MANUSIA tak terpisahkan dengan suatu tradisi. Tradisi sesungguhnya perwujudan jati diri kelompok, puak, kaum, dan atau bangsa di dunia ini. Ianya merupakan penerusan norma, nilai, adat-istiadat, dan kebiasaan yang baik di dalam masyarakat yang terwarisi. 

Kesanggupannya bertahan dalam kurun yang sangat lama membuktikan bahwa tradisi mengandungi kearifan. Berkait dengan tradisi masyarakat tempatan, ia disebut kearifan lokal, tetapi bernilai semesta. Pasalnya, pemikiran yang mendasarinya mengandungi kebenaran yang diakui oleh semua manusia asal mereka memahami dan menghayatinya dengan pikiran dan hati yang terbuka. Dalam perjuangan memajukan tamadun, fungsinya setara dengan kecerdasan intelektual.

Sebagai hasil pemikiran manusia, tradisi tak kesemuanya baik bagi kehidupan yang terus berubah. Percaya terhadap daya magis benda pusaka, umpamanya, harus diubah suai secara kreatif menjadi mencintai hasil kebudayaan sebagai penyerlah jati diri, benda seni yang menjadi simbol persatuan manusia yang mewarisi budaya itu, dan lambang penghargaan kepada ketekunan, ketelitian, kerja keras, dan mutu kerja. 

Tak hanya tradisi yang memiliki faktor negatif. Hasil pemikiran modern pun tak kurang cacatnya. Ambillah liberalisasi politik dan ekonomi sebagai contoh. Walau konon didasari nilai-nilai demokrasi dan keadilan, ternyata pemikiran itu hanya menguntungkan negara-negara dan bangsa-bangsa maju, yang membuat negara dan bangsa berkembang makin tertekan untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Alhasil, negara berkembang terus dicetak menjadi kawasan pinggiran bagi negara maju. 

Hal itu terjadi karena pada hakikatnya setiap negara dan bangsa tak berangkat dari titik dan kondisi yang sama. Akibatnya, yang tertinggal semakin tertinggal dan yang “maju” semakin gila menguras mangsanya. Kekerasan hidup terjadi di mana-mana, bahkan di negara maju itu sendiri, terutama dialami oleh masyarakat menengah ke bawah. 

Pemikiran jahat yang tersirat di sebalik manisnya istilah yang memang diciptakan untuk itulah sesungguhnya dipraktikkan dalam kenyataan. Karena apa? Ya, memang itulah matlamat sesungguhnya atau tujuan yang diselewengkan oleh penguasa yang dijiwai oleh semangat kebuasan primitif dan mendustakan kemanusiaan, bahkan ketuhanan. Dalam keadaan seperti itu, harapan dan kebanggaan apakah yang dapat diletakkan pada pemikiran modern? Jawabnya hanya satu: tak ada!

Pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai tradisi, nescaya, dapat menghindarkan kita dari serbuan buas modernisasi yang menggila. Ambillah hikmah dari kebijakan dan kearifan Sultan Mahmud Riayat Syah mengamanahkan pengawalan regalia, lambang adat-istiadat, kekuasaan, marwah, dan keagungan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kepada Engku Puteri Raja Hamidah, istri Baginda. Ada simbol pelbagai kearifan yang menandakan keunggulan karakter pemimpin.

Istri harus menjadi pendamping terbaik suami dan kepemimpinannya. Senantiasa ada peran istri yang baik di belakang kejayaan seseorang suami yang setia. Itu makna pertama dari amanah pengawalan yang dititipkan. Karena pemimpin yang baik harus memiliki pendamping terbaik pula, maka istri yang baiklah yang harus memegang peran utama itu, sama ada di kala suka apatah lagi di kala duka. Suami tak menempatkan istrinya hanya sebagai penghias tahta belaka dan istri pun tak rela menggiring suaminya ke jurang kebuasan kekuasaan.

Cinta-kasih kepemimpinan harus menjelma menjadi cinta-kasih kepada negara, negeri, dan rakyat. Penyatuan suami-istri itu pun merupakan lambang penyatuan bangsa (sang suami Melayu dan sang istri Melayu-Bugis). Dalam konteks pengawalan regalia, jika tak berada di tangan yang tepat, nasib negara dan bangsa akan tergadai. Hanya orang yang berjiwa wira dan negarawanlah yang mampu memegang amanah itu dengan segenap jiwa-raganya. Dia adalah Engku Puteri Raja Hamidah. 

Dengan menerima amanah itu, seseorang harus sanggup menghadapi pelbagai tantangan karena tanggung jawabnya sangat besar. Engku Puteri sangat menyadari konsekuensi itu dan Baginda menempatkan marwah negara dan bangsanya di atas segala-galanya. Dua kekuatan besar yang sedang dimabuk kuasa, Inggris dan Belanda, berkali-kali merayu dan menerornya dengan uang, tetapi karena kehabisan akal, akhirnya mereka menggunakan senjata. 

Perempuan mulia lagi perkasa itu tetap teguh, kokoh, tak berganjak. Lalu, dipekikkannya kepada kuasa asing itu, “Kalian tak akan mampu menjaga regalia ini karena ianya marwah bangsa dan negara kami. Hanya kamilah yang boleh dan tahu cara menjaganya dengan benar. Ia harus berada di tangan orang yang setia menggunakan segenap pikiran, hati, cinta-kasih, dan jiwa-raganya  untuk mengawalnya. Jika kalian rampas dariku, ia tinggal menjadi lempengan emas yang tak ada lagi tuahnya, tetapi memang sangat bermakna bagi budaya kalian. Ingat dan camkanlah baik-baik kata-kata beta. Kalian tak pernah mampu merampas marwah kami!” 

Sebuah tembakan tepat dan telak yang menembus kepala dan jantung penceroboh dan membuat mereka terkapar membisu. Bayangkan, diperlukan sepasukan tentara yang bersenjata api lengkap hanya untuk menghadapi seorang perempuan yang sangat setia menjaga tradisi bangsanya. Betapakah  jika semua perempuan di negeri ini bersikap sama dengan Engku Puteri Raja Hamidah? 

Tentara dunia manakah yang sanggup mengalahkan mereka?  Angkara murka manakah dalam setiap generasi yang mampu melumpuhkan tamadun kita? Politik hedonisme manakah yang dapat meruntuhkan nilai-nilai kehidupan bangsa kita yang telah dianggap baik dari generasi ke generasi? Tak ada! Alhasil, bersama suaminya Sultan Mahmud Riayat Syah dan Ayahndanya Raja Haji Fisabilillah, nama mereka sampai hari ini tetap dikenang.

Bangsa Asia lain di negara luar dapat dirujuk sebagai contoh yang representatif. Dalam hal ini, bangsa Jepang dan Korea bolehlah dirujuk. Mereka berhasil menjadi negara maju bukan semata-mata karena ketekunan memburu sains dan teknologi, melainkan juga kesetiaan menjaga, merawat, membina, dan mengembangkan tradisi. Mereka bangga terhadap tradisi dan tamadun sendiri melebihi tamadun mana pun yang datang menerpa. Artinya, bangsa-bangsa itu telah menjadi bangsa modern, tetapi bersamaan dengan itu tradisi mereka pun makin terawat dan berkembang.

Kesetiaan terhadap tradisi yang baik akan menjadikan suatu bangsa berkedudukan setara dengan bangsa mana pun di dunia ini. Mereka mampu bersaing dengan aman dan nyaman di dalam rumah besar tamadun sendiri. Karena mereka juga membuka tingkap rumah besar peradaban itu bagi masuknya udara luar yang segar (nilai-nilai tamadun bangsa lain yang positif), rumah besar tamadun mereka itu akan semakin aman dan nyaman dalam menghadapi pelbagai cabaran yang nescaya pasti juga menerpa. 

Dengan alasan itulah, dalam setiap generasi senantiasa ada tokoh yang mengabdikan dirinya sebagai penyelamat dan penyambung tradisi. Matlamatnya jelas untuk penyelamatan bangsa. Karena pilihan itu diambil, cabarannya pun silih berganti. 

Dalam konteks itu, patut disyukuri dan diapresiasi bahwa Yayasan Jembia Emas bersedia memberikan anugerah kepada para pelaku seni-budaya sebagai bagian dari pembangunan tamadun. Menurut Raja Ali Haji rahimahullah dalam Tsamarat al-Muhimmah, padahal, perkara membalas jasa rakyat (memberi penghargaan) adalah tanggung jawab kerajaan (pemerintah) sebagai indikator pemerintah yang baik.

Karena setia mengawal tradisi, Yayasan Jembia Emas  telah menunaikan baktinya sejak 2016 walaupun bukan milik pemerintah. Upaya mereka mengawal tradisi dan mengembangkan tamadun Melayu sangat patut diapresiasi. Dengan niat baik dan kerja yang profesional, Insya Allah, budi baik Tuan akan dikenang orang berbilang zaman.

Syabas kepada sastrawan Ramon Damora atas perolehan Anugerah Jembia Emas 2020. Dan, selamat mengikuti Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2020. Suatu upaya menyelamatkan tradisi dan memajukan tamadun yang memang sepatutnya dipuji. Di atas kesemuanya itu, kerja keras dan jasa baik Dato’ Seri Rida K Liamsi, tokoh utama di sebalik kerja baik mengawal tradisi ini, memang sukar ditandingi.***

Tinggalkan Balasan