sumber: https://blog.ourcrowd.com/

INILAH petunjuk-Nya. “Hai, manusia! Sesungguhnya, kami menciptakan kamu terdiri atas laki-laki dan perempuan dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berpuak-puak agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya, semulia-mulianya kamu di sisi Allah ialah orang yang bertakwa,” (Q.S. Al-Hujurat, 13).

Firman Allah SWT yang dinukil di atas mengingatkan kita tentang tiga perkara penting. Pertama, Allah-lah yang menciptakan manusia. Kedua, manusia diciptakan-Nya berbangsa-bangsa dan berpuak-puak. Ketiga, hanya manusia yang bertakwa kepada Allah yang beroleh kemuliaan di sisi-Nya.

Bangsa dan puak, bagaimanakah membedakannya? Ciri pembeda utamanya adalah kebudayaan dan atau tamadun. Kebudayaan dan tamadunlah yang menyerlahkan jati diri setiap bangsa dan puak. Dengan akal-budi yang dianugerahkan Allah kepadanya, manusia mengembangkan kebudayaan dan tamadunnya agar mereka tetap berkembang dan berjaya di dunia. 

Upaya memelihara, mengekalkan, membina, dan mengembangkan kebudayaan dan tamadun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan untuk mendapatkan keridaan Allah. Pada gilirannya, sesuai dengan janji-Nya, orang-orang yang melakukannya dengan ikhlas akan dimuliakan-Nya. Dengan demikian, kebudayaan dan atau tamadun yang berbeda-beda bagi setiap bangsa dan puak merupakan anugerah Allah sekaligus amanah yang harus dipertahankan dan diperjuangkan. Bahkan, boleh dikatakan berdosa jika disia-siakan.

Kebudayaan dan tamadun hidup, tumbuh, dan berkembang dalam kelompok manusia yang disebut masyarakat. Ianya memerlukan wadah tempat berkembang dan pelaku yang mengembangkannya, yakni masyarakat. Sebaliknya pula, masyarakat memerlukan kebudayaan dan atau tamadun agar harmoni dan keteraturan di antara warga terjamin. Kebudayaan dan tamadun tak dapat dipisahkan dengan masyarakat pemiliknya.

Luas atau sempitnya cakupan suatu masyarakat sangat bergantung kepada pemikiran bersama tentang hal-hal yang mempersatukan mereka. Masyarakat Melayu, misalnya, dipersatukan oleh (1) bahasa yaitu bahasa Melayu, (2) adat-istiadat yaitu adat-resam Melayu, dan (3) agama yaitu agama Islam. Dengan demikian, persebaran masyarakat dan kebudayaan Melayu itu sangat luas, mengatasi batas wilayah administrasi pemerintahan dan geopolitik seperti kabupaten, kota, provinsi, bahkan negara sekalipun. Tentulah ada nuansa di antara ketiga unsur pemersatu itu, kecuali agama, yakni adanya perbedaan dialek dalam bahasa dan ragam adat-resam, yang kalau dihayati secara seksama ianya memperindah kebersamaan.

Karena begitu luas permukimannya, orang Melayu mengiaskannya dengan ungkapan. “Ke laut berbunga karang,  ke darat berbunga kayu, ke sungai berbunga pasir, ke gunung berbunga awan.” Jadi, tempat bermastautin orang Melayu ada di kawasan pantai, di wilayah daratan, di pinggir sungai, dan di kawasan pergunungan. Dan, itu juga wasiat kultural bahwa kawasan tersebut mestilah dirawat sedemikian rupa agar berkekalan. Dengan demikian, tindakan merusakinya akan mengundang malapetaka. Kearifan itu patut diyakini. 

Tak heranlah jika di dalam kebudayaan dan tamadun Melayu ada nuansa dialek dan adat-resam. Namun, kesemuanya berteraskan budaya Melayu yang bersalut karakter mulia dan bersumber kepada firman Allah serta sabda Rasulullah SAW. “Adat berwaris kepada Nabi, adat berkhalifah kepada Adam, adat berinduk ke ulama, adat tersurat di dalam kertas, adat tersirat di dalam sunnah, adat dikungkung Kitabullah.”

Masyarakat dengan kebudayaan dan tamadunnya bermukim di suatu tempat yang disebut kampung. Tak perlu dikaitkan dengan dikotomi ini: jika masih tradisional dan tak mengalami banyak kemajuan, disebut kampung dan kalau sudah modern dan mengalami banyak kemajuan, disebut kota. Dalam hal ini, baik kampung maupun kota dalam dikotomi itu, dirangkum dalam satu istilah: kampung saja. Dengan demikian, luas-sempitnya kampung setiap bangsa dan puak pun nisbi. Dengan menggunakan ilustrasi di atas, kampung orang Melayu meliputi kawasan yang sangat luas. Kawasan Melayu itulah bagi orang Melayu disebut kampung kita. Begitu pula halnya bagi puak yang lain.

Sama ada dahulu dan lebih-lebih kini, kampung kita bagi setiap puak dan bangsa harus dijaga, dipelihara, dan dikawal lebih ketat dan berhati-hati. Kerja keras dalam menjaga kampung dengan budaya dan tamadunnya setakat ini lebih-lebih harus dilakukan oleh puak dan bangsa yang sedang berkembang seperti bangsa kita. 

