Perdro Mascarenhas: Admiral yang memimpin armada laut Portugis dari Melaka ketika menyerang Kota Kara, benteng pertahanan terakhir Sultan Mahmud Syah Melaka di Pulau Bintan tahun 1526. (sumber: wikipedia.org)

Kota Kara

Benteng Sultan Melaka Yang Terakhir di Pulau Bintan (1513-1526)

Kota, adalah kosa kata bahasa Melayu yang dipinjam dari bahasa Sansekerta dan mengandung makna: tempat yang diperbentengi atau benteng yang sifatnya  permanen. Orang Melayu telah memiliki konsep yang cukup tua tentang kota , kelengakapan, dan ragam pengertiannya. Dalam kebudayaan Melayu, Kota biasanya dipersandingkan dengan kubu. Karena lazimnya, raja-raja Melayu menggunakan kota sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat bersemayam raja-raja yang memerintah. Namun demikian, jika dilihat dari segi bentuk, fungsi, dan materi untuk membangunnya, maka akan terlihat sebuah perbedaan antara kota dan kubu.

Dalam karya-karya sastra Melayu lama, kota sering dikaitkan dengan istana raja-raja. Apabila seorang raja membuka sebuah negeri yang baru, maka sang raja memerintahkan rakyatnya mendirikan istana yang berkota. Dengan kata lain, sebuah istana raja itu haruslah terletak dalam sebuah kawasan berpagar (umpamanya, dalam pembangunan kompelaks istana Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat dan pembangunan istana Raja Haji di Pulau Biram Dewa yang terkenal dengan Kota Piring, yakni pagar tembok yang berhiaskan piring). Lazimnya, pagar tersebut terbuat dari kayu, nibung, buluh, batu, atau tanah.

Oleh karena fungsi ganda yang dimilkinya, sebuah kota dalam kaitannya dengan tradisi pemerintahan raja-raja Melayu, juga memiliki sejumlah kelengkapannya. Oleh karena itu, biasanya sebuah kota dalam tradisi diraja Melayu adalam sebuah kopleks yang dilengkapi dengan bangunan-bangunan seperti: bangunan tempat berkumpul (balairung), bangunan tempat beribadah, dan bangunan tempat menyimpan senjata. Dan, oleh karena raja yang memerintah juga tinggal di dalam kota. Bangunan-bangunan tempat tinggal raja yang biasanya disebut istana, juga didirikan di dalam kota.

Berbeda dengan kota, maka kubu biasanya adalah benteng pertahanan yang dibuat dari tanah yang ditambak, atau dari pancang-pancang kayu bersusun rapat yang disebut pagar sasak yaitu pagar kayu balok yang melingkupi sebuah kawasan. Namun bagaimanapun, seperti halnya kota, maka sebuah kubu juga mempunyai pengawal bersenjata yang selalu mengawasi gerak-gerik musuh dan setiap orang yang menghampirinya.

Sebagai sebuah pusat pertahanan, sebuah kubu berbeda dari kota raja. Di dalam kubu tidak perlu ada istana kediaman keluarga diraja, tidak ada balairung sebagaimana terdapat dalam sebuah kota raja. Akan tetapi, menurut Abdul Halim Nasir, istilah kota dan kubu tidaklah dengan serta merta dapat menentukan bila suatu komplek bangunan disebut kota di satu pihak, dan bila pula disebut kubu di pihak lain. Kerena adakalanya, sebuah pusat pertahanan atau kubu yang disebut kota. Seperti Kota Karang di Pulau Bulang; sebuah perahu yang diperbentengi yang disebut Kota Berjalan, seperti yang penah dipakai pada masa Sultan Sulaiman di Hulu Riau; dan sudah tentu Kota Kara di Sungai Bintan.

Sistem Pertahanan Campuran Melayu-Portugis

            Berdasarkan bahan-bahan sumber Portugis yang digunakannya, sejarawan R.O. Winstedt berkesimpulan bahwa Kota Kara sesungguhnya bukanlah sebuah nama tempat atau koleks istana. Akan tetapi ianya adalah nama bagi sebuah sistem perbentengan yang yang letaknya paling depan. Perkataan Kara berasal dari kata Cara dalam bahasa Portugis yang berarti “hadapan, atau bagian terluar”; ianya adalah sebuah istilah teknis yang terpakai dalam sistem perbentengan terluar di Portugis dan Spanyol.

            Menurut R.O. Winsted, terdapat dua kota kara yang erat kaitannya dengan sejarah fase-fase akhir pemerintah kerajaan Melaka yang berpindah Tanah Semenanjung ke Pulau Bintan. dan sejarah fase-fase awal kerajaan Johor yang lama sebagai penerus Melaka yang bertapak di tanah Johor. Satu Kota Kara berada di Sugai Telor dekat Johor dan satu Kota Kara berada di Sungai Bintan, di Pulau Bintan.

            Walaupun tidak menyebutnya sebagai Kota Kara, P.J. Begbie, seorang perwira militer Inggris yang pernah menjelajahi sejumlah tempat di pulau Bintan pada awal tahun 1830-an, mencatat adanya benteng pertahanan Sultan Mahmud Syah yang dibangun dari Lumpur (mud fort) dan terletak di salah satu tebing Sungai Bintan. Sementara itu, dibagian muara Sungai Bintan dipagari dengan pancang-pancang kayu yang dicacakkan ke dalam tanah. Penjelasan Begbie ini tentu sangat pentung, dan melengkapi dengan konsep Kota Kara sebagai benteng atau sistem pertahanan terluar sebegaimana dijelaskan oleh Winstedt.

