukan Portugis menyambutpara pemanjat itu dengan gelindingan balok-balok kayu, kucuran batu-batu panas, dan lemparan granat. Banyak laskar Melayu yang mati. Namun dengan semangat pantang menyerah laskar yang lain menggantikan memanjat tanpa gentar. Demikian berulang-ulang. Akhirnya Benteng A. Famosa dapat diisolasi.Menurut perhitungan Panglima Perang Paduka Tuan, untuk merebut Benteng A. Famosa diperlukan pasukan tambahan. Paduka Tuan kemudian mengirim utusan ke Bintan meminta Sultan Mahmud mengirim pasukan tambahan.

Sementara itu pasukan darat yang dipimpin Nara Singa bertempur habis-habisan dengan pasukan Portugis di Muar dan Pagoh. Pasukan Portugis yang dipimpin Duarte de Mello berhasil dipukul mundur pasukan Nara Singa di Pagoh. Namun, dengan caramengendap-endap melalui rawa-rawa di belakang benteng Muar, pasukan Portugis berhasil menikam dari belakang pasukan Nara Singa. Serangan yang tak disangka-sangka itu menewaskan tidak kurang dari 300 laskar Melayu.

Mendengar kabar Benteng A. Famosa sudah dapat diisolasi oleh pasukan Hang Nadim, pasukan darat Nara Singa yang tersisa di Muar pun bergerak menuju Kota Melaka. Sedangkan pasukan Nara Singa yang masih solid tetap bertahan di Pagoh. Pasukan Portugis di dalam Benteng A. Famosa mulaikehabisan amunisi.Bahkan penghuninya sedang dalam keadaankrisis pangan.Namun, berdasarkan perhitungan Paduka Tuan, Hang Nadim, dan Nara Singa,agar dapat merebut Benteng A. Famosa, serangan baru dapat dilakukan apabila pasukan tambahan sudah bergabung.

Tengah menunggu pasukan tambahan dari Bintan, armada bantuan Portugis lebih duluan datang dari Pegu, pangkalan militer Portugis di Birma (Myanmar kini) yang membawa amunisidan bahan makanan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pasukan Portugis di bawah komando Garcia de Sa menyerang benteng pasukan Nara Singa di Pagoh. Pasukan Melayu pun kocar-kacir. Merebut Kota Melaka kembali gagal.   

 Serangan-serangan atas Kota Malaka yang dipimpin Laksemana Hang Nadim terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, namun selalu gagal, terutama karena faktor persenjataan yang dimiliki Portugis lebih canggih untuk ukuran di masa itu serta faktor kokohnya Benteng A Famosa. Tapi Sultan Mahmud tak pernah putus asa. Kepada Laksemana Hang Nadim beliau perintahkan untuk menghadang dan merampas setiap kapal yang menuju ke pelabuhan Melaka.Portugis gusar karena Pelabuhan Melaka tidak lebih ramai semenjak mereka kuasai karena kapal-kapal dagang merasa takut mendekati pelabuhan Melaka.Pada 1523 Portugis mencoba menyerang pusat pemerintahan Sultan Mahmud di Kota Kara tetapi dapat ditangkis pasukan Hang Nadim.

Mengawal Kota Kara, Bengkalis, dan Bulang

Pada 23 Oktober 1526pasukan Portugis menyerang Bengkalis dengan armada 20 buah kapal lengkap dengan persenjataan dan tentara di bawah pimpinan Don Sanchez Enriquez. Namun dalam perjalanan pasukan Portugis dihadang pasukan Hang Nadim.Terjadilah pertempuran laut dahsyat yang memakan korban di kedua belah pihak. Tetapi sebagian armada Portugis dapat berkelit dan berlayar ke Bengkalis lalu membombardir pelabuhannya yang disandari kapal-kapal sekutu Sultan Mahmud yang selama ini selalu merompak kapal-kapal dagang sekutu Portugis di Selat Melaka. Setelah berhasil membumi-hanguskan pelabuhan Bengkalis, pasukan Portugis kemudian berlayar ke Bulang (dalam kawasan Kota Batam kini) dan membakar pulau yang merupakan salah satu benteng pertahanan pasukan Sultan Mahmud tersebut.

Sultan Mahmud amat gusar. Seluruh pasukannya dipanggil untuk berkumpul di Kota Kara. Kemudian juga dimintanya pasukan bantuan dari Pahang.Sedangkan Portugis mendatangkan pasukan bantuan dari Goa. Kekuatan armada Portugis yang tetap di bawah komando Don Sanchez Enriquez itu seramai 25 buah kapal lengkap dengan persenjataan tercanggih di zaman itu serta tentara berkebangsaan Eropa 550 orang dan orang Melayu 600 orang.

