Kepulauan Riau daerah pesisir yang makanan pokok masyarakatnya adalah beras. Sejak lama beras dikonsumsi masyarakatnya didatangkan dari luar. Sejak abad 19 beras didatangkan dari Siam, Jawa, dan Makassar. Meskipun ketergantungan pada pasokan beras dari luar, padi pernah ditanam disejumlah wilayah di Kepri. Padi pernah ditanam di Lingga, Bintan, dan Natuna.

Dalam laporan Aardrijkskundig Woordenboek der Nederlanden atau Kamus Geografis Belanda (1847) tulisan Abraham Jacob disebutkan Pertanian di Kepri hanya gambir dan lada. Beras, minyak, tembakau dan garam didatangkan dari Pulau Jawa dan Siam. Banyak kebutuhan lainnya didatangkan dari Malaka dan Singapura. Dalam tulisan ini akan dipaparkan sejarah penanaman tanaman padi abad 19 dan awal abad 20.

Sejarah Penanaman Padi di Kepri

Penanaman padi di Kepri tercatat dalam sejumlah literatur. Elisa Netscher dalam bukunya: Beschrijving van een gedeelte der residentie Riouw (1854) menguraikan tentang penanaman padi di Bintan.  Padi tumbuh dengan baik di Bintan. Padi dibudidayakan di tanah kering. Varietas padinya cukup baik namun hasil padi tidak bisa memenuhi kebutuhan penduduk Pulau Bintan zaman itu. Dalam catatan Netscher, selain padi juga ada penanaman tebu dalam jumlah kecil.

Penanaman padi di Bintan juga dicatat tulisan G van Overbeek de Meijer (1856) berjudul Geneeskundige Topographie Van Den Riouw Gasc Hen Archipel.  Padi di Bintan ditanam di tanah kering. Beras menjadi makanan pokok penduduk. Namun hasil padi ladang itu tidak mencukupi untuk konsumsi sendiri.

Penanaman padi di Lingga telah dilakukan di zaman Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1875-1883).  Bibit padi didatangkan dari Jawa dan pekerjanya juga dari luar Lingga. Padi ditanam di daerah Sawah Indah (Daik Lingga). Hasil padi kurang mengembirakan. Usaha Sultan Sulaiman menggalakkan penanaman padi dan nantinya mendorong penanaman sagu dan usaha ekonomi lainnya dicatat dalam sejumlah sumber. Termasuk catatan Tengku Muhammad Saleh Damnah, Zuriat Sultan Mahmud Riayat Syah.

Padi juga ditanam di daerah Pulau Tujuh. Di daerah Natuna bagian utara tanaman padi dibuat di ladang. Hasil panennya tak bagus. Di Natuna bagian selatan hasil panen juga mengecewakan. penanaman padi juga dilakukan di Anambas. Panen tidak bagus karena terkendala cuaca dan juga hama wereng.

Koran De Locomotief terbitan 11 Agustus 1919 memberitakan tentang penanaman padi di Pulau Mensanak (Lingga) yang tumbuh dengan baik. Penanaman padi juga bagus di Sungai Durian daerah Tambelan yang masuk Afdeeling Tanjungpinang. Padi di Tambelan hasil panennya cukup bagus sekitar 800 gong padi dan penanaman padi dilanjutkan di sana.

Kelangkaan Beras

Ada catatan kasus kelangkaan beras di wilayah Kepri. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 15 Maret 1918 memberitakan Kelangkaan Beras di Riau. Penduduk Riau mengirim surat permintaan yang mendesak adanya kasus kelangkaan beras di Kepulauan Natuna. Diharapkan beras bisa dikirim lewat Singapura. Ada kapal merek Calmoa yang melayari rute Singapura-Natuna yang segera berangkat.

Kelangkaan beras terjadi tahun 1919. Kasus ini diberitakan dalam surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie tanggal 22 Desember 1919. Stok beras makin menipis karena terhentinya pasokan beras dari Pantai Barat Sumatra. Harga beras juga makin naik karena tinggal mengandalkan pasokan beras yang datang dari Singapura.  Beras dijual 85 sen per katti. Orang Tionghoa makan beras impor dari Singapura. Masyarakat Lingga dan Karimun tidak mengeluhkan kondisi kelangkaan beras karena adanya makanan penganti dari sagu.

Program Penanaman Padi

Sejarah masa lampau membuktikan tanaman padi bisa tumbuh di Kepulauan Riau. Jadi kalau hari ini pemerintah daerah membuka sawah baru dan menanam padi ini berarti mengulang sejarah masa lalu. Upaya ini perlu didukung karena Kepri tingkat ketergantungannya pada pasokan beras dari luar Kepri sangat tinggi.

 Lahan sawah dan produksi padi Provinsi Kepri masih minim. Hanya 1150 ton padi atau 655 ton beras tahun 2018.  Kebutuhan beras Kepri setahun 760 ribu ton.  Lingga, Anambas, Natuna, Bintan dan Karimun sangat potensial untuk pertanian padi. Keberadaan desa-desa transmigrasi jadi modal dalam pengembangan sawah. Di Natuna, Anambas, Karimun, Lingga termasuk Bintan ada sejumlah desa yang penduduknya dulunya transmigran dari Jawa. Adanya kecendrungan para transmigran terbiasa dengan budaya menanam padi. Kebiasaan ini bisa ditularkan ke penduduk lokal. **

Tinggalkan Balasan