Makam pahlawan Melayu, Badang di Pulau Buru, Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)
Makam pahlawan Melayu, Badang di Pulau Buru, Karimun (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

DATUK Badang, begitulah sapaan takzim orang kepadanya. Kala masa kanak-kanak dan remajanya dia disapa Badang saja sampai nama itu melegenda. Di dalam angan masyarakat dia tak pernah tua, tetap muda selamanya. Yang pasti, dia menjadi salah satu tokoh legendaris dalam sejarah Melayu sehingga terkenal di mana-mana.

Raja Ali Haji rahimahullah (RAH) dalam karya beliau Tuhfat al-Nafis (TAN) menyebutkan bahwa Badang hidup pada masa Kerajaan Melayu berpusat di Temasik (Singapura). Rajanya kala itu bernama Raja Muda bergelar Seri Ratna Wikrama. Raja ini adalah cucu Raja Seri Tri Buana yaitu raja pertama Melayu yang turun dari Bukit Siguntang ke Bintan, yang menjadi raja di Bintan menggantikan ibu angkat kemudian menjadi mertuanya, seorang raja perempuan, Wan Seri Beni namanya. 

Setelah membangun Bintan, Seri Tri Buana memindahkan pusat pemerintahan ke Temasik. Beliau pulalah yang mengubah nama Temasik menjadi Singapura karena melihat “singa jadi-jadian” (singa pura-pura, … tak tahunya sekarang Singapura menjadi singa sungguhan di Asia Tenggara!). Peristiwa itu terjadi ketika beliau membuka hutan Temasik untuk dijadikan pusat pemerintahan. Karena semasa dengan Raja Seri Ratna Wikrama berarti Badang hidup sekitar abad ke-13. Anehnya, Badang jauh lebih masyhur daripada Sang Raja.

Beberapa hari ke belakang ini perasaan Badang mengharu biru: kesal, marah, sedih, dan heran berbaur menjadi satu. Betapa tidak? Tak seperti hari-hari sebelumnya, pemuda nelayan pantai itu mendapati lukahnya kosong, tak berisi ikan walau setengah ekor pun. Anehnya, sisik-sisik ikan ada di dalam lukahnya, sedangkan ikannya raib entah ke mana. Itu gejala yang tak biasa karena tak ada ikan yang sudah masuk ke lukah dapat lepas kembali. Terlintaslah di benaknya bahwa ada orang yang mencuri ikan-ikannya.

Dalam deraan perasaan yang berbaur itu, keesokan harinya dia mengintai di sebalik pohon besar, tak jauh dari lukahnya. Tak perlu menanti terlalu lama. Menjelang tengah hari dia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ada makhluk yang mendekati lukahnya seraya melahap isinya. 

Dalam terpaan marah yang memuncak, tanpa berpikir panjang dan dengan ketangkasan khas nelayan, Badang menerkam si pencuri yang sedang asyik melahap ikan-ikan itu dari belakang. Tangkapannya tepat dan dipeluknya erat-erat makhluk itu. Ternyata, pencuri itu hantu laut. 

Pelukan keras Badang menyebabkan si pencuri nyaris tak dapat bernapas. Dalam perjuangan hidup dan mati, si hantu meminta belas kasihan agar dia dilepaskan dari pelukan Si Badang. Dia berjanji akan meluluskan apa pun permintaan si pemilik lukah itu.

Tawaran si hantu diterima dengan baik oleh Badang. Dia minta agar dirinya dijadikan orang kederat (kuat, perkasa). Si hantu heran dan bertanya, ”Mengapa tak minta uang atau harta?” Badang menjawab bahwa sudah lama dia bercita-cita membantu raja dan kerajaannya membuka hutan untuk membangun Negeri Singapura. Jika memiliki kederat, tentulah raja tak akan menolaknya untuk berbakti. Kata yang empunya cerita, fisik Si Badang ini kurus sehingga tak akan meyakinkan kalau mengajukan diri untuk membaktikan diri membangun negeri kala itu. 

“Engkau boleh menjadi orang kederat dengan dua syarat,” kata si hantu. “Pertama, engkau harus makan muntah aku. Syarat kedua, engkau tak boleh menikah. Jika kelak engkau menikah, kekederatanmu akan lenyap.”

“Apa pun persyaratannya akan kutaati asal dapat membaktikan diri kepada negeriku,” jawab Si Badang mantap. Si hantu pun muntahlah, lalu muntahan itu dimakan Si Badang tanpa rasa jijik sedikit pun. Pasalnya, semangatnya untuk mengabdikan diri kepada negeri dan bangsanya mengatasi semua hal yang dapat merintanginya. Dalam keadaan si hantu masih dalam pelukan eratnya, Badang mencoba kekuatannya untuk menumbangkan pohon besar tempat dia bersembunyi tadi. Betul, dengan hanya sentuhan ujung jari telunjuk, pohon itu pun tumbanglah. 

Karena janjinya sudah ditepati, si hantu dilepaskan dan raiblah dia dalam sekejap itu juga konon. RAH dalam TAN bertutur, “… dan masa kerajaannyalah mendapat seorang daripada rakyatnya yang gagah perkasa namanya Si Badang yang boleh mencabut kayu-kayu dua-tiga pemeluk, sebab ia makan muntah hantu konon.”

Tak terperikan betapa suka-citanya Badang karena perubahan dalam dirinya itu. Rupanya, hasrat untuk berubah ke arah yang lebih baik ada pada semua orang, pada semua masa! Itu yang perlu dicamkan bagi sesiapa pun yang hendak mengomentari masyarakat mana pun di dunia ini. Dalam hal ini, masyarakat tak pernah bahagia berada dalam keadaan statis, apatah lagi terpuruk.

Berbekal kegembiraan yang tak bertara, pulanglah Badang ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang itu, disambilkannya menumbangi dan mencabuti pohon-pohon besar yang masih tumbuh liar di kampungnya. Menjelang sampai ke rumahnya, hampir separuh kampung sudah terang-benderang dan siap untuk dibangun rumah-rumah penduduk, kawasan pertanian, dan lain-lain. Gemparlah berita ke sekotah kampung bahwa Si Badang kini sudah berubah menjadi manusia kederat, memiliki kekuatan yang luar biasa. 

Kehebatan Badang akhirnya sampai juga ke Istana Singapura. Lalu, melalui utusannya Sang Raja mengundang pemuda itu menghadapnya ke istana. Sesampainya di istana, kekederatan Badang diuji dan, tentu, dia lulus dalam ujian itu. Bukan main gembiranya Raja Seri Ratna Wikrama mendapati rakyatnya yang perkasa. Kalau dilihat bentuk fisiknya sangat tak meyakinkan, tetapi dengan kuasa Tuhan, Si Badang memiliki kekuatan dalaman yang sungguh luar biasa. 

Si Badang pun lebih bahagia lagi karena dengan demikian, cita-citanya untuk berbakti kepada kerajaan dan rajanya menjadi kenyataan. Bersyukurlah dia kepada Tuhan dan tetap teguh memegang janjinya. Memang, “Pantang Melayu mungkir janji!” Bukankah Kerajaan Melayu itu didirikan dengan janji atau sumpah setia? Sesiapa pun yang mungkir janji di kawasan Melayu, cepat atau lambat, akan buruk padahnya.

Adalah Datuk Demang Lebar Daun, yang mewakili rakyat, dan Sang Sapurba atau setelah dirajakan bergelar Seri Tri Buana mengangkat sumpah setia. “Rakyat tak akan mendurhaka kepada raja, tetapi raja pun tak boleh mempermalukan rakyat!” Bukankah Singapura ditimpa bala dilanggar todak—sesudah masa Badang—ketika rajanya Paduka Seri Maharaja ingkar janji? Singapura di bawah Raja Iskandar Syah dapat dikalahkan Mojopahit juga karena penguasanya ingkar janji. Tragedi berdarah yang paling menggemparkan di alam Melayu yaitu Sultan Mahmud mangkat dijulang, dibunuh oleh Megat Seri Rama, juga karena rajanya mungkir janji. Dan, tidakkah Kerajaan Melaka yang amat masyhur dapat dijajah oleh Portugis juga karena penguasanya ingkar janji?

Itulah keistimewaan Datuk Badang. Dari karirnya sebagai pegawai rendah sampai menduduki puncak karir sebagai Panglima Hulubalang yang mengurusi dan mengawasi pembangunan Kerajaan Bintan-Temasik dan daerah takluknya, dia tetap setia dengan janjinya: mengabdikan diri untuk negeri dan tak menikah sampai mati. Setelah meninggal, dengan penuh penghormatan, termasuk kehormatan dari Raja India yang mengirimkan batu nisan khas, dia dikebumikan di kampung halamannya Pulau Buru, di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau sekarang. 

Versi lisan dari mulut ke mulut masyarakat tempatan menyebutkan bahwa Buru itu adalah pulau hanyut. Artinya, dahulu pulau itu bagian dari daratan Temasik atau Johor. Hal itu dihubungkan dengan jarak antara Buru dan Temasik atau Johor sangat dekat, “Hanya selemparan batu,” kata orang tua-tua. Apatah lagi, kalau yang melemparkan batu itu Si Badang. 

Versi lain menyebutkan Badang sangat mencintai tanah kelahirannya sehingga kalau meninggal beliau minta dikebumikan di Buru. Yang jelas, Buru pada masa Kerajaan Melayu dulu sampai dengan Kerajaan Riau-Johor menjadi tempat transit yang penting bagi raja dan para pembesar dalam perjalanan dari Daik dan Bintan ke Temasik dan Johor pulang-pergi. Apa pun versinya, kawasan persebaran cicit-piut Datuk Badang itu memang sangat luas meliputi Kepulauan Riau, Riau, Semenanjung Malaysia, Singapura, sampailah ke negeri-negeri yang dekat dan jauh.

Masyarakat berharap, ada ikan yang masuk ke lukah “Azam Pembangunan Budaya” di kampung Datuk Badang.  Sampai kini azam masih terpendam, sedangkan harapan belum juga kesampaian. Padahal, kalaulah Datuk Badang dimakamkan di Singapura atau di Johor, siang-malam kuburnya akan harum dan terang-benderang sehingga takkan pernah sepi dari peziarah yang mengaguminya sebagai pejuang. Namun, itulah pilihan Sang Setia yang rela menderita demi keharuman tanah kelahiran. Sikap kesatria sejati sering dicuaikan orang sekarang. Suatu pilihan yang memang menuntut pengorbanan!*** 

Tinggalkan Balasan