Serangan pasukan Portugis atas Kota Kara diladeni pasukan Sultan Mahmud tanpa mengenal kata gentar. Pertempuran yang bermula dari laut di bawah komando Hang Nadim itu terus merembet sampai ke pantai. Pasukan Portugis terdesak lalu naik ke darat. Pertempuran sengit pun berpindah ke darat. Pasukan darat yang dipimpin Sang Setia dan Temenggung Sri Udana pun berjibaku dengan pasukan Portugis yang sebagian besar merupakan orang Melayu juga. Sesama Melayu pun saling bunuh untuk membela tuan masing-masing! Akhirnya pasukan darat Sultan Mahmud terdesak. Setelah berperang yang menjatuhkan banyak korban di kedua belah pihak, pasukan Don Sanchez akhirnya berhasil merebut Kota Kara. Dua orang dekat Sultan, Sang Setia dan Temenggung Sri Udana, bahkan tewas dalam pertempuran itu.

Sultan Mahmud, penguasa terakhir Kerajaan Melaka itu, beserta keluarga dan orang-orang dekatnya yang masih hidup, berhasil menyelamatkan diri ke dalam hutan.Tun Nara, pembantu utama Sultan, masih sempat menyelamatkan pusaka kerajaan turun-temurun dan sebagian kecil harta benda berharga lainnyaseperti emas dan perak, sebelum istana dibakar Portugis. Sultan dan keluarga beserta rombongan berhasil diselamatkan sampai ke Kampar dibantu Suku Pedalaman atau Orang Sakai sebagai pembawa beban, bahkan dengan rela bersedia memikul anggota rombongan, terutama kaum perempuan, yang tidak sanggup lagi berjalan dengan cara menggulungnya di dalam tikar.

Di Kampar Sultan menata penadbiran serta membina sebuah negeri yang diberi nama Pekantua dan dijadikan pusat pemerintahan.Dari Pekantua Sultan tetap mengendalikan perjuangan dengan memerintahkan para pelaut Melayu merompak kapal-kapal dagang sekutu Portugis di Selat Melaka yang dipimpin Laksemana Hang Nadim.

Sultan Mahmud Syah I mangkat di Pekantua, Kampar, pada tahun 1528 dengan gelar posthumous atau gelar kemangkatan Sultan Mahmud Mangkat di Kampar atau Sultan Mahmud Mangkat di Pekantua.Beliau digantikan putranya Sultan Alauddin Riayat Syah II.

Selepas mengabdi sebagai Laksemana di bawah perintah Sultan Mahmud Syah I sampai 1528, Laksemana Hang Nadim menjunjung perintah Sultan Alauddin Riayat Syah II yang mendirikan kerajaan Johor pada 1529. Jabatan Laksemana terus disandang Hang Nadim di Kerajaan Johor pada masa pemerintahan Sultan Muzaffar Syah II (1564-1570), Sultan Abdul Jalil Syah I (1570-1571), dan Sultan Abdul Jalil Syah II (1571-1597).  Hang Nadim mangkat di Pulau Bintan dan dimakamkan di sana.***

Samson Rambah Pasir, peminat sejarah yang sudah menyunting beberapa buku, di antaranya Kitab Sejarah Melayu versi milenial setebal 621 halaman yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta tahun 2014. Juga buku sejarah bertajuk Nong Isa, Tapak Awal Pemerintahan di Batam yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD, Aswansdi Syahri, dan Edi Sutrisno yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tahun 2014. Selain itu juga menyelia penulisan dan penerbitan buku sejarah tokoh penting dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yaitu Raja Ali Kelana dan Pondasi Historis Industri di Pulau Batam (2006) dan Temenggung Abdul Jamal  dan Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824 (2007) yang ditulis Aswandi Syahri dan diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam.Novelnya bertajuk Sri Batam didaulat sebagai Juara Pertama dalam sayembara yang dilaksanakan Pusat Perbukuan, Depdikbud, tahun 2000 dan diterbitkan Yayasan Pusaka Riau.

Artikel SebelumPenentu Kemenangan Raja Haji Melawan VOC pada 6 Januari 1784
Artikel BerikutAisyah binti Sulaiman
Peminat sejarah yang sudah menyunting beberapa buku, di antaranya Kitab Sejarah Melayu versi milenial setebal 621 halaman yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta tahun 2014. Juga buku sejarah bertajuk Nong Isa, Tapak Awal Pemerintahan di Batam yang ditulis Ahmad Dahlan, PhD, Aswansdi Syahri, dan Edi Sutrisno yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam tahun 2014. Selain itu juga menyelia penulisan dan penerbitan buku sejarah tokoh penting dalam Kerajaan Johor-Riau-Lingga-Pahang, yaitu Raja Ali Kelana dan Pondasi Historis Industri di Pulau Batam (2006) dan Temenggung Abdul Jamal dan Sejarah Temenggung Riau-Johor di Pulau Bulang 1722-1824 (2007) yang ditulis Aswandi Syahri dan diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam. Novel Sejarah yang ditulisnya bertajuk “Sri Batam” meraih Juara Pertama dalam sayembara yang dilaksanakan Pusat Perbukuan Depdikbud tahun 2000 dan diterbitkan Yayasan Pusaka Riau.***

Tinggalkan Balasan