            Sebagai benteng terluar, Kota Kara di Pulau Bintan yang diperkirakan terletak berhampiran muara Sungai Bintan, berfungsi untuk melindungi tempat-tempat seperti, Kopak, Bukit Batu, Pantar, yang terletak di bagian hulu dan telah dibuka sebegai sebuah kediaman oleh Sultan Mahmudsyah I setelah menyingkir ke pulau Bintan pada tahun 1513.

Sebagai sebuah perbentengan, Kota Kara di Sungai Bintan dicatat sebagai salah satu benteng Sultan Mahmudsyah Melaka yang tangguh menghadapi beberapa kali rempuhan armada Portugis. Armada laut Portugis baru dapat menaklukkan dan membungkan Kota Kara di Pulau Bintan yang dijaga oleh, Temenggung Sri Udana, Sang Aria, Sang Setia, Sang Lela Segara, dan Laksamana Hang Nadim, ketika Admiral Pedro Mascarenhas menyerang dengan dukungan 20 buah kapal perang yang membwa 550 orang Portugis dan 600 orang Melayu pada 23 Oktober 1526

Setelah itu barulah Kopak, Bukit Batu, dan Pantar dapat dikuasai. Dalam serangan terakhir tersebut, Portugis membutuh empat belas hari pertempuran sebelum Kota Kara (outer fort) di Sungai Bintan benar-benar dapat dilumpuhkan.

Benteng Sultan Melaka di Pulau Bintan

Bila mengacu kepada laporan-laporan Andrade, Tome Pires, dan Castanheda, maka setelah satu peristiwa serangan Portugis, diperkirakan Sultan Mahmud Syah telah berada di sekitar daerah Muar pada bulan Juni 1512. Dari Muar kemudian menyeberang pula ke Pulau Bintan melalaui Selat Bulang pada bulan Januari 1513.

            Selanjutnya Sultan Mahmud telah mengukuhkan tapak pemerintahannya yang baru di Pulau Bitan sejak Januari 1513, dengan membangun Kota Kara, sebuah benteng terdepan yang berfungsi untuk melindungi Kopak. Dan Sultan Mahmud Syah tetap berada di Pulau Bintan hingga bulan Januari 1514. Bahkan ada catatan Portugis yang menyebutkan bahwa Sultan Mahmud tetap berada di Pulau Bintan selama empat tahun berikutnya.

            Pada tahun 1521 armada laut Portugis dibawah pimpinan George d’Albuquerque mulai berusaha merebut Pulau Bintan, namun dua buah benteng yang kokoh, dan pancang-pancang kayu yang melintasi sungai, serta keberanian orang-orang Melayu terlalu besar bagi delapan buah kapal dan 600 orang pertikaman yang menjadi kekuatan amada laut Portugis di Meleka.

Dalam sebuah usaha penyerangan berikutnya, Don Sancho Enriquez kehilangan tujuh puluh kapal dari dua ratus kapal yang dipimpinnya karena dihantam badai. Titik terang untuk menaklukkan pertahan Sultan Mahmud Syah di Puau Bintan mulai terlihat pada tahun 1526, ketika datang kabar bahwa Pedro Mascarenhas dengan sebuah armada laut yang terdiri dari dua puluh buah kapal, galley, dan fustas, telah melumpuhkan Bengkalis. Selepas itu, Pulau Bulang pula dibakar. Bahkan ketika itu, ada kabar seorang juruh intai Sultan Madmud Syah sempat menyaksikan layar-layar putih armada kapal Portugis berlayar dari Tanjung Bemban menuju Lobam untuk menghapiri Teluk Bintan.

Penulis kronik Portugis, Faria Y Souza, juga mencatat bahwa Peter Mascarenhas baru berhasil menguasai Kota Kara, benteng terakhir Sulan Melaka di Pulau Bintan, setelah mengerahkan kekuatan dua puluh satu buah kapal dan empat ratus orang Bangsa Portugis tentara dan enam ratus orang Melayu di bawah pimpinan Tuan Mohamed dan seorang bernama Sinai Raja; ketika itu pusat pemerintahan terakhir Sultan Mahmud Syah Melaka di Pulau Bintan diperbentengi dengan baik dan dipertahanka oleh tujuh ribu orang hulu balang dengan meriam dan pertikan.

Mula-mula Kota Kara jatuh ke tangan Portugis dan kemudian Kopak  terbakar. Sultan Mahmud Syah, penguasa sebagaian besar Alam Melayu yang menjadi “bayang-bayang Allah di muka bumi” ketika itu, mengembara di sekitar lereng Gunung Bintan, dengan kakinya yang sakit berbalut kain. Setelah kemangkatan Laksamana Khoja Hasan dan pemusnahan Kota Kara, sebuah benteng terakhir Sultan Mahmud Syah Melaka di Pulau Bintan, barulah kekuatan terakhir Melaka di Pulau Bintan benar-benar dapat dilumpuhkan pada tahun 1526. Sementara itu, sejak bulan September 1527 Sultan Mahmud telah berada di Kampar, Pulau Sumatra. Dan beliau tetatp berada di Kampar higga pada masa mangkatnya pada suatu waktu antara bulan November 1527 dan bulan Juli 1528. ***

Artikel SebelumWatan Segantang Lada
Artikel BerikutKjökkenmöddinger
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan