Bulan Kedelapan Nabi Sulaiman

0
2.325 views

INILAH perintah Allah kepada manusia, khasnya umat Islam, Rasulullah SAW wajib diimani. Perkara itu memang telah ditetapkan oleh Allah kepada makhluk-Nya sebagai bakti yang tak boleh diingkari. Lagi pula, kebenaran Rasulullah memang terbukti. Baginda hadir membawa kebaikan kepada seluruh alam sehingga jiwa yang tercerahkan pasti menerimanya dengan sepenuh hati. 

Akhlak dan atau karakter Baginda yang agung dijamin oleh Allah. Alhasil, sesiapa pun yang menauladaninya akan menikmati kebahagian sejati yang didambakan oleh semua makhluk ciptaan Ilahi. Orang-orang yang memercayainya dengan sepenuh jiwa akan beroleh keselamatan, tak hanya di dunia, tetapi lebih-lebih di akhirat yang kekal selama-lamanya. 

Atas dasar itulah, karakter manusia yang berhubung dengan Rasulullah ditandai oleh adanya keimanan kepada Baginda. Amanat itu terkandung di dalam karya Raja Ali Haji rahimahullah. Di dalam Tuhfat al-Nafis, misalnya, dikisahkan perihal raja-raja nusantara yang mengimani Rasulullah.

“… Syahadan adalah Raja Opu La Maddusilat inilah awal Raja Bugis yang mula-mula masuk agama Islam yang berimankan Nabi kita Muhammad salla Allahu ‘alaihi wasallam,” (Ahmad & Haji dalam Matheson (Ed.) 1982, 24).

Nukilan di atas menjelaskan perihal keturunan Raja-Raja Bugis yang mula-mula memeluk agama Islam. Keislaman Raja Opu La Maddusilat ditandai oleh berimannya beliau kepada Rasulullah SAW, yang sudah tentu pula tak dapat dipisahkan dengan keimanan kepada Allah SWT. Secara tersirat, petikan Tuhfat al-Nafis di atas mengandungi pesan ini. 

Dalam kehidupan ini, bahkan kehidupan sesudah mati pun, untuk mendapatkan syafaat dari Baginda pada hari kiamat, perhubungan manusia dengan Rasulullah itu sangat mustahak. Dengan kata lain, terutama bagi umat Islam, perhubungan dengan Rasulullah wajib dipelihara. Untuk itu, manusia wajib mengimani Baginda Rasulullah. Tanpa iman, mustahil terjalin perhubungan yang mesra antara umat dan Rasul pilihan Allah.

Adakah keterangan yang dapat dirujuk untuk mengonsultasikan amanat yang termaktub di dalam Tuhfat al-Nafis itu? Perkara ini mustahak bangat karena berkaitan erat dengan persoalan hidup semasa hidup di dunia dan hidup setelah mati di dunia, yakni kehidupan yang abadi di akhirat.

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tak sesat dan tak pula salah. Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),” (Q.S. An-Najm, 1-4).

Begitulah jaminan Allah akan kebenaran kenabian sekaligus kerasulan Muhammad SAW. Sebagai konsekuensinya, manusia wajib beriman kepada Baginda. Pasalnya, perintah beriman itu memang berasal dari Allah. Apatah lagi, kebenarannya dijamin oleh Allah. Sesiapa pun yang mengimani Allah, seyogianya juga mengimani Rasulullah. 

Lebih lanjut, perian tentang keimanan kepada Nabi Muhammad SAW juga terkandung di dalam Syair Sinar Gemala Mestika Alam (Haji dalam Malik & Junus (Eds.), 2000). Syair ini secara keseluruhan memang berkisah tentang peri kehidupan Rasulullah secara naratif yang sungguh memikat. Perkara yang sedang dipercakapkan ini, perihal mengimani Rasulullah, terdapat pada untaian syair bait 3-19. Berikut ini hanya disajikan kutipan bait 7 saja.

Bulan kedelapan Nabi Sulaiman
Datang dengan kesukaan iman
Memberi khabar yang keterangan
Buntingkan Nabi akhirul zaman

Bait syair di atas merupakan bagian dari kisah yang menceritakan peristiwa ketika Rasulullah masih di dalam kandungan ibunda Baginda. Dalam bulan-bulan kehamilan Baginda itu, Ibunda Nabi terus didatangi arwah para nabi terdahulu. Bait syair di atas bercerita tentang kedatangan Nabi Sulaiman a.s. 

Tak hanya datang, tetapi Nabi Sulaiman pun membuktikan bahwa beliau sendiri juga beriman kepada Rasulullah. Kesemuanya itu adalah bukti kebenaran yang kelak akan dibawa oleh Baginda Rasulullah untuk menjadi berkah bagi alam semesta dan manusia sejagat. Dan, Nabi Sulaiman memastikan bahwa tak ada nabi lagi setelah Rasulullah SAW (Nabi akhirul zaman).

Kisah yang diriwayatkan di dalam bait syair di atas menyiratkan amanat kepada manusia, khasnya umat Islam, agar beriman kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, beriman kepada Rasulullah tergolong karakter mulia lagi terpuji. Keteguhan sifat dan sikap yang secara konsisten diterapkan dalam perilaku keimanan itulah yang harus dibuktikan oleh manusia, khususnya orang-orang beriman, jika hendak berjaya di dunia ini dan berbahagia di akhirat kelak. 

Pasalnya, beriman kepada Rasulullah bermakna mengikuti secara taat syariat yang dibawa oleh Baginda. Kesemuanya juga pada akhirnya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi sesiapa pun yang secara konsisten dan konsekuen menerapkannya dalam semua tindakan dan perbuatannya di kehidupan dunia ini. Soal akhiratnya, tinggal menikmati indahnya keimanan yang telah diterapkan dalam kehidupan yang serbafana, juga serbatipu daya, tetapi telah diantisipasi dengan baik. Penangkal terbaiknya, ya keimanan itu tadi.  

Lalu, apakah yang dimaksudkan dengan beriman? Rasulullah bersabda tentang iman di dalam salah satu hadits Baginda. Pelajaran dan hikmah tentang iman itu, antara lain, terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

Pada suatu hari kami (Umar bin Khattab r.a. dan para sahabat) duduk-duduk bersama Rasulullah SAW. Lalu, muncul di hadapan kami seseorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tak nampak tanda-tanda perjalanan. Tak seorang pun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah SAW. … Kemudian, dia bertanya lagi, kini beri tahu aku tentang iman.” Rasulullah SAW menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada qadar baik dan buruknya….” (H.R. Muslim).

Sabda Rasulullah yang dikemukakan oleh Umar bin Khattab dan diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas menegaskan bahwa yang tergolong beriman itu termasuk beriman kepada Rasulullah dan para rasul yang lain. Hadits itu juga menjadi pembenaran tentang ajaran bahwa manusia, khasnya umat Islam, wajib mengimani Rasulullah.

Bulan kedelapan kehamilan ruh Nabi Sulaiman datang berkunjung kepada Ibunda Rasulullah SAW. Itu bukanlah datang sebarang datang. Kedatangan beliau membawa kabar yang teramat gembira. Akan hadir seorang pemimpin besar yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan manusia yang bersedia diselamatkan dan seluruh alam semesta. Maka, amat beruntunglah sesiapa pun yang ikhlas menjadi pengikut Baginda.

Tak hanya sampai di situ. Kehadiran Nabi Sulaiman juga menampilkan sesuatu yang sangat patut untuk ditiru. Beliau menunjukkan karakter manusia yang bermutu. Walau kehadirannya sebagai pesuruh Allah jauh lebih dahulu, beliau menyatakan keimanannya kepada Rasulullah sebagai Nabi dan Rasul Penghulu. Orang beriman memang terlihat dari sifat, sikap, pikiran, perkataan, yang kesemuanya konsisten dengan perilaku.

Maka, Nabi Sulaiman memang patut dijadikan tauladan. Beliau datang membawa pesan sekaligus menampilkan contoh manusia yang memiliki karakter beriman. Pasalnya, contoh itu memang diperlukan bagi umat yang datang kemudian. 

Dengan ketauladanan itu, menjadi jelaslah bagi nurani yang terbuka untuk diambil sebagai pedoman. Karakter beriman kepada Rasulullah memang wajib diterapkan dalam kehidupan, sama ada dalam peribadatan atau pekerjaan keseharian yang semata-mata tugas keduniaan. Dengan begitulah, manusia akan selamat pada hari ini dan hari kemudian.  Nescaya, mereka akan terhindar dari segala godaan dan perilaku syaitan.***

Tinggalkan Balasan