Jejak Bahasa Indonesia dari Riau: Pandangan Sosbud

Oleh Taufik Ikram Jamil

/1/

            SUNGGUH saya tersentak ketika mendapat pesan singkat dari Dr Fatmawati yang saya kenal sehari-hari sebagai pegawai Balai Bahasa Riau, awal November 2020, beberapa hari setelah bulan Bahasa 2020 melipatkan diri pada takdirnya sebagai waktu. Saya diminta bersedia mengikuti rapat terpumpun  asal usul bahasa Indonesia  yang dilaksanakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. Perlu waktu satu hari bagi saya untuk menjawabnya, terutama karena di benak saya, langsung tertancap kalimat, “Mengapa membicarakan asal usul bahasa Indonesia, melalui rapat lagi, sedangkan bagi kami di Riau, hal tersebut sudah khatam. Asal usul bahasa Indonesia adalah Melayu Riau yang sampai sekarang masih terasa, betapun seiringan dengannya akhir-akhir ini, suatu perhitungan internal acapkali dibuat baik secara linguistik maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.”

            Patut disebut dari awal bahwa tak ada satu catatan pun yang menyebutkan bahwa mengaku-ngaku bahasa Indonesia berasal dari Riau itu dilontarkan oleh orang Riau. Hal ini memang tak mungkin dilakukan karena pantang bagi orang Melayu Riau menepuk dada. Tunjuk ajar Melayu Riau mengatakan: Kalau duduk di pinggir-pinggir, kalua berenang ke hilir-hilir. Wahai Ananda dengarlah peri/ jangan suka membesarkan diri/seteru dan musuh jangan dicari/ supaya selamat hidup dan mati.// (Tenas Effendy, 2013). Juga dalam ungkapan lain disebutkan: Wahai Ananda rendahkan hati/ bercakap besar jangan sekali/ lemah lembut budi pekerti/ supaya hidupmu diberkahi Ilahi// (ibid).

            Justeru jejak bahasa Indonesia dari Riau terbukti dari hasil penelitian maupun  pengamatan luar Riau, tentu saja sekaligus dengan pengakuannya. Senarai nama mereka dengan berbagai bukti bisa ditampilkan, tetapi  memadailah kembali mengenang apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara dan Kees Groenebber yang secara tegas mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu berasal dari Riau (Abdul Malik, 2008). Kalau masih kurang juga, lihatlah pernyataan  Parakitri T. Simbolon (Kompas, 1995) yang mengaitkan kelinguafrangkaan bahasa Melayu Riau dengan kawasan perdagangan paling ramai di nusantara sejak zaman bahari yakni Selat Melaka, sehingga wajib dikuasai oleh pejabat Hindia Belanda, kemudian diajarkan di sekolah-sekolah yang tersebar dari wilayah barat sampai timur nusantara.

            Syahdan, jejak bahasa Indonesia dari Riau pun diperlihatkan oleh tempat penelitian dan pengamatan itu dilakukan yakni di Penyengat, Kepulauan Riau. Tak ada dalam satu kawasan sekarang ini, orang menggunakan bahasanya sekaligus dengan kecemasan tinggi terhadap alat komunikasi itu kecuali di Penyengat khususnya abad ke-19. Di pulau mas kawin Engku Hamidah ini, mereka tidak saja menggunakan bahasa Melayu Riau untuk estetik dan pengetahuan, tetapi juga untuk kebahasaan itu sendiri. Tak hanya seorang dengan nama demikian melambung, tetapi sejumlah orang (UU Hamidy, 1983). Tercatatlah Raja Ali Haji menulis dua buku kebahasaan yakni Bustan al-Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Kawan seangkatannya, Haji Ibrahim yang juga dikenal sebagai pribumi pertama mengoleksi pantun, pun menulis kebahasaan melalui kitabnya Cakap Rampai-rampai (1867). 

            Generasi di bawah mereka yang berjumlah lebih dari 20 orang, juga tidak tanggung-tanggung gemilang baik dalam politik maupun menyangkut  sastra, termasuk bahasa. Dalam kesibukannya sebagai kelana yakni calon perdana menteri bergelar Yang Dipertuan Muda, Raja Ali Kelana menulis buku kebahasaan khususnya fonetik bertajuk Bughyat al-Ani fi-Hurufi al-Maani. Begitu pula seorang ahli hukum, penerjemah, dan sastrawan Raja Abdullah bernama pena Abu Muhamad Adnan menulis Kitab Pelajaran Bahasa Melayu dengan Rangkaian Penolong Bagi yang Menuntut Akan Pengetahuan yang Patut. Selain itu, ia juga menulis buku bahasa Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah. Generasi setelah Raja Ali Haji banyak digodok di organisasi Rusydiah Klab– suatu organisasi menentang penjajah dengan kesadaran nasionalisme, didirikan tahun 1884 (Hasan Junus, 2002).

            Tak sekalipun terdengar pernyataan bahwa dengan demikian bahasa Melayu berasal dari pulau Penyengat. Sama seperti tak mungkin mengatakan bahasa Spanyol berasal dari Kolombia hanya karena Garzia Marquez yang terkenal di dunia menggunakan bahasa Spanyol, tidak menggunakan bahasa Indian-nya. Pun tak mungkin mengatakan bahasa Inggris berasal dari Jerman, meskipun Karl Marx asal Jerman menulis dalam bahasa internasional itu. Hanya saja kepada Raja Ali Haji disandangkan sebagai pahlawan nasional tahun 2004 karena jasa-jasanya dalam kebahasaan itu tidak saja untuk dirinya, tapi telah menginspirasi lingkungan bahkan semerata nusantara, sekaligus sebagai jejak bahasa Indonesia dari Riau.

            Di sisi lain, harus dikatakan bahwa dalam mengarungi lautan kreativitas bahasa, tokoh-tokoh Penyengat abad ke-19 itu, tidak saja berhubungan baik dengan wakil pemerintah yang amat memperhatikan bahasa Melayu bahkan ikut menyemarakannya semacam van de Wall (Jan van der Putten dan Alazhar, 1995), tetapi juga peneliti maupun ahli bahasa semacam Chaerles Adrian van de Ophuijsen (Aswandi Syahri, 2018).  Ophuijsen memang mengelilingi kawasan Melayu, khusus di Riau sekitar lima tahun. Menariknya pula, anak Raja Ali Haji yang dikenal dengan nama Raja Sulaiman, menulis syair mengenai Ophuijsen tersebut dalam 29 bait yang dengan jelas menuturkan kebahasan Melayu.

Tak heran kalau kemudian, Ophuijsen amat terkesan dengan penelitian bahasanya tersebut. Oleh sebab itu, dalam buku tata bahasanya yang terbit tahun 1910, Malesiche Sprakuust, tidak ragu-ragu ia mengatakan, “Di antara logat, mereka yang diutamakan adalah orang Melayu dan mereka tentu saja satu-satunya penilai yang berwenang, adalah logat yang dituturkan di Kepulauan Riau Lingga, khususnya pulau Penyengat dan di Daik di pulau Lingga.”  (ibid). Suatu pegakuan yang menjadi tiang utama dari pernyataan Ki Hajar Dewantara dan Kees Groenebber, sekaligus mempertebal jejak bahasa Indonesia dari Riau.

            Tak hanya dekat dengan pusat perkembangan Asia Tenggara waktu itu yakni Singapura yang pernah berada dalam pemerintahan Riau-Johor, generasi setelah Raja Ali Haji juga merebut peluang kosmopolitan baru itu dengan berbagai usaha termasuk di bidang penerbitan. Penerbit dan percetakan Mathabaat al-Ahmadiah di Singapura, dibidani dari Riau—seiringan dengan perkembangan perusahaan pribumi pertama di nusantara yang justeru diluncurkan dari Midai, Pulau Tujuh, dinamai Asyrakatul Ahmadiah, berdiri tahun 1905. Suatu usaha yang dirintis di Penyengat, misalnya melalui apa yang dinamai oleh kerajaan terhadap pecetakan mereka Mathabaat al-Riauwiyah. Terlihat kemudian bahwa buku-buku Raja Ali Haji dan generasi setelahnya terbit di sini selain diterbitkan pula di Batavia (UU Hamidy, Loc.Cit). Sesuatu yang juga diamati oleh Ophuijsen (Op.Cit)

