Beragam gambar Raja Ali Haji yang beredar di dunia maya dan berbagai media tercetak sejak tahun 1993 hingga 2020. Namun ironisnya, semua gambar itu adalah gambar orang lain atau hasil adaptasi atas gambar wajah orang lain yang tak ada kait kelindannya dengan Raja Ali Haji.

Ragam Wajah Raja Ali Haji (1993-2020)

Sejak tahun 1993 hingga tahun 2020 ini, sidikitnya terdapat enam (6) versi gambar wajah Raja Ali Haji dalam bentuk lukisan dan format foto yang beredar di dunia maya dan yang tersebar melalui khazanah media yang dicetak (buku, surat kabar, majalah, dll). Namun ironis, semua versi gambar wajah Raja Ali itu adalah hasil salinan dan rekaan berdasarkan gambar wajah orang lain. Mengapa?

            Pada mulanya, gambar wajah Raja Ali Haji itu muncul sebagai ilustrasi kulit depan berkala sastra Menyimak edisi bulan April-Juli 1993, yang terbit di Pekanbaru. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa gambar wajah Raja Ali Haji tersebut “ dilukis oleh Elmustian Rahman berdasarkan foto lama dengan pengarahan oleh Hasan Junus”. Sejak saat itu, gambar yang ‘dianggap’ sebagai personifikasi wajah Raja Ali Haji tersebut menyebar ke mana-mana.

Dalam catatan saya, gambar kemudian dipergunakan sebgai ilustrasi untuk laporan kegiatan Hari Raja Ali Haji yang dimuat dalam halaman SagangRiau Pos edisi 9 Juni 1996. Selanjutnya menjadi ilustrasi tulisan Taufik Ikram Jamil bejudul, “Raja Ali Haji Hadir Pada Setiap Zaman” yang dimuat dalam kolom profil harian Kompas. Selepas itu, digunakan pula untuk menghiasi tulisan Meiri Ibni Zairi, “Percetakan Daik Lingga Abad-19 Menerbitkan Karya Raja Ali Haji”, yang dimuat dalam suplemen Biduk, Majalah Budaya Sagang No. 12/Th.II/September 1999 hal: 7-9.

Bahkan, gambar laki-laki bersorban dengan wajah sedikit merunduk itu pernah digunakan pula sebegai icon dalam perangko yang diterbitkan oleh PT. Pos Indonesia tahun 2001. Dan gambar laki-laki bersorban hasil sapuan kuas Elmustian Rahman inilah yang dilampirkan oleh pemerintah Kota Tanjungpinang ketika mengusulkan Raja Ali Haji Sebagai Pahlawan Nasional dalam bidang bahasa pada tahun 2004, yang kemudian diubah-suai oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia pada tahun 2016.

Selanjutnya, gambar laki-lagi bersorban tersebut ditampilkan sekali lagi sebagai ilustrasi dalam prangko Raja Ali Haji (disandingkan dengan prangko Chairil Anwar) yang dilansir oleh Yayasan Hari Puisi di Taman Ismail Marzuki bersempena dengan Hari Puisi Tahun 2019. Dan yang paling mutakhir, pada tahun 2020 ini, untuk kesekiankalinya gambar laki-laki bersorban yang “dipersonifikasikan” sebagai sosok Raja Ali Haji ini digunakan dan dipajang oleh Museum Kota Batam untuk melengkapi museum baru yang menggunakan nama besar pujangga Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat itu.

Persoalannya sekarang, benarkan gambar laki-bersorban itu adalah sosok Raja Ali Haji yang diadopsi dalam foto atau lukisan Raja Ali Haji?. Jika bukan, lantas siapa sebenarnya laki-laki bersorban itu?

Asal Usul Gambar Raja Ali Haji      

Gambar Raja Ali Haji (laki-laki bersorban)  yang dilukis oleh Elmustian Rahman itu  adalah salinan wajah seseorang dalam sebuah foto lama yang merekam Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (Sultan Lingga-Riau VIII, 1858-1883)  dan rombongan ketika melakukan kunjungan resmi kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, P. Meijer, di Batavia (Jakarta) antara bulan Oktober hingga November  tahun 1867, (lihat foto).

            Foto tersebut, bersama bersama beberapa foto lainnya koleksi KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde; Institut Kerajaan untuk Bahasa, Budaya, dan Sejarah) di Leiden yang kini di simpan di pepustakaan Universitas Leiden, Belanda. Foto itu hasil jempretan photografer Walter Bentley Woodbury dan James Page, dua sahabat asal Inggris perintis photografi di Hindia Belanda, yang membuka sebuah studio foto Woodbury & Page di Weltevreden (Jakarta) pada tanggal 5 Juni 1857.

            Dalam kitab khatam kajinya tentang Surat-Surat Haji Ibrahim dan Tulisan  Lainnya an Van Der Putten menjelaskan sebuah peristiwa kunjungan resmi Sultan Sulaiman Badrulalamsyah, sultan Lingga dan Riau kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, P. Meijer, di Batavia (Jakarta) pada pada tahun 1867, yang erat kaitannya dengan foto tersebut.

            Menurut Jan van der Putten dalam kitab khatam kajinya di Universitas Leiden yang berjudl, His Words is Truth Haji Ibrahim Letters and Other Writings. Netherland: Research School of Asian, African dan Amerindian Studies University Leiden, 2001, hal: 199-200,  kunjungan Sultan Silaiman dan rombongan ke Batavia itu ‘diilhami’ oleh sebuah kunjungan yang lebih dahulu dilakukan oleh Yang Dipertuan Muda Riau  Raj Muhammad Yusul al-Ahmadi  pada bulan Maret tahun 1866.

Selama dii Batavia, rombongan diraja dari Pulau Penyengat dan Dai-Lingga itu tinggal di rumah Pangeran Syarif Abdul Rahman, seorang keturunan Arab yang bertindak sebagai ‘penyambut tamu” resmi Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Semua biaya selama di Batavia itu ditanggung oleh pemerintah Belanda di Batavia, termasuk semua biaya selama berliling makan angin di kota yang dijuluki Queen of the East itu.

. Dalam sebuah perjalanan keliling kota Batavia, rombongan Sultan Sulaiman membuat beberapa foto di studio foto Woodbury & Page yang ketika itu telah berpindah ke kawasan Rijswik (sekarang Jl. Veteran, Jakarta): sebuah kawasan paling elit di Batavia, dan menjadi tempat tinggal orang-orang Eropa.

Sekali lagi, adakah Raja Ali Haji dalam foto dan rombongan diraja itu? Selain Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah yang sudah jelas sosoknya, tokoh lain yang dapat diindentifikasi dalam foto rombongan diraja Riau-Lingga itu adalah Syahbandar Riau di Pulau Penyengat, yakni Haji Ibrahim Datuk (gelar Orang Kaya Muda Riau) yang juga seorang pengarang dan sekaligus “sahabat” Raja Ali Haji.

Sedangkan Raja Ali Haji sendiri tidak ikut dalam robongan Sultan diraja itu. Dalam sepucuk suratnya kepada  Von de Wall pada akhir November 1867, Raja Ali Haji menjelaskan bahwa ia menjemput rombongan Sultan Sulaiman di Pelabuhan Tanjungpinang yang kebetulan waktu itu satu kapal dengan Von de Wall dari Batavia. Sebaliknya Haji Ibrahim, dalam sepucuk suratnya kepada Von de Wall menjelaskan bahwa ketika ia berangkat ke Batavia bersama Sultan Sulaiman, Raja Ali Haji hanya mengantar hingga Pelabuhan Tanjungpinang saja.

Jadi, bagaimana bagaimana mungkin Raja Ali Haji ada  dalam foto rombongan diraja itu? Bagaimana mungkin sosok lelaki tua yang berdiri paling kanan itu wajahnya dapat dijadikan ‘model’ atau ‘dianggap’ sebagai Raja Ali Haji?

Residen Riouw (Riau), Eliza Netscher, dalam sepucuk suratnya kepada Residen Batavia, yang dikirim jauh sebelum rombongan itu tiba, menyebutkan bahwa Sultan Sulaiman akan diiringi oleh 3 orang bangsawan (pangeran), dua orang terkemuka (orang penting yang salah satunya pastilah Haji Ibrahim), seorang “ulama”, dan delapan belas orang pengiring.

“Bagaimanapun, mengatakan laki-laki yang berdiri paling kanan pada foto yang dibuat fotografer Woodbury & Page itu sebagai Haji Ibrahim hanyalah spekulasi (perkiraan), karena pandangan itu hanya didasarkan kepada deskripsi imajinatif tentang Haji Ibrahim: sebagai seorang haji dalam usia enam puluh tahun. Namun ironisnya, di Pekanbaru (tahun 1993), sebuah cover majalah mencantumkannya sebagai Raja Ali Haji, padalah ia sama sekali tak ikut dalam rombongan Sultan Sulaiman itu” ungkap Jan van der Putten.

Salangkan untuk mengindentifikasi orang bersorban yang berdiri paling kanan dalam foto itu sebagai Haji Ibrahim saj kita masih ragu, ikan pula dengan mudahnya kita mematut-matutnya sebagai Raja Ali Haji. Jauh panggang dari Api!

Sebagai waja orang bersorban yang berdiri paling kanan dalam foto Rombongan Sultan Sulaiman itu, ada lagi dua foto dan satu lukisan yang dipersonifikasi sebegai sosok Raja Ali Haji. Semua muncul beberapa tahun kemudian dan tersebar luas di dunia maya.

Dua foto yang muncul kemudian ini berasal dari satu orang yang sama dan merupakan wajah atau foto orang lain juga. Tokoh dengan foto menggunakan peci dan berkaca mata ini memang masih berkerabat jauh dengan Raja Ali Haji. Namanya pun serupa, Raja Ali. Namun beliau adalah anak Raja Muhammad (Tengku Nong, yang pernah menjadi salah satu Kelana Kerajaan Riau-Lingga) dan cucu Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda Riau 9. Raja Ali yang digelari Tengku Selat ini adalah ketua Ahmddi Co di Pulau Midai dan Mudir Matba’ah al-Ahmadiah (Ahmadiah Press) Singapur. Beliau wafat di Midai pada tahun 1956.

Adapun lukisan yang dengan jelas dinyatakan sebagai sosok Raja Ali Haji adalah sebuah karya pelukis Rosa Surono dari Tanjungpinang. Kepada saya ia pernah mengatakan mendapatkan referensinya dari koleksi foto milik perpustakaan KITLV, di Leiden-Belanda. Namun yan pasti itu bukan foto Raja Ali Haji, akan tetapi adalah foto seorang pembesar Aceh.        

Sebuah Saran 

             Seperti apapun raut wajah Raja Ali Haji, kita harus terima. Namun tentu saja, dengan catatan, jika rupa wajah itu didukung oleh bahan-sumber (bukti) yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.

            Dalam ‘kacamata’ sejarah, penggunaan atau penyebutan lukisan dan foto yang kini telah tersebar luas sebagai  wajah Raja Ali Haji adalah sebuah anakronisme. Karena, seperti yang telah saya jelaskan, sosok Raja Ali Haji  tidak ada sama sekali dalam peristiwa atau cerita yang terjadi di balik foto rombogan Sultan Sulaiman itu: Sangan jelas,  ia tidak ada dalam foto itu. Begitu juga dengan dua foto dan satu lukisan yang muncul lebih kemudian.

Harus segera dilakukan penulusuran lebih jauh berkenaan foto dan rupa wajah Raja Ali Haji. Jika foto atau lukisan wajah asli Raja Ali Haji tidak juga dapat ditemukan, maka perlu dilakukan rekonstruksi rupa wajahnya berdasarkan kaidah yang benar. Agar kerancuan dan kesimpan siuran tentang rupah wajah Raja Ali Haji ini tidak berlarut-larut.***       

Tinggalkan Balasan