DENGAN takdir Allah, selamatlah Siti Rafiah dan putra yang masih di dalam kandungannya keluar dari belantara. Dia pun dipertemukan dengan keluarga budiman yang berumah di pinggir desa. Penghuni rumah itulah kemudian yang menjadi keluarga angkatnya. Di rumah Tuan Syekh itu pulalah dia melahirkan putranya tercinta. Adakah kesemuanya itu kebetulan belaka?

Dalam semua peristiwa yang dialaminya, Rafiah tak pernah dapat melupakan janjinya kepada suaminya, Sultan Abdul Muluk, yang kini menjadi orang tahanan. Dalam hal ini, jika negerinya kalah berperang dengan Kerajaan Hindustan, dia akan melarikan diri dan suatu ketika kelak akan kembali untuk membebaskan negeri dan bangsanya dari belenggu penjajahan. Oleh sebab itu, dia tak boleh berlama-lama tinggal dengan keluarga angkatnya. Kepada Tuan Syekh sekeluarga dititipkannya Abdul Gani, putranya, yang masih bayi demi menunaikan sumpah setia yang telah diikrarkannya.

Kisahnya dilanjutkan oleh Raja Ali Haji rahimahullah  dalam karya beliau Syair Abdul Muluk (Haji, 1846), bait 910. Dari situlah terlihat bahwa Siti Rafiah adalah perempuan yang berkarakter tangguh.

Rafiah berkata terlalu hormat
Jikalau ada izin tuan keramat
Hamba nin hendak berjalan bangat
Tuan doakan supaya selamat

Bait syair di atas menjelaskan peristiwa ketika Siti Rafiah minta izin kepada keluarga angkatnya untuk memulai petualangannya. Ke manakah dia hendak mengembara? Istri Sultan Abdul Muluk berencana mengunjungi negeri-negeri tetangga untuk diajak berkoalisi melawan kesewenang-wenangan Kerajaan Hindustan menjajah negeri berdaulat tanpa jelas duduk perkaranya. 

Bagi Siti Rahmah, membela negeri dan bangsanya memang menjadi kewajibannya. Tak ada bangsa beradab mana pun yang bersedia menerima perlakuan penjajahan. Menurut keyakinannya, perjuangan membela bangsa dan negara adalah bagian dari perintah Tuhan yang termaktub dalam petunjuk-Nya. Hanya bangsa yang berkarakter lemah saja yang sanggup berdiam diri ketika negerinya dikuasai oleh bangsa lain, baik secara terang-terangan maupun gelap-gelapan. Intinya, membela bangsa dan negara merupakan implementasi dari ketaatan mengikuti petunjuk Tuhan. 

Menurut perempuan jelita tetapi juga perkasa itu, keyakinannya sesuai bangat dengan amanat di dalam Tsamarat al-Muhimmah. Dalam hal ini, setiap manusia seyogianya mengikuti petunjuk Allah dalam sikap, perkataan, dan atau perbuatan yang dilakukannya. Amanat tersebut terdapat di dalam nukilan berikut ini.

“Inilah yang di dalam dunia dan adapun di dalam akhirat beberapa lagi pula yang dijanjikan Allah Ta’ala siksa dan azab akan orang yang menyeterui Allah Ta’ala dan rasul-Nya itu dan menyeterui anbia dan aulia-Nya. Seperti di dalam Quran beberapa ayat dan beberapa hadits dan beberapa asyar daripada salaf radiallahu anhum ajma’in. Syahdan maka nyatalah dilebihkan Allah Ta’ala akan ahli ilmu itu dengan akal dan naqal, intaha,” (Haji dalam Malik (Ed.), 2013).

Nukilan teks Tsamarat al-Muhimmah di atas menegaskan bahwa orang-orang yang berseteru dengan Allah dan Rasul-Nya serta anbia dan aulia-Nya akan mendapat azab dari Allah. Di dalam perian sebelum itu disebutkan contoh-contoh umat yang memperoleh azab dari Allah karena tak bersedia mengikuti petunjuk-Nya, antara lain, umat Nabi Nuh a.s. Mereka menerima siksa dan azab dari-Nya karena melawan dan atau mengambil sikap beroposisi dengan Allah. Tuhan dilawan, maka terimalah padahnya.

Sikap dan pendirian Siti Rahmah pun bersesuaian benar dengan kearifan yang terdapat di dalam Gurindam Dua Belas, Pasal yang Pertama, bait 3 (Haji, 1847). Lagi-lagi, petunjuk Allah tak boleh dicuaikan dan diabaikan oleh sesiapa saja.

Barang siapa mengenal Allahhu
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah

Bait gurindam di atas lebih menegaskan lagi bahwa manusia, yang yakin (mengenal) kepada Tuhan dengan kemahakuasaan-Nya, tak boleh melalaikan perintah-Nya seperti halnya mereka tak boleh mengerjakan segala sesuatu yang dilarang-Nya. Baik suruhan maupun tegahan itu, keduanya diketahui oleh manusia dari petunjuk-Nya bagi manusia yang bersedia membuka pikiran dan hatinya secara ikhlas untuk keselamatannya, di dunia dan di akhirat.

Dari manakah Rafiah yang pokta mengetahui kesemuanya itu? Putri tunggal Sultan Ban itu orang berilmu. Sejak kecil, ahli waris satu-satunya Kerajaan Ban itu telah dididik dengan baik oleh ayahanda dan ibundanya, termasuk pendidikan agama. Itulah sebabnya, dia mengetahui dan meyakini benar akan hal ini. 

Supaya terhindar dari azab Allah, seyogianya manusia menuntut ilmu yang benar sehingga akan mendapat petunjuk dari-Nya. Sebaik-baik ilmu ialah yang bersumber dari firman Allah dan hadits Rasulullah SAW, yakni sumber naqal. Barulah kemudian diikuti dengan ilmu dari sumber akal, yang asalnya juga dari Allah. Di situlah terkandung semua petunjuk Allah kepada hamba-hamba-Nya, sekali lagi yang ikhlas membuka hati dan pikiran tentang kebenaran yang sejati.

“Sesungguhnya, Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (Q.S. Al-Isra’, 9).

Siti Rafiah telah memantapkan hatinya untuk mengambil jalan itu. Dia bersikap, bertekad, dan bertindak berdasarkan ilmu dari sumber yang memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus. Oleh sebab itu, dia tak pernah tanggung dan canggung dalam menerapkannya dalam tindakan dan perbuatannya. Tak terbersit sedikit pun keraguan dalam dirinya untuk memperjuangkan kebenaran. 

Manusia yang sehaluan dengan istri Sultan Abdul Muluk itu memahami benar syair nasihat dalam Tsamarat al-Muhimmah (Haji dalam Malik (Ed.), 2013), bait 8. Itulah sebabnya, mereka dipermudahkan beroleh hidayah. 

Segala perbuatan dengan berilmu
Maka kebajikan boleh bertemu
Jika sebarang-barang diramu
Akhirnya anakanda jatuh tersemu

Amanat yang hendak disampaikan oleh bait syair di atas, lain tiada, berupa penegasan bahwa mustahak bangat penguasaan ilmu yang benar dan bermanfaat. Dari ilmu yang berkualitas utama itulah manusia mudah mengikuti petunjuk Allah. Pikiran, perasaan, gagasan, sifat, sikap, dan perbuatan yang mengikutinya membuat manusia tergolong berkarakter mulia lagi terpuji. Karakter cemerlang itulah, pada gilirannya, yang harus diterapkan dalam perhubungan dengan Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Rasulullah SAW bersabda, “Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk,” (H.R. Abu Daud).

Begitulah mustahaknya petunjuk Allah bagi manusia. Rasulullah pun memberikan pedomannya. Bagi umat Islam, petunjuk yang tak boleh diabaikan adalah firman Allah dan sabda Rasulullah, yakni anugerah bagi manusia yang meyakininya. Menariknya, keyakinan itu mampu menghasilkan daya yang sungguh luar biasa. Daya besar itulah yang membangkitkan Rafiah sehingga dia tak berasa gentar berhadapan dengan sesiapa saja. Apatah lagi, sekadar penjajah, sesiapa pun dia, yang sesungguhnya mempraktikkan perampasan kekuasaan di luar petunjuk Allah Azza wa Jalla. Siti nan jelita yakin seyakin-yakinnya bahwa musuhnya akan jatuh ke kubangan terdalam lagi terhina.***

Tinggalkan Balasan