Pemandangan kawasan Sungai Kolak, di Kota Kijang, Pulau Bintan tahun 1937. Tampak menara setinggi 60 meter yang menyangga bentangan 360 meter kabel baja yang melintasi Selat Kijang. Wahana ini berfungsi sebagai lintasan kabelbaan atau lori pengangkut bijih bauksit dari Pulau Angkut dan Pulau Koyan ke Sungai Kolak. (foto: dok. aswandi syahri)

INDIKASIpertama tentang adanya kandungan bijih bauksit di Pulau Bintan diperoleh dari serangkaian penelitian tentang potensi bijih timah dan bahan tambang lainnya di Kepulauan Riau yang dilakukan oleh Dienst Mijnwezwn (Kantor Urusan Pertambangan Hindia Belanda yang berkedudukan di Bogor) di wilayah Kepulauan Riau yang dimulai sekitar tahun 1920.

Hasil penelitian sejak tahun 1920 itu dipublikasi pada tahun 1925 dalam Verslagen en Mededelingen betreffendeIndische delfstoffen en hare toepassingen(Laporan dan Pemberitahuan Terkait Bahan Tambang di Hindia Belanda dan Kegunaannya): kesimpulannya, penelitian lebih lanjut tentang potensi bijih bauksit di Pulau Bintan dihentikan, karena kualitas sampel bijih bauksit ditemukan berkadar rendah.

Akan tetapi dalam waktu yang bersamaan, penemuan cadangan bijih bauksit di Pulau Bintan itu telah mendapat perhatian serius pula dari oleh dua perusahaan tambang swasta, N.V. Oost-Borneo Maatschappij dan N.V. Stikstof Syndicaat yang berbasis di Bandung. Dengan biaya patungan dari dua perusahaan ini, telah dilakukan pula serangkaian penlitian lebih lanjut di Pulau Bintan dibawah pimpinan Biro Teknik  M. Schröter sejak tahun 1924.

Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dengan metode pencucian bijih bauksit,  maka kadar kualitas bijih bauksit yang ditemukan di daerah Kijang, Pulau Bintan dapat ditingkatkan. Temuan baru yang mengembirakan telah membuka jalan kepada N.V. Oost-Borneo Maatschappijmengajukan izin eksploitasi penambangan bauksit di Pulau Bintan ke pemerintah tinggi di Den-Haag dan mebentuk perusahaan Bauxiet Syndicaat(Sindikat Bauksit) yang melibatkan N. V Billiton Maatschappij dan NV Mijnbouw Maatschappij Aequator pada tahun 1925.

Penemuan cara mengolah cadangan bijih bauksit di Kijang, Pulau Bintan pada 1924, dan pengeksploitasiannya sejak 1935 telah melambungkan nama Pulau Bintan, dan daerah Kijang sebagai penghasil bauksit utama di dunia pada dekade ketiga abad ke-20. Dan, berbeda dengan penambangan bauksit pada masa kini yang menimbulkan banyak masalah, maka penemuan dan penambangan bauksit di Kijang, Pulau Bintan pada masa lalu telah melahirkan sebuah kota baru di Pulau Bintan yang sangat terkenal  pada zamannya: Kota Kijang.

Demikianlah, dalam perjalanan sejarahnya, Kota Kijang tercatat sebagai salah kota penting dalam sejarah pertambangan di Indonesia. Di kota inilah tambang bouksit pertama dan tertua di Indonesia dibuka dan dikelolaN.V. Nederlandsch-Indische Bauxiet Exploitatie  Maatschappij – Maskapai Eksploitasi Bauksit Hindia Belanda (N.V. NIBEM) yang ditubuhkan pada bulan September 1935, setelah sebelumnya melikuidasi  Bauxiet Syndicaatpada tahun 1932.

***

Cadangan bauksit di Kijang, Pulau Bintan, untuk pertamakali ditemukan di daerah Sungai Kolak, yang lokasinya tepat berada di pusat Kota Kijang sekarang. Penemuan cadangan bijihbauksit ini adalah peristiwa penting, sekaligus menjadi tonggak awal perjalanan sejarah Kota Kijang dan sejarah dunia pertambangan bauksit di Indonesia. Karena sejak saat itu, daerah di belahan timur Pulau Bintan ini mulai berkembang menjadi sebuah “kota baru” dan dikenal dunia.