/2/

             TIDAK dengan sendirinya, Riau dan Kepulauan Riau berpisah menjadi dua provnsi, menyebabkan rasa kepemilikan bahasa bahkan budaya secara umum ikut berpisah juga, antara Kepulauan Riau – Riau daratan. Sebab sejak awal disadari bahwa kemunculan bahasa Melayu Riau di pulau Penyengat sebagaimana diungkapkan di atas, bukan sesuatu yang turun begitu saja dari langit. Ia merupakan puncak gunung yang disangga oleh proses kreatif atau kepentingan berbahasa. Umum dikatakan bahwa bahasa Melayu yang dibina di pulau Penyengat dan menjadi bahasa Indonesia, berkembang bersamaan dengan kejayaan Sriwijaya, sedangkan salah satu pusat Kerajaan Sriwijaya itu berada di Riau, khususnya Muaratakus, Kampar (Mukhtar Lutfi, 1977).

            Dari Kampar, pusat kekuasaan pindah ke Palembang pada abad ke-7 dengan tetap menjadikan Muaratakus sebagai pusat agama. Runtuh abad ke-14, Melayu ditegakkan ke Bintan, kemudian mudik ke Inderagiri sampai ke Kuantan. Dari sini kembali ke Bintan, kemudian Tumasik dan Melaka. Diserang Portugis, Sultan Mahmud kembali ke Bintan meskipun kemudian meninggal di Kampar, Riau. Keturunannya ini membina kekuatan kembali sampai mendirikan Johor. Pada gilirannya Johor – Riau pecah, diiringi dengan terusirnya Raja Kecik dari Bintan dan mendirikan Siak tahun 1723, sedangkan Sultan Sulaiman tetap dengan klaimnya atas Johor – Riau sebagaimana juga klaim Raja Kecik. Tapi harap diingat saja, Sultan Sulaiman adalah ipar Raja Kecik karena penguasa ini menikahi adik bungsunya, Tengku Kamariah.

            Tak terbantahkan bahwa setelah Sriwijaya, Melaka memang muncul sebagai kekuatan besar di nunsantara dari kawasan Selat Melaka, paralel dengan keadaan kawasan itu sebagai selat nomor dua teramai di dunia (D.G.E. Hall, tanpa tahun) pada abad ke-15 sampai awal abad ke-16. Sebanyak 90-an bahasa terdengar di pasar Melaka, tetapi dipersatukan oleh bahasa Melayu. Kawasan utamanya selain tanah Semenanjung adalah Sumatera Timur terutama di kawasan Riau sekarang. Tak heran, hanya setahun setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis, setidak-tidaknya tiga kali masyarakat dari kawasan Riau daratan yakni Gasib dan Inderagiri menyerang penjajah di pusat pemerintahan Melayu tersebut, 1512, 1516, dan 1520.  Tidak sedikit pula kemudian, pejabat dan cendekiawan Melaka hijrah ke berbagai kawasan seperti Aceh dan Riau. 

Siak yang harus melepaskan Johor dan Riau, merasa terbayar manakala usaha Raja Kecik dan keturunannya menguasai perdagangan di Melaka tercapai. Hal tersebut dibuktikan dengan jumlah nakhoda asal Siak yang berpangkalan di Melaka yakni 14 orang pada tahun 1768 menjadi 24 orang pada 1770, meningkat lagi menjadi 45 orang tahun 1775, melonjak tajam tahun 1785 yakni menjadi 96 orang. Angka-angka ini jauh di atas jumlah nakhoda dari kawasan lain seperti Kedah, Batubara, Riau, bahkan Melaka sendiri. Pada tahun 1770, kapal yang berlabuh dari Siak di Melaka sebanyak 17 kapal, melonjak tajam tahun 1783 yakni 70 kapal, kemudian melonjak lagi menjadi 74 kapal dan 76 kapal pada tahun 1785 serta 1791. Jumlah kapal dari daerah lain yang bersandar di Melaka hanya dalam bilangan 1 – 17 kapal saja. Daerah tersebut antara lain Kedah, Selangor, Kepulauan Riau, Aceh, Jambi, Kampar, Surabaya, dan Gresik. Dapat disimpulkan bahwa kapal yang sandar di pelabunan Melaka didominasi oleh Siak, 48-88 persen. Kenyataan ini semua menyebabkan Siak menjadi rekan utama Melaka dalam perdagangan mulai abad ke-18 (Ahmad Jelani Halimi, 2006).

Siak terus melebarkan sayap perdagangan dan kekuasaannya. Pada masa pemerintahan Sultan Assaidis Syarif Ali Abdullah Jalil Saifuddin (1784-1810), daerah kuasa Siak sudah meretas ke seluruh Sumatera Timur, sampai ke Sambas, Kalimantan Barat. Daerah baru yang dikuasai pada masa Sultan Syarif Ali adalah Kotapinang, Asahan, Kualuh, Bilah, Panai, Deli, Langkat, Batu bara, Serdang, Bedagai, Temiang, dan Pelalawan. Suatu pulau di Kerajaan Siak ini yakni Bengkalis, kemudian ditetapkan sebagai pusat Keresidenan Sumatera Timur oleh Belanda tahun 1873, meliputi Kerajaan Siak termasuk daerah baru taklukannya di Sumatera Timur tadi, ditambah sebagian Riau-Lingga (OK Nizami Jamil, 2010). Di sisi lain, banyak pula catatan saling bantu di antara Siak dengan Riau-Lingga dalam menghadapi penjajah asing.

/3/

AKAN sangat lucu kalau pertalian sejarah di atas disebut tidak berkait dengan sosial budaya, malah karena melewati waktu yang begitu lama, segala sesuatunya bisa berbaur antara sejarah dengan mitos. Paling tidak aka nada asahan kesamaan rasa yang menyebabkan mengapa hanya dua provinsi ini menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka Melayu meskipun sebenarnya, julukan itu juga bisa sejumlah provinsi atau tempat lain. Provinsi Riau, bahkan menetapkan visi dan misinya sebagai pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara sebagaimana tertera dalam Peraturan Daerah Riau No.36 tahun 2001.

Mengaku sebagai Melayu merupakan tiang utama seseorang atau kelompok orang, jadi bukan tergantung pada darah keturunan (Antarvenus, 2015). Disebut Melayu, adalah karena dengan sengaja melayukan diri bukan karena panas, bukan pula karena api (Panuti Sudjiman, 1983). Dasar pengakuan dan sifat Melayu itu dibalut pula dengan tiga ciri-ciri orang Melayu yakni beragama Islam, beradat Melayu, dan berbahasa Melayu. Bahasa Melayu Riau terbagi atas beberapa dialek antara lain kepulauan, pesisir, Kampar, Kuantan, Petalangan, dan Rokan (UU Hamidy, 2006).

Berbahasa menyatu dengan persoalan harkat, martabat, dan marwah seseorang di tengah-tengah kelompok/ kaum/ bangsanya. Berkenaan dengan itu, tunjuk ajar Melayu (Tenas Effendy, 2010) menyatakan:

Yang disebut adat berbahasa:

tahu alur dengan patutnya

tahu memilih kata mendaki

tahu memakai kata mendatar

tahu menyimak kata menurun

supaya aib tidak tersimbah

supaya malu tidak terdedah

Apa tanda orang berbangsa

bercakap tahu berbudi bahasa

berkata arif dalam berbahasa

bertutur bijak berkata-kata

Keberadaan bahasa Melayu Riau itu setidak-tidaknya dapat ditelusuri sejak abad ke-7, meskipun peradaban Melayu Riau dapat dijejaki pada masa prasejarah dalam hitungan 10.000 – 40.000 tahun sebelum masehi, seiringan dengan penemuan artefak purba oleh tim dari Universitas Gajah Mada tahun 2009 (Antara, 13/08/2009). Banyak kata-kata di dalam prasasti Kedukan Bukit itu yang masih dikenal sampai sekarang seperti cri (sri, seri), nayik (naik), yang (yang), samvan (sampan), munana (muara), sukhacitta (sukacita), dangan (dengan), wulan (bulan), marvuat (membuat), mamava (membawa/ memawa). Prasasti ini berisi perjalan Dapunta Hyang dari Minangatamwar ke Palembang abad ke-7. Dapunta Hyang diperkirakan penguasa Sriwijaya, sedangkan Minangatanwar adalah tempat yang menunjuk pertemuan dua sungai yakni Muaratakus, Kampar, Riau.

Banyak persamaan kata-kata itu juga  menyebabkan tampilan bahasa Melayu Riau sama dengan bahasa Indonesia dalam Anthologi of Asean Literatures, Oral Literature of Indonesia (The Asean Committee on Culture and Information, 1983), sekaligus menunjukkan betapa jelasnya jejak bahasa Indonesia dari Riau. Disunting oleh Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, dan A. Kasim Ahmad, buku ini menampilkan semua khazanah sastra dari seluruh daerah di Indonesia dalam bahasa daerah masing-masing dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Dari Riau, ditampilkan 15 karya berupa mantera dan seperti daerah lain, karya dari Riau ditampilkan dalam bahasa Melayu Riau dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Coba perhatikan sebagai berikut:

Melayu Riau

Aku tahu asal kau jadi

Adam dan hawa menjadikan engkau

Asal engkau menjadi tanah tanah ibu engkau

Air asal urat engkau

Api asal darah engkau

Angi nasal napas engkau

Darah putih dari bapak

Darah merah dari ibu

Sembilan hari dikandung bapak

Sembilan bulan dikandung ibu

Bahasa Indonesia

Aku tahu asal kau jadi

Adam dan hawa menjadikan engkau

Asal engkau menjadi tanah tanah ibu engkau

Air asal urat engkau

Api asal darah engkau

Angi nasal napas engkau

Darah putih dari bapak

Darah merah dari ibu

Sembilan hari dikandung bapak

Sembilan bulan dikandung ibu

Saya tak tahu bagaimana caranya untuk melihat perbedaan karya-karya dalam bahasa Melayu Riau dengan bahasa Indonesia itu. Tapi tidak susah mencari hal serupa karya dari daerah lain dengan bahasa Indonesia di dalam buku yang sama. Sekedar contoh, untuk kepentingan ilmiah, coba saja perhatikan kutipan di bawan ini:

Bahasa Aceh 

Assalamu’alaikum lon tameung lamseung

Jak nubri saleum keu jamee teuka

Jamee trok awai lon sapa dudo

Bak adat naggro reusam lam Donya

Karena saleum Nabi kheun sunat

Jaro ta mumat syarat mulia

Bahasa Indonesia

Sambutlah salam saya dari panggung ini

Pada tetamu yang baru tiba

Tamu yang awal datang mula disapa

Demikian adat peraturan dunia

Menurut Nabi salam itu sunat

Berjabat tangan syarat mulia

Bahasa Batak

Dulang sidua rupa

Goranni bulung-bulung

Ulang ma hita lupa

Adatni Simalungun

Ibuat naming pulut

Han hayu sidabintang

Horasma Nasiam suhut

Sonai homa naindang

Bahasa Indonesia

Jarak yang berupa dua

Nama suatu daun

Janganlah kita lupa

Adat simalungun

Ambillah getah

Dari kayu sidabintang

Selamat pada yang punya hajat

Begitu pula dengan yang diundang

Aduhai, jejak bahasa Indonesia dari Riau tidak juga selesai ditengok setelah bahasa Indonesia semakin terurus. Meskipun E.U. Kratz menyesalkan kenyataan bahwa Riau tak mengambil keuntungan dengan dijadikannya bahasa ibunya sebagai bahasa Indonesia, sehingga tidak banyak sastrawan nasional muncul dari daerah ini. Tapi ia sama sekali tidak memandang secara kualitas, hanya kuantitas. Meskipun sedikit, sebab orang Melayu Riau itu memang sedikit jika dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, bukankah setiap masa, senantiasa muncul pelopor dari Riau? Tidak terlihat pada Angkatan Balai Pustaka misalnya, tetapi seorang tokoh dari daerah ini, belasan tahun dididik di Penyengat, Syekh Alhadi Wan Anom, merupakan pelopor sastra di Malaysia awal abad ke-20. Belum lagi dengan kegemilangan Aisyah Sulaiman,  cucu kontan Raja Ali Haji yang menulis Khadamuddin (1935) dan meninggal di Singapura.

Pada zaman Pujangga Baru, bagaimanapun Soeman HS harus diakui dengan bahasa Melayu gemulai sebagaimana diakui Sutan Takdir Alisjahbana ketika mengantarkan buku kumpulan cerpennya Kawan Bergelut, mempelopori penulisan cerita pendek dan fiksi ditektif Indonesia. Paling kuat mengaum adalah Sutardji Calzoum Bachri yang lahir di Riau daratan sampai berumur kanak-kanak, kemudian  pindah ke Kepulauan Riau, menghentak jagat sastra Indonesia dengan bahasa Melayu Riau-nya yang pilihan. Disebut Dami N. Toda sebagaimana mata kanan sastra Indonesia, sedangkan mata kirinya adalah Chairil Anwar (Sinar Harapan, 1984). Pembaruan terus dilakukan dari Riau misalnya sebagaimana diduga oleh Michael Bodden dari Univeritas Kanada tentang kecenderungan akar tradisi dari Riau dengan latar belakang sejarah. Sebelumnya, Will Derk melihat karya sastra Riau senantiasa melawan dominasi pusat.

Pengalaman saya dengan Elmustian  Rachman yang ditugaskan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) menyusun tesaurus Melayu Riau lain lagi. Kami susah menemukan kata-kata dalam bahasa Melayu Riau yang  tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko, 2006). Kesimpulan sementara kami adalah sejauh kata-kata dalam bahasa Melayu Riau bersifat informasi dalam 10 tahun ke atas, selalu ditemui dalam KBBI. Baru susah dicari kalau kata-kata itu sifatnya ekspresif. Sesuatu yang juga membuktikan bahwa jejak bahasa Indonesia dari Riau memang nyata.

Bertambah jelas jejak bahasa Indonesia dari Riau itu, manakala kenyataan di atas disandingkan denga apa yang pernah diungkapkan oleh Sapardi Djoko Damono dalam bukunya bertajuk Kesusastraan Indonesia Modern (Gramedia, 1983). Menurutnya hanya orang Riau dan Jakarta saja yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibunya. Bagi orang Jakarta jelas bahwa hal tersebut terjadi karena keragaman yang tinggi penduduknya, tetapi kasus Riau muncul karena keberadaan bahasa itu sendiri. Mencari perbedaan keduanya untuk penggunaan sehari-hari dalam jalur pemberitahuan memang agak sulit.

/4/

AKAN disebutkan bahwa bukankah bahasa Melayu Riau dominan memiliki bunyi “e”, sedangkan bahasa Indonesia menjadi “a”. Dengan kenyataan itu disebutkan bahwa pelafazan “e” sebagai bahasa Malaysia. Label ini menjadi masalah, manakala berbicara semacam itu di khalayak ramai di Indonesia dinilai sebagai bentuk ketidakcintaan kepada budaya sendiri, malah membawa kebudayaan luar yakni Malaysia. Hal inilah yang menimpa diva dangdut Melayu Indonesia, Iyeth Bustami, sehingga ia dihujat di sana-sini.

LAMR harus mengirimkan surat kepada MNCTV, 27 April 2015, untuk menjelaskan bahwa bahasa yang digunakan Iyeth dalam setiap penampilannya adalah bahasa Melayu Riau, sebagai asal bahasa Indonesia. Bahasa serupa dipakai di Riau daratan dan Kepulauan Riau, sebagian besar di Sumatera dan Kalimantan, juga di negara serumpun lainnya. Oleh karena MNCTV tidak mempermasalahkan bahasa yang digunakan Iyeth, LAMR mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi, sebagai suatu usaha untuk membina dan mengembangkan budaya.

Terlepas dari hal itu, bunyi “e” tersebut terjadi manakala bahasa itu diucapkan, tetapi menjadi “a” ketika ditulis. Hal ini sesatu yang biasa dalam gejala penulisan, ketika kita menyadari bagaimana penulisan dalam bahasa Inggeris akan terdengar lain ketika diucapkan. Dalam suatu perbincangan dengan anak tiri Sultan Syarif Kasim, disebutkan bahwa semasa hidup, sang raja menggunakan dialek Riau pesisir dan Kepulauan Riau, tetapi dalam tulisan persis seperti bahasa Indonesia sekarang. Coba perhatikan naskah di bawah ini, ditulis tahun 1939.:

Saya sengaja mengambil contoh bahasa Melayu Riau dalam tulisan latin, sebab dalam tulisan arab Melayu, penyebutan “e” yang ditulis “a” sudah jamak ditemui. Tetapi sekedar melepas rasa, izinkan saya lampirkan satu halaman dari Bustan al-Katibin karya Raja Ali Haji (Yayasan Karyawan, 2005):

Arkian, pengalaman saya sebagai seorang  Melayu Riau, pun demikian. Ketika emak menulis surat kepada saya akhir 70-an, dia menggunakan bahasa yang berbunyi “a” yang diucapkan “e” dalam percakapan, misalnya ia menulis–masih segar dalam ingatan saya, “Apa kabar Ananda, semoga sehat walafiat”. Memanglah demikian, sebab bagi kami orang Melayu Riau sendiri, bahasa Indonesia itu disebut sebagai bahasa kota yang dapat berarti bahwa bahasa Indonesia masih merupakan bagian dari bahasa Melayu. Berbeda dengan orang Jawa, menyebut bahasa yang dikatakan bahasa Indonesia dengan nama bahasa Melayu, sebagaimana terekam amat banyak dalam novel Bumi Manusia Pramoedya Anantatoer (Lantera Indonesia, 2011), kemudian tersalin dalam film-nya dengan tajuk serupa Bumi Manusia, sutradara Hanung Bramantyo (2019).

Dengan latar belakang perbedaan antara lisan dengan tulisan itu pulalah, mengapa pengumuman di bandar udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, yang dibuat LAMR bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan PT Angkasa Pura, menggunakan “e”, tahun 2018. Sebab meskipun ditulis, ketika dibacakan, bahasa tersebut kembali menjadi lisan. Berbuat demikian, LAMR merasa telah mengembalikan hakikat bahasa itu sendiri sebagaimana dikatakan Louis Leahy dalam Manusia Sebuah Misteri (Gramedia, 1985) bahwa bahasa sesungguhnya lisan, bukan tulisan—terlepas dari upaya standarisasi bahasa seperti dibuat Penyengat (pen.) Kalaupun tidak demikian, pembacaan teks dituturkan sebagaimana mustinya tulisan, apa yang menjadi pembeda pengumuman dalam bahasa Indonesia dengan Melayu Riau?  

/5/

BEGITULAH kenyataan  bahasa Melayu Riau sebagai cikal bahasa Indonesia, patut diakui sebagai suatu kebanggaan. Tak sedikit orang yang datang dan pergi, akan mengesani kenyataan tersebut yang mereka tahu saat di sekolah menengah. Tak orang biasa, pejabat di Riau, senantiasa merasa tahu bagaimana pengakuan sekaligus kenyataan itu terjadi—tanpa mereka peduli geopolitik.  Posisi sebagai cikal bakal bahasa Indonesia itu sendiri, diajarkan di sekolah menengah pertama terutama dalam mata pelajaran budaya Melayu Riau.

Sumbangan daerah ini untuk Indonesia menjadi paripurna, menyerahkan emas hitam (minyak) dan bahasa betapapun tak setara dengan apa yang dinikmati orang Amerika Latin yang memperoleh bahasa dari Sepanyol, sedangkan orang Spanyol memperoleh emas dari Amerika Latin. Dalam keadaan itu pula, perasaan pun tidak terlalu nyaman. Lautan minyak di Blok Rokan, ladang minyak terbesar di Asia Tenggara yang ditambang hamper 100 tahun, tak mampu mengangkat hidup orang Melayu, kini pengakuan bahasa Indonesia bersumber dari sini pun, terus dikutak-katik.

Sementara diikat oleh tali sejarah peradaban yang panjang dan diakui oleh bangsa sendiri dan asing, frasa bahasa Indonesia berasal dari Riau itu, hampir menjadi mitos. Sebagai mitos, orang tidak lagi mengedepankan pikiran, tetapi bercampur dengan perasaan. Maka pengakuan Riau sebagai cikal bakal bahasa tersebut seolah-olah sebagai harga mati, tidak ada tawaran lain. Segala alasan untuk meragukannya, dengan sendirinya tertolak. Meskipun  demikian, tidak perlu berjiwa kerdil sebagaimana ungkapan pejabat di Pusat Bahasa sendiri, Abdul Rozak Zaidan yang menyebut kemasygulan saya terhadap perkembangan bahasa Indionesia dalam konteks bahasa Melayu Riau sebagai bibit disintegrasi bangsa (Sawomanila, tanpa tarikh). Juga tidak semudah pernyataan Maryanto, yang melabelkan dirinya sebagai pemerhati politik bahasa bahwa terjadi kontra-identitas karena pelengketan Melayu dalam bahasa Indonesia  (Tempo.co dan Koran Tempo, 22-23/8).

Sungguh, Melayu Riau masih punya akal sehat untuk bangsa ini.

Tinggalkan Balasan