Pasal apa? Di tengah pemahaman dan kesadaran tentang kampung kita, muncul pula konsep kampung dunia (global village). Kampung dunia mekar bersamaan dengan keadaan dunia yang mengalami globalisasi. Kampung dunia dan globalisasi itu disokong oleh kemajuan pesat teknologi informasi. Semua peristiwa yang terjadi di mana pun di dunia ini, baik atau buruk, dapat dengan mudah dan cepat didengar, dilihat, dan diketahui dengan bantuan teknologi informasi yang supercanggih.

Dengan memanfaatkan globalisasi itu, negara-negara adidaya (super power), lebih-lebih adikuasa, dengan lunak atau keras, berupaya memaksakan kebudayaan dan tamadunnya kepada puak dan bangsa yang mereka anggap lemah. Upaya itu dimungkinkan dengan sokongan yang berarti dari faktor-faktor ekonomi, politik, militer, sains, dan teknologi. Kemajuan negara-negara adidaya dan adikuasa dalam kelima bidang itu sangat memungkinkan puak dan bangsa lain, terutama bangsa yang ketahanan budayanya lemah, tertawan oleh budaya mereka, yang jelas tak cocok, tak patut, dan tak padan bagi puak dan bangsa yang menjadi sasarannya. 

Upaya negara-negara adidaya dan adikuasa untuk memukimkan semua puak dan bangsa di satu kampung dunia bukanlah tanpa motivasi ekonomi-politik. Dengan terseretnya puak dan bangsa yang lemah ke dalam kebudayaan mereka, negara-negara kuat itu, Barat atau Timur, dapat dengan mudah menguasai bangsa lain. Ini merupakan revisi dari upaya penjajahan fisik yang mereka lakukan pada masa lalu, yang mereka anggap gagal karena ternyata bangsa yang dijajah secara fisik itu terbukti kemudian melawan. Oleh sebab itu, penjajahan budaya di kampung dunia dianggap sangat efektif untuk menundukkan bangsa yang lemah ketahanan budayanya. Pada gilirannya, mereka memperoleh keuntungan politik dan ekonomi, yang memang menjadi sasaran dan matlamat utamanya. Semakin ke sini semakin terasa sengatannya.

Untuk menangkis serangan bangsa dan negara lain melalui penjajahan budaya dan tamadun di kampung dunia, dapat dipelajari siasat bangsa Jepang. Untuk meredam serangan sekaligus menyejajarkan bangsanya dengan Barat, orang Jepang menggunakan politik Wakon Yosai. Dengan politik itu, mereka berjuang untuk mempertahankan kepribadian atau jati diri Jepang dengan nilai-nilai budaya dan tamadun sebagai basisnya. Dalam pada itu, mereka mengembangkan teknologi Barat. 

Dengan politik itu, bangsa Jepang terbukti dapat kembali mengangkat marwahnya. Bahkan, dalam hal etos kerja, misalnya, bangsa Jepang hanya memerlukan 40 tahun, lalu berjaya mengalahkan Barat. Padahal, untuk sampai pada capaian terkini, Barat memerlukan tak kurang dari 400 tahun. Betapa nilai-nilai budaya dan tamadun Jepang dapat membangkitkan etos kerja dan semangat juang bangsa mereka sehingga sanggup bersaing dengan bangsa Barat.  Bahkan, dalam hal-hal tertentu mereka mampu mengatasi Barat.  

Memang, tak ada cara selain kesadaran akan jati diri amat mustahak bagi setiap bangsa agar tak terpuruk menjadi bangsa peniru dan pengekor serta tunduk di bawah komando bangsa lain. Betapa ketika sistem demokrasi dan ekonomi liberal dipaksakan di negara ini, bangsa kita tak kunjung selesai ditimpa masalah dan musibah, bahkan nyaris kehilangan harga diri. Kita bagai hadir di antara masyarakat dunia sebagai bangsa yang tak percaya diri. Jelaslah bahwa kesemuanya itu harus dilawan dengan gerakan tamadun yang mesti dipahami, dihayati, dan diikuti oleh segenap anak bangsa dengan kesadaran penuh seluruh. Jika tidak, kita sebagai bangsa akan lebih lama terombang-ambing di atas gelombang permainan kampung dunia, yang daya hanyutnya semakin menggila saja sampai setakat ini.

Kuncinya kita wajib melaksanakan amanah Allah dengan memelihara, mengekalkan, dan mengembangkan budaya dan tamadun sendiri. Tentulah nilai-nilai budaya luar yang positif boleh diserap seperlunya, dari mana pun. Namun, nilai-nilai terala budaya dan tamadun kita harus menjadi nilai utama yang diterapkan dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara. Kehidupan politik, ekonomi, hukum, pemerintahan, dan pelbagai bidang kehidupan yang lain seyogianya didasari oleh nilai budaya dan tamadun kita. Tentu, nilai-nilai agama yang kita yakini seyogianya menjadi teras yang memperkokoh jati diri kita sebagai bangsa.

Setiap bangsa memang ditakdirkan berbeda. Hanya dengan berjuang untuk memartabatkan budaya dan tamadun sendirilah kita sebagai bangsa akan dimuliakan Allah sehingga dilindungi-Nya. Pasalnya, dengan begitu, kita tak diperhitungkan sebagai manusia yang lalai atau, bahkan, menyangkal firman-Nya. Begitu kita abai, bersiapsiagalah untuk menghadapi pelbagai malapetaka yang hanya sekali-sekala.*** 

Tinggalkan Balasan