Untuk mendukung kegiatan eksploitasi peanambangan bauksit itu, N.V. NIBEM membangun sejumlah infrastruktur pendukung, instalasi pertambangan, pelabuhan, bangunan rumah baru, serta sejumlah pesanggrahan (loogergebouw) yang sisa-sisanya hingga kini masih berdiri kokoh menghiasi Kota Kijang.

Antara tahun 1933 hingga tahun 1935, N.V. NIBEM sibuk membangun sejumlah instalasi pendukung kegiatan pertambangan bauksit dan fasilitas lainnya secara besar-besaran. Pada tahun-tahun awal beroperasinya, di pusat instalasi pertambangan di daerah Sungai Kolak, mulai ditempatkan pula beberapa orang tenaga administrator yang terdiri dari:  1 orang machinist, 1 orang ahli kelistrikan, 1 orang ahli tanah, dan 1 orang pengawas (opzichter).

Setelah eksploitasi tambang bauksit di Pulau Bintan dimulai untuk pertama kalinya pada tahun 1935, sejumlah orang Cina Hakka dari daerah Kwangtung yang sebelumnya bekerja pada tambang timah di Pulau Bangka dan Belitung, mulai  berdatangan. Perlahan-lahan, Kijang mulai tumbuh sebagai sebuah kota seiring dengan aktivitas penambangan bauksit.

Diantara instalasi dan fasilitas penting yang pertama dibangun N.V. NIBEM adalah: Kerekan dan tangki batu bara; instalasi oven pengeringbijih bauksit (droogoven); tempat penampungan bijih bauksit (opslagplatts) berkapasitas 10.000 ton yang dilengkapi dengan beberapa buah transportband pengangkut bijih bauksit di Selat Kijangyang berkapasitas 250 ton per jam untuk setiap transportband; instalasi pencucucian bijih bauksit; sentral pembangkit listrik, dan pelabuhan ekspor di Selat Kijang.

Ketika cadangan bijih bauksit dengan kualitas yang lebih baik ditemukan dalam jumlah yang banyak pada dua buah pulau yang tepat berada di seberangSungai Kolak (Pulau Angkut dan Pulau Kojan atau Koyan), dibangun pula instalasi kabelbaanatauloriatau“gerobak gantung”, yang pembangunannya dilakukan oleh sebuah perusahaan Jerman (Duitsche firma).

Instalasi kabelbaan ataulori ini ditopang oleh dua buah menara tinggi untuk menyangga kawat baja kabelbaan yang membentang di atas Selat Kijang. Kabelbaand inilah yang membawa bijih bauksit dari Pulau Angkut dan Pulau Koyan ke Sungai Kolak. Instalasi kabelbaanataulori ini sangat terkenal, dan menjadi daya tarik sekaligus  “landmark” kota Kijang pada zamannya.

Setelah beroperasi selama tujuh tahun, aktivitas N.V. NIBEM sempat beralih ke tangan pemerintah pendudukan Jepang ketika menguasai Kepulauan Riau yang mereka rubah namanya menjadiBintan  To,  dan berada dibawah kendali Syonan To atau Singapura sejak tahun 1942 hingga tahun 1945.

Aktivitas pertambangan secara perlahan dimulai kembali oleh N.V. NIBEM pada tahun 1946. Ketika ditinggalkan oleh pemerintah pendudukan Jepang, di Sungai Kolak, Kijang, terdapat 150.000 ton bauksit yang siap untuk diekspor.

N.V. NIBEM mengelola tambang bauksit Kijang hingga tahun 1959. Setelah itu tambang bauksit ini diambil alih pemerintah Republik Indonesia seiring dengan nasionalisasi semua perusahaan asing, terutama milik Belanda di bekas daerah Hindia Belanda. Terakhir, dan sebelum dihentikan untuk selamanya, tambang bauksit di Kota Kijang ini dikelola oleh P.T. Aneka Tambang unit Pertambangan Bauksit Kijang.***

Tinggalkan Balasan