Sejak dilaporkan oleh Controleur J.G. Schot pada tahun 1883, inilah salah satu foto pertama yang merekam artefak (keramik, potongan kayu, dan pasak perahu dari kayu sepang) yang ditemukan di perahu kuno Sungai Jakas di Pulau Bintan pada tahun 1979. Dirilis oleh surat kabar Straits Times, Singapura, pada bulan Mei 1979. (dokumentasi aswandi Syahri)

Jauh sebelum sebuah laporan viral yang ditulis Alice Wong berkenaan penemuan  perahu kuno (yang ketika itu diyakini sebagai jung dari zaman Dinasti Ming) dilansir oleh Sttraits Times, Singapura, pada tahun 1979, sesungguhnya keberadaan perahu kuno di Sungai Jakas, Pulau Bintan, telah pernah dilaporkan oleh Controleur Batam, J.G. Schot,  yang mengunjungi sejumlah kawasan di pedalaman Pulau Bintan pada tahun 1882.

Menurut Schot, di likasi sisa perahu (vaartuig) itu, ditemukan pasak besar dari kayu sepang (sapan houten) yang masih utuh, tidak rusak dimakan usia. Schot juga mencatat sebuah cerita pusaka orang Bintan yang erat kaitannya dengan sisa-sisa sebuah wangkang seorang bangsa Cina yang disebut Tok Sekoedai.

Selain itu, di Sungai Bere, sekitar 200 meter dari kaki gunung Bintan, Schot juga melaporkan penemuan dua buah pelatuk meriam tembaga yang dikaitkan juga dengan tokoh Tok Sekoedai yang terdampar bersama perahunya.

Cerita masyarakat setempat tentang Tok Sekoedai yang terdampar itu, sebagaimana dicarat oleh Schot, kurang lebih sebagai berikut: “Konon, putera Tok Sekoedai yang hilang ketika wangkang itu terdampar masih hidup. Namun demikian ia telah berubah menjadi seekor burung, dan terbanglah ia ke Tanah Siam, ke tempat bundanya, dan sedih hatinya bundanya mendengar kabar berita yang dibawanya dari seberang. Mendengar akan hal itu segera ia pergi mencari ayahandanya, dan terbang kembali ke Bintan, sambil mencari ke sana-kemari. Namun sia-sia”.

Menurut Schot, hingga tahun 1883, di Pulau Bintan masih terdengar sejenis burungyang oleh Orang Bintan dinamakan Tok Sekoedai, dan erat hubungannya dengan kisah perahu itu. Namun demikian, laporan Schot dan cerita pusaka orang Bintan tentang perahu itu kemudian terkubur waktu. Cukup lama. Setelah kemerdekaan, barulah cerita tentang perahu kuno ini kembali mendapat perhatian. Paling tidak, hingga tahun 1979,  telah dilakukan dua kali survei dan penelitian terhadap sisa-sisa perahu kuno ini oleh pemrintah Indonesia melalui pihak terkait. Dan penelitian tahun 1979 adalah penelitian yang terbesar, yang pernah dicatat.

Pertama, sebuah survei mula-mula sekali dilakukan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Riau. Bupati Kepulauan Riau ketika itu membentuk tim survei IDAKEB yang dipimpin oleh M.A. Effendi B.A sempena penelitian situs-situs sejarah di Pulau Bintan yang dilakukan pada tanggal 11 hingga tanggal 13 Juli 1968: salah satu fokusnyasurveinya adalah sisa-sisa perahu kuno di Sungai Jakas, Pulau Bintan.

Hasil kerja tim suvei IDAKEB tersebut menyimpulkan sisa-sisa perahu kuno itu sebagai sisa-sisa bahtera Bai Intan dari kerajaan Melayu (Tulang Bawang) yang kandas di Pulau Bintan dalam perjalannya ke negeri Cina. Sama seperti, J.G. Schot, tim ini juga melaporkan masih terdapat sisa pasak kayu yang terbuat dari kayu sepang.

