RENDRA SETYADIHARJA 
Pemantun dan Akademisi 

Pulau Karimun pasirnya putih 
Tempat orang menjalin adat 
Kalau pantun sudah tersisih
Alamat hilang cermin ibarat

Itulah empat kerat yang kerap kita sebut dengan pantun dilantun oleh Allahyarham Tenas Effendy dalam sebuah tunjuk ajar, yang mengisyaratkan bahwa pantun sangat teramat penting dalam komununikasi masyarakat. Di dalam pantun tersebut mengandung makna bahwa pantun adalah cerminan hidup dan cerminan komunikasi yang senantiasa memberikan petunjuk dan pedoman hidup serta tunjuk ajar. 

Syabas….

Adalah kata yang pantas dan tepat kepada karya sastra puisi lama si empat kerat ini karena telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Dunia pada sesi ke 15 Intergovermental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage di Kantor Pusat UNESCO Paris Perancis, Kamis (17/12/20). Nominasi Pantun sebagai WBTB dunia oleh UNESCO ini diusulkan oleh Negara Indonesia dan Malaysia. Setelah pada tahun 2014 Pantun ditetapkan menjadi WBTW Nasional yang diusulkan oleh Provinsi Kepulauan Riau dan kini salah satu puisi lama ini “naik kelas” menjadi WBTB Dunia. 

Pantun diangkat sebagai WBTB Dunia karena UNESCO menilai pantun memiliki arti penting bagi masyarakat Melayu bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial namun juga kaya akan nilai-nilai yang menjadi panduan moral, dan pesan yang disampaikan melalui pantun umumnya menekankan keseimbangan dan harmoni hubungan antar manusia. Dengan ditetapkannya pantun sebagai WBTB Dunia adalah sebuah refleksi kedekatan dua negara serumpun yang berbagi identitas, budaya dan tradisi Melayu yaitu negara Indonesia dan Malaysia (antaranews.com, 2020).  

Sehari sebelum penetapan pantun sebagai WBTB Dunia yaitu pada Rabu (16/12/20), para pemantun Kota Tanjungpinang-Provinsi Kepulauan Riau ikut juga terlibat pada acara yang disemarakkan dan ditaja oleh Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kalimantan Barat dengan acara Serumpun Berpantun. Acara tersebut terdiri dari Webinar Pantun menyongsong Pantun sebagai WBTB Dunia, dimana berbagai narasumber yang dihadirkan seperti Prof. Dr. Arief Racman (Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO), Dr. Pudentia (Ketua ATL Jakarta), Datok Zainal Abidil Borhan (Ketua I Gapena Malayisa), Datok Jasni Matlani (Presiden Bahasa-Sabah Malaysia), Datok Jefri Ariff (Sastrawan Negara-Brunei Darussalam), Prof. Dr. Chairil Effendy (Ketua MABM Kalbar), dan juga penulis sendiri sebagai perwakilan dari Kepulauan Riau. Selain Webinar juga terdapat acara berbalas pantun secara online terlama yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 24.00 WIB yang juga hadir dan ikut berpartisipasi beberapa pemantun muda Kota Tanjungpinang di dalam perhelatan tersebut yaitu Yoan Nugraha, Al Naziran, Barozi Alaika, Zainal Anbiya, dan beberapa pemantun muda lainnya. 

Betapa pantas dan semaraknya menyambut si empat kerat ini “naik kelas” menjadi WBTB Dunia karena betapa pentinya keberadaan pantun di tengah masyarakat yang masih mempertahankannya. Dalam sebuah tunjuk ajarnya Tenas Effendy  (2002) menyampaikan, 

Jikalau gelap orang bertenun 
Bukalah tingkap lebar-lebar 
Jikalau senyap tukang pantun 
Sunyi senyap bandar yang besar 

Kalau pedada tidak berdaun 
Tandanya ulat memakan akar
Kalau tak ada tukang pantun 
Duduk musyawarah terasa hambar 

Begitu penting pantun bagi sebuah peradaban bangsa yang masing menuturkannya, seperti rumpun-rumpun Melayu baik yang ada di seantero Indonesia dan juga Malaysia. Di dalam pantun yang disampaikan Tenas Effendy di atas, mengisyaratkan bahwa pantun merupakan pengerak komunikasi masyarakat pada sebuah peradaban yang disimbolkan dengan “bandar yang besar”, jika pantun tak lagi diucap maka peradaban itu akan sunyi senyap dan kehilangan jati diri dalam berkomunikasi yang akan menggeruskan budi luhur budaya tersebut. 

Sudah pantaslah pantun dinaikkan kelasnya menjadi WBTB Dunia. Pantun yang berakar kata dari kata TUN memberikan isyarat bahwa si empat kerat ini merupakan sebuah khazanah kesopanan, kesantunan, kelurusan, petunjuk dan penuntun yang dilantunkan dengan indah sehingga penutur pantun menuturkan pantun untuk maksud tertentu dengan sangat sopan dan halus. Inilah yang dalam analisis Hall (Liliweri, 2003; Setyadiharja, 2020) disebut sebagai High Context Communication, dimana di dalam pantun terdapat bahasa dan makna yang tidak langsung namun mengandung maksud yang bermakna dan indah dalam menyampaikan sesuatu hajat. Pantun merupakan pola komunikasi tingkat tinggi, komunikasi bangsa yang sopan dan santun dalam berbahasa. Pantun juga sebuah pola komunikasi yang “mencubit tanpa menimbulkan rasa sakit” (Poedjawijatna dalam Andriani, 2020 dan Setyadiharja, 2020). 

Di dalam pantun juga terdapat komunikasi simbolik yang mengajarkan kebaikan atau akal budi manusia agar senantiasa berbuat baik. Disampaikan dalam sebuah pantun, 

Tumbuh sepuluh si batang ubi 
Batang tumbuh patahnya petang
Elok tumbuh seperti padi 
Jangan tumbuh bagai ilalang 

Pantun di atas mengisyaratkan bahwa kita diajarkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat seperti “padi” yang senantiasa memberikan manfaat dengan menjadi sumber makanan pokok yaitu beras yang senantiasa dibutuhkan banyak orang, dan agar manusia tidak hidup seperti “ilalang” yang tumbuh tinggi namun menjadi semak belukar pada sebuah ladang. Pantun selalu menggunakan simbol alam sebagai perlambang komunikasi yang hendak disampaikan dan di dalam simbol tersebutlah terdapatlah dunia luas yang dipadatkan di dalam sebuah pantun (Hussain, 2019). Si empat kerat di atas, menyimbolkan kata “padi” sebagai sikap yang baik dan elok sebagai manusia dengan selalu menanamkan budi dan kebaikan dalam kehidupannya, dan menggunakan simbol “ilalang” sebagai isyarat yang tak elok untuk dilakukan sebagai seorang manusia. “Padi” simbol tumbuhan yang senantiasa memberikan manfaat, dan simbol “ilalang” yang senantiasa tumbuh tinggi namun menjadi semak belukar yang akhirnya ditebas orang. Begitulah pantun mengajarkan nilai-nilai kebaikan di dalam kehidupan manusia yang menyebabkannya ia pantas menjadi warisan budaya tak benda yang bertaraf dunia.  

Dengan ditetapkan pantun sebagia WBTB Dunia juga sebagai cambuk bagi generasi penerus untuk terus melestarikan pantun khususnya di Kota Tanjungpinang si Negeri Pantun. Di Negeri Pantun tersebut, Pantun harus terus hidup dalam tradisi lisan masyarakat, tidak hanya dalam adat nikah kawin budaya Melayu, namun harus juga hidup dalam lisan-lisan komunikasi harian masyarakat, harus juga hidup dalam musyawarah-musyawarah pada pengambil kebijakan, hidup dalam tunjuk ajar bagi peserta didik. 

Pantun juga harus terus mewarnai tradisi tulisan, agar pantun terselamat dan dapat dibaca oleh generasi penerus secara turun menurun dan meninggalkan makna dan tunjuk ajar yang dikiaskan dalam empat kerat baitnya. Pantun harus juga hidup dalam berbagai perhelatan seni pertunjukan budaya di negeri pantun ini. pantun harus menjadi bagian komunikasi dalam setiap kegiatan dan segala aktivitas masyarakat, baik berkenalan, berkasih sayang, menidurkan anak, menyampaikan hajat, musyawarah dan perhelatan adat dan dalam kesempatan baik manapun, pantun harus wujud sebagai penuntun dan petunjuk. Pemangku adat Melayu di negeri pantun harus terus menggalakkan penggunaan pantun di setiap kalangan, dari kelas masyarakat kebanyakan sampai kepada pejabat negara. 

Akhir kata ibarat sebuah pantun, 

Apa tanda eloknya pantun 
Mengandung sindiran serta pepatah 
Apa tanda insan yag santun 
Mendengar amaran serta petuah 

Dari pantun ini, mengisyaratkan bahwa pantun yang baik adalah yang mengandung sindiran yang halus serta pepatah yang mengandung maksud tunjuk dan ajar, begitu juga insan atau manusia yang santun, senantiasa menjadikan pantun sebagai amaran atau peringatan serta menjadikan pantun sebagai petuah-petuah.  

Syabas… Tak Pantun Hilang Di Dunia.!!! 

Tinggalkan Balasan