Penelitian kedua, yang menjadi penelitian terpenting dan melibatkan pakar arkeologi, dilakukan lebih kurang sebelas tahun kemudian (pada bulan Mei 1979). Tepatnya, penelitian ini dilakukan setelah surat kabar Straits Times di Singapura merilis sebuah laporan berjudul “Jung dating back to  ming period found” pada bulan Mei 1979. Laporan yang ditulis oleh wartawan Alice Wong berdasarkan wawancara dengan seorang pedagang antik bernama Lee Swee Hoe yang mengaku pernah mengunjungi sisa-sisa perahu ini. Laporan tersebut sempat viral dan  mengehebohkan jagad arkeologi dan sejarah maritim di Singapura dan Indonesia. Salah satu sebabnya adalah karena adanya pernyataan Lee Swee Hoe  yang mengatakan bahwa “…artefak (pecahan keramik dan potongan kayu) dan sisa-sisa perahu kuno di Pulau Bintan itu adalah bagian dari salah satu perahu armada Zhenghe (Cheng Ho)pada zaman Dinasti Ming, dan perahu itu mengandungi harta karun….”

Laporan Alice Wong yang dirilis oleh surat kabar Straits Times ini kemudian menarik perhatianPierre-YvesManguin, seorang  arkeolog berkebangsaan Prancis darilembaga riset Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO) yang berpangkalan di Singapura. Singkatnya, setelah mendapat informasi lebih jauh tentang lokasi dan keberadaan sisa perahu kuno tersubut, Manguin menghubungi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional(Puslit ARKENAS)  di Jakarta untuk bekerjasama melakukan penelitian  arkeologi.

Manguin dan timPuslit ARKENASuntuk pertama kalinya berhasil menyingkap endapan lumpur dan genangan air laut yang menutupi sisa-siasa perahu di  Sungai Jakar ini melalui penggalian arkeolgis (ekskavasi) antara tanggal 21 Deseber 1981 hingga  9 Januari 1982. Hasilnya, tim gabungan ini antara lain berhasil mengungkap bagian-bagian perahu yang terdiri dari: lunas, papan, sekat (bulkhead), alas tiang (mast step) dan tiang-tiangnya. Berdasarkan temuan-temuan dalam ekskavasi, dapat dipastikan bahwa haluan perahu menghadap kenarah Tenggara dan buritan kearah Barat Laut.

Ekskavasi yang dilakukan tim gabungan ini juga menemukan sejumlah pecahan tembikar dan keramik di dalam badan perahu; berupa tiga pecahan tembikar kasar dan satu pecahan keramik Cina. Pecahan keramik warna biru dan putih tersebut berasal dari pertengahan abad XVII (zaman Ming Akhir). Selain itu, tim ini juga melakukan analisis Carbon 14@ Carbon Dating terhadap contoh kayu sisa perahu pada Laboratoire du Radiocarbone,  Centre des Faibles Radioactivites (CEA/CNRS), Prancis.

Hasil penelitian dan ekskavasi tim gabungan Indonesia-Pranci ini menjelaskan bahwasanya situs perahu karam di Bukit Jakas bukanlah Jung Ming atau salah satu perahu armada Cheng Ho sebagaimana diyakini sebelumnya.

Mengapa? Karena, teknik sambungan papan, lubang tiang pengapit, dan model lubang mata kakap pada perahu tersebut adalah khas perahu Melayu pada masa lalu. Apalagi, papan dan pasak yang digunakan pada perahu tersebut adalah kayu sepang yang banyak terdapat di Kawasan Pulau Tujuh, Pulau Lingga.Dan kayu sepang tersebut tidak dikenal di Negeri Cina.

Kini, sisa-sisa perahu kuno Melayu ini terletak kira-kira 2 Km dari muara sungai Bintan, di ujung Teluk Bintan. Atau, pada titik kordinat 10 4’ Lintang Utara dan 1040 28’ 40’ Bujur Timur:tepatnya di sisi kiri sebuah anak Sungai Bintan, bernama  Sungai Jakas yang bermuara di sisi kanan Sungai Bintan, di kaki Bukit Bintan Besar yang disebut juga Bukit Jakas: nama bukit dan nama anak Sungai bintan itulah yang dilekatkan pada nama situs perahu kuno itu.***

Artikel SebelumBadang Perkasa
Artikel BerikutPulau Pengujan Abad 19
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan